MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Tauhid: Hakikat Keesaan Allah dalam Islam

Tauhid merupakan dasar utama ajaran Islam yang menyatakan keesaan Allah SWT dalam semua aspek ketuhanan. Konsep ini menjadi fondasi akidah seorang Muslim dan menjadi pembeda utama antara Islam dan agama-agama lainnya. Artikel ini membahas secara komprehensif dimensi-dimensi tauhid, yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Selain itu, dibahas pula makna etimologis tauhid, kedudukannya dalam Islam, serta pengaruh tauhid terhadap kualitas ibadah dan kehidupan manusia secara keseluruhan. Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan pandangan ulama, tauhid bukan sekadar keyakinan, melainkan sistem hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan.

Dalam Islam, tauhid menempati posisi sentral dalam seluruh sendi keimanan dan kehidupan. Tauhid berasal dari kata bahasa Arab waḥḥada–yuwaḥḥidu–tauḥīdan yang bermakna “menjadikan satu” atau “mengesakan.” Frasa syahadat “Lā ilāha illallāh” (tiada tuhan selain Allah) merupakan bentuk praktis pernyataan tauhid yang wajib diikrarkan oleh setiap Muslim. Melalui kalimat ini, seorang hamba menyatakan bahwa hanya Allah yang layak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah (pengaturan alam semesta), uluhiyah (hak disembah), dan asma wa sifat (nama dan sifat).

Tauhid tidak sekadar pemahaman teoretis, tetapi merupakan pondasi amal. Tauhid yang benar membimbing manusia untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala bentuk syirik, baik besar maupun kecil. Dalam konteks kehidupan nyata, tauhid memberikan kekuatan spiritual, keteguhan hati, dan arah hidup yang jelas. Tauhid juga menjadi dasar diterimanya semua amal perbuatan; amal tanpa tauhid tidak memiliki nilai di sisi Allah. Oleh karena itu, memahami dan mengamalkan tauhid secara benar menjadi kewajiban utama setiap Muslim.

Penjabaran Tauhid dalam Islam

Tauhid adalah inti dari ajaran Islam, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tauhid berasal dari kata wahhada-yuwahhidu, yang berarti mengesakan. Tauhid tidak sekadar pengakuan lisan, tetapi harus mencakup keyakinan hati dan pembuktian dalam amal perbuatan.

Tauhid terbagi menjadi tiga bentuk utama: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah (Ibadah), dan Tauhid Asma wa Sifat.


  1. Tauhid Rububiyah
    • Makna: Meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, menciptakan, mengatur, memberi rezeki, menjaga, dan merencanakan seluruh alam semesta.
    • Dalil Al-Qur’an: “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.”(Az-Zumar 39:62)
    • Pemahaman terhadap Rububiyah Allah ini sejatinya diakui oleh seluruh manusia. Bahkan orang-orang musyrik Quraisy pada masa Rasulullah ﷺ pun tidak mengingkari bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur alam. Namun, pengakuan terhadap Rububiyah saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang sebagai Muslim.
    • Allah berfirman:“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan? Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).”(Ath-Thur: 35–36)
    • Demikian pula:“Katakanlah: ‘Siapakah yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ … Maka dari jalan manakah kamu ditipu?”(Al-Mu’minun: 86–89)
  2. Tauhid Uluhiyah (Ibadah)
    • Makna: Mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah, baik lahiriah (seperti salat, zakat, haji) maupun batiniah (seperti tawakkal, cinta, takut, harap). Hanya Allah yang berhak menerima peribadahan manusia.
    • Dalil Al-Qur’an:“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan demikian…”(Ali ‘Imran 3:18)
    • Tauhid Uluhiyah inilah yang menjadi inti dakwah para nabi dan rasul, serta yang paling ditentang oleh kaum musyrikin. Mereka mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi enggan mengesakan-Nya dalam ibadah.“Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”(Shaad 38:5)
  3. Tauhid Asma’ wa Sifat
    1. Makna: Beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah (Asmaul Husna) dan sifat-sifat yang sempurna, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, tanpa:
      1. Tahrif: mengubah makna,
      2. Takyif: membayangkan bagaimana bentuknya,
      3. Takwil: menyelewengkan makna dari yang dimaksud,
      4. Ta’til: menolak atau mengingkari sifat,
      5. Tafwidh: menyerahkan makna tanpa memahami lafaz.

Perkataan Imam Syafi’i:

“Aku beriman kepada Allah dan apa yang datang dari Allah, sesuai dengan maksud Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah, sesuai dengan maksud Rasulullah.”Iman terhadap nama dan sifat Allah merupakan bentuk pengagungan terhadap keesaan dan kemuliaan-Nya.


 Tidak Ada Tauhid Mulkiyah atau Hakimiyah

Tauhid dalam Islam bukan empat, melainkan tiga seperti penjabaran di atas. Istilah seperti “Tauhid Mulkiyah” atau “Tauhid Hakimiyah” tidak dikenal dalam sumber klasik Islam dan merupakan istilah baru. Bila maksudnya adalah pengakuan atas kekuasaan Allah, maka itu telah tercakup dalam Tauhid Rububiyah. Bila maksudnya adalah pelaksanaan hukum Allah di muka bumi, maka itu sudah masuk dalam Tauhid Uluhiyah, karena tunduk kepada hukum Allah adalah bagian dari ibadah kepada-Nya.

Allah berfirman:“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(Yusuf 12:40)


KESIMPULAN

Memahami tauhid secara utuh adalah fondasi keselamatan akidah seorang Muslim. Tiga bentuk tauhid di atas bukan hanya untuk diketahui secara teori, tetapi harus diyakini dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Barang siapa menyekutukan Allah dalam satu bentuk saja dari tiga bentuk tauhid ini, maka ia telah keluar dari jalur tauhid yang lurus.

Tauhid adalah inti dari ajaran Islam yang tidak hanya menekankan keesaan Allah dalam penciptaan dan pengaturan alam, tetapi juga dalam hal ibadah dan penyifatan Allah. Ketiga dimensi tauhid—rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat—harus diimani dan diamalkan secara utuh. Tauhid tidak dapat disamakan dengan konsep keesaan dalam matematika atau filsafat, karena keesaan Allah bersifat mutlak dan tidak dapat dijangkau oleh logika manusia semata. Memurnikan ibadah hanya kepada Allah dan menjauhkan diri dari syirik adalah aplikasi nyata dari tauhid dalam kehidupan seorang Muslim. Tauhid yang lurus menjadi sumber kebaikan, sedangkan penyimpangan darinya menjadi sebab segala bentuk kerusakan moral dan spiritual di muka bumi.


 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *