LIMA PENDETA MEMILIH ISLAM: PERGULATAN KONSEP KETUHANAN DAN PENCARIAN TAUHID
Ketika perjalanan spiritual membawa seorang pemuka agama mempertanyakan kembali hakikat Tuhan
Perpindahan keyakinan seorang pemuka agama merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji secara ilmiah. Mereka bukan orang yang asing terhadap agama. Sebaliknya, sebagian telah bertahun-tahun mempelajari kitab suci, menjalankan ritual keagamaan, bahkan mengajarkan doktrin kepada umat. Karena itu, ketika seorang pendeta kemudian memilih Islam, proses tersebut biasanya merupakan perjalanan spiritual yang panjang, bukan keputusan spontan.
- Salah satu kisah yang mendapat perhatian luas adalah Hilarion Heagy, seorang imam Kristen Timur di Amerika Serikat yang kemudian menerima Islam dan menggunakan nama Said Abdul Latif. Heagy sendiri menyatakan bahwa ketertarikannya terhadap Islam telah berlangsung selama sekitar dua dekade sebelum ia secara terbuka mengumumkan keislamannya. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai “coming home” atau kembali ke rumah.
- Dalam pemberitaan mengenai lima mantan pendeta yang masuk Islam—Hilarion Heagy, Vladimir Ugryyumov, Paul Partohap, Harun, dan Marlin Senaim—tema yang muncul tidak seluruhnya sama. Ada yang menekankan perjalanan intelektual, pencarian spiritual, pengalaman pribadi, pengaruh lingkungan, maupun pertanyaan mengenai konsep ketuhanan. Karena itu, kisah-kisah tersebut lebih tepat dibaca sebagai studi tentang pencarian keagamaan, bukan sebagai bukti bahwa semua mualaf memiliki alasan yang identik.
Ketika Konsep Ketuhanan Menjadi Pertanyaan Teologis
- Dalam teologi Kristen arus utama, Trinitas merupakan doktrin tentang satu Allah dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
- Istilah Trinitas sendiri memang bukan kata yang terdapat secara eksplisit dalam teks Bible; doktrin tersebut merupakan formulasi teologis yang berkembang melalui sejarah pemikiran dan konsili gereja.
- Di dalam Perjanjian Baru terdapat sejumlah ayat yang kemudian menjadi bagian penting dalam perdebatan kristologi. Yesus digambarkan berdoa kepada Allah, misalnya ketika berdoa di Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku…”
Matius 26:39 - Dalam doa yang lain, terdapat pernyataan: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
Yohanes 17:3 - Ayat tersebut menjadi salah satu teks yang sering dibahas dalam kajian hubungan antara Allah, Yesus, dan konsep pengutusan. Namun, secara akademik harus dicatat bahwa tradisi Kristen Trinitarian menafsirkan ayat-ayat tersebut dalam kerangka doktrin yang lebih luas, bukan sebagai teks yang berdiri sendiri.
Tauhid Islam: Konsep Ketuhanan yang Eksplisit
- Islam menawarkan formulasi ketuhanan yang sangat tegas melalui konsep tauhid: Allah adalah Esa, tidak terbagi dan tidak memiliki sekutu.
- Al-Qur’an menyatakan: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” 📖 QS. Al-Ikhlas 112:1–4
- Al-Qur’an juga secara eksplisit memperingatkan: “Janganlah kamu mengatakan: ‘Tiga’. Berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah hanyalah Tuhan Yang Maha Esa.” 📖 QS. An-Nisa 4:171
- Dalam perspektif Islam, Isa bukan Tuhan, melainkan Al-Masih, Nabi dan Rasul Allah. Al-Qur’an menegaskan: “Al-Masih Isa putra Maryam itu hanyalah utusan Allah…”
📖 QS. An-Nisa 4:171 - Dan Al-Qur’an juga menggambarkan Isa sebagai seorang hamba dan nabi: “Aku ini benar-benar hamba Allah. Dia memberiku Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi.”
📖 QS. Maryam 19:30
Dari Pergulatan Menuju Pencarian
- Menariknya, dalam kisah Hilarion Heagy, pencarian tersebut tidak digambarkan sebagai keputusan mendadak. Ia menyebut ketertarikannya terhadap Islam telah tumbuh selama puluhan tahun dan akhirnya membawanya mengambil keputusan untuk menjadi Muslim. Ia juga menekankan pengalaman spiritual dan rasa damai setelah mengambil keputusan tersebut.
- Di sinilah fenomena mualaf dari kalangan pemuka agama menjadi menarik bagi kajian agama. Pencarian Tuhan tidak selalu berhenti pada identitas keagamaan tempat seseorang dibesarkan. Pendidikan teologi, pembacaan kitab suci, pengalaman spiritual, dialog lintas agama, dan pencarian rasional dapat menjadi bagian dari proses panjang seseorang dalam menentukan keyakinan.
- Karena itu, kisah lima mantan pendeta tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk menggeneralisasi bahwa semua pendeta yang masuk Islam memiliki alasan yang sama. Setiap perjalanan memiliki konteks biografis dan teologis masing-masing. Yang dapat dikaji adalah tema-tema yang muncul dalam kesaksian mereka, termasuk pertanyaan tentang siapa Tuhan, bagaimana hubungan Tuhan dengan manusia, dan bagaimana posisi Isa/Yesus dipahami.
Dua Kerangka Teologis
- Secara sederhana, terdapat perbedaan mendasar dalam formulasi ketuhanan kedua tradisi tersebut.
- Kristen Trinitarian: satu Allah dipahami dalam relasi Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
- Islam: Allah adalah Ahad, Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak memiliki sekutu.
- Perbedaan inilah yang membuat persoalan ketuhanan menjadi salah satu titik penting dalam dialog teologi Islam-Kristen. Namun dialog yang sehat tidak dibangun melalui ejekan terhadap keyakinan pihak lain, melainkan melalui pembacaan kitab suci, sejarah doktrin, argumentasi teologis, dan kesaksian para penganutnya secara jujur.
Penutup
- Kisah mantan pendeta yang memilih Islam memperlihatkan bahwa perjalanan keagamaan manusia dapat berlangsung sangat kompleks. Bagi sebagian orang, pertanyaan tentang hakikat Tuhan menjadi bagian dari perjalanan tersebut; bagi yang lain, faktor spiritual, intelektual, sosial, maupun pengalaman pribadi lebih dominan.
- Dalam Islam, jawaban fundamental terhadap pertanyaan ketuhanan dirumuskan dalam satu kalimat yang sangat sederhana namun mendalam: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ “Tidak ada Tuhan selain Allah.”
- Tauhid tidak meminta manusia membagi Tuhan menjadi konsep-konsep yang kompleks. Ia mengembalikan manusia kepada pengakuan paling dasar: Allah Yang Esa adalah satu-satunya Tuhan, sedangkan Isa adalah Nabi dan Rasul-Nya.
- ☝️ SATU TUHAN.
SATU TAUHID.
SATU PANGGILAN UNTUK MENGENAL-NYA.













Leave a Reply