Widodo Judarwanto
“Tuhan Kami dan Tuhanmu Adalah Satu. Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang sama yang mengutus para nabi kepada umat manusia. Islam mengajarkan cinta dan hormat kepada semua nabi, termasuk Nabi Isa dan Nabi Musa. Kami percaya bahwa Tuhan yang Esa menginginkan kedamaian dan persatuan di antara manusia. Marilah kita bersama-sama mengenal Tuhan yang menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayang”
Dalam Al-Qur’an, umat Islam diperintahkan untuk menyampaikan kepada Ahlul Kitab bahwa “Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu” (QS. Al-Ankabut: 46). Dalam konteks ini, penggunaan istilah “Tuhan” menjadi lebih relevan untuk membangun pemahaman bersama. Mereka menggunakan istilah Ilâh untuk Tuhan dalam bahasa Arab, yang berarti Tuhan. Dalam hal ini kita tidak bisa menerjemahkannya menjadi Allah dalam hal ini karena Allah adalah kata yang sangat berbeda. Dan itu bukan kata yang digunakan dalam ayat tersebut. Jadi Al-Qur`an sendiri menyuruh kita untuk memberi tahu mereka bahwa Tuhan yang kamu percayai dan Tuhan yang kita percayai adalah satu Tuhan. Itulah istilah yang akan digunakan, Tuhan, bukan Allah, sebab konteks itu mencoba memerintahkan umat Islam menyampaikan pesan kepada mereka.
Firman Allah: (dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu”) yaitu jika mereka memberitahukan tentang hal yang tidak kita ketahui kebenarannya dan kedustaannya. Maka dalam hal ini, kita tidak boleh tergesa-gesa mendustakannya, karena bisa jadi hal itu benar, Dan tidak boleh juga membenarkannya karena bisa jadi hal itu bathil. Akan tetapi kita diperintahkan untuk beriman kepadanya secara umum saja, dengan syarat hendaknya berita itu berasal dari sesuatu yang diturunkan, bukan yang telah diganti dan bukan pula berdasarkan takwil
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa dahulu orang-orang Ahli Kitab membaca kitab Taurat dengan bahasa Ibrani, lalu mereka menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada orang-orang Islam. Maka Rasulullah SAW bersabda:”Janganlah kalian membenarkan dan mendustakan Ahli Kitab, (dan katakanlah oleh kalian, “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kalian; Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah Esa, dan hanya kepadaNyalah kami berserah diri)
Jangan berdebat Menunjukkan Kebenaran ajaran islam Kecuali dengan Cara Baik
Pada ayat sebelumnya Allah memberi umat islam petunjuk dalam menghadapi kaum musyrik mekah atau para penyembah berhala. Allah lalu menyusulinya dengan ayat ini, yang mengajarkan cara berdakwah kepada kaum yahudi dan nasrani. Dan janganlah kamu, wahai umat islam, berdebat demi menunjukkan kebenaran ajaran islam dengan ahli kitab, yakni yahudi dan nasrani yang mengingkari kerasulan nabi Muhammad, melainkan dengan cara yang lebih baik dibanding caramu menghadapi orang-orang musyrik yang tidak percaya tuhan. Kaum yahudi dan nasrani sejatinya percaya kepada tuhan dan ajaran yang dibawa oleh nabi musa dan isa sehingga lebih mudah bagimu untuk mengajak mereka kepada agama islam.
Allah Subhaanahu wa Ta’aala melarang mendebat Ahli Kitab jika pendebatnya tidak di atas ilmu atau tidak di atas kaidah yang diridhai, dan melarang mereka agar tidak berdebat kecuali dengan cara yang baik seperti akhlak yang baik, lembut dan tutur kata yang halus, mengajak kepada yang hak dan menghiasnya, membantah kebatilan dan memperburuknya dengan cara yang lebih dekat sampai kepada maksud, dan agar tidak ada maksud untuk sekedar berdebat, memenangkan diri dan cinta ketinggian, bahkan maksudnya adalah menerangkan yang hak, dan memberi petunjuk kepada manusia kecuali Ahli kitab yang zalim, di mana tampak dari niat dan keadaannya tidak menginginkan yang hak, bahkan maksudnya mengacaukan dan memenangkan diri, maka orang ini tidak ada faedahnya mendebatnya, karena maksud yang diinginkan daripadanya tidak ada.”
Berdebatlah dengan cara yang lebih baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, yaitu orang-orang yang tetap membantah, membangkang, bahkan memusuhimu setelah menerima penjelasan-penjelasan yang kamu sampaikan dengan cara terbaik. Kamu bisa menunjukkan cara dan sikap yang lebih tegas kepada mereka itu, dan katakanlah kepada mereka, ‘kami telah beriman kepada kitab Al-Qur’an yang diturunkan kepada kami dan kitab-kitab yang diturunkan kepadamu, yakni taurat dan injil. Tuhan kami dan tuhan kamu sesungguhnya satu, yaitu Allah; dan hanya kepada-Nya kami senantiasa berserah diri.
Dan sebagaimana kami telah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul sebelum engkau, demikianlah kami juga turunkan kitab Al-Qur’an kepadamu. Oleh karena itu, orang-orang yang telah kami berikan kitab, yakni taurat dan injil, dan tidak menutupi kebenaran isinya, terutama informasi tentang nabi Muhammad, tentu mereka beriman kepadanya, yakni Al-Qur’an. Dan di antara mereka, yakni orang-orang kafir mekah, ada juga orang yang beriman kepadanya, Al-Qur’an. Dan hanya orang-orang kafir yang mengingkari ayat-ayat kami dan terus-menerus dalam kekafirannya
Percaya Kitab Terdahulu
“dan katakanlah,’kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu, tuhan (sembahan) kami dan tuhanmu adalah satu’,” Maksudnya, hendaklah perdebatan kalian dengan ahli kitab dilandasai dengan beriman kepada sesuatu yang diturunkan kepada kalian dan sesuatu yang diturunkan kepada mereka, dan beriman kepada Rasul kalian dan Rasul mereka, dan berdasarkan landasan bahwa sembahan itu satu. Dan hendaknya diskusi kalian dengan ahli kitab tidak dengan cara yang dapat melecehkan sedikitpun dari kitab-kitab suci, atau mencemarkan salah seorang Rasul, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahil saat berdebat dengan lawan, ia mencemooh semua yang ada pada lawannya, baik yang haq maupun yang batil. Hal demikian adalah kezhaliman yang menyimpang dari yang wajib dan dari etika perdebatan. Karena sesungguhnya yang wajib adalah membantah kebatilan yang ada pada lawan dan menerima kebenaran yang ada padanya, tidak boleh menolak kebenaran karena perkatan lawan sekalipun dia adalah seorang kafir.
Dan juga, karena melandasi debat ahli kitab dengan cara di atas mengandung pengharusan terhadap mereka untuk mengakui al-qur’an dan rasul yang membawanya (Muhammad.) sebab, apabila dia membicarakan prinsip-prinsip agama dan sesuatu yang telah disepakati oleh para nabi dan kitab-kitab suci samawi dan sudah disetujui oleh kedua belah pihak yang berdebat dan sudah dipastikan kebenarannya, di mana kitab-kitab sebelumnya dan para rasul bersama al-qur’an dan Muhammad benar-benar telah menjelaskannya, membuktikan dan mengabarkannya, maka hal itu mengharuskan mereka meyakini (dengan membenarkan) semua kitab-kitab suci samawi dan seluruh para rasul. Inilah di antara keistimewaan islam.
Adapun kalau (malah) dikatakan,”kami hanya beriman kepada sesuatu yang dijelaskan oleh kitab suci saja, tanpa meyakini kitab suci yang lain, padahal itu yang benar yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, maka sikap ini adalah sikap kezhaliman dan hawa nafsu. Sikap itu kembali pada pernyataan pendustaan. Sebab, apabila dia mendustakan al-qur’an yang membuktikan kebenaran dan yang membenarkan kitab Taurat yang sudah ada sebelumnya, maka sesungguhnya dia berarti mendustakan pernyataan yang telah dia klaim bahwa dia telah beriman kepadanya. Dan juga, karena setiap cara yang dapat membuktikan kepada kenabian Muhammad. Dan setiap syubhat (pemikiran yang keliru) yang dijadikan dasar untuk mendiskreditkan kenabian Muhammad, maka cara yang semisal dengannya atau yang lebih hebat darinya bisa diarahkan kepada kenabian dari nabi yang lain. Apabila telah terbukti kepalsuan syubhat tersebut pada nabi lainnya maka kepastian kepalsuannya pada kebenaran Nabi Muhammad menjadi lebih jelas lagi.
“dan hanya kepadaNya kami berserah diri,” maksudnya, kami tunduk berserah diri kepada perintahNya. Siapa saja yang beriman kepadaNya, menjadikanNya sebagai sembahan dan beriman kepada seluruh kitab-kitabNya dan para RasulNya, serta tunduk kepada Allah dan mengikuti para RasulNya maka dialah orang yang berbahagia. Dan siapa saja yang menyimpang dari jalan ini, maka dialah orang yang sengsara.
Syaikh As Sa’diy berkata, “Allah Subhaanahu wa Ta’aala melarang mendebat Ahli Kitab jika pendebatnya tidak di atas ilmu atau tidak di atas kaidah yang diridhai, dan melarang mereka agar tidak berdebat kecuali dengan cara yang baik seperti akhlak yang baik, lembut dan tutur kata yang halus, mengajak kepada yang hak dan menghiasnya, membantah kebatilan dan memperburuknya dengan cara yang lebih dekat sampai kepada maksud, dan agar tidak ada maksud untuk sekedar berdebat, memenangkan diri dan cinta ketinggian, bahkan maksudnya adalah menerangkan yang hak, dan memberi petunjuk kepada manusia kecuali Ahli kitab yang zalim, di mana tampak dari niat dan keadaannya tidak menginginkan yang hak, bahkan maksudnya mengacaukan dan memenangkan diri, maka orang ini tidak ada faedahnya mendebatnya, karena maksud yang diinginkan daripadanya tidak ada.”
Yakni kepada orang-orang yang mau menerima jizyah apabila mereka memberitakan sesuatu yang berasal dari kitab-kitab mereka. Dengan tidak membenarkan mereka dan tidak mendustakan. Yakni hendaknya perdebatan kamu dengan Ahli kitab didasari atas iman kepada kitab yang diturunkan kepada kamu dan kitab yang diturunkan kepada mereka, demikian juga di atas keimanan kepada rasul kamu dan rasul mereka serta di atas dasar bahwa Tuhan yang berhak disembah hanya satu, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’aala.
Janganlah perdebatan kamu dengan mereka malah mencacatkan salah satu di antara kitab-kitab yang diturunkan atau salah seorang rasul sebagaimana yang dilakukan orang yang jahil terhadap lawannya sampai-sampai ia mencacatkan semua yang ada pada mereka, yang hak maupun yang batil. Ini adalah kezaliman dan keluar dari yang wajib serta keluar dari adab berdebat. Karena yang wajib adalah membantah kebatilan yang ada pada orang yang berdebat dan menerima kebenaran yang ada padanya dan jangan sampai ia menolak yang hak karena ucapannya meskipun kafir. Di samping itu mendasari perdebatan dengan mereka di atas dasar ini membuat mereka mengakui Al Qur’an dan Rasul yang membawanya. Hal itu, karena apabila berbicara tentang dasar-dasar agama yang disepakati oleh para nabi dan rasul serta disepakati oleh semua kitab, lalu dasar-dasar itu diakui semua pihak, di mana kitab-kitab yang diturunkan dan para rasul yang diutus menerangkan sama dengan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al Qur’an, maka yang demikian menghendaki untuk membenarkan semua kitab dan semua rasul, dan inilah di antara keistimewaan Islam. Adapun jika dikatakan, “Kami beriman dengan kitab yang dibawa rasul ini, tidak rasul yang itu, padahal ia juga hak dan membenarkan kitab sebelumnya, maka ia berarti zalim dan berbuat tidak adil, dan secara tidak langsung ia juga mendustakan kitab yang diturunkan kepada rasul yang ia sebutkan, karena barang siapa mendustakan Al Qur’an yang sama menunjukkan seperti yang ditunjukkan kitab sebelumnya, bahkan membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, maka sama saja ia mendustakan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.
Umat Musim Kukuh Pada Tauhid
Tetapi ada kalanya kita perlu menyampaikan pesan dan menjelaskan juga bahwa kita adalah umat yang kukuh dalam tauhid dan terlarang menyekutukan Tuhan dengan siapapun. Dalam konteks itu, kita menggunakan istilah Allah dan Al-Qur`an mengarahkan ini. Allah berfirman, “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS 3: 64). Kita tidak menyembah siapa pun kecuali Allah. Di sini, istilah untuk Tuhan adalah Allah.
Umat muslim tidak menyembah siapa pun kecuali Allah. Karena kita ingin menegaskan bahwa kita tidak hanya membicarakan apa pun yang disebut orang sebagai Tuhan, tetapi kita sedang membicarakan tentang satu pencipta langit dan bumi yang ghaib yang oleh umat Islam disebut Allah. Kita juga menyerukan ini kepada mereka agar mereka percaya. Itulah sebenarnya inti dari agama mereka sendiri, di mana mereka telah menyimpang dari esensi aslinya. *
















Leave a Reply