MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Taqlid dan Ittiba, Apakah Itu dan Bagaimana Sebaiknya Umat ?

Dalam kehidupan beragama, umat Islam dituntut untuk mengikuti ajaran Islam dengan benar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Dalam hal ini, terdapat dua konsep penting yang sering dibahas, yaitu taqlid dan ittibT’. Kedua istilah ini berkaitan dengan bagaimana seseorang mengikuti ajaran Islam, khususnya dalam memahami hukum-hukum syariat. Taqlid berarti mengikuti pendapat seorang ulama tanpa mengetahui atau memahami dalilnya, sedangkan ittiba’ berarti mengikuti pendapat ulama dengan mengetahui dan memahami dalil yang menjadi dasar pendapat tersebut.

Taqlid dan Ittiba, Apakah Itu dan Bagaimana Sebaiknya Umat ?

Perbedaan antara taqlid dan ittiba’ menjadi penting dalam kehidupan umat Islam karena berkaitan dengan bagaimana seseorang bersikap dalam beribadah dan bermuamalah. Ada sebagian orang yang harus bertaklid karena keterbatasan ilmunya, sementara yang lain bisa berittiba’ karena memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap dalil-dalil syariat. Pemahaman yang benar terhadap kedua konsep ini akan membantu umat Islam dalam menjalankan agama secara lebih baik dan tidak mudah terjebak dalam fanatisme buta atau kesalahan dalam memahami ajaran Islam.

Perbedaan Taqlid dan Ittiba’

Secara sederhana, taqlid adalah sikap mengikuti ulama tanpa mengetahui dalil yang menjadi dasar hukumnya. Orang yang bertaklid mempercayakan urusan hukumnya kepada seorang ulama atau mazhab tertentu, sebagaimana pasien mempercayakan pengobatan kepada dokter. Taqlid biasanya dilakukan oleh orang-orang awam yang tidak memiliki kemampuan untuk meneliti dalil-dalil agama secara langsung. Dalam Islam, taqlid diperbolehkan bagi mereka yang belum mencapai tingkat ijtihad, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

> “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)

Sebaliknya, ittiba’ adalah sikap mengikuti pendapat seorang ulama dengan memahami dalil yang menjadi dasar hukumnya. Ittiba’ lebih menekankan pada kesadaran dalam beragama, di mana seseorang tidak hanya mengikuti fatwa ulama, tetapi juga berusaha memahami alasan di balik keputusan tersebut. Dengan demikian, ittiba’ adalah bentuk pengamalan ajaran Islam yang lebih didasarkan pada ilmu dan pemahaman yang benar, bukan sekadar mengikuti tanpa mengetahui alasannya.

Contoh Taqlid dan Ittiba’

Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang mengikuti mazhab Syafi’i dalam tata cara shalat tanpa mengetahui dalilnya adalah contoh taqlid. Misalnya, ia mengikuti tata cara wudhu dan shalat sebagaimana diajarkan oleh guru agamanya tanpa mengetahui ayat atau hadis yang mendasarinya. Hal ini diperbolehkan karena tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memahami hukum Islam secara mendalam.

Sementara itu, contoh ittiba’ adalah seseorang yang mengikuti pendapat ulama dalam masalah fikih setelah mengetahui dalilnya. Misalnya, seseorang yang mempelajari hukum membaca Surah Al-Fatihah dalam shalat, memahami dalil dari hadis Nabi, dan kemudian memilih mengikuti pendapat ulama tertentu berdasarkan pemahamannya terhadap dalil tersebut. Dengan kata lain, ittiba’ adalah sikap mengikuti ulama dengan pemahaman yang lebih dalam dan tidak sekadar mengikuti tanpa mengetahui dasar hukumnya.

Bagaimana Seharusnya Umat Bersikap?

Umat Islam sebaiknya bersikap bijak dalam menghadapi perbedaan antara taqlid dan ittiba’. Bagi orang yang tidak memiliki keahlian dalam memahami dalil-dalil syariat, taqlid kepada ulama yang terpercaya adalah langkah yang tepat agar tetap berada di jalur yang benar dalam beribadah dan menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, taqlid tidak boleh dilakukan secara fanatik sehingga menutup diri dari kebenaran yang lebih jelas.

Di sisi lain, bagi yang memiliki kemampuan dalam memahami dalil-dalil syariat, ittiba’ lebih dianjurkan karena dengan memahami dalil, seseorang dapat lebih yakin dan mantap dalam menjalankan ajaran Islam. Namun, ittiba’ juga harus dilakukan dengan ilmu yang benar dan didasarkan pada pemahaman yang mendalam, bukan sekadar mengikuti hawa nafsu atau mencari pendapat yang paling ringan.

Dalam konteks kehidupan modern, umat Islam juga harus berhati-hati dalam menerima fatwa atau pendapat ulama dari sumber yang tidak jelas. Dengan berkembangnya media sosial, banyak orang yang menyebarkan pendapat agama tanpa dasar ilmu yang kuat. Oleh karena itu, baik dalam taqlid maupun ittiba’, penting bagi umat Islam untuk memilih ulama yang memiliki keilmuan yang mumpuni, memiliki akhlak yang baik, dan mengikuti metode keilmuan yang benar.

Kesimpulan

Baik taqlid maupun ittiba’ memiliki tempatnya masing-masing dalam kehidupan umat Islam. Taqlid diperlukan bagi mereka yang belum mampu memahami dalil, sedangkan ittiba’ adalah jalan yang lebih utama bagi mereka yang sudah memiliki ilmu yang cukup. Yang terpenting, umat Islam harus menjalankan agama dengan niat yang ikhlas, tidak bersikap fanatik terhadap mazhab atau ulama tertentu, serta selalu berusaha meningkatkan pemahaman terhadap ajaran Islam agar semakin dekat dengan kebenaran.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *