Ramadan sebagai Kanopi Sosial, Haedar Nashir Ajak Kedewasaan Umat di Tengah Perbedaan Global
YOGYAKARTA — Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam menyikapi potensi perbedaan awal puasa dengan kecerdasan dan tasamuh. Di tengah ketiadaan kalender hijriah global tunggal, ia menegaskan bahwa perbedaan adalah ruang ijtihad yang tidak boleh memecah persaudaraan. Ramadan, menurutnya, harus difokuskan pada substansi peningkatan takwa, perbaikan akhlak pribadi dan publik, serta penguatan peran sosial umat. Dengan jaringan luas Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, Haedar menekankan pentingnya menjadikan puasa sebagai fondasi kemajuan spiritual, moral, dan ekonomi, sekaligus sebagai kanopi sosial yang meredam konflik di era digital.
Menjelang dimulainya Ramadan 1447 Hijriah, ketika lebih dari 1,9 miliar Muslim di berbagai belahan dunia bersiap menunaikan ibadah puasa, potensi perbedaan penetapan awal bulan kembali menjadi bagian dari dinamika tahunan umat Islam. Di Indonesia dan sejumlah negara lain, perbedaan metode hisab dan rukyat masih memungkinkan variasi tanggal mulai puasa, terutama karena dunia Islam belum memiliki satu kalender hijriah global yang disepakati bersama. Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat untuk meresponsnya dengan kecerdasan dan tasamuh. “Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” ujarnya pada Selasa 17 Februari. Bagi Haedar, perbedaan adalah keniscayaan dalam ruang ijtihad, namun persaudaraan dan kedewasaan adalah pilihan sadar yang harus dijaga.
Haedar memimpin Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam modern terbesar di Indonesia yang berdiri sejak 1912 dan kini mengelola ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin ormas dengan jaringan lebih dari 170 perguruan tinggi, ribuan sekolah, serta ratusan rumah sakit dan klinik, suaranya merepresentasikan arus utama Islam berkemajuan di Indonesia. Ia menekankan bahwa fokus utama Ramadan bukan pada perdebatan teknis awal bulan, melainkan pada substansi puasa sebagai jalan menuju takwa. Takwa, jelasnya, bukan hanya peningkatan spiritual pribadi, tetapi juga kualitas moral kolektif yang menghadirkan kebaikan nyata dalam kehidupan sosial. Ramadan harus menjadi ruang pembentukan karakter, tempat setiap Muslim meneguhkan komitmen menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sekaligus menebarkan kemaslahatan bagi sesama dan lingkungan.
Lebih jauh, Haedar mengingatkan bahwa puasa Ramadan 1447 H seharusnya dijalani dengan tenang, damai, dan penuh kematangan, tanpa terganggu hiruk pikuk perbedaan atau ketegangan sosial. Dalam pandangannya, Ramadan adalah momentum untuk naik kelas sebagai umat terbaik, tidak hanya dalam kesalehan ritual, tetapi juga dalam keunggulan ilmu dan kontribusi sosial. Ia menyoroti pentingnya perbaikan akhlak pribadi dan publik, karena puasa sejatinya adalah sekolah karakter. Jika umat Islam tidak bertransformasi menjadi lebih disiplin, lebih jujur, dan lebih berdaya saing, maka cita cita membangun peradaban maju akan sulit tercapai. Umat, tegasnya, tidak boleh bersikap fatalis, terutama dalam bidang ekonomi. Puasa melatih efisiensi, pengendalian diri, dan hidup hemat, nilai nilai yang menjadi fondasi etos kerja dan kemajuan.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, Haedar menggambarkan Ramadan sebagai kanopi sosial, pelindung yang menaungi masyarakat dari panasnya konflik dan polarisasi. “Puasa itu melatih kita untuk tahan diri, hatta di saat ada pihak yang mengajak kita berkonflik atau bertengkar,” katanya. Di era media sosial yang kerap memantik amarah dan memperbesar perbedaan, puasa seharusnya menjadi tameng moral, menahan lidah dari ujaran kebencian dan menahan jari dari respons yang memperkeruh suasana. Seorang Muslim yang berpuasa dipanggil untuk menjadi perekat sosial, agen perdamaian, dan teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Pada akhirnya, takwa yang diraih di bulan suci bukanlah konsep abstrak, melainkan puncak perbaikan martabat hidup. Dari fondasi tauhid yang kokoh, Ramadan diharapkan melahirkan umat yang maju dalam spiritualitas, unggul dalam ilmu, matang dalam moral, kuat dalam ekonomi, dan berkontribusi dalam politik kebangsaan, menuju peradaban yang berkeadaban dan berkemajuan.
Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar penanda waktu dalam kalender, melainkan ruang pembentukan jiwa dan peradaban. Di bawah kanopi kesabaran dan pengendalian diri, umat dipanggil untuk merawat persaudaraan, meneguhkan takwa, dan menyalakan cahaya kebaikan di tengah dunia yang kerap gaduh. Dari keheningan sahur hingga teduhnya berbuka, Ramadan mengajarkan bahwa kemuliaan lahir dari hati yang terjaga dan langkah yang diarahkan pada kemaslahatan bersama.
















Leave a Reply