“Istigfar atau Tasbih: Mana yang Lebih Utama dalam Meraih Keridhaan Allah?”
Dalam dunia ibadah, umat Islam diajarkan untuk memperbanyak dzikir, baik dalam bentuk istigfar (memohon ampunan) maupun tasbih (menyucikan Allah). Kedua bentuk dzikir ini memiliki kedudukan agung dalam Islam. Artikel ini bertujuan mengkaji secara mendalam perbandingan antara istigfar dan tasbih dalam konteks keutamaan spiritual, dalil dari Al-Qur’an dan hadits, serta pandangan ulama klasik, khususnya Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Dengan analisis tersebut, diharapkan umat dapat memahami konteks dan situasi yang membuat salah satu lebih utama dari yang lain.
Dzikir adalah ibadah lisan dan hati yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Di antara bentuk dzikir yang paling sering disebut dan dianjurkan adalah istigfar—permohonan ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahan—dan tasbih—menyucikan Allah dari segala kekurangan. Keduanya memiliki fondasi yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadits serta menjadi amalan harian Nabi Muhammad ﷺ. Namun, dalam praktiknya, sering timbul pertanyaan: dalam kondisi biasa atau saat tertentu, mana yang lebih utama—beristigfar atau bertasbih?
Perbandingan ini bukan untuk mempertentangkan dua ibadah yang agung, melainkan untuk memahami urgensi dan situasi yang tepat untuk masing-masing dzikir. Ada kalanya seseorang lebih membutuhkan istigfar karena banyaknya dosa, dan ada pula saat di mana tasbih lebih utama karena ingin meneguhkan keagungan dan kesucian Allah. Oleh karena itu, pemahaman dari perspektif Al-Qur’an, hadits, dan ulama klasik seperti Ibn Qayyim al-Jawziyyah sangat penting untuk membimbing umat dalam memperbanyak dzikir yang paling sesuai dengan kondisi ruhani mereka.
Keutamaan Istigfar dan Tasbih Menurut Al-Qur’an dan Hadits
Al-Qur’an memuat banyak perintah untuk beristigfar, terutama dalam konteks taubat dan pembersihan jiwa. Dalam Surah Nuh ayat 10-12, Allah berfirman: “Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat kepadamu, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai.’” Ayat ini menunjukkan bahwa istigfar bukan hanya memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga mendatangkan kebaikan duniawi.
Dalam hadits-hadits shahih, Nabi Muhammad ﷺ sangat menekankan istigfar. Beliau bersabda dalam riwayat Muslim: “Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah dan mohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” Ini menunjukkan bahwa meskipun beliau maksum, istigfar tetap menjadi amalan harian beliau yang menunjukkan kedekatan dan pengakuan hamba kepada Allah.
Adapun tasbih, keutamaannya pun luar biasa. Dalam Surah Al-Hadid ayat 1 disebutkan: “Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Tasbih adalah bentuk dzikir yang mengakui kesucian Allah dari segala kekurangan dan menunjukkan pengagungan kepada-Nya. Bahkan dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lisan namun berat di timbangan dan dicintai oleh Ar-Rahman: ‘Subhanallah wa bihamdih, Subhanallahil adzim’.”
Namun, dalam hadits lain dari Ahmad dan Tirmidzi, Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Berbahagialah orang yang mendapati dalam catatan amalnya banyak istigfar.” Ini mengisyaratkan bahwa istigfar membawa keberuntungan di akhirat karena ia adalah jembatan untuk pengampunan Allah dan perbaikan jiwa. Maka, istigfar menjadi kunci bagi yang merasa memiliki banyak kekurangan dan dosa, sedangkan tasbih menjadi sarana pengagungan Allah bagi hamba yang ingin meninggikan asma-Nya.
Keduanya jelas sangat penting, tetapi konteks penggunaannya berbeda. Istigfar lebih mendasar karena menyucikan jiwa dari noda dosa, sedang tasbih lebih menguatkan aspek pengagungan kepada Allah. Oleh sebab itu, dalam kondisi penuh dosa dan kelalaian, istigfar lebih utama, sementara dalam kondisi penuh rasa syukur dan kedekatan spiritual, tasbih dapat menjadi bentuk dzikir yang paling sempurna.
Pendapat Ibn Qayyim al-Jawziyyah
Ibn Qayyim al-Jawziyyah, dalam karya-karyanya seperti Al-Wabil ash-Shayyib dan Madarij as-Salikin, membahas panjang lebar tentang dzikir, termasuk istigfar dan tasbih. Menurut beliau, istigfar adalah pintu pertama menuju Allah. Ia mengatakan bahwa seseorang yang banyak dosa lebih utama memperbanyak istigfar karena itu adalah bentuk pengakuan kehinaan dan kehambaan di hadapan Allah yang Mahasuci. Dzikir dengan istigfar membuka hati, menyucikannya, dan mempersiapkannya untuk dzikir lain seperti tasbih dan tahmid.
Beliau juga menyatakan bahwa tasbih adalah dzikirnya para malaikat dan orang-orang suci. Dalam konteks ini, tasbih menempati derajat yang tinggi karena menunjukkan kesempurnaan iman. Namun, kata Ibn Qayyim, “Bagaimana mungkin seseorang yang kotor lisannya dan hatinya karena dosa, langsung memuliakan Allah tanpa terlebih dahulu membersihkannya dengan istigfar?” Maka, urutan spiritual yang ideal adalah istigfar, lalu tahmid, kemudian tasbih.
Dalam Madarij as-Salikin, Ibn Qayyim membagi dzikir ke dalam beberapa maqam (tingkatan). Istigfar termasuk dalam maqam taubat dan istislam (penyerahan diri), sedangkan tasbih termasuk maqam ma’rifah dan mahabbah (pengenalan dan cinta). Oleh karena itu, dzikir dengan tasbih lebih cocok bagi hamba yang sudah menapaki tangga-tangga spiritual yang tinggi, sementara istigfar cocok bagi pemula atau yang tengah kembali dari keterpurukan.
Ibn Qayyim juga menegaskan bahwa dzikir terbaik adalah yang sesuai dengan kondisi ruhani dan kebutuhan hamba tersebut. Jika ia penuh dosa dan kelalaian, maka istigfar lebih bermanfaat dan utama. Namun jika ia sudah bersih dan ingin meneguhkan kedekatan dengan Allah, maka tasbih dan tahmid lebih utama. Konteks inilah yang menjadi dasar perbedaan keutamaan kedua dzikir ini menurut beliau.
Akhirnya, Ibn Qayyim menasihati bahwa janganlah seseorang memilih dzikir hanya karena ingin pahala terbanyak, tetapi hendaknya menyesuaikannya dengan kebutuhan ruhani dirinya. Dzikir itu ibarat makanan hati—maka hendaklah dikonsumsi sesuai kebutuhan, bukan hanya berdasarkan kelezatannya. Maka dalam kondisi bertaubat, istigfar menjadi makanan utama hati. Dalam kondisi penuh cinta dan syukur, tasbih dan tahmid menjadi puncak dzikir.
Kesimpulan:
Istigfar dan tasbih adalah dua bentuk dzikir agung yang memiliki tempat istimewa dalam ajaran Islam. Berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan pandangan ulama klasik seperti Ibn Qayyim al-Jawziyyah, keutamaan keduanya tergantung pada kondisi ruhani hamba. Istigfar lebih utama bagi yang bergelimang dosa dan butuh ampunan, sedangkan tasbih lebih utama bagi yang ingin menyucikan dan mengagungkan Allah dari segala kekurangan. Pemilihan antara keduanya hendaknya bukan berdasarkan selera, tetapi berdasarkan kebutuhan ruhani untuk mendekatkan diri kepada Allah secara tulus.














Leave a Reply