MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

10 Tanda Berkahnya Harta dalam Perspektif Islam

10 Tanda Berkahnya Harta dalam Perspektif Islam)

Abstrak

Harta adalah salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada manusia sebagai amanah dan ujian. Namun, banyak harta tidak selalu identik dengan keberkahan. Dalam Islam, keberkahan harta bukan diukur dari jumlahnya, melainkan dari manfaat, ketenangan, serta kemudahan yang ditimbulkannya. Artikel ini membahas konsep berkah harta menurut Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama, disertai tanda-tanda harta yang berkah serta sikap yang sebaiknya diambil seorang Muslim untuk menjaga agar hartanya membawa kebaikan di dunia dan akhirat.


Dalam kehidupan modern, banyak orang beranggapan bahwa ukuran kesuksesan adalah jumlah harta yang dimiliki. Semakin banyak kekayaan yang dikumpulkan, semakin tinggi status sosial seseorang. Namun, dalam Islam, ukuran kekayaan tidak hanya ditentukan dari kuantitas, tetapi lebih pada nilai keberkahannya. Ada orang yang memiliki harta sedikit tetapi hidupnya tenang dan cukup, ada pula yang bergelimang harta namun hidupnya gelisah dan jauh dari kebahagiaan.

Keberkahan harta tidak hanya tercermin pada kemampuan membelanjakan untuk diri sendiri, tetapi juga pada manfaat yang dirasakan orang lain. Al-Qur’an dan Sunnah banyak menekankan pentingnya memperoleh harta dengan cara halal, mengelolanya dengan bijak, serta menginfakkannya di jalan Allah. Dengan pemahaman ini, seorang Muslim akan lebih fokus pada kualitas harta yang dimiliki, bukan hanya pada jumlahnya.

Berkah Harta Menurut Islam: Al-Qur’an, Sunnah, dan Penjelasan

Pertama, Al-Qur’an menegaskan bahwa keberkahan harta terkait erat dengan ketakwaan dan amal saleh. Allah berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf: 96). Ayat ini menunjukkan bahwa iman dan takwa adalah kunci turunnya keberkahan dalam harta, rezeki, serta kehidupan secara keseluruhan. Harta yang diperoleh dengan cara halal, disyukuri, dan dipergunakan dalam kebaikan akan membawa kebaikan berlipat ganda.

Kedua, dalam Sunnah, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa harta yang berkah adalah harta yang bermanfaat. Beliau bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang hartanya: dari mana ia memperoleh dan untuk apa ia membelanjakannya” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa keberkahan harta bukan pada banyaknya jumlah, melainkan pada sumber yang halal dan cara penggunaannya yang benar. Banyaknya harta tanpa kehalalan justru akan menjadi musibah dan hisab yang berat di akhirat.

Ketiga, para ulama menjelaskan bahwa berkahnya harta bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Imam Al-Ghazali menekankan bahwa keberkahan bukan diukur dari besarnya angka, melainkan dari rasa cukup, manfaat luas, dan ketenteraman batin. Seseorang yang memiliki sedikit harta namun merasa cukup, dapat membantu orang lain, dan hidupnya tenteram, sejatinya memiliki harta yang berkah. Sebaliknya, harta yang banyak namun menimbulkan kesombongan, pertengkaran, dan menjauhkan diri dari Allah adalah harta yang tidak berkah.

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله menjelaskan bahwa keberkahan harta bukanlah terletak pada banyak atau sedikitnya, melainkan pada manfaat, rasa cukup, dan ketenangan yang ditimbulkan darinya. Dalam Syarh Riyadhus Shalihin, beliau menekankan bahwa “harta yang sedikit tetapi diberkahi oleh Allah, lebih baik daripada harta yang banyak namun tidak ada keberkahannya.” Keberkahan harta terlihat ketika pemiliknya bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan tenang, tidak gelisah mengejarnya, mudah dibelanjakan untuk kebaikan, serta menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah melalui zakat, sedekah, dan amal saleh. Sebaliknya, harta yang melimpah tetapi menimbulkan kesibukan berlebih, menghalangi ibadah, melahirkan sifat tamak, dan menambah beban hisab di akhirat, maka harta tersebut tidak memiliki berkah meski tampak banyak di mata manusia. Dengan demikian, menurut Syekh Utsaimin, tanda keberkahan harta adalah ketika ia membawa pemiliknya kepada ketenangan, kecukupan, ketaatan, dan manfaat yang luas bagi orang lain.

Mau saya buatkan kutipan langsung teks Arab dari Syarh Riyadhus Shalihin tentang keberkahan harta untuk melengkapi penjelasan ini?

Tabel 10 Tanda Berkahnya Harta

No Tanda Berkah Harta Penjelasan
1 Diperoleh dari jalan halal Harta hasil kerja keras yang sesuai syariat, bukan dari riba, penipuan, atau haram.
2 Membawa ketenangan hati Pemiliknya merasa tenang, tidak gelisah, dan tidak serakah.
3 Cukup meski sedikit Meski harta sedikit, pemiliknya merasa cukup dan tidak kekurangan.
4 Mudah dipergunakan untuk kebaikan Harta digunakan untuk membantu keluarga, orang miskin, dan amal saleh.
5 Tidak menimbulkan pertengkaran Harta tidak menjadi sumber konflik dalam keluarga atau masyarakat.
6 Melahirkan rasa syukur Pemiliknya semakin dekat kepada Allah dan rajin bersyukur.
7 Menambah kebermanfaatan sosial Harta digunakan untuk membangun, mendukung pendidikan, atau membantu orang lain.
8 Menumbuhkan sifat dermawan Pemilik harta tidak kikir, tetapi ringan tangan dalam bersedekah.
9 Tidak melalaikan dari ibadah Harta tidak membuat pemiliknya lalai dari salat, zikir, dan ibadah lainnya.
10 Dipelihara dari kebinasaan Harta terhindar dari keborosan, hilang sia-sia, atau digunakan dalam maksiat.

Bagaimana Sebaiknya Muslim Bersikap

Seorang Muslim hendaknya memahami bahwa harta hanyalah amanah, bukan tujuan hidup. Oleh karena itu, sikap terbaik adalah bersyukur atas setiap rezeki yang Allah berikan, meskipun jumlahnya sedikit. Rasulullah ﷺ bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawahmu, dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan sikap ini, seorang Muslim akan terjaga dari sifat serakah dan selalu merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

Selain itu, Muslim sebaiknya menjadikan harta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini dilakukan dengan memperbanyak infak, sedekah, zakat, serta menolong orang lain yang membutuhkan. Allah berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji” (QS. Al-Baqarah: 261). Dengan sikap ini, harta tidak hanya berkah di dunia, tetapi juga menjadi tabungan pahala di akhirat.

Kesimpulan

Keberkahan harta dalam Islam bukan diukur dari banyaknya jumlah, melainkan dari sumber perolehannya, penggunaannya, dan manfaatnya bagi diri serta orang lain. Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama menegaskan bahwa harta yang halal, membawa ketenangan, menumbuhkan rasa syukur, serta memudahkan pemiliknya untuk beribadah adalah tanda keberkahan. Seorang Muslim hendaknya bersikap syukur, qanaah, dan dermawan agar hartanya tidak hanya memberi manfaat di dunia, tetapi juga menjadi cahaya di akhirat.


 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *