Maturidiyah: Sejarah, Ajaran, dan Posisi dalam Aqidah Islam Menurut Pandangan Ulama dan Fatwa Keislaman
Abstrak:
Maturidiyah merupakan salah satu mazhab teologi Islam (ilmu kalam) yang menjadi bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bersama dengan Asy‘ariyah. Didirikan oleh Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H) di Samarkand, mazhab ini berperan besar dalam membentengi akidah Islam dari serangan pemikiran rasional ekstrem seperti Mu‘tazilah dan sekte-sekte bid‘ah lainnya. Pemikiran Maturidiyah menekankan keseimbangan antara wahyu dan akal, di mana akal memiliki peran penting dalam mengenal Tuhan, tetapi wahyu tetap sebagai sumber kebenaran tertinggi. Tulisan ini menguraikan sejarah lahirnya Maturidiyah, ajaran pokoknya, pandangan ulama terhadapnya, serta bagaimana sebaiknya umat Islam menyikapi perbedaan antarmazhab kalam dengan bijaksana.
Pendahuluan:
Dalam sejarah pemikiran Islam, muncul berbagai mazhab teologis yang berusaha menjelaskan hubungan antara akal dan wahyu dalam memahami akidah. Dua mazhab besar yang diakui oleh mayoritas umat Islam sebagai bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah Asy‘ariyah dan Maturidiyah. Meskipun memiliki perbedaan pandangan dalam beberapa hal, keduanya sama-sama berkomitmen menjaga kemurnian tauhid dan keimanan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Mazhab Maturidiyah berkembang di kawasan Asia Tengah dan Transoxiana, khususnya di wilayah Samarkand dan Bukhara, serta menjadi dasar teologi bagi banyak umat Islam di Asia Tengah, Turki, dan sebagian wilayah Asia Selatan. Bersama Asy‘ariyah, Maturidiyah menjadi fondasi teologis yang menyeimbangkan antara akal dan naqal (wahyu) serta berperan penting dalam memperkuat posisi Sunni di tengah beragam aliran kalam.
Sejarah Singkat Maturidiyah:
Mazhab Maturidiyah didirikan oleh Imam Abu Manshur Muhammad bin Muhammad al-Maturidi al-Samarqandi (w. 333 H / 944 M), seorang ulama besar dari mazhab Hanafi. Ia hidup di masa ketika aliran rasional Mu‘tazilah dan aliran ekstrem lainnya sedang berkembang pesat. Dengan kecerdasan dan keluasan ilmunya, al-Maturidi menulis banyak karya penting seperti Kitab al-Tauhid dan Ta’wilat Ahl al-Sunnah, yang menjelaskan aqidah Islam dengan pendekatan rasional namun tetap berpegang pada nash.
Pemikiran Maturidiyah kemudian tersebar luas melalui murid-muridnya seperti Abu al-Yusr al-Bazdawi dan Abu al-Mu’in al-Nasafi, serta mendapat dukungan besar dari Dinasti Turki Seljuk dan kemudian Utsmaniyah. Oleh sebab itu, Maturidiyah menjadi teologi resmi di banyak wilayah yang bermazhab Hanafi, sehingga dikenal sebagai pilar teologi Sunni yang rasional namun moderat.
Beberapa ulama besar yang menjadi tonggak mazhab Maturidiyah antara lain Imam Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H), pendiri mazhab ini, yang berasal dari Samarkand. Karyanya seperti Kitab al-Tawhid dan Ta’wilat Ahl al-Sunnah menjadi referensi utama dalam teologi Islam klasik. Murid-muridnya kemudian menyebarkan ajaran Maturidiyah ke berbagai wilayah, terutama di Bukhara, Transoxiana, dan Turki.
Selain beliau, muncul pula tokoh-tokoh penerus seperti Abu al-Yusr al-Bazdawi, Najm al-Din al-Nasafi, ‘Ala’ al-Din al-Samarqandi, dan Sa‘d al-Din al-Taftazani, yang menulis karya monumental dalam bidang akidah dan kalam. Para ulama ini memperluas sistem teologis Maturidiyah dengan pendekatan yang lebih rasional, tetapi tetap berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma‘ ulama. Kontribusi mereka menjadikan Maturidiyah sebagai landasan intelektual utama bagi madzhab Hanafi di dunia Islam Timur hingga kini.
Ajaran Pokok Maturidiyah
- Hubungan Akal dan Wahyu:
Maturidiyah berpendapat bahwa akal manusia mampu mengenal adanya Allah dan kewajiban untuk beriman, bahkan sebelum datangnya wahyu. Namun, akal tidak dapat menentukan seluruh hukum syariat. Oleh karena itu, wahyu tetap menjadi pedoman tertinggi dalam agama. - Sifat-Sifat Allah:
Maturidiyah mengakui seluruh sifat Allah sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi menolak penyerupaan (tasybih) dan penafsiran yang ekstrem (tajsim). Dalam hal ini, mereka serupa dengan Asy‘ariyah, yakni menetapkan sifat-sifat Allah dengan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk. - Kehendak dan Perbuatan Manusia:
Menurut Maturidiyah, manusia memiliki kemampuan dan kehendak untuk memilih perbuatan, tetapi segala sesuatu tetap berada di bawah kehendak Allah. Artinya, ada keseimbangan antara takdir dan usaha manusia. Pandangan ini berada di tengah antara Jabariyah (yang meniadakan kehendak manusia) dan Qadariyah (yang meniadakan kehendak Allah). - Iman dan Amal:
Maturidiyah mendefinisikan iman sebagai tasdiq bil qalb (pembenaran dalam hati), dan amal tidak termasuk dalam hakikat iman. Namun, amal saleh adalah bukti keimanan yang kuat. Iman tidak bertambah dan berkurang, tetapi bisa melemah karena dosa dan maksiat.
Pandangan Ulama dan Fatwa Ulama:
Para ulama Ahlus Sunnah menilai Maturidiyah sebagai bagian sah dari Islam ortodoks. Imam al-Ghazali, al-Nasafi, dan al-Suyuthi menegaskan bahwa Maturidiyah dan Asy‘ariyah adalah dua wajah dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak ada fatwa yang menyatakan mereka sesat; bahkan Majma‘ al-Fiqh al-Islami (OKI) dan Al-Azhar menegaskan bahwa Maturidiyah adalah mazhab akidah resmi Sunni. Di Indonesia, mayoritas pesantren mengikuti tradisi Asy‘ariyah–Maturidiyah yang dipadukan dengan fiqh Syafi‘i dan tasawuf al-Ghazali.
Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah sepakat bahwa Maturidiyah merupakan bagian sah dari Islam ortodoks, sejajar dengan Asy‘ariyah. Pemikiran mereka tidak menyimpang dari pokok akidah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, hanya berbeda dalam pendekatan rasional terhadap masalah-masalah kalam. Imam al-Ghazali menyatakan bahwa Maturidiyah dan Asy‘ariyah adalah dua jalan ilmiah dalam mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah dari serangan filsafat dan bid‘ah. Mereka sama-sama menolak tajsim (penyerupaan Allah dengan makhluk) dan menegakkan prinsip tauhid yang murni.
Pandangan ini juga ditegaskan oleh ulama besar seperti al-Nasafi (penulis al-‘Aqaid al-Nasafiyyah) dan al-Suyuthi, yang menjelaskan bahwa Maturidiyah hanyalah variasi dalam penalaran teologis, bukan perbedaan prinsip akidah. Oleh karena itu, tidak ada fatwa yang menyatakan kelompok ini sesat. Sebaliknya, mereka justru dianggap penjaga ortodoksi Islam di wilayah Timur seperti Asia Tengah dan Turki, sebagaimana Asy‘ariyah menjaga ortodoksi Islam di dunia Arab dan Afrika Utara.
Lembaga-lembaga internasional seperti Majma‘ al-Fiqh al-Islami (OKI) dan Universitas Al-Azhar Mesir secara resmi menegaskan bahwa Maturidiyah adalah mazhab akidah resmi Sunni bersama Asy‘ariyah. Di Indonesia, hampir seluruh pesantren dan lembaga keislaman tradisional mengikuti akidah Asy‘ariyah–Maturidiyah yang dipadukan dengan fiqh Syafi‘i dan tasawuf al-Ghazali. Hal ini menjadi ciri khas Islam Nusantara yang moderat, rasional, dan tetap berpijak pada sumber-sumber otentik Islam.
Tabel Perbandingan: Maturidiyah, Asy‘ariyah, dan Mu‘tazilah
| Aspek Aqidah | Maturidiyah | Asy‘ariyah | Mu‘tazilah | Penjelasan Ulama |
|---|---|---|---|---|
| 1. Hubungan Akal & Wahyu | Akal dapat mengetahui Allah dan kewajiban beriman sebelum wahyu | Akal terbatas; mengenal Allah hanya setelah datang wahyu | Akal sepenuhnya mampu menentukan baik dan buruk tanpa wahyu | Ulama menilai Maturidi lebih rasional, Asy‘ari lebih tekstual, dan Mu‘tazilah terlalu rasional |
| 2. Sifat-Sifat Allah | Menetapkan sifat Allah dengan penakwilan moderat | Menetapkan sifat tanpa tasybih, tapi lebih berhati-hati dalam tafsir | Menolak sifat Allah demi menjaga tauhid | Maturidi & Asy‘ari dianggap jalan tengah yang selamat |
| 3. Perbuatan Manusia | Manusia berkehendak, tetapi Allah menciptakan perbuatannya | Manusia “kasb” (mengusahakan), tapi Allah pencipta hakiki | Manusia pencipta mutlak atas perbuatannya | Maturidi lebih menekankan tanggung jawab manusia |
| 4. Definisi Iman | Pembenaran dalam hati (tidak bertambah/berkurang) | Iman adalah pembenaran dan ucapan (bisa bertambah/berkurang) | Iman dan amal satu kesatuan, bisa hilang karena dosa besar | Perbedaan ini tidak menyebabkan perpecahan aqidah, hanya aspek teologis |
| 5. Melihat Allah di Akhirat | Bisa melihat Allah tanpa menyerupakan | Sama | Mustahil karena Allah tidak berjisim | Ulama menetapkan bahwa keyakinan Maturidi & Asy‘ari sesuai hadits shahih |
| 6. Status Maturidiyah dalam Islam | Bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah | Bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah | Di luar Ahlus Sunnah wal Jama’ah | Konsensus ulama menetapkan Maturidiyah ortodoks dan sahih |
Maturidiyah dan Asy‘ariyah sama-sama diakui sebagai benteng aqidah Sunni. Keduanya berperan melindungi umat dari pengaruh ekstrem rasionalis seperti Mu‘tazilah dan kaum literal seperti Mujassimah. Perbedaan kecil di antara keduanya bersifat metodologis, bukan prinsip iman.
Pandangan Maturidiyah banyak memengaruhi dunia Islam Timur (Turki, Asia Tengah), sedangkan Asy‘ariyah lebih dominan di dunia Arab dan Asia Tenggara. Meski berbeda wilayah dan pendekatan, keduanya tetap berpegang teguh pada sumber aqidah yang sama: Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’.
Ketiga, ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf al-Qaradawi dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh memperuncing perbedaan antara Asy‘ariyah dan Maturidiyah, karena keduanya adalah dua sayap keilmuan Sunni yang sah dan saling melengkapi.
Bagaimana Sebaiknya Umat Islam Menyikapinya:
- Menjaga Ukhuwah di Atas Tauhid:
Umat Islam hendaknya memahami bahwa perbedaan antara Maturidiyah dan mazhab Sunni lainnya bukanlah perbedaan dalam pokok iman, melainkan dalam pendekatan rasional dan teologis. Persatuan umat jauh lebih utama daripada memperuncing perbedaan kecil. - Menguatkan Literasi Aqidah:
Kaum Muslim perlu mempelajari sejarah dan ajaran Maturidiyah agar memahami akar keilmuan Islam yang luas. Dengan begitu, umat tidak mudah menyesatkan sesama Muslim hanya karena perbedaan istilah. - Menghindari Fanatisme Mazhab:
Fanatisme yang berlebihan terhadap mazhab tertentu bisa menimbulkan perpecahan. Islam mengajarkan keseimbangan, dan setiap mazhab kalam yang berdiri di atas Al-Qur’an dan Sunnah patut dihormati. - Mengambil Nilai Moderasi:
Pendekatan rasional Maturidiyah dapat menjadi inspirasi dalam menjawab tantangan modern, seperti sains, filsafat, dan moral kontemporer, selama tetap berpegang pada sumber wahyu yang sahih. - Meneladani Adab Ilmiah Ulama:
Para ulama Maturidiyah seperti al-Maturidi dan al-Nasafi dikenal berakhlak lembut dalam berdialog. Umat Islam hendaknya meniru adab tersebut dalam berdiskusi, agar dakwah Islam tetap berwibawa dan rahmatan lil ‘alamin.
Kesimpulan:
Maturidiyah adalah salah satu mazhab teologi Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang memiliki kontribusi besar dalam menjaga kemurnian aqidah Islam melalui pendekatan rasional yang moderat. Didirikan oleh Imam al-Maturidi di Samarkand, mazhab ini menyeimbangkan antara akal dan wahyu, menolak ekstremisme rasional maupun tekstual. Ulama klasik dan kontemporer mengakui Maturidiyah sebagai bagian sah dari Islam ortodoks. Dalam menyikapi perbedaan kalam, umat Islam sebaiknya bersikap ilmiah, menghargai warisan ulama, dan menjaga persatuan di bawah panji tauhid dan akhlak mulia.

















Leave a Reply