MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

PARENTING ISLAM: Mengatasi Perilaku Bertengkar dan Memukul pada Anak Menurut Islam dan Pendidikan Modern

PARENTING ISLAM: Mengatasi Perilaku Bertengkar dan Memukul pada Anak Menurut Islam dan Pendidikan Modern

Abstrak

Perilaku bertengkar atau memukul sering muncul pada anak sebagai bentuk ekspresi emosi yang belum terkendali. Dalam perspektif Islam, tindakan menyakiti orang lain, baik dengan lisan maupun tangan, sangat dilarang karena bertentangan dengan prinsip ukhuwah. Al-Qur’an, hadits shahih, dan penjelasan para ulama menekankan pentingnya menanamkan sikap lembut, memaafkan, dan menjaga persaudaraan. Sementara dalam pendidikan modern, perilaku agresif dipandang sebagai bagian dari proses belajar mengelola emosi. Oleh karena itu, perlu pendekatan yang menekankan keterampilan resolusi konflik, pengendalian diri, dan komunikasi yang sehat. Tulisan ini membandingkan strategi penanganan menurut Islam dan pendidikan modern agar orangtua dapat mendidik anak dengan cara komprehensif, lembut, dan efektif.

Perilaku bertengkar atau memukul teman/saudara merupakan fenomena umum pada anak-anak, khususnya pada fase awal perkembangan sosial. Anak sering kesulitan mengekspresikan perasaan marah, kecewa, atau cemburu dengan kata-kata, sehingga melampiaskannya dalam bentuk fisik. Jika tidak diarahkan, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi perilaku agresif yang merugikan dirinya maupun orang lain.

Dalam perspektif pendidikan Islam dan psikologi modern, perilaku ini tidak boleh dianggap remeh, tetapi juga tidak boleh dihukum dengan cara berlebihan. Islam menekankan kelembutan dalam membimbing anak, sementara psikologi modern menekankan latihan pengelolaan emosi dan keterampilan sosial. Kedua pendekatan ini dapat saling melengkapi sehingga anak tumbuh dengan akhlak mulia sekaligus keterampilan hidup yang sehat.

Bertengkar dan Memukul pada Anak Menurut Islam, Al-Qur’an, Sunnah, dan Penjelasan Ulama

  1. Larangan Menyakiti Sesama dalam Islam
    Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhalimi dan tidak boleh membiarkannya disakiti.” (HR. Bukhari no. 2442; Muslim no. 2580). Hadits ini menegaskan bahwa menyakiti sesama, baik dengan perkataan maupun perbuatan, adalah perbuatan tercela. Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (juz 5, hlm. 97) menjelaskan bahwa hadits ini meneguhkan prinsip ukhuwah yang harus dijaga sejak kecil.
  2. Al-Qur’an Melarang Kekerasan dan Menganjurkan Perdamaian
    Allah ﷻ berfirman: “Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya…” (QS. Al-Hujurat: 9). Walaupun ayat ini membicarakan orang dewasa, prinsipnya juga berlaku dalam pendidikan anak. Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (juz 16, hlm. 327) menekankan bahwa mendamaikan pihak yang bertengkar, termasuk anak-anak, adalah amal shalih yang sangat dianjurkan.
  3. Ulama tentang Pendidikan Akhlak Lembut
    Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkam al-Maulud (hlm. 238–239) menyebutkan bahwa anak-anak harus diarahkan dengan kelembutan, bukan kekerasan. Ia menegaskan bahwa perilaku agresif pada anak sebaiknya diluruskan dengan penanaman rasa kasih sayang, karena hati anak seperti tanah yang mudah dibentuk. Jika dibiasakan dengan kelembutan, ia akan tumbuh lembut, namun bila dibiasakan dengan kekerasan, ia akan menjadi keras.

Penanganan Menurut Islam, Al-Qur’an, Sunnah, dan Ulama

  1. Keteladanan Orangtua dalam Lembut dan Sabar
    Orangtua harus mencontohkan sikap sabar dan lembut. Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, melainkan yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114; Muslim no. 2609). Ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menegaskan bahwa hadits ini menjadi prinsip penting dalam mendidik anak agar tidak menyalurkan marah dengan memukul.
  2. Mengajarkan Meminta Maaf dan Memaafkan
    Al-Qur’an menegaskan: “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22). Ulama menekankan bahwa anak perlu dibiasakan untuk meminta maaf jika memukul temannya, sekaligus belajar memaafkan ketika disakiti.
  3. Mengajarkan Doa dan Mengingat Allah ketika Marah
    Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad no. 2134). Anak dapat diajarkan doa sederhana seperti A’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim untuk menenangkan diri ketika emosi. Ibn Taymiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa (juz 10, hlm. 91) menjelaskan bahwa doa dan zikir adalah metode paling ampuh menenangkan hati.
  4. Menghindari Hukuman Fisik Berlebihan
    Islam melarang keras kekerasan dalam mendidik. Imam As-Suyuthi dalam Al-Jami’ ash-Shaghir menekankan pentingnya kelembutan, dengan merujuk sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari no. 6024; Muslim no. 2165).

Penanganan Menurut Pendidikan Era Modern (Psikologi & Pedagogi Modern)

  1. Pengendalian Emosi (Self-Regulation)
    Psikolog Daniel Goleman dalam konsep Emotional Intelligence menjelaskan bahwa anak perlu belajar mengenali dan mengelola emosinya. Dengan cara ini, anak tidak melampiaskan kemarahan dengan memukul, tetapi bisa mengekspresikan dengan kata-kata.
  2. Conflict Resolution Skills
    Dalam pedagogi modern, anak diajarkan menyelesaikan konflik dengan berdialog. Guru atau orangtua dapat melatih anak menggunakan kalimat seperti: “Saya tidak suka ketika kamu mengambil mainanku.” Metode ini mengurangi potensi bentrokan fisik.
  3. Metode Time-Out atau Cooling Down Corner
    Metode ini dipakai untuk menenangkan anak yang emosinya memuncak. Anak diberi waktu beberapa menit di ruang tenang hingga emosinya mereda. Ini bukan hukuman, tetapi strategi regulasi emosi yang efektif.
  4. Positive Reinforcement
    Menurut B.F. Skinner (teori behavioristik), memberikan pujian atau penghargaan ketika anak berhasil menyelesaikan konflik tanpa kekerasan akan memperkuat perilaku positif tersebut.

Tabel Strategi Penanganan dalam Kehidupan Sehari-hari

Situasi Anak Memukul Menurut Islam Menurut Pendidikan Modern
Anak memukul saudaranya karena marah Orangtua menenangkan, mengingatkan sabda Nabi ﷺ tentang menahan marah, lalu mengajak anak berdoa Memberi time-out agar anak menenangkan diri sebelum berbicara
Anak merebut mainan dan bertengkar Orangtua menasihati dengan ayat QS. Al-Hujurat: 9 untuk mendamaikan Mengajarkan kalimat “Saya merasa…” agar anak mengekspresikan perasaan dengan kata-kata
Anak enggan minta maaf Orangtua mencontohkan sikap meminta maaf dan menjelaskan QS. An-Nur: 22 tentang memaafkan Orangtua memberi contoh langsung, lalu memberi pujian jika anak akhirnya mau minta maaf
Anak sering bertengkar Orangtua menanamkan nilai ukhuwah dengan hadits persaudaraan Menggunakan role play (bermain peran) untuk melatih penyelesaian konflik
Anak terbiasa marah-marah Orangtua melatih zikir A’udzu billahi… saat marah Mengajarkan teknik pernapasan dalam atau relaksasi

5 Kalimat yang Sebaiknya Digunakan & Tidak Digunakan

✅ Sebaiknya digunakan:

  1. Kamu anak yang sabar.
  2. Kita bisa selesaikan dengan baik.
  3. Mari kita belajar memaafkan.
  4. Kamu bisa bilang dengan kata-kata.
  5. Allah sayang anak yang lembut.

❌ Sebaiknya tidak digunakan:

  1. Kamu nakal sekali!
  2. Dasar pemarah!
  3. Kamu jahat sama adikmu.
  4. Kamu bandel, tidak bisa diatur.
  5. Kamu bikin malu orangtua.

Kesimpulan

Perilaku bertengkar atau memukul pada anak adalah bagian dari proses tumbuh kembang yang perlu diarahkan dengan benar. Islam menekankan kelembutan, memaafkan, dan menjauhi kekerasan, sementara pendidikan modern menekankan pengendalian emosi dan keterampilan sosial. Dengan pendekatan seimbang, anak belajar menyalurkan emosinya secara sehat dan tumbuh dengan akhlak mulia.

Saran

Pertama, orangtua hendaknya menjadi teladan utama dalam bersikap lembut dan sabar, karena anak belajar lebih banyak dari perilaku nyata daripada nasihat lisan. Kedua, orangtua perlu konsisten menanamkan nilai-nilai Islam sekaligus menerapkan teknik psikologi modern seperti positive reinforcement agar pembelajaran lebih efektif. Ketiga, lingkungan keluarga dan sekolah harus bekerja sama menciptakan suasana penuh kasih sayang sehingga anak terbiasa menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.


 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *