MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Tahapan Isra Mikraj Menurut Al-Quran dan Hadits Shahih serta Relevansinya bagi Umat

Tahapan Isra Mikraj Menurut Al-Quran dan Hadits Shahih serta Relevansinya bagi Umat

Isra Mikraj adalah peristiwa agung dalam sejarah Islam. Peristiwa ini menegaskan kekuasaan Allah, kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ, dan kewajiban shalat sebagai fondasi iman. Al-Quran dan hadits shahih menjelaskan Isra Mikraj sebagai perjalanan nyata, bukan mimpi. Ulama menegaskan maknanya bersifat akidah, ibadah, dan pendidikan ruhani. Tulisan ini membahas dasar dalil, makna ilmiah keimanan, serta sikap praktis umat dalam menyikapinya.

Isra Mikraj terjadi pada fase berat dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Penolakan, tekanan sosial, dan wafatnya orang terdekat menjadi latar peristiwa ini. Allah menguatkan Rasul-Nya dengan perjalanan luar biasa yang melampaui batas manusia. Peristiwa ini tercatat jelas dalam Al-Quran dan hadits shahih.

Isra Mikraj bukan sekadar kisah sejarah. Ia adalah ujian iman sejak awal. Kaum musyrik menolak karena logika sempit. Orang beriman menerimanya karena tunduk pada wahyu. Hingga hari ini, Isra Mikraj tetap menjadi tolok ukur cara seseorang memandang iman dan akal.

Tahapan Isra Mikraj Menurut Al-Quran dan Hadits Shahih

1. Persiapan Nabi Muhammad ﷺ

  • Malam Isra Mikraj dimulai dengan persiapan langsung dari Allah. Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad ﷺ. Dada beliau dibelah. Hati beliau dikeluarkan lalu dicuci dengan air zamzam. Proses ini ditegaskan dalam hadits shahih riwayat Bukhari nomor 349 dan Muslim nomor 163.
  • Peristiwa ini terjadi secara nyata. Ulama Ahlus Sunnah sepakat ini bukan mimpi. Ini kejadian fisik dan ruh sekaligus.
  • Imam An-Nawawi menjelaskan pembersihan hati ini sebagai penyempurnaan kesiapan iman. Allah membersihkan sumber niat dan keteguhan sebelum amanah besar. Ini menunjukkan perjalanan iman tidak dimulai dari langkah jauh, tapi dari hati yang bersih. Tanpa hati yang lurus, perjalanan besar akan runtuh di tengah jalan.
  • Inspirasi: Iman perlu persiapan. Hati perlu dibersihkan dari ragu dan sombong. Amal besar tidak lahir dari hati yang kotor. Isra Mikraj mengajarkan bahwa kekuatan ruh mendahului kekuatan langkah.

2. Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa

  • Allah menegaskan peristiwa Isra dalam QS Al-Isra ayat 1. Allah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Nabi ﷺ menunggang Buraq. Perjalanan jauh ditempuh dalam satu malam. Ini peristiwa nyata atas kehendak Allah, bukan hukum fisika.
  • Ibn Katsir menegaskan ayat ini sebagai dalil qath’i tentang Isra secara jasad dan ruh. Penolakan kaum musyrik muncul karena akal mereka membatasi kuasa Allah. Isra menjadi ujian iman sejak awal. Siapa yang tunduk pada wahyu akan selamat.
  • Pesan tegas. Jangan jadikan logika sebagai hakim iman. Wahyu berada di atas nalar. Ketika Allah berkehendak, jarak bukan penghalang.

3. Shalat para nabi di Masjidil Aqsa

  • Di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad ﷺ mengimami shalat para nabi. Peristiwa ini disebutkan dalam hadits shahih Muslim nomor 172. Para nabi berdiri sebagai makmum. Nabi Muhammad ﷺ menjadi imam. Ini bukan simbol kosong. Ini deklarasi kepemimpinan risalah.
  • Imam Al-Qadhi Iyadh menegaskan peristiwa ini sebagai bukti keutamaan Nabi ﷺ atas seluruh nabi. Tauhid yang dibawa para nabi bersumber dari satu Tuhan.
  • Kepemimpinan Nabi ﷺ menyatukan seluruh risalah sebelumnya.
  • Pelajaran kuat. Tauhid tidak terpecah. Islam melanjutkan, bukan memutus. Kepemimpinan lahir dari amanah, bukan klaim.

4. Mikraj ke langit pertama hingga ketujuh

  • Nabi ﷺ naik ke langit bersama Jibril. Di setiap langit, Nabi bertemu nabi terdahulu. Adam di langit pertama. Isa dan Yahya di langit kedua. Yusuf di langit ketiga. Idris di langit keempat. Harun di langit kelima. Musa di langit keenam. Ibrahim di langit ketujuh. Hadits shahih Bukhari nomor 3207 dan Muslim nomor 164 menjelaskan urutannya.
  • Imam Ibn Hajar menjelaskan setiap pertemuan membawa pesan iman. Ada ujian. Ada kesabaran. Ada pengabdian. Semua nabi menghadapi tantangan, tapi tetap teguh.
  • Pesan jelas. Jalan iman bertingkat. Setiap tingkat menuntut keteguhan. Tidak ada iman instan.

Sidratul Muntaha

  • Nabi ﷺ mencapai Sidratul Muntaha. Allah menjelaskannya dalam QS An-Najm ayat 13 sampai 18. Ini batas tertinggi makhluk. Jibril berhenti. Nabi ﷺ melanjutkan sendiri. Tidak ada makhluk lain yang melampaui batas ini.
  • Imam Al-Ghazali menegaskan Sidratul Muntaha sebagai simbol puncak kedekatan hamba dengan Allah. Kedekatan ini bukan soal tempat, tapi maqam ketaatan.
  • Pelajaran tegas. Kedekatan dengan Allah lahir dari ketaatan penuh. Bukan dari klaim spiritual. Bukan dari simbol kosong.

Perintah shalat

  • Di Sidratul Muntaha, Allah mewajibkan shalat 50 waktu. Nabi Musa memberi saran agar Nabi ﷺ memohon keringanan. Hingga Allah menetapkan 5 waktu dengan pahala 50. Hadits shahih Bukhari nomor 349 menegaskan hal ini.
  • Imam Ibn Taymiyyah menjelaskan shalat sebagai ibadah paling agung karena diperintahkan langsung tanpa perantara wahyu di bumi. Shalat adalah hubungan langsung hamba dengan Allah.
  • Pesan sangat jelas. Shalat bukan beban. Shalat adalah hadiah. Siapa menjaga shalat, ia menjaga imannya.

Kembali ke bumi dan ujian iman

  • Nabi ﷺ kembali ke Makkah pada malam yang sama. Pagi harinya beliau menyampaikan kisah Isra Mikraj. Banyak orang ragu. Banyak yang murtad. Abu Bakar langsung membenarkan tanpa syarat. Dari sini lahir gelar Ash-Shiddiq.
  • Imam Al-Qurtubi menegaskan ujian iman selalu datang setelah kebenaran disampaikan. Tidak semua orang siap menerima kebenaran. Iman sejati terlihat saat diuji.
  • Pelajaran nyata. Iman tidak selalu populer. Kebenaran sering diuji dengan ejekan. Pegang imanmu. Jangan tawar dengan keraguan.

Bagaimana umat menyikapi Isra Mikraj

  1. Menguatkan iman pada wahyu
    Kamu menerima Isra Mikraj sebagai kebenaran mutlak dari Allah. QS Al-Isra ayat 1 menegaskan peristiwa ini secara eksplisit. Iman tidak menunggu pembuktian sains. Iman berdiri di atas kepercayaan pada Allah dan Rasul-Nya.
  2. Menjaga shalat lima waktu
    Isra Mikraj melahirkan perintah shalat. Hadits Bukhari nomor 349 menegaskan shalat sebagai kewajiban langsung dari Allah. Kamu menjadikan shalat sebagai prioritas hidup, bukan rutinitas kosong.
  3. Meneladani keteguhan Nabi ﷺ
    Nabi ﷺ tetap menyampaikan kebenaran meski ditolak. Kamu belajar bersikap jujur pada iman. Tidak takut dicibir. Tidak ragu pada kebenaran.
  4. Memahami Islam secara runtut
    Isra Mikraj mengajarkan kesinambungan tauhid para nabi. Hadits Muslim nomor 172 menegaskan shalat para nabi di Masjidil Aqsa. Kamu memahami Islam sebagai kelanjutan risalah tauhid, bukan agama yang terputus.
  5. Menguatkan akhlak dan ketaatan
    Ulama seperti Ibn Katsir dan An-Nawawi menekankan bahwa Isra Mikraj mendidik ruh dan akhlak. Kamu menerjemahkan iman menjadi ketaatan nyata. Jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.

Kesimpulan

Isra Mikraj adalah peristiwa nyata yang ditegaskan Al-Quran dan hadits shahih. Ia menegaskan kekuasaan Allah, kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ, dan kedudukan shalat dalam hidup seorang muslim. Sikap umat yang benar adalah menerima dengan iman, menjaga shalat, dan meneladani ketaatan Nabi ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar pustaka

  1. Al-Quran Al-Karim, QS Al-Isra ayat 1, QS An-Najm ayat 13 sampai 18
  2. Shahih Bukhari, Kitab Shalat, hadits nomor 349 dan 3207
  3. Shahih Muslim, Kitab Iman, hadits nomor 163 dan 172
  4. Ibn Katsir. Tafsir Al-Quran Al-Azhim. Dar Thayyibah
  5. An-Nawawi. Syarh Shahih Muslim. Dar Ihya At-Turats Al-Arabi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *