PERTANYAAN:
Apakah boleh dan sah membaca Surah Al-Baqarah setelah Al-Fatihah dalam shalat hanya sebagian ayat, misalnya ayat 1–5 pada rakaat pertama dan ayat 6–10 pada rakaat kedua, tanpa menyelesaikan satu surah, dan bagaimana sebaiknya pembagian Surah Al-Baqarah ayat 1–20 dalam beberapa rakaat agar tetap sah secara fikih sekaligus memiliki kesinambungan tema dan makna untuk ditadabburi dalam shalat?
JAWABAN:
Ya, boleh dan sah. Setelah membaca Al-Fatihah, seseorang boleh membaca sebagian ayat dari Surah Al-Qur’an dan tidak diwajibkan menyelesaikan seluruh surah dalam satu rakaat. Karena itu, membaca Surah Al-Baqarah ayat 1–5 pada rakaat pertama kemudian ayat 6–10 pada rakaat kedua adalah bacaan yang diperbolehkan dalam shalat. Tidak ada ketentuan bahwa bacaan setelah Al-Fatihah harus dimulai dari awal surah dan selesai sampai akhir surah. Yang penting adalah membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai kemampuan dan memenuhi ketentuan bacaan dalam shalat.
Namun, apabila yang menjadi perhatian bukan hanya keabsahan fikih, tetapi juga kesatuan tema dan tadabbur, pembagian ayat sebaiknya memperhatikan alur pembahasan dalam Al-Qur’an. Surah Al-Baqarah ayat 1–20 memiliki rangkaian yang sangat indah: pertama menggambarkan orang-orang yang mendapat petunjuk, kemudian orang-orang yang menolak kebenaran, lalu orang-orang munafik, dan akhirnya memberikan perumpamaan tentang keadaan mereka. Karena itu, pembagian berdasarkan tema dapat membuat bacaan dalam shalat terasa lebih utuh dan membantu seseorang memahami pesan ayat yang sedang dibacanya.
Rakaat pertama: Al-Baqarah ayat 1–5 — orang-orang yang bertakwa. Ayat-ayat ini dimulai dengan الم dan penegasan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Kemudian disebutkan sifat orang-orang bertakwa: beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian rezeki, beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan wahyu sebelumnya, serta yakin kepada kehidupan akhirat. Ayat kelima kemudian menegaskan bahwa mereka berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung. Pembagian ayat 1–5 sangat baik untuk rakaat pertama karena membentuk satu kesatuan: Al-Qur’an → iman → amal → keyakinan kepada akhirat → petunjuk → keberuntungan. Saat membacanya dalam shalat, seseorang dapat menjadikannya sebagai bahan muhasabah: Apakah aku benar-benar memiliki sifat-sifat orang yang disebut Allah sebagai orang bertakwa?
Rakaat kedua: Al-Baqarah ayat 6–7 — orang-orang yang menolak kebenaran. Setelah menggambarkan orang-orang yang menerima petunjuk, Al-Qur’an menghadirkan gambaran yang berlawanan. Ayat 6–7 menjelaskan orang-orang yang tetap tidak beriman meskipun telah diberi peringatan. Allah menggambarkan hati, pendengaran, dan penglihatan mereka yang tertutup karena kekufuran. Ayat 6–7 sangat cocok dibaca sebagai satu kesatuan karena keduanya merupakan satu rangkaian pembahasan. Secara tadabbur, bagian ini mengingatkan kita agar tidak hanya merasa senang karena membaca Al-Qur’an, tetapi juga memohon agar hati tetap terbuka terhadap kebenaran dan tidak menjadi keras ketika menerima nasihat Allah.
Rakaat ketiga pada shalat berikutnya : Al-Baqarah ayat 8–16 — orang-orang munafik. Jika seseorang ingin melanjutkan ayat 1–20 dalam shalat empat rakaat, ayat 8–16 dapat menjadi satu bagian. Ayat-ayat ini menjelaskan orang yang mengaku beriman dengan lisannya, tetapi sebenarnya tidak beriman dalam hatinya. Mereka berusaha menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal pada hakikatnya mereka menipu diri sendiri. Mereka mengaku sebagai orang yang melakukan perbaikan, tetapi justru melakukan kerusakan. Mereka juga merendahkan orang-orang beriman dan memilih kesesatan daripada petunjuk. Bagian ini sebaiknya digunakan untuk muhasabah diri, bukan untuk mudah menuduh atau memberi label munafik kepada orang lain. Pertanyaan yang lebih tepat ketika berdiri di hadapan Allah adalah: Apakah ada ketidaksesuaian antara ucapan dan hatiku, antara ibadah dan perilakuku, atau antara apa yang tampak di hadapan manusia dan keadaan diriku di hadapan Allah?
Rakaat keempat pada shakat berikutnya: Al-Baqarah ayat 17–20 — perumpamaan keadaan orang munafik. Bagian terakhir memberikan gambaran yang sangat kuat melalui perumpamaan. Mereka diibaratkan seperti orang yang menyalakan api, kemudian ketika api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan. Kemudian diberikan pula gambaran seperti orang yang berada dalam hujan deras yang disertai kegelapan, guruh, dan kilat. Kilat hampir menerangi mereka, tetapi ketika cahaya itu menghilang, mereka kembali berada dalam kegelapan. Perumpamaan ini menggambarkan keadaan manusia yang berhadapan dengan cahaya petunjuk tetapi tidak benar-benar menjadikannya sebagai cahaya kehidupan. Petunjuk dapat terlihat, didengar, bahkan dibaca, tetapi manusia tetap dapat kehilangan manfaatnya apabila hatinya tidak mau tunduk kepada kebenaran.
Dengan demikian, apabila Surah Al-Baqarah ayat 1–20 ingin dibaca dalam empat rakaat, susunan yang sangat baik dari sisi kesinambungan tema adalah: rakaat pertama ayat 1–5 tentang orang bertakwa; rakaat kedua ayat 6–7 tentang orang yang menolak kebenaran; rakaat ketiga ayat 8–16 tentang orang munafik; dan rakaat keempat ayat 17–20 tentang perumpamaan keadaan orang munafik. Tetapi pembagian tersebut bukan aturan wajib. Ia hanya merupakan pilihan untuk memudahkan tadabbur.
Adapun jika seseorang hanya melaksanakan shalat dua rakaat dan ingin membaca ayat 1–20, ia juga dapat membaginya sesuai kemampuannya, misalnya rakaat pertama ayat 1–10 dan rakaat kedua ayat 11–20. Shalatnya tetap sah. Bahkan pembagian ayat 1–5 pada rakaat pertama dan ayat 6–10 pada rakaat kedua yang ditanyakan sebelumnya juga sah. Hanya saja, dari sudut kesatuan tema, ayat 6–10 memotong pembahasan orang kafir pada ayat 6–7 dan kemudian masuk ke pembahasan orang munafik pada ayat 8–10. Karena itu, jika tujuan utamanya adalah tadabbur, pembagian berdasarkan kesatuan tema seperti 1–5, 6–7, 8–16, dan 17–20 terasa lebih utuh.
Rangkaian ayat Surah Al-Baqarah yang cocok diambil sebagian untuk bacaan setelah Al-Fatihah dalam shalat, berikut contoh singkat berdasarkan kesatuan tema:
- Al-Baqarah 1–5 — ciri-ciri orang bertakwa.
- Al-Baqarah 6–7 — orang yang menolak kebenaran.
- Al-Baqarah 8–16 — sifat orang munafik.
- Al-Baqarah 17–20 — perumpamaan orang munafik.
- Al-Baqarah 21–25 — ajakan menyembah Allah dan kabar gembira bagi orang beriman.
- Al-Baqarah 26–29 — tanda kekuasaan dan kebesaran Allah.
- Al-Baqarah 30–39 — kisah Adam dan awal perjalanan manusia.
- Al-Baqarah 40–46 — peringatan kepada Bani Israil dan pentingnya sabar serta shalat.
- Al-Baqarah 152–157 — mengingat Allah, bersyukur, sabar, dan kabar gembira bagi orang yang sabar.
- Al-Baqarah 255 — Ayat Kursi, tentang keagungan dan kekuasaan Allah.
- Al-Baqarah 284–286 — iman, pertanggungjawaban manusia, doa, dan permohonan ampun.
Prinsipnya: tidak harus membaca satu surah secara utuh. Dalam shalat, setelah Al-Fatihah, boleh membaca sebagian ayat dari suatu surah, dan sebaiknya memilih rangkaian ayat yang memiliki kesatuan makna agar bacaan lebih mudah ditadabburi.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan berapa banyak ayat yang mampu dibaca, melainkan bagaimana Al-Qur’an itu menghidupkan hati ketika kita berdiri di hadapan Allah. Ayat 1–5 mengajak kita berkata dalam hati, “Ya Allah, jadikan aku orang yang mendapat petunjuk.” Ayat 6–7 mengingatkan, “Jangan biarkan hatiku tertutup dari kebenaran.” Ayat 8–16 mengajarkan, “Jangan sampai lisanku mengatakan iman sementara hatiku jauh dari-Mu.” Dan ayat 17–20 mengingatkan, “Jangan sampai cahaya petunjuk datang kepadaku, tetapi aku kembali memilih kegelapan.” Dengan demikian, membaca Al-Baqarah dalam shalat tidak hanya menjadi aktivitas memperbanyak bacaan, tetapi dapat menjadi perjalanan hati dari petunjuk, peringatan, muhasabah, hingga permohonan agar Allah menjaga kita tetap berada dalam cahaya-Nya.














Leave a Reply