MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Sebab Hilangnya Sakinah, Mawadah dan Rahmah dalam Rumah Tangga Menurut Sunah dan Ulama

Solusi terhadap persoalan ini dapat ditemukan dalam sunnah Rasulullah SAW dan pandangan ulama. Rasulullah memberikan teladan dalam membangun keluarga yang penuh cinta, saling menghargai, dan terbuka dalam komunikasi. Para ulama juga menegaskan pentingnya menunaikan hak dan kewajiban suami istri, menumbuhkan kesabaran, serta memperkuat komitmen dalam ibadah dan doa bersama. Dengan kembali kepada tuntunan syariat, nilai-nilai SMR dapat ditumbuhkan kembali, menjadikan rumah tangga sebagai tempat bernaung yang damai, penuh kasih sayang, dan berkah.

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang memiliki peranan penting dalam membentuk karakter individu dan membangun peradaban. Dalam Islam, pernikahan bukan hanya kontrak lahiriah, melainkan ikatan suci yang diwarnai dengan keberkahan, cinta, dan rahmat dari Allah SWT. Allah menyebutkan bahwa salah satu tanda kekuasaan-Nya adalah diciptakannya pasangan agar manusia mendapatkan sakinah, mawaddah, dan rahmah (QS. Ar-Rum: 21).

Namun kenyataannya, tidak sedikit pasangan suami istri yang justru kehilangan ketenangan dan kedamaian, digantikan oleh pertengkaran, kerasnya suara, serta ucapan-ucapan menyakitkan.

Pudarnya ketentraman rumah tangga seringkali disebabkan oleh hal-hal yang dianggap remeh seperti tidak saling mengucapkan kata-kata baik, kurangnya komunikasi dengan adab, dan hilangnya rasa sabar dalam menghadapi perbedaan. Rasulullah saw. telah memberikan banyak tuntunan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga, mulai dari bersikap lembut, menjaga lisan, hingga memperbanyak memaafkan.

Para ulama pun telah memberikan nasihat-nasihat mendalam mengenai adab suami istri, serta kewajiban masing-masing dalam menjaga cinta agar tetap hidup. Maka perlu dipahami bahwa keharmonisan rumah tangga adalah amanah yang harus dijaga dengan ilmu, kesabaran, dan sunnah.

Pandangan Sunnah

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menjadi landasan penting bahwa kebaikan sejati bukan hanya di luar rumah, tetapi kepada istri dan anak-anak. Suami yang kasar, tidak menghargai, atau tidak peduli terhadap perasaan istri telah menyimpang dari teladan Nabi.
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Aisyah ra. berkata bahwa Nabi saw. “tidak pernah memukul istrinya, tidak pula pelayan, dan tidak pernah marah kecuali karena melanggar hukum Allah.” Ini menegaskan pentingnya kesabaran dan kendali emosi dalam rumah tangga. Rasulullah saw. adalah sosok yang menahan amarah dan memilih diam saat kesal.

Nabi saw. juga mengajarkan pentingnya kelembutan: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala hal.” (HR. Muslim). Pasangan yang ingin rumah tangganya penuh rahmah harus belajar meniru kelembutan ini dalam ucapan dan tindakan sehari-hari.
Bahkan, dalam riwayat lain, Nabi saw. bersabda: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika dia tidak menyukai satu perangainya, maka dia akan menyukai perangai lainnya.” (HR. Muslim). Ini adalah prinsip toleransi dalam cinta. Tidak ada manusia sempurna, dan cinta sejati adalah menerima pasangan dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya.

Pendapat Ulama tentang Rumah Tangga yang Kehilangan Sakinah

Para ulama sepakat bahwa suara keras dan pertengkaran terus-menerus dalam rumah tangga termasuk dalam perbuatan yang menafikan sakinah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa rumah tangga adalah tempat ketenangan, bukan arena kompetisi ego dan kata-kata kasar.

Imam Ibn Qayyim menyebut bahwa rahmah dan mawaddah hanya tumbuh dalam hati yang lembut. Jika hati dipenuhi kemarahan, dendam, dan suara keras, maka keberkahan Allah akan pergi. Beliau menganjurkan suami istri memperbanyak istighfar dan memperhalus tutur kata.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa sunnah Nabi dalam memperlakukan istri adalah dengan senyum, membantu pekerjaan rumah, dan menjadi teman berbagi. Menurut beliau, jika sunnah ini ditinggalkan, maka cinta akan cepat pudar.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam ceramah-ceramahnya menyebut bahwa rumah tangga yang tidak berdzikir, tidak membaca Al-Qur’an, dan tidak saling mendoakan, lambat laun akan terasa gersang. Cinta harus diberi makanan ruhani agar tetap subur.
Menurut Syaikh Utsaimin, salah satu sebab hancurnya rumah tangga adalah karena lisan. Beliau menekankan pentingnya menjaga ucapan, menghindari sumpah serapah, dan berbicara dengan lemah lembut. Lisan adalah sumber rahmat atau petaka.

Ulama Mazhab Maliki menyebut bahwa dalam fikih rumah tangga, suami istri wajib saling menenangkan dan tidak saling menyakiti, baik fisik maupun emosional. Jika sakinah sudah hilang, wajib dicari kembali dengan sabar dan introspeksi.

Syaikh Ibn Baz menegaskan bahwa pasangan Muslim harus selalu memelihara hubungan dengan kasih sayang dan sabar. Ketika terjadi pertengkaran, solusi bukanlah caci maki atau diam berkepanjangan, tetapi komunikasi dengan hati yang ikhlas dan doa bersama

Sebab Hilangnya Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah dalam Rumah Tangga

1. Pertengkaran Kecil yang Dibiarkan Menumpuk. Pertengkaran kecil dalam rumah tangga sebenarnya wajar. Namun, jika dibiarkan tanpa penyelesaian yang sehat, maka masalah tersebut bisa menumpuk menjadi bom waktu. Hal-hal sepele seperti lupa membeli kebutuhan rumah atau kesalahan dalam komunikasi bisa berubah menjadi konflik besar karena tidak ada komunikasi yang bijak dan terbuka.
Islam mengajarkan pentingnya berdamai dan menyelesaikan perbedaan secara musyawarah. Ketika pasangan tidak segera menyelesaikan konflik, hati akan menyimpan dendam, dan sikap sinis mulai tumbuh. Akibatnya, suasana rumah menjadi tegang dan sakinah pun sirna.
2. Suara Keras dan Nada Tinggi dalam Komunikasi. Suara keras yang dibarengi dengan amarah bukanlah ciri keluarga Islami. Dalam Al-Qur’an, Allah menyamakan suara yang keras dengan suara keledai yang dibenci (QS. Luqman:19). Ketika suami atau istri terbiasa berbicara dengan nada tinggi, maka rasa hormat dan cinta perlahan menghilang.
Mawaddah atau cinta yang mendalam lahir dari kelembutan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun selalu bersikap lembut kepada istrinya, bahkan dalam keadaan marah. Maka, rumah yang diwarnai suara keras cenderung jauh dari cinta yang tulus.
3. Ucapan Kasar dan Kata yang Menyakitkan. Lisan adalah cermin hati. Ucapan yang kasar, sinis, atau menyindir dapat melukai pasangan lebih dalam daripada tindakan fisik. Islam sangat menekankan menjaga lisan, sebagaimana sabda Nabi: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kata-kata yang tidak baik dapat meruntuhkan rahmah, yaitu kasih sayang Allah yang semestinya menaungi rumah tangga. Luka akibat kata-kata pedas sulit sembuh dan menimbulkan trauma emosional yang mematikan keharmonisan.
4. Ego dan Kurangnya Penghargaan Satu Sama Lain. Salah satu penyakit rumah tangga adalah egoisme. Jika masing-masing pasangan merasa dirinya paling benar dan tidak mau mengalah, maka suasana damai tidak akan hadir. Sikap ingin selalu menang dalam perdebatan akan meruntuhkan rasa saling memahami.
Padahal, sakinah hanya hadir saat suami istri saling mendahulukan kepentingan bersama dan bukan kepentingan pribadi. Islam mengajarkan tawadhu’ (rendah hati) dan memberi ruang pada pasangan untuk merasa dihargai serta didengar.
5. Lalai dalam Berdoa dan Ibadah Bersama. Doa adalah pelindung rumah tangga dari berbagai gangguan, baik lahir maupun batin. Ketika suami istri tidak lagi berdoa bersama, tidak shalat berjamaah, atau tidak berzikir bersama, maka roh spiritual rumah tersebut mulai padam. Hal ini membuka pintu bagi bisikan syaitan dan ketegangan batin.
Keberkahan dalam rumah tangga datang dari ibadah bersama. Banyak pasangan yang terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga melupakan bahwa sakinah, mawaddah, dan rahmah adalah karunia Allah yang harus dijemput dengan ibadah.
6. Meninggalkan Sunnah Nabi dalam Kehidupan Harian. Sunnah Nabi seperti memberi salam saat masuk rumah, memberi senyuman, memanggil dengan nama sayang, dan berbagi cerita adalah perekat hati pasangan. Ketika sunnah ini ditinggalkan, rumah menjadi hambar dan hubungan kaku. Rasulullah selalu membangun relasi yang hangat dengan para istrinya, tidak hanya sebagai pemimpin rumah, tetapi juga sebagai sahabat hati. Kehidupan rumah tangga yang tidak meniru teladan ini akan mudah dilanda kejenuhan dan ketegangan.
7. Tidak Mengendalikan Marah dengan Hikmah. Amarah yang tak terkendali adalah racun dalam rumah tangga. Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan marah, jangan marah, jangan marah” (HR. Bukhari). Ketika marah, Rasul lebih memilih diam dan menenangkan diri daripada membalas. Namun banyak pasangan hari ini justru melampiaskan amarah secara verbal atau bahkan fisik. Ini sangat bertentangan dengan rahmah yang seharusnya menjadi fondasi rumah tangga. Islam memuji orang yang bisa menahan amarah dan memaafkan.
8. Sering Menuntut dan Kurang Bersyukur. Mawaddah akan pudar jika pasangan hanya melihat kekurangan. Menuntut lebih, membandingkan dengan pasangan orang lain, atau merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki dapat menciptakan jurang emosi dalam hubungan.
Nabi bersabda: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ada satu sifatnya yang tidak disukai, masih ada sifat lain yang disukai” (HR. Muslim). Bersyukur atas kebaikan pasangan akan memupuk cinta yang tahan ujian.
9. Kurang Sentuhan Emosional dan Fisik. Sentuhan dalam rumah tangga bukan hanya soal kebutuhan biologis, tapi juga bentuk cinta. Rasulullah mencium istrinya sebelum keluar rumah, memanggil dengan penuh kasih, dan membelai istrinya dengan kelembutan. Sentuhan emosional seperti memberi pujian, dukungan saat pasangan lelah, dan pelukan di saat sulit adalah bagian dari rahmah yang menjaga kekuatan batin rumah tangga. Jika ini hilang, maka rumah menjadi kosong meski masih ada dua tubuh di dalamnya.
10. Terpengaruh Gaya Hidup dan Nilai Asing. Media sosial, gaya hidup hedonis, dan budaya konsumerisme telah banyak merusak keharmonisan rumah tangga. Ketika pasangan lebih sibuk mengikuti tren dunia maya, membandingkan dengan selebgram, atau mengejar kesempurnaan palsu, maka kecewa akan menjadi hal biasa. Islam mengajarkan qana’ah (rasa cukup) dan fokus pada nilai-nilai ukhrawi. Rumah tangga akan kuat jika nilai yang dibangun adalah ibadah dan ketulusan, bukan popularitas atau kemewahan semata.
11. Kurang Ilmu tentang Fikih Rumah Tangga. Ketidaktahuan tentang hak dan kewajiban suami istri membuat konflik kecil mudah membesar. Banyak pasangan tidak tahu bagaimana bersikap dalam menghadapi perbedaan, tidak tahu etika berhubungan, bahkan tidak tahu batasan talaq dan nusyuz. Padahal, Islam telah memberi panduan yang lengkap dalam fikih keluarga. Ilmu ini penting dipelajari sebelum menikah dan terus diperdalam saat menjalani kehidupan berumah tangga.
12. Dominasi Salah Satu Pasangan Secara Berlebihan. Ketika satu pihak terlalu mendominasi, baik secara emosi, ekonomi, atau sosial, maka pasangan lain akan merasa terkekang. Rumah tangga bukanlah ajang kuasa, melainkan kerja sama. Ketimpangan peran bisa merusak rasa saling menghormati.Dalam Islam, suami adalah pemimpin, tapi kepemimpinan itu harus adil dan penuh kasih. Dominasi tanpa rahmah akan melahirkan ketakutan, bukan cinta, dan akhirnya rumah tidak lagi menjadi tempat pulang yang nyaman.
13. Campur Tangan Pihak Ketiga Tanpa Adab. Kehadiran mertua, teman, atau tetangga yang terlalu ikut campur bisa menjadi racun dalam rumah tangga. Rasulullah melarang membicarakan aib pasangan kepada orang lain karena ini akan merusak kepercayaan dan membuka pintu fitnah. Masalah rumah tangga sebaiknya diselesaikan di dalam rumah, atau jika perlu, dengan penasihat yang amanah dan tahu agama. Pihak ketiga yang tidak beradab hanya akan menambah keretakan dan memperburuk keadaan..

Bagaimana Sikap Suami dan Istri Seharusnya

1. Menjadikan Rumah Tangga sebagai Ladang IbadahRumah tangga bukan sekadar tempat tinggal atau rutinitas harian, tetapi ladang ibadah yang penuh pahala jika dijalani dengan niat yang benar. Suami dan istri harus menyadari bahwa setiap interaksi, perhatian, dan pengorbanan yang dilakukan dalam rumah tangga bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Oleh karena itu, keduanya wajib menanamkan visi ibadah dalam setiap keputusan dan tindakan, agar kehidupan rumah tangga terarah kepada ridha Ilahi, bukan sekadar kesenangan duniawi.
2. Suami Sebagai Qawwam yang Lembut dan BijakDalam Al-Qur’an, suami disebut sebagai qawwam (pemimpin) bagi istri, bukan diktator. Sikap suami seharusnya meneladani Rasulullah saw., yang tidak pernah berkata kasar atau memukul istrinya. Ia harus menjadi pelindung, pemberi nafkah, dan pendidik yang penuh kelembutan. Ketika terjadi perbedaan, ia menyelesaikannya dengan kepala dingin dan kasih sayang, bukan kekerasan atau kemarahan yang meluap-luap.
3. Istri Sebagai Pendamping yang Lemah Lembut dan SabarIstri bukan pesaing dalam rumah tangga, melainkan penyejuk dan pendamping suami dalam mengarungi kehidupan. Ia harus menjaga lisannya dari ucapan yang menyakitkan dan tidak merendahkan suami di hadapan orang lain. Keteladanan para istri sahabat Nabi adalah menjadi sosok sabar, setia, dan penuh kasih. Sikap seperti inilah yang memperkuat pondasi sakinah dalam rumah tangga.
4. Menghidupkan Sunnah dalam Kehidupan Sehari-hariSunnah Rasulullah tidak hanya berlaku di masjid, tetapi juga dalam rumah tangga. Memberi salam, senyum, mencium pasangan sebelum pergi, dan memanggil dengan nama yang indah adalah bagian dari sunnah yang bisa menyuburkan cinta. Dengan menghidupkan sunnah, rumah menjadi tempat yang penuh ketenangan dan keberkahan, serta terhindar dari kebekuan hubungan emosional.
5. Memupuk Cinta dengan Doa dan Kata-kata BaikDoa adalah senjata utama dalam mempertahankan cinta. Suami dan istri harus saling mendoakan agar tetap diberi kekuatan mencintai dalam suka dan duka. Selain itu, ucapan yang baik, seperti memuji, mengucapkan terima kasih, dan memberi penghargaan kecil, mampu menjaga kehangatan perasaan. Kata-kata adalah jembatan hati, dan jika dijaga, ia akan membawa pasangan menuju rahmat Allah.
6. Menjaga Emosi dan Menyelesaikan Konflik dengan HikmahTak ada rumah tangga yang bebas dari masalah, namun yang membedakan adalah cara menyikapinya. Suami istri harus belajar mengelola emosi dan menyelesaikan perbedaan dengan musyawarah, bukan emosi. Rasulullah saw. ketika marah, memilih diam dan menahan diri. Inilah teladan bagi pasangan agar tidak membiarkan amarah merusak sakinah dan mawaddah yang telah dibangun.
7. Bersikap Adil dan Menghindari DominasiRumah tangga yang sehat dibangun atas dasar keadilan, bukan dominasi satu pihak. Suami tidak boleh memaksakan kehendaknya terus-menerus, dan istri tidak boleh memanipulasi dengan perasaan. Masing-masing harus memberi ruang bagi pasangan untuk berkembang dan merasa dihargai. Jika prinsip keadilan dijaga, rahmah Allah akan turun sebagai penjaga rumah tersebut.

Kesimpulan

Sakinah, mawaddah, dan rahmah adalah anugerah dari Allah yang hanya akan bertahan jika dijaga dengan sunnah, akhlak mulia, dan kesabaran. Suara keras, pertengkaran, dan ucapan menyakitkan adalah pintu masuk kehancuran rumah tangga. Rasulullah saw. telah memberikan teladan terbaik bagaimana mencintai istri dengan kelembutan dan kasih sayang. Para ulama pun telah menasihati pentingnya menjaga akhlak dan komunikasi dalam rumah tangga. Oleh karena itu, suami dan istri hendaknya menjadikan rumah sebagai tempat berlindung, bukan medan konflik. Kembalilah kepada sunnah, lembutkan hati, jaga lisan, dan perbanyak doa agar cinta yang ada tidak hanya bertahan, tapi terus tumbuh hingga surga. Buat dalam 2 paragtaf kalimat ispiratif

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *