Daging Kambing Saat Qurban dan Risiko Kolesterol, Tinjauan Ilmiah dan Perspektif Hadits Nabi ﷺ
Daging kambing sering dianggap sebagai penyebab utama kolesterol tinggi sehingga banyak masyarakat takut mengonsumsinya saat Idul Adha. Faktanya, kandungan kolesterol daging kambing tanpa lemak relatif tidak lebih tinggi dibanding beberapa jenis daging dan jeroan lainnya. Artikel ini membahas kandungan kolesterol daging kambing berdasarkan data gizi modern serta kaitannya dengan hadits Nabi Muhammad ﷺ yang menyukai paha atau lengan kambing. Pembahasan menunjukkan bahwa peningkatan kolesterol lebih dipengaruhi pola makan total, konsumsi jeroan, santan, gorengan, serta gaya hidup sedentari dibanding konsumsi daging kambing tanpa lemak dalam jumlah wajar.
Masyarakat Indonesia sering mengaitkan konsumsi daging kambing dengan hipertensi dan kolesterol tinggi, terutama saat Idul Adha. Anggapan tersebut menyebabkan sebagian orang menghindari konsumsi daging qurban karena dianggap berbahaya bagi kesehatan. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa kandungan kolesterol dan lemak jenuh daging kambing tanpa lemak tidak setinggi yang sering dibayangkan masyarakat.
Dalam Islam, konsumsi daging kambing juga memiliki dasar historis dan sunnah. Rasulullah ﷺ diketahui mengonsumsi dan menyukai bagian paha atau lengan kambing. Hal ini menunjukkan bahwa daging kambing bukan makanan yang dihindari dalam syariat Islam selama dikonsumsi secara seimbang dan tidak berlebihan.
HADITS NABI ﷺ TENTANG PAHA KAMBING
Dari Abu Hurairah RA disebutkan:
أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِلَحْمٍ، فَرُفِعَ إِلَيْهِ الذِّرَاعُ، وَكَانَتْ تُعْجِبُهُ
“Rasulullah ﷺ diberi daging lalu diangkatkan kepada beliau bagian paha atau lengan kambing dan beliau menyukainya.”
📚 HR. Bukhari No. 3340 dan Muslim No. 194
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memakan daging kambing dan menyukai bagian paha atau lengan kambing yang relatif lebih empuk dan rendah lemak dibanding bagian lainnya. Dalam perspektif kesehatan modern, bagian paha tanpa lemak memang memiliki kandungan lemak jenuh dan kolesterol yang lebih rendah dibanding jeroan atau daging berlemak.
KANDUNGAN KOLESTEROL KAMBING DAN LAINNYA
| Jenis Makanan | Kolesterol per 100 gram |
|---|---|
| Otak sapi | ± 2000 mg |
| Otak kambing | ± 1400 sampai 2000 mg |
| Kuning telur | ± 1000 sampai 1200 mg |
| Hati sapi | ± 300 sampai 400 mg |
| Hati kambing | ± 350 mg |
| Usus dan babat | ± 150 sampai 250 mg |
| Daging sapi berlemak | ± 80 sampai 90 mg |
| Daging ayam tanpa kulit | ± 60 sampai 85 mg |
| Paha kambing tanpa lemak | ± 60 sampai 75 mg |
PEMBAHASAN
Daging kambing selama ini sering dianggap sebagai penyebab utama kolesterol tinggi dan hipertensi, terutama saat Idul Adha. Namun berbagai data gizi menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Kandungan kolesterol paha kambing tanpa lemak sekitar 60 sampai 75 mg per 100 gram, relatif setara dengan daging ayam tanpa kulit dan tidak lebih tinggi dibanding beberapa bagian daging sapi berlemak. Bagian paha kambing juga memiliki kandungan protein yang baik dengan lemak yang relatif lebih rendah dibanding bagian tubuh kambing lainnya.
Kadar kolesterol yang jauh lebih tinggi justru ditemukan pada jeroan seperti otak, hati, usus, dan babat. Otak sapi misalnya dapat mengandung sekitar 2000 mg kolesterol per 100 gram, sedangkan kuning telur sekitar 1000 sampai 1200 mg. Karena itu peningkatan kolesterol darah lebih sering berkaitan dengan konsumsi jeroan, santan berlebihan, gorengan, makanan tinggi lemak jenuh, dan pola makan berlebihan dibanding konsumsi daging kambing tanpa lemak dalam jumlah wajar.
Dalam perspektif sunnah, Rasulullah ﷺ juga diriwayatkan menyukai paha atau lengan kambing. Bagian tersebut dikenal lebih empuk, lebih sedikit lemak, dan mudah dikunyah. Hal ini sesuai dengan ilmu gizi modern bahwa pemilihan bagian daging rendah lemak lebih baik dibanding bagian yang tinggi lemak atau jeroan. Sunnah Nabi ﷺ menunjukkan pola makan seimbang, sederhana, dan tidak berlebihan.
Peningkatan kadar kolesterol darah juga dipengaruhi banyak faktor lain seperti obesitas, kurang aktivitas fisik, merokok, diabetes, faktor genetik, serta pola hidup sedentari. Karena itu konsumsi daging kambing secukupnya pada orang sehat tidak otomatis menyebabkan kolesterol tinggi. Cara pengolahan juga berpengaruh, sehingga metode memasak seperti rebus, sop, atau panggang lebih dianjurkan dibanding menggoreng atau memasak dengan santan berlebihan.
SARAN
Konsumsi daging kambing saat qurban sebaiknya dilakukan secara seimbang dengan memilih bagian rendah lemak, membatasi konsumsi jeroan, memperbanyak sayur dan buah, serta menggunakan metode memasak sehat seperti rebus, sop, atau panggang. Aktivitas fisik rutin dan pola makan seimbang tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kadar kolesterol.
KESIMPULAN
Daging kambing tanpa lemak memiliki kandungan kolesterol yang relatif tidak tinggi dibanding beberapa jenis makanan lain. Rasulullah ﷺ juga diriwayatkan menyukai paha atau lengan kambing. Ketakutan berlebihan terhadap konsumsi daging kambing saat qurban tidak sepenuhnya sesuai dengan data ilmiah. Risiko kolesterol tinggi lebih dipengaruhi pola makan keseluruhan dan gaya hidup dibanding konsumsi daging kambing secukupnya pada orang sehat.











Leave a Reply