MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

KISAH INSPIRATIF: Air di Padang Sahara dan Ular Misterius

KISAH INSPIRATIF: Air di Padang Sahara dan Ular Misterius

Suatu hari, di bawah langit yang membara dan pasir yang seperti api, Ubaib bin Al-Abrash melakukan perjalanan jauh bersama beberapa sahabatnya. Mereka menempuh gurun demi sebuah keperluan, menahan dahaga dan lelah, sambil menggantungkan harap pada setiap langkah unta yang berjalan perlahan. Matahari berada tepat di atas kepala, tak memberi ruang bagi bayangan untuk bersembunyi.

Tiba-tiba, di hadapan mereka, tampak seekor ular besar menggeliat di atas pasir panas. Tubuhnya bergerak tak tenang, seakan menahan penderitaan. Beberapa sahabat Ubaib spontan mundur. “Segera bunuh ular itu, Ubaid!” seru salah seorang dari mereka, khawatir akan bahaya yang mengintai. Namun Ubaib tidak bergerak. Tatapannya justru lembut, penuh pertimbangan, seolah ia melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain.

“Tidak perlu dibunuh,” kata Ubaib pelan. “Lihatlah, ia kehausan. Panas ini membakar siapa pun yang bernyawa. Barangkali yang ia butuhkan hanyalah seteguk air.” Tanpa ragu, Ubaib turun dari untanya. Sahabat-sahabatnya menahan napas, sebagian berteriak panik. “Ubaid, jangan! Jika kau tak mau membunuhnya, biar kami saja!” Namun Ubaib hanya menoleh dan tersenyum tipis. “Tenanglah. Biarkan aku mengurusnya.”

Ia melangkah mendekat, mengulurkan wadah air yang tersisa. Ular itu minum dengan lahap, seakan hidupnya bergantung pada tetes-tetes terakhir itu. Ubaib bahkan menyiramkan sisa air ke kepala makhluk tersebut, seolah menenangkan panas yang membakar. Setelah itu, ular tersebut perlahan menjauh, menghilang di hamparan pasir, tanpa menyisakan ancaman—hanya keheningan yang penuh makna.

Perjalanan pun berlanjut. Hari berganti hari. Namun tanpa mereka sadari, arah telah hilang. Padang pasir membentang seragam, tanpa tanda, tanpa petunjuk. Putus asa mulai menyelinap ke hati mereka. Malam turun, membawa kegelapan yang lebih menakutkan daripada terik siang. Dalam kebisuan itu, Ubaib mendengar desis lembut, lalu sebuah suara yang jernih namun tak berwujud.

“Wahai pemilik unta yang tak tahu ke mana harus melangkah,” ujar suara itu. “Ambillah unta ini dan tunggangilah. Biarkan ia berjalan di sisimu sepanjang malam. Saat fajar menyingsing dan matahari kembali bersinar, lepaskanlah ia.”

Ubaib menoleh. Sebuah unta berdiri di sisinya—tenang, seakan telah lama menunggu. Ia menaikinya. Sahabat-sahabatnya saling berpandangan, heran dan bingung, namun mereka memilih percaya. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain mengikuti dan berserah. Malam pun berlalu, langkah demi langkah, hingga cahaya subuh muncul dan tempat yang mereka kenali tampak di kejauhan.

Tangis syukur pecah. Senyum kembali menghiasi wajah-wajah yang letih. Ubaib turun, melepaskan unta itu, lalu berkata dengan penuh kerendahan hati, “Wahai pemilik unta, engkau telah menyelamatkan kami dari kebinasaan. Maukah engkau memperkenalkan dirimu?”

Suara itu kembali terdengar, kini jelas dan menggema di hati mereka semua. “Aku adalah ular yang kaulihat kehausan di tengah sahara. Engkau memberi minum, menyiramkan air ke kepalaku, tanpa kikir dan tanpa takut. Ketahuilah, kebaikan tak pernah hilang walau waktu berlalu. Ia akan kembali kepada pemiliknya. Dan keburukan adalah bekal terburuk yang dibawa seseorang.”

Suara itu lenyap. Ubaib dan para sahabat menengadahkan tangan ke langit, bersyukur atas pelajaran yang tertanam lebih dalam daripada jejak di pasir: bahwa setetes kebaikan, sekecil apa pun, tak pernah sia-sia.

Wallāhu a‘lam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *