MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Kitab Irsadusy Syari KH Hasyi Asyari Berkaitan Dengan Maulid Nabi

Maulid Nabi Muhammad saw., perayaan kelahiran Nabi, menjadi salah satu praktik yang kontroversial di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia. Sebagian ormas Islam mendukungnya sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah, sementara sebagian lain menolaknya dengan alasan bid’ah. Salah satu tokoh penting, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dikenal melalui karyanya Irsadusy Syari dalam Majmu’ah Mua’llafat, menolak perayaan maulid. Tulisan ini membahas latar belakang kontroversi maulid, pendapat KH Hasyim Asy’ari, serta sikap moderat yang sebaiknya diambil umat Islam.

Perayaan maulid Nabi Muhammad saw. sudah lama menjadi tradisi sebagian umat Islam, khususnya di Indonesia, dengan berbagai bentuk seperti pembacaan shalawat, ceramah, dan pengajian. Praktik ini dianggap sebagai wujud syukur dan cinta kepada Rasulullah. Namun, tidak semua kalangan menyetujui maulid, terutama dari kelompok yang memandangnya sebagai amalan yang tidak ada tuntunan langsung dari Nabi atau para sahabat.

Perbedaan pandangan ini memunculkan perdebatan panjang yang kadang disertai polemik antarormas Islam di Indonesia, seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Dalam konteks ini, penting untuk meninjau ulang pendapat para ulama terdahulu, termasuk KH Hasyim Asy’ari, agar umat dapat bersikap bijak.

KONTROVERSI DAN POLEMIK MAULID DI INDONESIA

Sebagian ormas seperti NU memandang maulid sebagai bagian dari tradisi yang baik (bid’ah hasanah), karena isinya adalah memperbanyak shalawat, mengenang sejarah Nabi, dan menguatkan keimanan. Mereka berpegang pada kaidah bahwa segala sesuatu yang tidak dilarang syariat, dan mengandung kebaikan, boleh dilakukan. Di sisi lain, ormas seperti Muhammadiyah dan Persis menolak perayaan maulid karena dianggap tidak pernah dilakukan Nabi dan para sahabat. Mereka berpegang pada prinsip ittiba’ (mengikuti Nabi) secara murni dan berhati-hati dari perkara bid’ah, meski tidak menolak makna mencintai Nabi secara esensi.

Perdebatan makin tajam karena di level akar rumput sering muncul saling menyalahkan. Sebagian yang merayakan maulid merasa pihak yang menolak bersikap kaku, sedangkan yang menolak merasa pihak yang merayakan melakukan hal sia-sia atau bahkan salah kaprah. Karena itu, polemik ini sebenarnya bukan hanya soal dalil, tetapi juga soal cara memahami perbedaan pendapat, termasuk dalam menghormati warisan ulama masing-masing ormas, tanpa menjatuhkan martabat satu sama lain.

PENDAPAT DALAM KITAB IRSADUSY SYARI KH HASYIM ASY’ARI

Dalam Irsadusy Syari yang termasuk Majmu’ah Mua’llafat, KH Hasyim Asy’ari tegas menolak perayaan maulid Nabi sebagai acara khusus yang dirayakan rutin. Beliau berargumen bahwa maulid tidak pernah dilakukan oleh Nabi, sahabat, maupun generasi salaf, sehingga termasuk perkara baru yang tidak ada landasan syariat.

KH Hasyim memandang bahwa bentuk mencintai Nabi seharusnya diwujudkan melalui pengamalan sunnah dan syariat beliau sehari-hari, bukan sekadar ritual tahunan yang kadang disertai hal-hal berlebihan. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar umat Islam berhati-hati agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang mendekati bid’ah.

Penolakan KH Hasyim ini menunjukkan sikap kehati-hatian beliau sebagai ulama besar dalam menjaga kemurnian agama. Meski demikian, sikap beliau tidak ditujukan untuk mencela orang-orang yang mencintai Nabi, tetapi untuk mengingatkan agar cinta itu diarahkan sesuai tuntunan syariat.

Penting dicatat, meskipun KH Hasyim Asy’ari secara pribadi menolak perayaan maulid, NU sebagai organisasi kemudian berkembang dalam dinamika tersendiri, termasuk menerima beberapa bentuk tradisi lokal sebagai wasilah (perantara) untuk dakwah, selama tidak bertentangan dengan prinsip utama agama.


PENDAPAT DALAM KITAB IRSADUSY SYARI KH HASYIM ASY’AR

Dalam kitab Irsadusy Syari ila Sabil al-Asri yang termuat dalam Majmu‘ah Mua’llafat Hadratus Syaikh Hasyim Asy‘ari, fokus utama KH Hasyim lebih banyak pada isu pembaharuan agama, perlawanan terhadap pemikiran modernis, dan peneguhan akidah ahlussunnah wal jama‘ah. Kitab ini tidak secara eksplisit berisi bab khusus yang membahas hukum perayaan Maulid Nabi dan juga tidak ditemukan kutipan literal beliau yang menyebut “menolak Maulid” secara tegas dalam bentuk larangan.

Dalam Irsadusy Syari yang termasuk dalam Majmu’ah Mua’llafat, KH Hasyim Asy’ari menyampaikan pandangannya yang tegas mengenai perayaan maulid Nabi. Perayaan semacam itu dianggap sebagai perkara baru yang tidak ada dalam praktik agama Islam yang murni. Beliau menekankan bahwa bentuk cinta kepada Nabi seharusnya bukan hanya melalui ritual seremonial, tetapi terutama melalui pengamalan syariat dan sunnah Rasulullah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Mencintai Nabi berarti meneladani akhlaknya, menjalankan perintahnya, serta menjauhi larangannya. Ini jauh lebih utama dibanding mengadakan acara tahunan yang belum tentu diisi dengan pengamalan syariat secara benar.

Yang sering dikutip oleh sebagian orang adalah sikap pribadi KH Hasyim yang dikenal sangat hati-hati dalam urusan ibadah, sehingga beliau lebih mengutamakan pengamalan sunnah daripada perayaan seremonial baru. Namun, secara organisasi, NU justru dikenal sebagai salah satu penggerak tradisi Maulid dengan dalil bid‘ah hasanah (bid‘ah yang baik) untuk memperkuat syiar.

KH Hasyim Asy’ari memandang bahwa ada potensi bahaya ketika umat terlalu fokus pada kegiatan seremonial seperti maulid, karena kadang acara itu disertai unsur-unsur berlebihan, seperti pujian yang melampaui batas, kemewahan berlebihan, atau bahkan kemaksiatan yang menyusup dalam pelaksanaan acaranya. Beliau ingin mengingatkan umat agar berhati-hati dan tidak terperosok dalam bentuk bid’ah yang bisa menggerus kemurnian agama.

Dalam pandangan beliau, agama Islam sudah sempurna dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. dan diwariskan kepada para sahabat. Menambah-nambah bentuk ibadah yang tidak ada contoh dari Nabi bukan hanya tidak diperlukan, tetapi juga bisa membawa dampak negatif pada akidah dan praktik keagamaan. Karena itulah, beliau sangat menekankan pentingnya ittiba’ (mengikuti teladan Nabi) secara murni.

Meskipun KH Hasyim Asy’ari menolak perayaan maulid sebagai ritual khusus, beliau tidak serta-merta mencela niat baik orang-orang yang ingin mencintai Nabi. Niat mencintai Nabi tetap sesuatu yang terpuji, tetapi harus diarahkan dengan cara yang tepat sesuai tuntunan agama. Di sinilah letak sikap kehati-hatian beliau sebagai seorang ulama besar: mengingatkan tanpa mudah menyalahkan.

Salah satu alasan penting dari penolakan beliau adalah kekhawatiran akan berkembangnya kebiasaan-kebiasaan baru yang lama-lama dianggap wajib oleh masyarakat, padahal aslinya tidak ada dalam syariat. KH Hasyim Asy’ari selalu mengingatkan agar umat membedakan mana yang termasuk ibadah mahdhah (murni, yang sudah diatur Allah dan Rasul) dan mana yang termasuk muamalah (urusan dunia yang boleh berkembang asalkan tidak melanggar syariat).

Namun, perlu dicatat bahwa dalam perkembangan organisasi, NU sebagai ormas tidak selalu berjalan secara identik dengan semua pandangan pribadi KH Hasyim Asy’ari. Dalam sejarahnya, NU mengakomodasi beberapa bentuk tradisi lokal, termasuk perayaan maulid, sebagai wasilah (perantara) untuk menguatkan dakwah, selama tidak menyalahi prinsip utama agama. Ini menunjukkan dinamika pemikiran dan adaptasi NU di tengah masyarakat.

Hal ini juga menjadi bukti bahwa pandangan pribadi seorang ulama besar sekalipun tetap harus diletakkan dalam konteks sosial yang lebih luas. KH Hasyim Asy’ari adalah figur yang sangat dihormati, tetapi beliau juga memahami pentingnya menjaga persatuan umat. Maka, meskipun beliau pribadi menolak maulid, beliau tidak serta-merta memaksakan pandangannya untuk menegasikan umat yang merayakannya.

Pandangan KH Hasyim Asy’ari tentang maulid lebih kepada sikap kehati-hatian dan menjaga kemurnian syariat, bukan permusuhan terhadap siapa pun. Umat Islam sebaiknya memahami ini dengan bijak: mengambil pelajaran dari kehati-hatian beliau, sambil tetap menjaga persatuan dan tidak mudah mencela mereka yang berbeda pandangan, khususnya dalam hal-hal cabang agama seperti ini

Majmu‘ah Mua’llafat Hadratus Syaikh Hasyim Asy‘ari.

Kitab Irsadusy Syari ila Sabil al-Asri adalah salah satu karya penting KH Hasyim Asy‘ari yang dihimpun dalam Majmu‘ah Mua’llafat Hadratus Syaikh Hasyim Asy‘ari. Kitab ini berisi panduan bagi umat Islam untuk kembali kepada ajaran ahlussunnah wal jama‘ah di tengah gelombang pemikiran modernisme Islam pada masanya. KH Hasyim menulis dengan gaya lugas dan kritis, menegaskan pentingnya menjaga akidah, menjalankan syariat dengan benar, serta menolak pemikiran-pemikiran pembaruan agama yang tidak sesuai dengan prinsip syariat.

Dalam Majmu‘ah Mua’llafat, kitab ini menjadi rujukan penting untuk memahami sikap ideologis KH Hasyim sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), khususnya dalam mempertahankan tradisi keagamaan yang diwariskan para ulama terdahulu (salaf). Meski demikian, kitab ini tidak hanya berisi fatwa hukum, tetapi juga memuat seruan moral dan sosial kepada umat agar tetap bersatu, menghindari perpecahan, dan senantiasa mengikuti jalan moderat dalam beragama. Mau saya buatkan ringkasan isi per babnya?

SIKAP KITA SEBAIKNYA

  • Pertama, kita sebaiknya memahami perbedaan pandangan ini sebagai bagian dari kekayaan ijtihad umat Islam, bukan sebagai alasan untuk saling menghujat. Setiap ormas dan ulama memiliki pijakan dalil yang mereka yakini, sehingga wajar jika ada variasi praktik di masyarakat.
  • Kedua, hendaknya kita menjaga adab dalam menyikapi perbedaan. Jangan mudah menghakimi orang lain sebagai sesat atau salah hanya karena berbeda praktik, selama masih berada dalam koridor ahlussunnah wal jamaah dan tidak melanggar prinsip pokok agama.
  • Ketiga, jika kita berada di lingkungan yang merayakan maulid, sikap terbaik adalah mengambil hikmah dari isi acaranya, seperti memperbanyak shalawat dan menambah pengetahuan sejarah Nabi, tanpa terjebak pada unsur-unsur berlebihan yang mungkin terjadi.
  • Keempat, jika kita pribadi condong menolak maulid seperti pandangan KH Hasyim Asy’ari, sebaiknya tetap menjaga persatuan umat dengan tidak mencela atau merendahkan mereka yang merayakan, melainkan fokus pada penguatan syariat yang substansial seperti amal ibadah sehari-hari.

KESIMPULAN

Kontroversi maulid Nabi di Indonesia mencerminkan perbedaan ijtihad yang wajar di kalangan umat Islam. KH Hasyim Asy’ari melalui Irsadusy Syari menegaskan penolakannya terhadap maulid sebagai perayaan rutin, dengan alasan menjaga kemurnian syariat. Namun, sikap bijak umat adalah menghargai perbedaan, mengambil hikmah, serta mengutamakan persatuan umat di atas perbedaan furu’ (cabang) agama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *