MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Tata Cara dan Keutamaan Shalat Idul Adha menurut Sunnah

Shalat Idul Adha merupakan salah satu syiar besar dalam Islam yang dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah. Praktik ibadah ini mencerminkan ketaatan kepada Allah ﷻ dan peringatan atas pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam. Artikel ini membahas tata cara pelaksanaan shalat Idul Adha berdasarkan sunnah Rasulullah ﷺ, pandangan empat mazhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), serta pandangan tujuh ulama kontemporer. Dengan mengedepankan sumber-sumber otentik dari hadis dan pandangan ulama, pembahasan ini bertujuan memberi panduan bagi umat Muslim dalam melaksanakan shalat Idul Adha sesuai tuntunan syar’i.


Hari raya Idul Adha merupakan momen agung dalam kalender Islam yang disertai dua ibadah utama: penyembelihan hewan kurban dan pelaksanaan shalat Id. Shalat ini dilaksanakan di pagi hari sebelum penyembelihan, sebagai bentuk pengagungan terhadap Allah ﷻ atas nikmat kehidupan dan pengorbanan. Dalam sunnah Nabi ﷺ, shalat Id dilaksanakan secara berjamaah, di tanah lapang atau masjid, tanpa adzan dan iqamah.

Namun, dalam praktiknya, umat Islam sering menjumpai perbedaan tata cara pelaksanaan shalat Idul Adha, baik dalam jumlah takbir, urutan khutbah, maupun teknis pelaksanaannya. Oleh karena itu, penting untuk memahami dasar-dasar tata cara shalat Id dari sisi hadis shahih dan perbandingan mazhab, termasuk bagaimana ulama kontemporer menanggapi konteks kekinian terkait pelaksanaan shalat ini.

Keutamaan Shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha memiliki kedudukan istimewa dalam Islam karena termasuk bagian dari syiar Allah ﷻ yang diperintahkan untuk diagungkan. Dalam QS. Al-Hajj ayat 32 disebutkan, “Demikianlah, dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” Syiar ini diwujudkan dalam bentuk shalat berjamaah di pagi hari yang menunjukkan persatuan dan semangat ibadah umat Islam.

Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan pelaksanaan shalat Id, bahkan beliau sendiri selalu keluar menuju tanah lapang untuk melaksanakannya, mengajak laki-laki, perempuan, anak-anak, hingga wanita haid (yang hanya menghadiri, tidak shalat). Ini menunjukkan pentingnya keterlibatan seluruh lapisan masyarakat dalam shalat Id sebagai bentuk ibadah kolektif.

Selain itu, shalat Idul Adha memiliki keutamaan tersendiri karena disertai dengan khutbah berisi pesan-pesan ketakwaan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Ini menjadi momen edukasi keagamaan yang efektif dan menyentuh, menjadikan shalat Id bukan sekadar ritual, tetapi juga penguatan nilai-nilai Islam.

Keutamaan lainnya adalah ia menjadi pembuka rangkaian ibadah kurban. Oleh karena itu, mendahulukan shalat sebelum penyembelihan memiliki nilai spiritual, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, “Barangsiapa menyembelih sebelum shalat, maka sembelihannya bukan kurban, dan hendaknya ia mengulanginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sunnah dalam Shalat Idul Adha Menurut Hadis

Shalat Idul Adha termasuk ibadah yang memiliki sejumlah sunnah berdasarkan praktik Rasulullah ﷺ. Di antaranya, Rasulullah ﷺ tidak melaksanakan adzan dan iqamah untuk shalat Id, namun langsung memulai dengan takbir. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa beliau mengerjakan shalat dua rakaat, lalu dilanjutkan dengan khutbah.

Jumlah takbir pada rakaat pertama adalah tujuh kali (selain takbiratul ihram) dan pada rakaat kedua lima kali (selain takbir bangkit dari sujud), sebagaimana dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi dari ‘Aisyah dan Ibnu Umar. Nabi ﷺ juga memerintahkan umat Islam untuk mengenakan pakaian terbaik dan berjalan kaki menuju tempat shalat jika memungkinkan.

Sunnah lainnya adalah memperbanyak takbir sejak malam Idul Adha hingga hari-hari tasyrik, sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah: 203 dan diamalkan para sahabat. Juga dianjurkan makan setelah shalat Idul Adha, berbeda dari Idul Fitri di mana disunnahkan makan sebelum shalat.

Tata Cara Shalat Idul Adha

Berikut adalah tata cara shalat Idul Adha menurut sunnah:

  1. Niat dalam hati untuk melaksanakan shalat Idul Adha dua rakaat karena Allah ﷻ.
  2. Rakaat Pertama:
    • Takbiratul ihram.
    • Membaca 7 takbir tambahan sambil mengangkat tangan, dengan pujian di antara takbir.
    • Membaca Al-Fatihah dan surat (disunnahkan Al-A’la).
    • Rukuk, sujud seperti biasa.
  3. Rakaat Kedua:
    • Bangkit dari sujud, takbir 5 kali tambahan.
    • Membaca Al-Fatihah dan surat (disunnahkan Al-Ghasyiyah).
    • Rukuk, sujud, dan tasyahud seperti biasa hingga salam.
  4. Khutbah Idul Adha dilaksanakan setelah shalat. Nabi ﷺ membaca khutbah dua bagian seperti khutbah Jumat, namun khutbah ini sunnah, bukan syarat sah shalat.

Pendapat Empat Mazhab

  • Hanafi: Shalat Id hukumnya wajib (fardhu kifayah), dua rakaat dengan 6 takbir tambahan (3 di awal, 3 setelah rukuk). Khutbah setelah shalat.
  • Maliki: Sunnah muakkadah, dua rakaat dengan 6 takbir tambahan (5 di awal, 1 di awal rakaat kedua). Khutbah disunnahkan.
  • Syafi’i: Sunnah muakkadah, dua rakaat dengan 7 takbir di rakaat pertama dan 5 takbir di rakaat kedua.
  • Hanbali: Sama seperti Syafi’i, mengikuti sunnah Nabi dalam jumlah takbir dan urutan khutbah.

Pandangan Ulama Kontemporer

  1. Dr. Yusuf Al-Qaradawi: Shalat Id adalah sunnah muakkadah, dua rakaat dengan takbir 7 dan 5. Khutbah penting untuk edukasi umat.
  2. Syaikh Ibnu Baz: Sunnah muakkadah, dilaksanakan tanpa adzan dan iqamah, dua rakaat dan khutbah setelahnya.
  3. Syaikh Utsaimin: Jumlah takbir 7 dan 5 mengikuti sunnah. Khutbah disunnahkan, bukan syarat.
  4. Syaikh Shalih Al-Fauzan: Wajib kifayah di masyarakat Muslim, dilaksanakan di tanah lapang jika memungkinkan.
  5. Lajnah Daimah: Memperkuat praktik sunnah Nabi, takbir tambahan tidak boleh ditinggalkan.
  6. Dr. Wahbah Az-Zuhaili: Sunnah muakkadah, khutbah mengandung nilai sosial dan keagamaan.
  7. Majelis Ulama Indonesia (MUI): Menganjurkan shalat Id berjamaah dan khutbah dengan pesan kebangsaan dan keislaman.

Kesimpulan

Shalat Idul Adha merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dan termasuk sunnah muakkadah menurut mayoritas ulama. Tata cara pelaksanaannya telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dengan jumlah takbir 7 dan 5, tanpa adzan dan iqamah, serta diikuti dengan khutbah. Empat mazhab dan ulama kontemporer sepakat pada prinsip-prinsip dasar ini, meskipun terdapat variasi dalam rincian teknis. Oleh karena itu, memahami sunnah dan pendapat mazhab menjadi penting agar umat Islam dapat melaksanakan shalat Idul Adha dengan benar, penuh khusyuk, dan sesuai syariat.

 

 


dr Widodo Judarwanto, pediatrician. Ketua Panitia Idul Adha dan Kurban , MAB (Masjid Al-Falah Benhil, Jakarta, Indonesia)
Info Qurban 087711553344 – 085888886268
SAPI 1/7 3,6 Juta (>sapi 350-400 kg), KAMBING/DOMBA 3,6 juta (Kambing/domba >35-40 kg)
https://masjidalfalahhbenhil.com
Rek BSI. No.1002174606. An. Yayasan Masjid Alfalah 1002174606, bila sudah tranfer kirim Screen Shoot bukti bayar ke 085-88888-6568 087711553344
KOMUNITAS MAB Penggerak Kebaikan, Ilmu dan Iman
https://chat.whatsapp.com/CHdxwdDzfFsGRwWXT6yJ5u

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *