Sebagai umat Muslim yang taat pada Al-Quran dan Sunnah, menyikapi keberadaan berbagai aliran dalam Islam memerlukan pendekatan yang bijaksana dan penuh hikmah. Perbedaan aliran sering kali muncul karena perbedaan dalam memahami teks Al-Quran dan Hadis, serta konteks sejarah dan budaya yang melatarbelakangi. Dalam menyikapi perbedaan ini, umat Islam hendaknya berpegang pada prinsip bahwa keragaman adalah bagian dari kehendak Allah, sebagaimana firman-Nya: “Dan kalau Tuhanmu menghendaki, tentulah Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS. Hud: 118). Sikap saling menghormati dan tidak mudah menghakimi menjadi kunci untuk menjaga persatuan umat.
Aliran Dalam Islam Berdasarkan Quran dan Sunah
Islam adalah agama yang memiliki dasar yang kokoh dalam Al-Quran dan Hadis, yang merupakan pedoman utama umat Muslim. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, Islam mengalami perkembangan pemikiran dan praktik yang melahirkan berbagai aliran. Aliran-aliran ini muncul karena perbedaan penafsiran terhadap ajaran Islam, perbedaan konteks budaya, serta respons terhadap tantangan zaman. Meskipun berbeda dalam beberapa aspek, semua aliran tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar Islam: tauhid, kenabian, dan akhirat.
Perbedaan ini, pada satu sisi, memperkaya khazanah pemikiran Islam, tetapi di sisi lain, juga menjadi sumber perdebatan di kalangan umat. Oleh karena itu, memahami aliran-aliran ini penting untuk menghargai keragaman pemikiran dalam Islam, sekaligus menemukan titik temu yang dapat memperkuat persatuan umat. Berikut adalah 10 aliran utama dalam Islam yang dijelaskan secara detil.
10 Aliran Dalam Islam Berdasarkan Quran dan Sunah
- Sunni Sunni adalah aliran mayoritas dalam Islam yang berpegang pada Al-Quran, Sunnah, dan ijma’ (konsensus) para ulama. Sunni menekankan pentingnya mengikuti empat mazhab fikih utama: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Aliran ini percaya bahwa kepemimpinan umat Islam setelah Rasulullah ﷺ adalah berdasarkan musyawarah, sebagaimana ditunjukkan dalam pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dasar pemikiran Sunni terdapat dalam QS. An-Nisa: 59: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” Selain itu, hadis Nabi ﷺ yang menyatakan, “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan.” (HR. Tirmidzi) menjadi landasan penting dalam konsep ijma’.
- Syiah Syiah adalah aliran yang menekankan kepemimpinan Ahlul Bait (keluarga Rasulullah ﷺ). Mereka meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus sah Rasulullah ﷺ berdasarkan wasiat. Syiah memiliki cabang-cabang utama seperti Imamiyah (Itsna Asyariyah), Zaidiyah, dan Ismailiyah, yang berbeda dalam pandangan tentang imamah (kepemimpinan spiritual). Dasar pemikiran Syiah dapat ditemukan dalam QS. Al-Ahzab: 33: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Selain itu, hadis Nabi ﷺ: “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara: Kitab Allah dan Ahlul Baitku.” (HR. Muslim) menjadi rujukan utama.
- Khawarij Khawarij adalah aliran yang muncul sebagai reaksi terhadap arbitrase dalam Perang Shiffin antara Ali dan Muawiyah. Mereka terkenal dengan sikap keras terhadap dosa besar, dengan menganggap pelakunya keluar dari Islam. Khawarij juga menolak kepemimpinan yang tidak sesuai dengan standar keimanan mereka. Dasar pemikiran mereka sering dikaitkan dengan QS. Al-Maidah: 44: “Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” Namun, pemahaman mereka dianggap ekstrem oleh mayoritas umat Islam.
- Mu’tazilah Mu’tazilah adalah aliran yang menekankan akal dalam memahami agama. Mereka terkenal dengan lima prinsip: tauhid, keadilan, janji dan ancaman, posisi di antara dua posisi (pelaku dosa besar bukan kafir atau mukmin), dan amar ma’ruf nahi munkar. Mu’tazilah berkembang pesat di era Abbasiyah. Dasar pemikiran mereka adalah QS. Al-Ankabut: 20: “Perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya kembali.” Mereka juga mengacu pada hadis yang mendorong penggunaan akal, seperti “Berpikir sesaat lebih baik daripada ibadah setahun.” (HR. Abu Nu’aim).
- Asy’ariyah Asy’ariyah adalah aliran teologi yang berupaya mendamaikan antara nalar dan wahyu. Didirikan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari, aliran ini menolak ekstremitas Mu’tazilah dalam mengutamakan akal, tetapi tetap menggunakan akal dalam batas tertentu untuk mendukung wahyu. Dasar pemikiran Asy’ariyah adalah QS. An-Nahl: 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” Mereka juga mengacu pada hadis: “Iman itu adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota tubuh.” (HR. Bukhari).
- Maturidiyah Maturidiyah, didirikan oleh Abu Mansur al-Maturidi, adalah aliran teologi yang serupa dengan Asy’ariyah, tetapi lebih menekankan kemampuan akal manusia untuk mengetahui Tuhan tanpa wahyu. Aliran ini banyak diikuti oleh penganut mazhab Hanafi. Dasar pemikiran mereka adalah QS. Al-Baqarah: 256: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” Mereka juga menggunakan hadis tentang pentingnya niat: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
- Sufisme Sufisme adalah jalan spiritual dalam Islam yang berfokus pada penyucian hati dan kedekatan dengan Allah. Sufisme sering dikaitkan dengan praktik zikir, wirid, dan tarekat. Tokoh-tokoh besar seperti Al-Ghazali dan Jalaluddin Rumi banyak memengaruhi perkembangan sufisme. Dasar pemikiran sufisme adalah QS. Al-Ahzab: 41: “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya.” Selain itu, hadis Nabi ﷺ: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).
- Qadariyah Qadariyah adalah aliran yang menekankan kebebasan kehendak manusia. Mereka percaya bahwa manusia memiliki kendali penuh atas perbuatannya dan tidak dipaksa oleh takdir Allah. Aliran ini muncul sebagai respons terhadap pandangan Jabariyah. Dasar pemikiran mereka adalah QS. Al-Kahfi: 29: “Maka barang siapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.” Hadis: “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (HR. Muslim).
- Jabariyah Jabariyah adalah aliran yang berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas, melainkan segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah semata. Aliran ini sering dianggap fatalistik. Dasar pemikiran mereka adalah QS. Al-Baqarah: 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Mereka juga mengacu pada hadis: “Segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah.” (HR. Muslim).
- Salafiyah Salafiyah adalah gerakan reformasi Islam yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka menekankan pemurnian akidah dari syirik dan bid’ah, serta kembali kepada ajaran Quran dan Sunnah. Dasar pemikiran mereka adalah QS. An-Nisa: 48: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.” Mereka juga mengacu pada hadis: “Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya, maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perbedaan aliran dalam Islam mencerminkan keragaman cara berpikir umat dalam memahami ajaran agama. Meskipun terdapat perbedaan, prinsip dasar Islam tentang tauhid, kenabian, dan akhirat tetap menjadi landasan bersama. Perbedaan ini seharusnya menjadi peluang untuk saling belajar, bukan alasan untuk berpecah belah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat: 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” Persatuan umat dapat terwujud dengan saling menghormati perbedaan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dalam memimpin umatnya.
Sebagai umat Muslim yang taat kepada Al-Quran dan Sunnah, kita diajarkan untuk menyikapi perbedaan aliran dalam Islam dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Dalam menghadapi banyaknya aliran yang ada, kita harus menghindari sikap saling memfitnah atau mencela satu sama lain. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak boleh menzalimi dan tidak boleh menghinanya.” (HR. Muslim). Oleh karena itu, dalam menghadapi perbedaan, kita harus menjaga adab dan saling menghormati, serta tidak terjebak dalam perdebatan yang merugikan, yang justru dapat memperburuk keadaan dan memecah belah umat.
Sikap yang lebih bijak adalah dengan tidak saling membubarkan pengajian atau menolak pengajian yang ada, meskipun mungkin ada perbedaan pendapat. Pengajian adalah tempat untuk mencari ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Oleh karena itu, kita harus mengutamakan persamaan dan menjauhi perpecahan. Kita harus menyadari bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam metode atau mazhab, tujuan kita adalah sama, yaitu mencari keridhaan Allah dan mengikuti ajaran Rasul-Nya.
Umat Islam harus mengutamakan persatuan dan ukhuwah Islamiyah, dengan berpegang teguh pada tali Allah yang satu, yaitu Al-Quran dan Sunnah. Allah berfirman dalam QS. Al-Imran: 103, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” Dengan saling berpegang pada prinsip-prinsip dasar agama yang sama, kita dapat menjaga persatuan umat dan menghindari perpecahan. Sebagai umat yang satu, kita harus berusaha untuk membangun rasa saling pengertian dan persaudaraan, serta mengutamakan ukhuwah Islamiyah di atas perbedaan yang ada. Persatuan umat adalah kekuatan yang besar, dan kita harus bersatu untuk memperjuangkan nilai-nilai kebaikan dalam Islam.
“Mari kita bangun persatuan umat dengan berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah, saling menghormati, dan mengutamakan ukhuwah Islamiyah di atas perbedaan, karena kekuatan umat terletak pada kebersamaan dan kerendahan hati.””Dalam menghadapi perbedaan, jangan biarkan fitnah merusak ukhuwah kita, tetapi jadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman untuk saling mendukung, menjaga persatuan, dan berpegang pada tali Allah yang satu.” Utamakan Persamaan Jauhkan Perbedaan. Wallahualam bishawab.
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim. (n.d.). Al-Qur’an dan terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia.
- Bukhari, M. I. (1971). Shahih al-Bukhari (terj. M. Muhsin Khan). Medina: Dar al-Ma’arifah.
- Muslim, M. H. (1972). Shahih Muslim (terj. Abdul Hamid Siddiqui). Beirut: Dar al-Arabia.
- Al-Ghazali, A. H. (2015). Ihya’ Ulumuddin (Rev. Ed.). Cairo: Dar al-Turath al-Arabi.
- Armstrong, K. (2002). Islam: A short history. New York: Modern Library.
- Nasution, H. (1974). Teologi Islam: Aliran-aliran, sejarah analisa perbandingan. Jakarta: UI Press.
- Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. Chicago: University of Chicago Press.
- Qutb, S. (1991). Fi Zilalil Quran (In the shade of the Quran). Cairo: Dar al-Shorouk.
- Ibn Taimiyyah, A. H. (1995). Majmu’ al-Fatawa (Vol. 1–35). Riyadh: Dar al-Watan.
- Abduh, M. (1966). Risalah Tauhid (The theology of unity). Cairo: Al-Manar Press.
- Rumi, J. D. (2004). The Masnavi: Book One (terj. Jawid Mojaddedi). Oxford: Oxford University Press.
- Watt, W. M. (1973). The formative period of Islamic thought. Edinburgh: Edinburgh University Press.
- Esposito, J. L. (2002). What everyone needs to know about Islam. Oxford: Oxford University Press.
- Hourani, A. (1991). A history of the Arab peoples. Cambridge, MA: Belknap Press of Harvard University Press.
- Smith, J. I. (2003). Islam in America. New York: Columbia University Press.
















Leave a Reply