10 Sunnah Saat Shalat Idul Adha Menurut Hadits Shahih: Tuntunan Rasulullah untuk Umat Islam
Shalat Idul Adha merupakan ibadah besar tahunan yang memiliki kekhususan dalam pelaksanaannya, baik dari segi waktu, tempat, hingga tata cara yang penuh dengan sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Menghidupkan sunnah-sunnah ini sangat penting sebagai bentuk ittiba’ kepada Rasulullah dan menjaga keaslian syariat Islam. Artikel ini membahas 10 sunnah utama saat Shalat Idul Adha berdasarkan hadits shahih, serta bagaimana umat Islam seharusnya mempraktikkannya dalam kehidupan modern.
Dengan mengacu pada sumber-sumber otentik dari hadits Nabi ﷺ, penjelasan disusun secara runut agar menjadi panduan praktis dan ilmiah. Artikel ini juga mengajak umat untuk merenungi pentingnya melestarikan sunnah dalam momen besar keagamaan, sebagai upaya mengokohkan identitas dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam.
Shalat Idul Adha merupakan bagian tak terpisahkan dari hari raya umat Islam yang penuh makna pengorbanan, ketaatan, dan kebersamaan. Hari besar ini ditandai dengan pelaksanaan ibadah shalat yang memiliki tata cara berbeda dari shalat lima waktu dan bahkan berbeda pula dengan shalat Idul Fitri. Dalam pelaksanaannya, Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan teladan dan petunjuk yang terekam dalam hadits-hadits shahih.
Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dalam ibadah ini bukan hanya menjadikan shalat lebih bernilai di sisi Allah, tetapi juga menjadi sarana untuk menunjukkan cinta dan penghormatan terhadap ajaran beliau. Sayangnya, sebagian umat Islam masih banyak yang belum memahami sunnah-sunnah tersebut, sehingga artikel ini hadir sebagai panduan ringkas dan jelas.
10 Sunnah Saat Shalat Idul Adha Menurut Hadits Shahih
1. Mandi Sebelum Shalat
Rasulullah ﷺ menganjurkan mandi sebelum keluar menuju shalat Id. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Ibnu Umar biasa mandi pada hari Id sebelum keluar menuju tempat shalat” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’).
Mandi ini disunnahkan sebagai bentuk penghormatan terhadap hari raya dan untuk menjaga kebersihan serta kesegaran saat beribadah dalam kerumunan besar. Meski tidak wajib, tetapi hal ini sangat dianjurkan sebagaimana berlaku juga saat menghadiri shalat Jumat.
2. Memakai Pakaian Terbaik
Nabi ﷺ biasa mengenakan pakaian terbaiknya saat keluar untuk shalat Id, sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah: “Nabi memiliki jubah khusus yang biasa beliau pakai pada dua hari raya dan pada hari Jumat” (HR. Ibnu Majah, hasan).
Pakaian terbaik bukan berarti mahal, melainkan yang paling bersih dan rapi. Ini mencerminkan syiar Islam yang menjunjung tinggi keindahan dan kesucian dalam setiap ibadah.
3. Bertakbir Sejak Subuh Hari Arafah Hingga Hari Tasyrik
Bertakbir merupakan sunnah muakkadah yang sangat ditekankan. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia bertakbir mulai setelah shalat Subuh hari Arafah sampai Ashar hari terakhir Tasyrik (HR. Ibnu Abi Syaibah).
Takbir ini disebut takbir muthlaq dan takbir muqayyad; takbir muthlaq bebas dilakukan kapan pun di luar shalat, sementara takbir muqayyad dilakukan setelah shalat fardhu. Sunnah ini bertujuan mengagungkan Allah selama hari-hari mulia.
4. Berangkat Lebih Pagi ke Tempat Shalat
Nabi ﷺ biasa keluar sejak pagi untuk melaksanakan shalat Id. Dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata: “Nabi keluar pada hari Idul Adha ke musalla dan memulai dengan shalat” (HR. Bukhari).
Datang lebih pagi membantu mendapatkan tempat yang baik dan menunjukkan semangat dalam mengikuti syariat. Ini juga menjadi bentuk kesiapan hati dan fisik dalam menyambut ibadah agung tersebut.
5. Tidak Makan Sebelum Shalat
Berbeda dengan Idul Fitri, pada Idul Adha disunnahkan untuk tidak makan terlebih dahulu sebelum shalat. Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu: “Nabi tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau kembali (dari shalat), lalu makan dari hewan kurban” (HR. Tirmidzi, hasan).
Ini menunjukkan bahwa makanan pertama yang masuk ke tubuh seorang Muslim pada Idul Adha sebaiknya adalah daging kurban sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah tersebut.
6. Berjalan Kaki Menuju Tempat Shalat
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah keluar menuju shalat Id berjalan kaki dan kembali juga berjalan kaki” (HR. Tirmidzi, hasan).
Berjalan kaki merupakan bagian dari sunnah yang menunjukkan ketawadhu’an dan kebersamaan. Namun, bagi yang rumahnya jauh, naik kendaraan tidak mengapa, dengan tetap menjaga niat mengikuti sunnah.
7. Shalat di Tanah Lapang (Musalla)
Nabi ﷺ selalu melaksanakan shalat Id di lapangan terbuka, kecuali ketika hujan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu: “Nabi keluar ke musalla untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha” (HR. Bukhari dan Muslim).
Shalat di tanah lapang memberikan kesan keterbukaan dan kebersamaan, menunjukkan ukhuwah dan kesetaraan umat Islam. Masjid hanya digunakan ketika kondisi tidak memungkinkan.
8. Takbir Tambahan dalam Shalat
Takbir tambahan pada rakaat pertama dan kedua adalah sunnah. Dari ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani: “Nabi bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua dalam shalat Id” (HR. Abu Dawud, shahih).
Takbir ini menandai kekhususan shalat Id yang berbeda dari shalat lainnya dan menjadi sarana pengagungan kepada Allah. Imam dan makmum disunnahkan mengucapkan takbir bersama dengan penuh kekhusyukan.
9. Mendengarkan Khutbah Id
Setelah shalat, Nabi ﷺ selalu memberikan khutbah. Dari Abdullah bin as-Sa’ib radhiyallahu ‘anhu: “Nabi melaksanakan shalat Id bersama kami, lalu beliau berkata: ‘Kami akan berkhutbah, maka dengarkanlah’” (HR. Abu Dawud).
Meskipun khutbah Id hukumnya sunnah, mendengarkannya menunjukkan penghormatan terhadap ajaran Rasul dan menjadi media pendidikan bagi umat Islam dalam memahami nilai-nilai Idul Adha.
10. Mengambil Jalan yang Berbeda Saat Pulang
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu: “Nabi ketika hari raya biasa mengambil jalan berbeda saat pergi dan pulang” (HR. Bukhari).
Hal ini dilakukan untuk menyebarkan salam kepada lebih banyak orang, menunjukkan syiar Islam, dan memperbanyak saksi atas kehadiran kita di tempat ibadah. Ini adalah sunnah yang ringan namun bernilai besar di sisi Allah.
Bagaimana Seharusnya Umat Melaksanakan Sunnah-Sunnah Ini?
Umat Islam sepatutnya menyadari bahwa sunnah-sunnah ini bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari ketaatan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Menerapkannya menandakan cinta kepada Rasul dan komitmen menjalankan Islam secara utuh. Sunnah adalah bukti bahwa kita ingin menghidupkan kembali warisan kenabian dalam kehidupan nyata.
Banyak dari sunnah ini mudah dilakukan dan tidak memerlukan biaya atau usaha berat, seperti takbir, mandi, dan memakai pakaian bersih. Namun, karena kurangnya pengetahuan atau lalai, banyak yang melewatkannya. Di sinilah pentingnya pendidikan keagamaan yang berkelanjutan.
Komunitas Muslim, termasuk pengurus masjid dan tokoh agama, sebaiknya mensosialisasikan sunnah-sunnah ini setiap menjelang Idul Adha. Ceramah, selebaran, dan media sosial bisa dimanfaatkan untuk mengingatkan masyarakat agar shalat Id tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tapi juga ibadah penuh makna.
Kepedulian terhadap sunnah juga menjadi cara untuk menguatkan identitas umat di tengah tantangan modern. Ketika umat kompak dalam menjalankan sunnah, akan terlihat semangat kolektif yang menyatukan hati dan langkah.
Terakhir, umat Islam perlu memahami bahwa keberkahan Idul Adha tidak hanya pada penyembelihan hewan kurban, tetapi juga dalam menjaga tata cara ibadah sesuai tuntunan Nabi. Sunnah ini adalah warisan suci yang patut dijaga dan diwariskan ke generasi berikutnya.
Kesimpulan
Shalat Idul Adha bukan sekadar ritual, melainkan momentum besar untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap sunnah Rasulullah ﷺ. Sepuluh sunnah yang telah disebutkan menjadi petunjuk praktis agar umat melaksanakan ibadah dengan penuh keutamaan dan penghayatan.
Dengan menerapkan sunnah-sunnah ini, umat Islam tidak hanya memperindah ibadahnya, tetapi juga menunjukkan loyalitas kepada ajaran yang murni dan shahih. Sudah semestinya kita berusaha keras untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah ini agar makna Idul Adha tidak hanya menjadi seremoni, melainkan sarana taqarrub kepada Allah dan wujud ittiba’ sejati kepada Rasulullah ﷺ.
Jika Anda menginginkan versi PDF atau selebaran untuk dibagikan ke masyarakat, saya siap bantu buatkan.












Leave a Reply