MARYAM DALAM PERSPEKTIF ISLAM: KEMULIAAN, KESUCIAN, DAN KEDUDUKANNYA MENURUT AL-QUR’AN, SUNNAH, DAN ULAMA
Maryam binti ‘Imran menempati kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam sebagai perempuan pilihan Allah, perempuan yang disucikan, dan ibu Nabi Isa ‘alaihissalam. Al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap Maryam melalui berbagai ayat, bahkan mengabadikan namanya sebagai nama sebuah surah, yaitu Surah Maryam. Islam mengakui kesucian Maryam, kelahiran Isa secara mukjizat tanpa ayah, serta kedudukannya sebagai salah satu perempuan paling mulia. Penjelasan para mufasir seperti al-Tabari, al-Qurtubi, dan Ibn Kathir, serta hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ, semakin memperkuat gambaran tentang keutamaan Maryam. Namun, Islam juga memberikan batas teologis yang tegas: kemuliaan Maryam tidak mengubah statusnya sebagai hamba Allah. Kajian ini membahas bagaimana Al-Qur’an, Sunnah, tafsir dan pandangan ulama menjelaskan sosok Maryam sekaligus membandingkan prinsip penghormatan Islam terhadap Maryam dengan konsep Maria dalam tradisi Kristen.
Maryam merupakan salah satu tokoh perempuan paling penting dalam Al-Qur’an dan memiliki posisi yang sangat istimewa dalam tradisi Islam. Ia bukan hanya dikenal sebagai ibu Nabi Isa ‘alaihissalam, tetapi juga sebagai perempuan yang dipilih, disucikan, dan dipuji oleh Allah. Kisahnya mencakup masa kecilnya, pengabdiannya kepada Allah, kabar kelahiran Isa, kehamilan yang berlangsung secara mukjizat, hingga pembelaan Allah terhadap kehormatannya ketika menghadapi tuduhan kaumnya. Al-Qur’an bahkan memberikan perhatian yang begitu besar kepadanya dengan menamai salah satu surah sebagai Surah Maryam. Karena itu, memahami Maryam dalam perspektif Islam tidak cukup hanya melihatnya sebagai tokoh sejarah, tetapi perlu melihat bagaimana Al-Qur’an, Sunnah Nabi ﷺ, penafsiran para mufasir, dan penjelasan para ulama membentuk pemahaman umat Islam tentang kemuliaan, kesucian, keteladanan, sekaligus batas kedudukan Maryam dalam prinsip tauhid.
MARYAM DALAM PERSPEKTIF ISLAM: KEMULIAAN, KESUCIAN, DAN KEDUDUKANNYA MENURUT AL-QUR’AN, SUNNAH, DAN ULAMA
Dalam Islam, Maryam binti ‘Imran memiliki kedudukan yang sangat mulia sebagai salah satu perempuan yang dipilih dan disucikan oleh Allah. Al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan: “Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan memilihmu atas segala perempuan di seluruh alam” (QS Ali ‘Imran 3:42). Maryam adalah ibu Nabi Isa ‘alaihissalam, yang mengandung dan melahirkannya secara mukjizat tanpa ayah. Karena itu, umat Islam wajib menghormati Maryam, menjaga kehormatannya, dan membenarkan kisah kesuciannya sebagaimana diterangkan Al-Qur’an. Namun penghormatan tersebut tidak berarti menyembah atau berdoa kepada Maryam; dalam tauhid Islam, ibadah dan doa ditujukan hanya kepada Allah.
Menurut para mufasir, kisah Maryam menunjukkan kedudukan istimewanya sekaligus menegaskan bahwa kemuliaan seorang manusia tidak menjadikannya Tuhan. Tafsir klasik seperti al-Tabari, Ibn Kathir, al-Qurtubi, dan Fakhruddin al-Razi menjelaskan bahwa pemilihan Maryam merupakan bentuk istifa’—pemilihan dan pemuliaan Allah—serta kesuciannya berkaitan dengan penjagaan dirinya dari keburukan dan tuduhan terhadap kehormatannya. Dalam QS Maryam 19:16–36, Al-Qur’an bahkan menggambarkan secara panjang pengalaman Maryam ketika menerima kabar tentang kelahiran Isa. Kisah tersebut sekaligus menjadi bantahan terhadap tuduhan bahwa kelahiran Isa terjadi melalui hubungan laki-laki dan perempuan.
Dalam Sunnah, kedudukan Maryam juga sangat tinggi. Nabi Muhammad ﷺ menyebut Maryam sebagai salah satu perempuan terbaik. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa “sebaik-baik perempuan pada zamannya adalah Maryam binti ‘Imran” (HR Bukhari dan Muslim), dan terdapat pula riwayat tentang keutamaan Maryam serta putranya Isa. Nabi ﷺ juga menyampaikan bahwa setiap manusia disentuh setan ketika dilahirkan, kecuali Maryam dan putranya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hadis-hadis tersebut menjadi dasar bahwa umat Islam tidak boleh merendahkan Maryam; sebaliknya, ia harus dihormati sebagai perempuan salehah yang memiliki kedudukan luar biasa dalam wahyu Islam.
Para ulama Ahlus Sunnah pada dasarnya sepakat mengenai kemuliaan Maryam, meskipun terdapat pembahasan teologis tentang apakah Maryam merupakan perempuan paling utama secara mutlak atau keutamaannya dibandingkan perempuan lain harus dipahami dalam konteks tertentu. Al-Qur’an sendiri memberikan pujian yang sangat tinggi kepadanya. Para ulama juga menegaskan batas penting: Maryam adalah hamba Allah, bukan bagian dari ketuhanan. Karena itu Islam berbeda secara mendasar dengan konsep yang menempatkan Maria dalam kerangka keibuan ilahi. Dalam Islam, Nabi Isa juga bukan Tuhan atau anak Tuhan, melainkan ‘Abdullah dan Rasulullah. QS Maryam 19:30 menegaskan perkataan Isa ketika masih bayi: “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah; Dia memberiku Kitab dan menjadikanku seorang nabi.”
🌿 5 Inspirasi Terbaik dari Maryam dalam Perspektif Islam
1. Menjaga Kesucian Diri di Tengah Ujian
- Maryam menjadi teladan dalam menjaga kehormatan dan kesucian diri. Ketika menghadapi ujian yang sangat berat, ia tetap menjaga dirinya dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Kesucian bukan hanya tentang pandangan manusia, tetapi tentang keteguhan hati untuk tetap taat kepada Allah.
2. Taat Meskipun Tidak Memahami Seluruh Rencana Allah
- Maryam menerima sebuah ketetapan yang secara manusiawi sangat berat dan penuh tanda tanya. Namun, ia tetap menjalani takdir yang Allah tetapkan. Kisahnya mengajarkan bahwa iman tidak selalu berarti memahami seluruh rencana Allah, tetapi tetap percaya ketika jalan di hadapan kita belum sepenuhnya terlihat.
3. Sabar Ketika Menghadapi Tuduhan dan Kesendirian
- Maryam mengalami keadaan yang sangat berat ketika harus menghadapi masyarakat dalam kondisi yang mudah menimbulkan prasangka. Al-Qur’an menggambarkan kesedihan dan penderitaannya. Namun Allah kemudian membela kehormatannya. Dari sini terdapat pelajaran bahwa ketika manusia salah memahami kita, Allah mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
4. Allah Mampu Membuka Jalan dari Keadaan yang Mustahil
- Kisah kelahiran Nabi Isa menunjukkan kekuasaan Allah yang melampaui keterbatasan manusia. Maryam menghadapi sesuatu yang secara manusiawi tidak biasa, tetapi Allah menunjukkan bahwa kehendak-Nya tidak dibatasi oleh perhitungan manusia. Pesannya sangat kuat: jangan mengukur kekuasaan Allah hanya berdasarkan keterbatasan keadaan kita.
5. Kemuliaan Sejati Datang dari Allah, Bukan dari Penilaian Manusia
- Allah berfirman kepada Maryam: إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ “Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan memilihmu atas segala perempuan di seluruh alam.”
QS Ali ‘Imran 3:42 - Maryam mengajarkan bahwa kemuliaan tidak harus dicari melalui pengakuan manusia. Cukuplah Allah mengetahui siapa diri kita, kesabaran kita, perjuangan kita, dan air mata yang tidak diketahui orang lain. Seperti Maryam, seorang mukmin dapat tetap teguh dalam kebaikan meskipun tidak selalu dipahami oleh manusia.
Dengan demikian, sikap seorang Muslim terhadap Maryam adalah cinta, penghormatan, pembelaan terhadap kehormatannya, dan pengakuan terhadap kedudukannya yang sangat tinggi—tanpa mengangkatnya menjadi objek ibadah. Seorang Muslim tidak boleh menghina Maryam, karena Al-Qur’an sendiri memuliakannya dan menjadikannya bagian penting dari kisah kenabian Isa. Pada saat yang sama, umat Islam tidak meminta pertolongan atau berdoa kepada Maryam sebagai sesembahan; doa dan ibadah hanya kepada Allah. Inilah keseimbangan pandangan Islam: Maryam sangat mulia, tetapi tetap seorang hamba; Isa sangat mulia, tetapi tetap seorang nabi; dan Allah satu-satunya yang disembah.









Leave a Reply