MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

10 Sunah Rasul di Hari Jumat: Amalan Penuh Keberkahan untuk Menyempurnakan Ibadah

Hari Jumat adalah hari yang sangat mulia dalam Islam, dan Rasulullah SAW telah mengajarkan berbagai sunah yang dapat kita amalkan untuk meraih keberkahan. Di hari yang penuh dengan rahmat ini, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan amalan-amalan yang tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga mempererat hubungan dengan Allah SWT. Mengikuti sunah-sunah Rasul di hari Jumat merupakan cara untuk memperoleh pahala yang berlipat ganda dan memperbaiki kualitas hidup kita.

Melaksanakan sunah-sunah Rasul di hari Jumat bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan kedekatan kita dengan Allah. Setiap amalan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW memiliki hikmah dan manfaat yang besar. Artikel ini akan membahas sepuluh sunah Rasul di hari Jumat yang dapat diikuti oleh setiap Muslim untuk meraih keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah.

  1. Membaca Surah Al-Kahfi
    • Hadits Shahih: “Barang siapa membaca membaca al-Kahfi pada malam Jumat, niscaya cahaya akan meneranginya antara dirinya hingga ke Baitul Atiq (Ka’bah).” (HR. Ad-Darimi No. 3407. Hadits shahih)
    • Membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Surah ini mengandung banyak pelajaran berharga, mulai dari kisah para pemuda yang tidur di gua hingga kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr. Surah Al-Kahfi memberikan petunjuk hidup yang sangat relevan dengan tantangan zaman. Rasulullah SAW menjanjikan cahaya bagi orang yang membacanya pada hari Jumat, yang menjadi simbol keberkahan dan petunjuk hidup dari Allah.
    • Selain itu, membaca Surah Al-Kahfi juga menjadi sarana untuk mengingatkan diri kita akan pentingnya keteguhan hati dalam menghadapi ujian hidup. Dengan membaca surah ini, kita juga dapat memperbaharui semangat dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  2. Mandi Jumat dan Bersiwak
    • Jika telah tiba waktu Jumat, hendaklah kalian mandi.” (HR. Al-Bukhari No. 877)
    • Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jumat, dia bersuci sebersih bersihnya, dia memakai minyak rambut, atau memakai minyak wangi yang ada di rumahnya, lalu dia keluar menuju masjid tanpa membelah barisan di antara dua orang, kemudian dia shalat sebagaimana diperintahkan, lalu dia diam ketika khatib menyampaikan khutbah, melainkan akan diampuni sejauh hari itu dan Jumat yang lainnya.” (HR. Al-Bukhari No. 883)
    • Barang siapa hendak melaksanakan shalat Jumat, selayaknya ia mandi Jumat, jika memiliki parfum hendaknya ia memakainya, dan bersiwaklah.” (HR. Ibnu Majah No. 1098. Hadits hasan)
    • Bagi tiap laki-laki muslim, tiap tujuh hari, ada satu hari ia hendaknya mandi, yaitu hari Jumat.” (HR. An-Nasa’i No. 1378. hadits shahih lighairihi)
    • Mandi pada hari Jumat itu wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.” (HR. Al-Bukhari)
    • Mandi Jumat adalah salah satu sunah yang sangat dianjurkan pada hari Jumat. Rasulullah SAW menekankan pentingnya mandi sebagai persiapan untuk menyambut hari yang penuh dengan keberkahan ini. Mandi Jumat bukan hanya untuk kebersihan fisik, tetapi juga untuk membersihkan hati dan menyegarkan semangat dalam menjalani ibadah. Selain itu, Rasulullah juga menganjurkan untuk bersiwak, yaitu membersihkan gigi dengan siwak, yang menjadi amalan sunnah yang sangat disukai oleh Allah.
    • Mandi Jumat dan bersiwak menjadi simbol kesiapan seorang Muslim untuk melaksanakan ibadah dengan penuh khusyuk. Ini juga menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan, yang merupakan bagian dari iman dalam Islam. Dengan melaksanakan sunah ini, kita menyambut hari Jumat dengan hati yang bersih dan tubuh yang segar.
  3. Berhias, Memakai Parfum, Memakai Minyak Rambut
    • Ada tiga hak yang hendaknya dilakukan setiap muslim; mandi Jumat, Siwak, dan memakai parfum, jika ada.” (HR. Ahmad No. 16397. Hadits shahih)
    • Sudah menjadi hak bagi setiap muslim untuk mandi Jumat, lalu bersiwak, kemudian memakai parfum jika ia memiliki.” (HR. Ahmad No. 16398. Sanad hadits ini shahih)
    • Apakah tidak semestinya salah seorang dari kalian memiliki dua pakaian atau jika salah seorang punya kemampuan mempunyai dua pakaian untuk melaksanakan shalat Jumat selain pakaian untuk bekerja sehari-hari?” (HR. Abu Daud No. 1078. Hadits shahih)
    • Hari Jumat adalah hari yang sangat mulia, dan Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk berhias dengan baik pada hari tersebut. Berhias di sini mencakup memakai pakaian yang bersih dan rapi, serta menggunakan parfum atau minyak rambut. Ini adalah bentuk penghormatan kita terhadap hari yang penuh berkah dan juga terhadap diri kita sendiri. Dengan berhias, kita menunjukkan rasa syukur dan kesiapan untuk menjalani ibadah dengan penuh semangat.
    • Memakai parfum dan minyak rambut juga menunjukkan pentingnya menjaga penampilan dan kebersihan diri. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk tampil dengan wangi dan rapi, tidak hanya untuk ibadah, tetapi juga sebagai bagian dari adab dan etika dalam kehidupan sehari-hari.
  4. At-Tabkir: Berangkat ke Masjid di Awal Waktu
    • “Andai ia keluar untuk shalat Jumat setelah shalat Subuh, sebelum matahari terbit, tentu itu lebih baik.” (Al-Jumu’ah, Adab wa Ahkam, Abi al-Mundzir Sami as-Sa’idi, 9)
    • “Ukuran at-Tabkir (berangkat ke masjid di awal waktu) yang disyariatkan adalah waktu ketika zawal matahari. Tidak disyariatkan untuk berangkat ke masjid di awal waktu sejak awal siang.” (Al-Jumu’ah, Adab wa Ahkam, Abi al-Mundzir Sami as-Sa’idi, 9)“Barang siapa mandi pada hari Jumat, membersihkan badannya dan bersegera pergi ke masjid, kemudian berdiam diri dengan penuh konsentrasi mendengarkan khutbah, maka setiap langkah yang diayunkan mendapatkan pahala seperti pahala setahun, yaitu pahala puasanya dan shalat malamnya.” (HR. At-Tirmidzi No. 496. Hadits shahi
    • “Barang siapa yang pergi ke masjid pada hari Jumat, hendaklah ia berangkat di awal waktu.” (HR. Al-Bukhari)
    • At-Tabkir adalah sunah yang mengajarkan umat Islam untuk berangkat ke masjid lebih awal pada hari Jumat. Rasulullah SAW menganjurkan agar kita tidak terlambat dalam menghadiri shalat Jumat, karena semakin awal kita berangkat, semakin besar pula pahalanya. Berangkat di awal waktu juga memberikan kesempatan untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum khutbah, serta memperbanyak dzikir dan doa di masjid.
    • Berangkat lebih awal ke masjid juga mencerminkan keseriusan dan keinginan untuk mendapatkan keberkahan dari Allah. Ini adalah bentuk pengorbanan waktu dan usaha dalam menjalankan ibadah, serta menunjukkan rasa cinta kita terhadap masjid sebagai tempat ibadah yang mulia.
  5. Mendatangi Masjid dengan Berjalan Kaki
    • Barang siapa membasuh kepala dan seluruh badannya, berangkat di awal waktu dan mendapat awal khutbah, berjalan dan tidak berkendaraan, mendekati imam dan mendengarkan khutbah serta tidak berbuat sia-sia maka setiap langkah akan dihitung sebagai ibadah selama satu tahun dengan pahala puasa dan shalat malamnya.” (HR. Ibnu Majah No. 1087; HR. Abu Daud No. 345)
    • Ulama mazhab Maliki juga berpendapat serupa; tidak ada anjuran untuk berjalan kaki ketika pulang dari masjid. Sebab, rangkaian ibadahnya sudah selesai. (Hasyiyah ad-Dasuki, 1/381)
    • Mendatangi masjid dengan berjalan kaki adalah salah satu sunah yang sangat dianjurkan pada hari Jumat. Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap langkah yang kita ambil untuk menuju masjid akan mendapatkan pahala yang besar, seperti pahala orang yang berpuasa dan shalat malam. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan hari Jumat dan betapa pentingnya usaha kita untuk melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati.
    • Berjalan kaki menuju masjid untuk shalat Jumat adalah wujud ketundukan manusia kepada Allah ‘azza wajalla. Sebab, perjalanan orang yang mendatangi masjid untuk shalat Jumat pada hakikatnya adalah perjalanan untuk memenuhi panggilan Allah ‘azza wajalla. Butuh ketundukan dalam memenuhi panggilan Allah ‘azza wajalla.
    • Namun jika ada uzur syar’i yang memberatkan diri untuk pergi ke masjid dengan berjalan kaki, maka ia boleh menggunakan alat transportasi, baik untuk perjalanan pergi ke masjid atau pulang dari masjid. (Kasyaf al-Qina’, Imam al-Bahuti, 2/42)
    • Dengan berjalan kaki menuju masjid, kita juga dapat merasakan kedekatan dengan Allah, karena setiap langkah kita menuju masjid adalah langkah menuju keberkahan. Ini juga menjadi sarana untuk menjaga kesehatan tubuh sekaligus mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
  6. Diam saat Mendengarkan Khatib Menyampaikan Materi Khutbah Jumat
    • Hadits Shahih: “Jika kalian mendengar khatib sedang berkhutbah, maka diamlah dan dengarkanlah dengan baik.” (HR. Al-Bukhari)
    • Saat khutbah Jumat disampaikan, Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk diam dan mendengarkan dengan seksama. Khutbah Jumat adalah kesempatan untuk mendapatkan nasihat dan petunjuk hidup dari Allah melalui lisan khatib. Dengan diam dan mendengarkan, kita menunjukkan rasa hormat dan perhatian terhadap pesan-pesan yang disampaikan, serta memanfaatkan waktu ini untuk memperbaiki diri.
    • Diam saat khutbah juga mencerminkan kesungguhan kita dalam beribadah dan mengikuti sunah Rasul. Ini adalah cara kita untuk menjaga kekhusyukan dalam ibadah Jumat dan menyerap hikmah yang terkandung dalam khutbah tersebut.
  7. Tetap Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid meski Khatib Sedang Menyampaikan Khutbah Jumat
    • “Shalat sunnah Tahiyatul Masjid tetap dilakukan meski khatib sedang menyampaikan khutbah.” (HR. Al-Bukhari)
    • Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid adalah shalat yang dilakukan ketika seseorang masuk masjid sebelum duduk. Meskipun khutbah Jumat sedang berlangsung, kita tetap dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah ini. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk tetap menjaga ibadah sunnah ini sebagai bentuk penghormatan terhadap masjid dan untuk menjaga semangat beribadah.
    • Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid ini menjadi sarana untuk memperbaharui niat dan meningkatkan kekhusyukan dalam ibadah. Dengan melaksanakan shalat ini, kita juga dapat merasakan kedekatan dengan Allah, serta memperoleh pahala tambahan yang sangat berharga.
  8. Memperbanyak Shalat Tathawwu’ Mutlak
    • “Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jumat lalu bersuci semaksimal mungkin, memakai wewangian miliknya atau minyak wangi keluarganya, lalu keluar rumah menuju Masjid, ia tidak memisahkan dua orang pada tempat duduknya lalu dia shalat yang dianjurkan baginya dan diam mendengarkan khutbah Imam, kecuali dia akan diampuni dosa-dosanya yang ada antara Jum’atnya itu dan Jumat yang lainnya.” (HR. Al-Bukhari No. 883)
    • Jika seorang dari kalian shalat Jumat, hendaknya ia shalat empat rekaat setelahnya.” (HR. Al-Bukhari No. 881)
    • Shalat tathawwu’ mutlak adalah shalat sunnah yang dilakukan tanpa ada batasan waktu tertentu. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk memperbanyak shalat sunnah ini pada hari Jumat, karena hari ini penuh dengan keberkahan. Shalat tathawwu’ mutlak memberikan kesempatan bagi kita untuk lebih dekat dengan Allah dan memperoleh pahala yang berlipat ganda.
    • Dengan memperbanyak shalat tathawwu’ mutlak, kita dapat mengisi waktu luang di hari Jumat dengan ibadah yang bermanfaat. Ini juga menjadi sarana untuk memperbaiki kualitas ibadah kita secara keseluruhan.
  9. Memperbanyak Shalawat
    • Hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat karena pada hari itu Nabi Adam dicipta, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu ditiupnya sangkakala (menjelang kiamat), dan pada hari (merekadijadikan pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku, karena shalawat kalian akan sampai kepadaku.” (HR. An-Nasa’i No. 1374. Hadits shahih)
    • Tidak ada hadits shahih yang menginformasikan soal waktu tertentu untuk membaca shalawat di hari Jumat.
    • Beberapa hadits yang menginformasikan soal waktu tertentu untuk membaca shalawat di hari Jumat oleh para ulama hadits tersebut dinilai dha’if, bahkan maudhu’.
  10. Menyantuni Orang Miskin
    1. Tidak perlu mengkhususkan hari Jum’at untuk bersedekah. Karena pengkhususan yang demikian membutuhkan dalil. Dan sepengetahuan kami tidak ada dalil yang mengkhususkan hari Jum’at untuk bersedekah. Alasan lainnya, walaupun hari Jum’at memiliki berbagai kekhususan dan keutamaan, ternyata terdapat larangan untuk mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa. Juga terdapat larangan mengkhususkan malam Jum’at untuk melaksanakan shalat khusus.
    2. Jangan kalian mengkhususkan malam Jum’at untuk melakukan shalat tertentu dibandingkan malam-malam yang lain. Dan jangan kalian mengkhususkan untuk puasa di hari Jum’at dibandingkan hari-hari yang lain. Kecuali jika hari Jum’at bertepatan dengan hari-hari kalian biasa berpuasa” (HR. Muslim).
    3. Dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, ia berkata: “Aku bertanya kepada Jabir bin Abdillah tentang apakah Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam melarang puasa di hari Jum’at? Jabir menjawab: benar” (HR. Bukhari dan Muslim).
    4. Dan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian puasa di hari Jum’at. Kecuali kalian puasa di hari sebelumnya atau di hari setelahnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
    5. Namun memang sebagian ulama menyebutkan adanya keutamaan sedekah di hari Jum’at. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Di antara petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam adalah mengagungkan hari ini (hari Jum’at) dan memuliakannya. Juga mengkhususkan hari tersebut dengan ibadah-ibadah dibandingkan hari-hari lainnya” (Zaadul Ma’ad, 1/363). Di antara bentuk pengkhususan tersebut, beliau juga menjelaskan: “Sedekah memiliki keistimewaan di hari Jum’at dibandingkan hari-hari lainnya. Bersedekah di hari Jum’at dibandingkan hari-hari lainnya selama satu pekan seperti sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya” (Zaadul Ma’ad, 1/394). Beliau juga mengatakan: “Dan aku melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (semoga Allah mensucikan ruhnya) beliau keluar rumah dan membawa apa yang ia miliki di dalam rumah berupa roti atau makanan lainnya, kemudian beliau sedekahkan di jalan secara sembunyi-sembunyi. Dan aku pernah mendengar beliau berkata: Ketika Allah memerintahkan kita untuk bersedekah sebelum bermunajat kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, maka sedekah sebelum bermunajat kepada Allah lebih utama dan lebih besar keutamaannya” (Zaadul Ma’ad, 1/394).

Mengamalkan sunah-sunah Rasul di hari Jumat tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga membawa keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap amalan yang dilakukan dengan ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda. Oleh karena itu, mari kita jadikan hari Jumat sebagai hari yang penuh dengan ibadah, doa, dan kebaikan untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *