MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

QIRĀ’ĀT AL-QUR’ĀN: DEFINISI, KRITERIA KESUNNAHAN, DAN KLASIFIKASI ILMU QIRĀ’ĀT

QIRĀ’ĀT AL-QUR’ĀN: DEFINISI, KRITERIA KESUNNAHAN, DAN KLASIFIKASI ILMU QIRĀ’ĀT

Pendahuluan

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah ﷻ sebagai petunjuk hidup umat manusia dan dijaga keasliannya melalui hafalan, tulisan, dan bacaan (qirā’ah). Salah satu bentuk penjagaan tersebut adalah adanya ilmu qirā’āt, yaitu disiplin keilmuan yang mengkaji variasi bacaan Al-Qur’an yang sah dan bersumber dari Rasulullah ﷺ. Dalam praktik ibadah, khususnya shalat, sering muncul kesalahpahaman antara cara membaca (pelan, keras, atau dalam hati) dengan jenis qirā’āt yang diakui secara ilmiah. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan menjelaskan definisi qirā’āt, kriteria qirā’ah yang sesuai sunnah, perbedaan antara qirā’ah sah dan tidak sah, serta klasifikasi qirā’āt mutawātirah yang diterima oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah.

Definisi Qirā’āt

Secara bahasa, qirā’ah berarti membaca.
Secara istilah ilmu Al-Qur’an, qirā’āt adalah:

“Mazhab bacaan Al-Qur’an yang dianut oleh seorang imam qirā’ah, yang berbeda dengan imam lain dalam cara pelafalan huruf, harakat, atau sifat bacaan, dengan sanad yang sah hingga Rasulullah ﷺ.”

Para ulama menetapkan bahwa suatu qirā’ah dinilai sah apabila memenuhi tiga syarat utama:

  • Sesuai dengan kaidah bahasa Arab
  • Sesuai dengan rasm Mushaf ‘Utsmānī
  • Diriwayatkan dengan sanad sahih dan mutawātir

(Qaidah ini disepakati oleh ulama qirā’āt seperti Ibn al-Jazari).

Qirā’ah yang Sesuai Sunnah

Qirā’ah yang sesuai sunnah adalah qirā’ah mutawātirah yang:

  • Dibaca dengan lisan
  • Mengeluarkan suara, meskipun pelan
  • Diriwayatkan dari Nabi ﷺ melalui para sahabat dan imam qirā’āt

Hadis Rasulullah ﷺ diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ: مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ» (HR. al-Bukhārī no. 4999)

“Ambillah Al-Qur’an dari empat orang: dari ‘Abdullāh bin Mas‘ūd, Sālim maulā Abī Ḥudhayfah, Mu‘ādz bin Jabal, dan Ubay bin Ka‘b.”

Hadis ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an harus diambil melalui talaqqī bacaan dari para qāri’ yang terpercaya, bukan sekadar dari tulisan atau bacaan batin. Inilah dasar utama ilmu qirā’āt, bahwa bacaan Al-Qur’an diwariskan secara lisan, bersuara, dan bersanad dari Rasulullah ﷺ kepada umatnya.

Qiraat Sab’ah

Qirā’āt Sab‘ah adalah tujuh mazhab bacaan Al-Qur’an yang sah, mutawātir, dan dinisbatkan kepada tujuh imam qirā’ah besar yang hidup pada generasi awal Islam, yaitu Nāfi‘ al-Madanī, Ibn Katsīr al-Makkī, Abū ‘Amr al-Bashrī, Ibn ‘Āmir ad-Dimashqī, ‘Āṣim al-Kūfī, Ḥamzah az-Zayyāt, dan al-Kisā’ī. Setiap qirā’ah ini bersumber dari Rasulullah ﷺ melalui sanad periwayatan yang bersambung dan terpercaya, serta memenuhi tiga kriteria ilmiah yang disepakati ulama: sesuai dengan kaidah bahasa Arab, sesuai dengan rasm Mushaf ‘Utsmānī, dan diriwayatkan secara mutawātir. Perbedaan antar qirā’āt sab‘ah tidak menyentuh substansi akidah maupun hukum syariat, melainkan berkisar pada variasi pelafalan huruf, panjang-pendek bacaan (mad), imālah, idghām, atau perbedaan harakat tertentu yang semuanya tetap menjaga makna ayat. Oleh karena itu, qirā’āt sab‘ah bukanlah perbedaan versi Al-Qur’an, melainkan bentuk keluwesan wahyu yang Allah berikan sebagai kemudahan bagi umat dengan latar dialek Arab yang beragam.

Secara historis dan praktis, qirā’āt sab‘ah memainkan peran sentral dalam penjagaan kemurnian bacaan Al-Qur’an sepanjang sejarah Islam. Kodifikasi qirā’āt sab‘ah oleh para ulama—terutama melalui karya Imam Ibn Mujāhid—bukanlah upaya membatasi bacaan, tetapi justru menyeleksi dan menegaskan bacaan-bacaan yang benar-benar sah dan teruji secara periwayatan. Dalam praktik ibadah, seluruh qirā’āt sab‘ah sah dibaca dalam shalat dan tilawah, selama dilafalkan dengan lisan dan suara, meskipun pelan. Kesalahan memahami qirā’āt sebagai sekadar cara membaca keras atau lirih, atau mencampuradukkannya dengan bacaan dalam hati (qirā’ah nafsiyyah), perlu diluruskan karena qirā’āt adalah disiplin ilmiah periwayatan, bukan preferensi pribadi. Dengan memahami qirā’āt sab‘ah secara benar, umat Islam diharapkan memiliki keyakinan yang kuat terhadap keautentikan bacaan Al-Qur’an, bersikap toleran terhadap perbedaan bacaan yang sah, dan semakin menghargai warisan keilmuan Islam dalam menjaga wahyu Ilahi.

Klasifikasi Ilmu

Jenis qirā’āt adalah bacaan Al-Qur’an yang dinisbatkan kepada imam qirā’ah dan diriwayatkan secara mutawātir. Di antaranya adalah qirā’āt sab‘ah (tujuh) berikut:

  1. Qirā’ah Nāfi‘ al-Madanī
    Riwayat: Warsh dan Qālūn
  2. Qirā’ah Ibn Katsīr al-Makkī
  3. Qirā’ah Abū ‘Amr al-Bashrī
  4. Qirā’ah Ibn ‘Āmir ad-Dimashqī
  5. Qirā’ah ‘Āṣim al-Kūfī
    Riwayat: Ḥafṣ dan Syu‘bah
  6. Qirā’ah Ḥamzah az-Zayyāt
  7. Qirā’ah al-Kisā’ī

Seluruh qirā’āt mutawātirah, termasuk qirā’āt sab‘ah, bersumber dari Rasulullah ﷺ melalui periwayatan bacaan yang bersambung dan terpercaya, diakui oleh ijma‘ para ulama Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah, serta diamalkan dengan membaca menggunakan lisan dan mengeluarkan suara, meskipun pelan, sesuai dengan makna hakiki membaca dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, seluruh qirā’āt tersebut termasuk sunnah dalam tilawah dan shalat, sah untuk diamalkan dalam ibadah, dan merupakan bagian dari penjagaan Allah terhadap kemurnian Al-Qur’an dari generasi ke generasi.

Qirā’āt Sab‘ah
  1. Qirā’ah Nāfi‘ al-Madanī (Riwayat Warsh dan Qālūn) Qirā’ah Nāfi‘ berasal dari Madinah dan dikenal dengan bacaan yang tenang, jelas, serta menjaga kemudahan bagi jamaah. Riwayat Warsh cenderung memiliki mad dan imālah pada beberapa lafaz, sedangkan Qālūn lebih dekat dengan bacaan ringan dan stabil. Qirā’ah ini banyak digunakan di Afrika Utara dan Andalusia, serta mencerminkan tradisi bacaan penduduk Madinah yang diwariskan dari para sahabat Nabi ﷺ.
  2. Qirā’ah Ibn Katsīr al-Makkī Qirā’ah ini berkembang di Makkah dan dinisbatkan kepada Ibn Katsīr, seorang imam besar yang menerima bacaan dari para tabi‘in Makkah. Ciri khas qirā’ah ini adalah kejelasan pelafalan huruf dan kehati-hatian dalam tajwid, dengan beberapa perbedaan pada mad dan idghām. Qirā’ah ini mencerminkan bacaan masyarakat Hijaz yang dekat dengan tradisi lisan sahabat.
  3. Qirā’ah Abū ‘Amr al-Bashrī Qirā’ah Abū ‘Amr berasal dari Bashrah dan dikenal dengan penggunaan idghām kabīr yang cukup banyak, sehingga bacaan terdengar mengalir dan harmonis. Bacaan ini menunjukkan kekayaan fonetik bahasa Arab dan banyak dipelajari dalam kajian linguistik Al-Qur’an. Qirā’ah ini menuntut ketelitian tinggi dalam tajwid dan penguasaan makhārij huruf.
  4. Qirā’ah Ibn ‘Āmir ad-Dimashqī Qirā’ah ini berkembang di wilayah Syam (Damaskus) dan dinisbatkan kepada Ibn ‘Āmir, qādhi dan imam besar di sana. Ciri khasnya adalah perbedaan pada struktur gramatikal (nahwu) dalam beberapa ayat, tanpa mengubah makna pokok. Qirā’ah ini mencerminkan kekayaan dialek Arab Syam yang diakui keabsahannya oleh para ulama.
  5. Qirā’ah ‘Āṣim al-Kūfī (Riwayat Ḥafṣ dan Syu‘bah) Qirā’ah ‘Āṣim berasal dari Kufah dan merupakan qirā’ah yang paling luas digunakan di dunia Islam saat ini, terutama melalui riwayat Ḥafṣ. Ciri bacaan ini adalah keseimbangan antara kejelasan, ketepatan tajwid, dan kemudahan bagi pembaca. Riwayat Syu‘bah memiliki beberapa perbedaan dalam mad dan harakat, namun tetap berada dalam koridor mutawātir dan sah.
  6. Qirā’ah Ḥamzah az-Zayyāt Qirā’ah Ḥamzah dikenal dengan ketelitian tinggi dalam tahqīq huruf, penggunaan imālah, serta sikap hati-hati dalam pelafalan hamzah. Bacaan ini menuntut kedisiplinan tajwid dan sering dipelajari oleh para penuntut ilmu qirā’āt tingkat lanjut. Meskipun dianggap berat oleh sebagian pembaca awam, qirā’ah ini mutawātir dan sah menurut ijma‘ ulama.
  7. Qirā’ah al-Kisā’ī Qirā’ah al-Kisā’ī berasal dari Kufah dan memiliki kedekatan dengan qirā’ah Ḥamzah dalam beberapa kaidah, seperti imālah dan idghām. Al-Kisā’ī adalah ahli nahwu dan bahasa Arab, sehingga qirā’ah ini mencerminkan ketelitian linguistik yang tinggi. Bacaan ini diakui secara mutawātir dan menjadi bagian penting dalam khazanah ilmu qirā’āt.

Tabel Perbedaan Utama Qirā’āt Sab‘ah

Qirā’ah Wilayah Asal Riwayat Terkenal Ciri Khas Utama Penyebaran
Nāfi‘ Madinah Warsh, Qālūn Bacaan lembut, mad dan imālah Afrika Utara
Ibn Katsīr Makkah Pelafalan jelas, Hijaz Hijaz
Abū ‘Amr Bashrah Idghām kabīr, mengalir Ilmiah/linguistik
Ibn ‘Āmir Syam Variasi nahwu Syam
‘Āṣim Kufah Ḥafṣ, Syu‘bah Seimbang & mudah Dunia Islam
Ḥamzah Kufah Tahqīq, imālah kuat Akademik
Kisā’ī Kufah Linguistik & nahwu Akademik

Yang dimaksud jenis qirā’āt adalah bacaan Al-Qur’an yang dinisbatkan kepada imam qirā’ah dan diriwayatkan secara mutawātir, bukan cara membaca pelan, keras, atau dalam hati.

Kesimpulan

Ilmu qirā’āt merupakan bagian penting dari penjagaan kemurnian Al-Qur’an. Qirā’ah yang sah dan sesuai sunnah adalah qirā’ah yang memenuhi syarat ilmiah: mutawātir, sesuai rasm Mushaf, dan dibaca dengan pelafalan yang nyata. Qirā’ah nafsiyyah (membaca dalam hati) bukan bagian dari ilmu qirā’āt dan tidak sah dalam shalat menurut Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah. Adapun qirā’ah seperti Ḥafṣ ‘an ‘Āṣim dan qirā’āt mutawātirah lainnya adalah bacaan Al-Qur’an yang autentik, ilmiah, dan diwariskan langsung dari Rasulullah ﷺ kepada umat Islam hingga hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *