MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

QS Al Maidah Ayat 3, Benarkah Ayat Terakhir Turun ?

Para ulama berbeda pendapat mengenai ayat terakhir yang diturunkan dalam Al-Qur’an. Pendapat yang paling masyhur adalah Surah Al-Maidah ayat 3, yang turun saat Haji Wada’ pada 9 Dzulhijjah 10 H dan menandakan kesempurnaan Islam. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa ayat terakhir adalah Surah Al-Baqarah ayat 281, yang berisi peringatan tentang hari pembalasan dan turun hanya beberapa hari sebelum wafatnya Nabi Muhammad ﷺ. Pendapat lain menyebut Surah An-Nisa ayat 176, yang membahas hukum waris dan dianggap sebagai wahyu terakhir dalam aspek hukum. Perbedaan ini terjadi karena wahyu tidak selalu turun secara berurutan sesuai dengan urutan dalam mushaf, tetapi sesuai dengan kebutuhan saat itu. Meskipun ada perbedaan pendapat, para ulama sepakat bahwa setelah ayat terakhir turun, tidak ada lagi wahyu yang menyusul, menandakan kesempurnaan Islam sebagai agama yang terakhir.

Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad ﷺ sebagai petunjuk hidup. Wahyu turun secara bertahap selama 23 tahun, dimulai dari Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 di Gua Hira dan berakhir dengan ayat terakhir yang diturunkan. Para ulama berbeda pendapat mengenai ayat terakhir yang diturunkan, tetapi pendapat yang paling kuat adalah Surah Al-Maidah ayat 3, yang turun saat Nabi ﷺ melaksanakan Haji Wada’ di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah 10 H.

Ayat ini menandai kesempurnaan agama Islam dan menyatakan bahwa Allah telah meridhai Islam sebagai agama yang sempurna bagi umat manusia. Selain itu, beberapa ulama juga menyebutkan ayat lain sebagai wahyu terakhir, seperti Surah Al-Baqarah ayat 281, yang berisi peringatan tentang hari pembalasan. Namun, mayoritas mufasir sepakat bahwa Al-Maidah ayat 3 adalah wahyu terakhir dalam urutan pewahyuan.

Teks dan Tafsir Ayat

Teks Ayat (QS. Al-Maidah: 3 – Bagian yang Terakhir)

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…”

Tafsir Ayat

  1. Kesempurnaan Agama
    • Allah menginformasikan bahwa Islam telah disempurnakan dan tidak ada lagi tambahan hukum setelah ini. Semua aspek kehidupan telah diatur dalam Islam, baik dalam ibadah, muamalah, maupun akhlak.
  2. Kesempurnaan Nikmat Allah
    • Islam adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada umat manusia. Dengan kesempurnaan ajarannya, manusia memiliki panduan hidup yang jelas untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
  3. Islam sebagai Agama yang Diridhai
    • Allah menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai-Nya. Tidak ada lagi agama lain yang diterima setelah turunnya wahyu ini. Hal ini menunjukkan bahwa manusia harus berpegang teguh pada ajaran Islam untuk mendapatkan keridhaan Allah.

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Ayat ini turun pada saat Haji Wada’ (haji perpisahan), ketika Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah 10 H. Saat ayat ini dibacakan, banyak sahabat yang menangis, termasuk Sayyidina Umar bin Khattab. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab bahwa setiap sesuatu yang sempurna pasti akan mengalami penyelesaian. Maksudnya, turunnya ayat ini adalah tanda bahwa misi kenabian telah berakhir, dan Rasulullah ﷺ akan segera wafat.

Dalam riwayat lain, seorang Yahudi berkata kepada Umar bin Khattab, “Seandainya ayat ini diturunkan kepada kami, niscaya kami akan menjadikannya sebagai hari raya.” Umar menjawab bahwa ayat ini memang turun pada hari besar, yaitu hari Arafah yang merupakan salah satu hari paling mulia dalam Islam.

Pendapat Lain

Ada berbagai pandangan perihal ayat Al-Qur’an yang terakhir turun kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qaththan menyebut 9 pandangan perihal ayat Al-Qur’an yang terakhir turun. (Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi Ulumil Qur’an, [tanpa kota, Darul Ilmi wal Iman: tanpa tahun], halaman 64-66).

  1. Surat Al-Baqarah ayat 278 (Ya ayyuhalladzina amanut taqullah wa dzaru ma baqiya minar riba) perihal riba sebagaimana pandangan sahabat Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan Imam Bukhari.
  2. Surat Al-Baqarah ayat 281 (Wat taqu yauman turja’un fihi ilallah tsumma tuwaffa kullu nafsin ma kasabat wa hum la yuzhlamun) sebagaimana pandangan sahabat Ibnu Abbas RA dan Said bin Jubair yang diriwayatkan An-Nasai.
  3. Surat Al-Baqarah ayat 282 (Ya ayyuhal ladzina amanu idza tadayantum bi daynin ila ajalim musamma, faktubuh) perihal utang sebagaimana pandangan Sa’id bin Musayyab.
  4. Surat An-Nisa ayat 176 (Yastaftunaka, qulillahu yuftikum fil kalalah) perihal kalalah sebagaimana pandangan Al-Barra bin Azib riwayat Bukhari dan Muslim.
  5. Surat At-Taubah ayat 128 (Laqad ja’akum rasulun min anfusikum…) sebagaimana pandangan Ubay bin Ka’ab RA riwayat Al-Hakim dan Ahmad.
  6. Surat Al-Maidah perihal halal dan haram tanpa dinasakh sebagaimana padangan Sayyidah Aisyah RA riwayat At-Turmudzi dan A-Hakim.
  7. Surat Ali Imran ayat 195 (Fastajaba lahum rabbuhum anni la udhi’u amala amilin minkum min dzakarin au untsa, ba’dhukum min ba’dhin), Surat An-Nisa ayat 32 (Wa la tatamannau ma fadhdhalallahu bihi ba’dhakum ala ba’dhin), dan  Surat Al-Ahzab ayat 35 (innal muslimina wal muslimat) perihal laki-laki dan perempuan sebagaimana riwayat Ibnu Murduwiyah dari Sayyidah Ummu Salamah RA.
  8. Surat An-Nisa ayat 93 (Wa man yaqtul mu’minan muta’ammidan fa jaza’uhu jahannamu  khalidan fiha wa ghadhiballahu alaihi wa la’anahu wa a’adda lahu adzaban azhiman) perihal pembunuhan secara sengaja sebagaimana riwayat Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas RA.
  9. Surat An-Nashr (Idza ja’a nashrullahi wal fathu) sebagaimana riwayat Imam Muslim dari sahabat Ibnu Abbas RA.

Semua yang disebutkan di sini tidak didasarkan langsung kepada Rasulullah SAW. Semuanya merupakan hasil ijtihad para sahabat bahwa ayat-ayat itu merupakan wahyu terakhir yang turun kepada Rasulullah. (Al-Qaththan, tanpa tahun: 67) dan (M Abdul Azhim Az-Zarqani, Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an, [Kairo, Darul Hadits: 2017 M/1438 H], halaman 81).

Adapun Az-Zarqani menyebutkan 10 pandangan ulama yang menyebutkan ayat terakhir yang turun. Selain sembilan ayat yang disebutkan Al-Qaththan di atas, ada satu pandangan ulama yang mengatakan bahwa Surat Al-Kahfi ayat 110 (Fa man kana yarju liqa’a rabbihi fal ya’mal amalan shalihan, wa la yusyrik bi ibadatihi ahadan) merupakan ayat terakhir yang turun sebagaimana riwayat Ibnu Jarir dari sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan. (Az-Zarqani, 2017 M: 84).

Sebagian orang menyebut Surat Al-Maidah ayat 3 sebagai wahyu yang terakhir turun kepada Nabi Muhammad SAW. “Al-yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu alaikum ni‘mati wa radhitu lakumul islam dinan” bagi sebagian orang merupakan ayat terakhir yang turun waktu pada saat wuquf setelah Ashar hari Jumat pada haji wada, bulan Dzulhijjah 10 H. (Syekh M Ali As-Shabuni, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an, [tanpa kota, Darul Mawahib Al-Islamiyyah: 2016], halaman 14-15).

Syekh M Ali As-Shabuni menyebut bahwa riwayat paling sahih dari semua pandangan itu adalah Surat Al-Baqarah ayat 281 (Wat taqu yauman turja’un afihi ilallah, tsumma tuwaffa kullu nafsin ma kasabat wa hum la yuzhlamun) sebagaimana pandangan Ibnu Abbas RA riwayat An-Nasai yang dikutip oleh As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulumil Qur’an. Surat Al-Baqarah ayat 281 turun pada tahun 11 H. Surat Al-Baqarah ayat 281 turun 9 hari sebelum Rasulullah SAW wafat (pada malam Senin, Rabiul Awwal 11 H/632 M). Surat Al-Baqarah ayat 281 turun pada hari-hari menjelang wafat Rasulullah SAW. (As-Shabuni, 2016: 17). Adapun setelah Surat Al-Maidah ayat 3 pada Zulhijjah tahun 10 H, Rasulullah masih hidup sekira 81 hari. Sembilan hari sebelum wafatnya tahun 11 H, Surat Al-Baqarah ayat

Penutup

Turunnya Surah Al-Maidah ayat 3 menandai kesempurnaan Islam sebagai agama terakhir yang diturunkan Allah kepada manusia. Dengan turunnya ayat ini, manusia tidak perlu lagi mencari pedoman lain di luar Islam, karena Islam telah mencakup segala aspek kehidupan. Ayat ini juga menjadi peringatan bahwa setelah kesempurnaan wahyu, Nabi Muhammad ﷺ tidak akan lama lagi bersama umatnya. Oleh karena itu, umat Islam wajib berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah agar tetap berada di jalan yang diridhai oleh Allah.

Semoga kita semua dapat mengamalkan ajaran Islam secara sempurna dan mendapatkan rahmat serta petunjuk dari Allah dalam kehidupan kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *