MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Kontroversi Istiwā’ dan ‘Arsy: Antara Makna Bersemayam dan Menguasai dalam Perspektif Al-Qur’an, Hadis, dan Tafsir Ulama

Kontroversi Istiwā’ dan ‘Arsy: Antara Makna Bersemayam dan Menguasai dalam Perspektif Al-Qur’an, Hadis, dan Tafsir Ulama

Abstrak

Konsep istiwā’ Allah di atas ‘Arsy merupakan salah satu tema paling mendalam dalam teologi Islam. Al-Qur’an berulang kali menyebut bahwa Allah “bersemayam di atas ‘Arsy”, namun penafsiran terhadap makna istiwā’ menimbulkan perbedaan di kalangan ulama. Ulama Salaf memahami istiwā’ sebagaimana adanya, yaitu “bersemayam di atas ‘Arsy” secara hakiki tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa membahas “bagaimana”-nya (bilā kayf). Sementara ulama Khalaf, seperti Asy‘ariyah dan Maturidiyah, menafsirkannya secara majazi sebagai “berkuasa dan mengatur”. Artikel ini menjelaskan dalil Al-Qur’an, hadis, tafsir ulama, tabel perbedaan pandangan, serta panduan bagaimana umat Islam menyikapi perbedaan ini dengan tetap menjaga kemurnian tauhid.

Perdebatan tentang makna istiwā’ muncul karena adanya ayat-ayat yang menggambarkan Allah dengan istilah yang secara bahasa menyerupai sifat manusia. Salah satunya adalah QS. Ṭāhā:5 — “Ar-Rahmān ‘alal ‘Arsy istawā” (Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy). Sebagian umat kemudian memahami ayat ini secara literal, sementara sebagian lain berusaha menafsirkannya secara simbolis agar tidak jatuh pada tasybīh (penyerupaan dengan makhluk).

Dalam sejarah Islam, perbedaan ini melahirkan dua pendekatan besar: pendekatan Salaf, yang beriman tanpa menakwil atau menanyakan “bagaimana”, dan pendekatan Khalaf, yang menakwil makna secara majazi untuk menolak pemahaman fisikal terhadap Allah. Keduanya sepakat bahwa Allah Maha Suci dari ruang, arah, dan bentuk, meski berbeda dalam metode memahami teks.

Definisi dan Makna Istiwā’

Makna Istiwā’ Menurut Salaf

Menurut ulama Salaf, istiwā’ berarti ‘uluw wa irtifā‘ (tinggi dan bersemayam di atas), sebagaimana datang dalam Al-Qur’an, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa menanyakan “bagaimana”.
Imam Mālik ketika ditanya tentang ayat “Ar-Rahmān ‘alal ‘Arsy istawā” menjawab:

Al-istiwa’ ma‘lūm, wal-kaif majhūl, wal-īmān bihi wājib, was-su’āl ‘anhu bid‘ah.
(Makna istiwā’ itu diketahui [yakni bersemayam], bagaimana caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan menanyakan ‘bagaimana’-nya adalah bid‘ah).
Ini menunjukkan bahwa bagi Salaf, istiwā’ adalah hakikat yang diketahui dari lafaznya, tetapi cara dan bentuknya tidak boleh dipikirkan

Makna Istiwā’ Menurut Khalaf (Ulama Mutakallimīn)

Sebaliknya, ulama Khalaf seperti Imam Al-Asy‘arī, Al-Qurṭubī, dan Fakhruddin Ar-Rāzī menafsirkan istiwā’ secara majazi sebagai istiwa’ bil-qahr — “menguasai dan mengatur seluruh makhluk”. Mereka khawatir pemahaman literal akan membawa pada tajsīm (penyerupaan Allah dengan makhluk), karena bersemayam biasanya bermakna fisik dalam bahasa manusia.

Makna ‘Arsy Menurut Al-Qur’an dan Tafsir Ulama

Kata ‘Arsy (العرش) dalam Al-Qur’an disebut lebih dari 20 kali, antara lain:

  • QS. Ṭāhā:5: “Ar-Rahmān ‘alal ‘Arsy istawā.”
  • QS. Al-Mu’minūn:116: “Rabbul ‘Arsyil ‘Azhīm.”
  • QS. Al-Hāqqah:17: “Dan malaikat berada di sekeliling ‘Arsy.”

Menurut Ibnu Katsīr, ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar dan paling tinggi di atas seluruh ciptaan, menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya.
Imam Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa penyebutan ‘Arsy tidak berarti tempat bagi Allah, tetapi simbol supremasi kekuasaan dan pengaturan-Nya atas segala ciptaan.
Imam Fakhruddin Ar-Rāzī menambahkan, “’Arsy adalah lambang keagungan dan kesempurnaan Rububiyyah Allah, bukan singgasana fisik sebagaimana makhluk.”

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  1. QS. Ṭāhā:5
    “Ar-Rahmān ‘alal ‘Arsy istawā.”
    (Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy.)
  2. QS. Al-A‘rāf:54
    “…Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengatur segala urusan…”
  3. QS. Asy-Syūrā:11
    “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Hadis Shahih:

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah menetapkan takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.”
(HR. Muslim no. 2653)

Hadis ini menunjukkan bahwa ‘Arsy adalah makhluk ciptaan Allah, bukan tempat keberadaan-Nya, dan Allah tetap Maha Mengatur sebelum dan sesudah penciptaan.

Penjelasan Ulama

  • Imam Mālik (Salaf): Makna istiwā’ diketahui, caranya tidak diketahui; mengimaninya wajib.
  • Imam Ahmad bin Hanbal: Allah bersemayam di atas ‘Arsy sebagaimana firman-Nya, tanpa menyerupakan dan tanpa menanyakan bagaimana.
  • Imam Al-Asy‘arī: Istiwā’ bermakna istiwa’ bil-qahr (menguasai dan mengatur makhluk).
  • Al-Qurṭubī: Penyerupaan Allah dengan makhluk dalam makna “bersemayam” harus dihindari; istiwā’ adalah tanda kekuasaan dan keagungan-Nya.
  • Ibnu Taimiyyah: Allah benar-benar tinggi dan bersemayam di atas ‘Arsy secara hakiki, tapi tidak serupa dengan makhluk dan tidak membutuhkan tempat.

Tabel Perbedaan Pandangan Ulama Salaf dan Ulama Khalaf

Aspek Ulama Salaf (Sahabat, Tabi‘in, Hanbali) Ulama Khalaf (Asy‘ariyah, Maturidiyah, sebagian Malikiyah)
Makna Istiwā’ Bersemayam di atas ‘Arsy secara hakiki tanpa membahas “bagaimana” (bilā kayf) Menguasai dan mengatur seluruh makhluk (istiwa’ bil-qahr)
Pendekatan Tafwīdh (menyerahkan makna hakikat kepada Allah) Ta’wīl (menafsirkan secara majazi)
Tujuan Teologis Menjaga keimanan pada teks tanpa penyimpangan Menjauhkan Allah dari keserupaan dengan makhluk
Rujukan Utama Imam Mālik, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyyah Al-Asy‘arī, Al-Māturīdī, Al-Qurṭubī, Ar-Rāzī
Kesimpulan Pokok Allah bersemayam di atas ‘Arsy dengan cara yang hanya Allah ketahui “Bersemayam” berarti menguasai dan memerintah, bukan tempat fisik

Bagaimana Sebaiknya Umat Menyikapi 

  1. Beriman tanpa memperdebatkan hakikat. Umat cukup mengimani bahwa Allah benar-benar bersemayam di atas ‘Arsy sebagaimana yang difirmankan, tanpa menanyakan bagaimana caranya, karena akal manusia terbatas dalam memahami hakikat sifat Allah.
  2. Menghindari dua ekstrem: yaitu tasybīh (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta‘thīl (menolak sifat Allah). Keduanya bertentangan dengan akidah tauhid yang diajarkan para sahabat.
  3. Menghormati perbedaan tafsir. Pendapat Salaf dan Khalaf lahir dari upaya menjaga kemurnian tauhid dari sisi yang berbeda. Umat tidak perlu saling menyesatkan, karena keduanya berlandaskan niat menjaga kesucian sifat-sifat Allah.
  4. Fokus pada makna spiritual. Ayat-ayat tentang ‘Arsy dan istiwā’ mengajarkan kebesaran dan kekuasaan Allah. Semakin manusia memahami kebesaran-Nya, semakin tunduk dan tawakal ia dalam kehidupan, bukan sibuk memperdebatkan ranah ghaib.

Kesimpulan

Perbedaan pandangan tentang istiwā’ dan ‘Arsy merupakan bagian dari kekayaan teologis Islam. Ulama Salaf menegaskan istiwā’ sesuai teks tanpa membahas “bagaimana”, sedangkan ulama Khalaf menafsirkan sebagai simbol kekuasaan dan pengaturan Allah. Keduanya sepakat bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk, tidak butuh tempat, dan Maha Mengatur seluruh ciptaan-Nya.
Sikap terbaik umat Islam adalah mengimani nash sebagaimana adanya, menahan diri dari perdebatan tajam, serta memperkokoh keyakinan bahwa Allah Maha Tinggi, Maha Kuasa, dan Maha Suci dari segala sifat makhluk.

Daftar Pustaka:

  1. Al-Qur’an al-Karim.
  2. Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Dar Thayyibah, Riyadh, 1999.
  3. Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’an, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 2006.
  4. Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, Dar al-Ma‘rifah, Beirut, 1998.
  5. Ibn Taimiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā, Dar al-Wafa’, Kairo, 2005.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *