MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Zuhud terhadap Akhirat, Mengapa Salat Lima Waktu Sudah Dianggap Alim di Tengah Masyarakat Muslim Hari Ini

Zuhud terhadap Akhirat, Mengapa Salat Lima Waktu Sudah Dianggap Alim di Tengah Masyarakat Muslim Hari Ini
Perspektif Ulama dan Fenomena Sosial Muslim Kontemporer

dr Widodo Judarwanto


Fenomena seseorang disebut alim atau saleh hanya karena menjalankan kewajiban dasar agama menunjukkan pergeseran standar religius di masyarakat Muslim kontemporer. Salat lima waktu, menjauhi maksiat umum, dan menjaga adab dasar kini sering dianggap sebagai keistimewaan, bukan kewajaran. Artikel ini mengkaji konsep zuhud terhadap akhirat sebagai kunci analisis fenomena tersebut. Zuhud terhadap akhirat dipahami sebagai sikap tidak berminat dan tidak merasa butuh terhadap amal yang bernilai akhirat. Kajian ini menggunakan pendekatan konseptual berbasis pandangan ulama klasik dan kontemporer. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa rendahnya orientasi akhirat dalam kehidupan sosial melahirkan standar amal saleh yang minimal, sehingga ketaatan dasar tampak menonjol. Artikel ini menegaskan urgensi mengoreksi orientasi hidup umat agar kembali menempatkan akhirat sebagai tujuan utama, bukan sekadar pelengkap identitas.


Dalam banyak lingkungan sosial hari ini, terutama di kalangan pemuda Muslim, menjalankan salat lima waktu sering memunculkan label alim atau ustaz. Seseorang dianggap berbeda hanya karena menjaga kewajiban dasar dan menjauhi maksiat yang jelas. Padahal praktik tersebut adalah batas minimal keislaman, bukan prestasi spiritual. Fenomena ini menandakan adanya perubahan persepsi kolektif tentang apa yang dianggap normal dalam beragama. Ketika kewajiban dipandang sebagai keutamaan, maka ada masalah pada standar yang berlaku.

Perubahan standar ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ia terbentuk dari lingkungan yang secara perlahan menjauh dari orientasi akhirat. Ketika mayoritas lebih sibuk mengejar validasi dunia, kepatuhan syariat dianggap berlebihan. Akibatnya, orang yang sekadar menjaga kewajiban terlihat asing. Kondisi ini menciptakan keheranan sosial dan pelabelan yang sebenarnya tidak proporsional. Masalah utamanya bukan pada individu yang taat, tetapi pada ekosistem nilai yang kehilangan arah.

Artikel ini memfokuskan kajian pada konsep zuhud terhadap akhirat sebagai kerangka analisis utama. Pembahasan diarahkan pada pemahaman zuhud menurut ulama, perbedaan antara zuhud terhadap dunia dan zuhud terhadap akhirat, serta dampaknya terhadap standar religius dalam pergaulan sosial Muslim kontemporer. Dengan memahami akar masalah ini, diharapkan umat mampu menilai ketaatan secara lebih jernih dan mengembalikan akhirat sebagai pusat orientasi hidup.

Definisi Zuhud 

  • Secara bahasa, zuhud berarti meninggalkan. Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Pernyataan ini menegaskan bahwa zuhud tidak identik dengan kemiskinan, tetapi dengan orientasi nilai. Dunia boleh dimiliki, selama tidak menguasai hati. Imam Al-Junaid rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang zuhud tidak bergembira karena dunia dan tidak bersedih karena kehilangannya. Ini menunjukkan kestabilan batin.
  • Zuhud sebagai Amalan Hati Zuhud adalah kerja hati, bukan sekadar kondisi ekonomi. Seseorang bisa hidup berkecukupan dan tetap zuhud. Kuncinya adalah menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Ikhtiar duniawi yang halal diniatkan untuk maslahat akhirat. Dengan orientasi ini, dunia menjadi sarana, bukan tujuan.
  • Tingkatan Zuhud terhadap Dunia  Ibrahim bin Adham rahimahullah membagi zuhud menjadi tiga. Zuhud fardhu berkaitan dengan meninggalkan yang haram. Zuhud salamah berkaitan dengan menjauhi syubhat. Zuhud fadhl adalah meninggalkan perkara mubah yang berlebihan. Dua yang pertama wajib dijaga. Yang terakhir menyempurnakan.
  • Zuhud terhadap Akhirat Zuhud terhadap akhirat adalah sikap tidak berminat terhadap amal akhirat. Seseorang merasa cukup tanpa ibadah. Ia tidak merasa butuh memperbaiki salat, akhlak, dan amal. Ini kebalikan dari zuhud terhadap dunia. Yang ditinggalkan justru bekal akhirat.

Kaidah Pembeda Ulama

  • Syekh Dr Ahmad Farid dalam karyanya tentang tazkiyatun nafs menegaskan satu kaidah pembeda yang tajam. Siapa yang menjual dunia demi akhirat, ia zahid terhadap dunia. Siapa yang menjual akhirat demi dunia, ia juga zahid, tetapi terhadap akhirat. Kaidah ini membongkar ilusi umum tentang zuhud. Zuhud bukan soal tampilan, pakaian, atau kemiskinan. Zuhud adalah soal arah pilihan hidup. Semua manusia pasti meninggalkan sesuatu. Pertanyaannya jelas, apa yang kamu tinggalkan dan demi apa kamu memilih. Kaidah ini relevan menjelaskan mengapa ketaatan dasar terasa asing. Banyak orang telah menjual akhiratnya secara sadar demi kenyamanan dunia.
  • Syekh Prof Yusuf Al-Qaradawi dalam kitab Al-Iman wal Hayah menjelaskan bahwa krisis umat modern bukan pada kurangnya pengetahuan agama, tetapi pada melemahnya orientasi akhirat. Menurut beliau, iman yang hidup selalu melahirkan dorongan amal, bukan sekadar identitas. Ketika akhirat tidak lagi menjadi tujuan utama, maka kewajiban agama dipandang sebagai beban. Dalam kondisi ini, orang yang konsisten salat lima waktu tampak ekstrem. Bukan karena ia berlebihan, tetapi karena lingkungan telah menurunkan standar iman. Pandangan ini memperkuat kaidah bahwa zuhud terhadap akhirat adalah penyakit kolektif, bukan kasus individual.
  • Syekh Dr Ali Ash-Shalabi dalam karya-karyanya tentang tarbiyah dan peradaban Islam menegaskan bahwa kemunduran umat selalu diawali dengan pergeseran tujuan hidup. Ia menyebut bahwa generasi yang kuat adalah generasi yang menjadikan akhirat sebagai poros, sementara dunia berada di tangan, bukan di hati. Ketika poros ini bergeser, maka ukuran kebaikan ikut berubah. Amal wajib dianggap cukup. Amal sunnah dianggap aneh. Jihad melawan hawa nafsu dianggap berlebihan. Dalam konteks ini, label alim muncul bukan karena kualitas iman yang tinggi, tetapi karena standar lingkungan yang rendah.
  • Syekh Dr Abdul Karim Bakkar dalam kitab Taammulat fi Qadhaya al-Insan al-Mu’ashir menjelaskan bahwa manusia modern mengalami kekosongan makna. Ia sibuk, produktif, dan terhubung, tetapi kehilangan orientasi transenden. Menurut beliau, ketika akhirat tidak lagi hadir dalam kesadaran harian, manusia akan mengukur segalanya dengan manfaat instan. Ibadah dinilai dari dampak sosialnya, bukan dari nilainya di sisi Allah. Akibatnya, amal yang tidak populer dianggap tidak penting. Dalam kondisi ini, menjaga salat lima waktu terlihat sebagai sikap idealis yang tidak realistis. Padahal itu adalah fondasi iman.
  • Syekh Dr Sa’id bin Ali Al-Qahthani dalam tulisan-tulisannya tentang penyakit hati menegaskan bahwa salah satu tanda lemahnya iman adalah minimnya perhatian terhadap amal batin dan amal rahasia. Ia menjelaskan bahwa orang yang zuhud terhadap akhirat akan selalu mencari justifikasi duniawi untuk setiap amal. Ia beribadah jika ada pujian. Ia taat jika ada keuntungan. Kaidah ini sejalan dengan penjelasan Syekh Ahmad Farid. Orang seperti ini telah menjual akhiratnya, sedikit demi sedikit, tanpa merasa rugi. Maka wajar jika orang yang menjaga kewajiban dasar tampak berbeda. Bukan karena kamu terlalu alim, tetapi karena banyak orang telah terlalu jauh meninggalkan akhirat.

Realitas Sosial
Zuhud terhadap akhirat tidak menunggu seseorang kaya. Siapa pun bisa melalaikan akhirat. Fakta ini menjelaskan mengapa banyak orang merasa asing dengan ketaatan dasar. Akhirat tidak lagi menjadi prioritas hidup.

Bentuk-Bentuk Zuhud terhadap Akhirat

  • Indikator Umum Orang yang zuhud terhadap akhirat terlihat dari standar amalnya yang rendah. Ia tidak merasa tertarik untuk memperbaiki ibadah. Ia menjalankan kewajiban dengan rasa berat, bukan dengan kesadaran tujuan. Salat dikerjakan sekadar gugur kewajiban. Tilawah terasa asing. Majelis ilmu tidak menarik minatnya. Semua ini bukan karena keterbatasan fisik atau waktu. Akar masalahnya ada pada minat batin. Hatinya tidak lagi memandang akhirat sebagai kebutuhan mendesak. Karena itu, dorongan untuk beramal melemah. Ketika amal saleh dilakukan orang lain, ia heran. Ketika ada yang menjaga kewajiban dengan konsisten, ia menganggapnya berlebihan. Standar rendah ini lalu menjadi norma sosial. Akibatnya, ketaatan dasar tampak istimewa, padahal seharusnya wajar.
  • Perbandingan dengan Zuhud terhadap Dunia Sebagaimana orang yang zuhud terhadap dunia tidak tertarik pada harta, jabatan, dan gemerlap materi, orang yang zuhud terhadap akhirat tidak tertarik pada pahala dan ridha Allah. Ia tidak mengejar kualitas ibadah. Ia tidak peduli pada kekhusyukan. Ia merasa cukup dengan batas paling minimal. Ia puas selama masih berstatus muslim. Logika hidupnya terbalik. Dunia dikejar dengan serius. Akhirat dikerjakan sambil lalu. Perbandingan ini membantu kamu memahami masalahnya dengan jernih. Zuhud terhadap akhirat bukan sekadar malas ibadah. Ia adalah sikap hidup yang menempatkan akhirat di posisi sekunder. Selama pola ini bertahan, kewajiban akan terus terasa berat, dan orang yang taat akan terus dianggap asing.

Masyarakat yang Zuhud terhadap Akhirat
Ketika sikap zuhud terhadap akhirat tidak lagi bersifat individual, tetapi menjadi budaya bersama, maka dampaknya terasa luas. Orientasi hidup masyarakat bergeser dari akhirat ke dunia. Nilai agama tidak lagi menjadi poros, tetapi sekadar simbol. Dalam kondisi ini, amal saleh tidak diukur dari tuntunan syariat, melainkan dari kebiasaan mayoritas. Akhirnya terbentuk masyarakat yang tidak merasa butuh pada peningkatan iman. Ketaatan tidak lagi menjadi kebutuhan batin. Ia hanya opsi tambahan bagi segelintir orang.

  • Standar Ideal yang Menyusut
    Turunnya orientasi akhirat otomatis menurunkan standar ideal amal. Salat lima waktu tidak lagi dipandang sebagai kewajiban minimal, tetapi sebagai pencapaian. Menjaga diri dari maksiat dasar dianggap sikap ekstrem. Orang yang konsisten beribadah diberi label alim atau ustaz, meski ia sendiri merasa biasa saja. Label ini muncul bukan karena kualitas iman yang tinggi, tetapi karena tolok ukur lingkungan telah menyempit. Standar syariat tergantikan oleh standar sosial. Yang sedikit terlihat banyak karena sekitarnya kosong.
  • Normalisasi Penyimpangan
    Dalam kondisi ini, penyimpangan perlahan menjadi normal. Meninggalkan salat dianggap wajar. Maksiat kecil dianggap urusan pribadi. Yang menjaga batas agama justru terasa asing. Ini bukan fenomena baru. Ini hukum sosial yang berulang. Ketika kesalahan dilakukan bersama, ia kehilangan rasa salah. Sebaliknya, kebenaran yang dijaga sendiri terasa berat. Orang yang taat bukan dipandang teladan, tetapi dianggap aneh. Bukan karena ia berlebihan, tetapi karena lingkungan telah menjauh dari nilai akhirat.

 

Sikap yang Seharusnya Ketika kamu berada di tengah masyarakat yang standar akhiratnya menurun, sikap batin menjadi penentu keselamatan diri. Menjalankan kewajiban agama bukan prestasi spiritual, tetapi fungsi dasar seorang hamba. Allah menegaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56. Kesadaran ini menjaga hatimu tetap lurus. Kamu tidak merasa lebih suci dari orang lain. Kamu juga tidak merasa kecil ketika dianggap berbeda. Perspektif ini penting agar amalmu tetap ikhlas dan stabil. Tanpa perspektif yang benar, pujian bisa melahirkan ujub, sementara tekanan sosial bisa melahirkan putus asa.

  • Menjaga Perspektif Diri Ketika kamu menjalankan kewajiban agama, letakkan itu pada posisi yang benar. Salat lima waktu, menjauhi maksiat, dan menjaga batas syariat bukan kelebihan, tetapi fungsi dasar sebagai hamba Allah. Allah menegaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56. Kesadaran ini penting agar hatimu tetap sehat. Kamu tidak terjebak pada rasa bangga diri saat dipuji alim. Kamu juga tidak goyah saat dianggap aneh. Perspektif ini menutup dua penyakit sekaligus, yaitu ujub karena pujian dan putus asa karena tekanan sosial. Dengan memahami posisi amal secara proporsional, kamu bisa menjaga keikhlasan dan ketenangan dalam beragama.
  • Bersabar dan Berhikmah Dalam kondisi masyarakat yang standar akhiratnya menurun, Islam tidak memerintahkanmu menjadi keras atau sinis. Kamu tidak ditugaskan untuk mengutuk zaman atau menghina manusia. Tugasmu adalah bersabar dan tetap istikamah. Bersikap lembut dalam ucapan dan sikap. Tunjukkan bahwa ketaatan tidak membuatmu merasa lebih tinggi, tetapi justru lebih rendah hati. Banyak orang tersentuh bukan oleh ceramah yang lantang, tetapi oleh konsistensi yang tenang. Kebaikan yang stabil bekerja tanpa sorotan. Ia membentuk persepsi baru secara perlahan. Bisa jadi Allah menjadikan keteguhanmu sebagai sebab hidayah bagi orang lain, tanpa kamu perlu merasa sedang berdakwah.

Kesimpulan

Fenomena seseorang dipanggil alim hanya karena menjalankan kewajiban dasar adalah tanda masyarakat yang zuhud terhadap akhirat. Zuhud terhadap akhirat berarti kehilangan minat dan kebutuhan terhadap amal saleh. Ulama telah menjelaskan bahwa semua manusia pasti zuhud. Yang membedakan adalah arah zuhud tersebut. Artikel ini menegaskan pentingnya mengembalikan akhirat sebagai orientasi hidup. Dengan itu, standar kebaikan akan kembali pada tempatnya, dan ketaatan tidak lagi dianggap keanehan.

Daftar Pustaka

  • Al-Qur’an Al-Karim
  • Ibnu Taimiyah. Majmu’ al-Fatawa
  • Al-Junaid al-Baghdadi. Risalah al-Qusyairiyah
  • Ibrahim bin Adham. Atsar tentang Zuhud
  • Ahmad Farid. Al-Bahr ar-Raaiq fi az-Zuhd wa ar-Riqaq

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *