MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

10 Fuqaha Ingatkan Pentingnya Adab Dalam Menuntut Ilmu

Widodo Judarwanto

Adab adalah cerminan dari pemahaman yang mendalam terhadap ilmu itu sendiri. Tanpa adab, ilmu yang diperoleh bisa menimbulkan kesombongan, ketidakhormatan terhadap orang lain, dan bahkan kesalahan dalam mengamalkan ilmu tersebut. Adab menjadi pondasi yang sangat penting dalam proses menuntut ilmu.

Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan kewajiban yang sangat ditekankan, namun tidak hanya ilmu yang harus dipelajari, melainkan juga adab dalam menuntut ilmu. Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih mengajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengetahuan, tetapi juga oleh bagaimana ilmu tersebut diterima dan diamalkan dengan adab yang benar. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan katakanlah: ‘Ya Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku'” (QS. Taha: 114), yang menunjukkan pentingnya ilmu dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, dalam mencari ilmu, adab yang baik menjadi landasan utama agar ilmu tersebut tidak disalahgunakan atau disampaikan dengan cara yang tidak baik.

Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW juga banyak menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Namun, dalam menempuh jalan ilmu, adab yang baik harus senantiasa dijaga, seperti tawadhu’ (rendah hati), sabar, dan tidak terburu-buru. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya, “Ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang zalim” (HR. Al-Bukhari), yang mengingatkan kita bahwa tanpa adab yang baik, ilmu yang dimiliki tidak akan memberi manfaat.

10 Fuqaha Terus Ingatkan Pentingnya Adab Dalam Menuntut Ilmu

  1. Abdullah bin Sirrin Abdullah bin Sirrin berkata: “Mereka belajar adab sebagaimana mereka belajar ilmu.”
  2. Al-Hasan Al-Bashri Para Fuqaha belajar adab selama bertahun-tahun lamanya. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, “Sesungguhnya seorang laki-laki telah berhasil mendapatkan adab yang luhur sesudah dia belajar dan melatih diri selama bertahun-tahun.”
  3. Ibnul Mubarak, Ibnul Mubarak“Kami mempelajari masalah adab selama 30 tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
  4. Habib bin AsySyahid Para ulama ketika mendatangi para guru, mereka tidak hanya mengambil ilmunya, tapi juga mengambil adabnya sebagaimana dikatakan oleh Habib bin AsySyahid,“Wahai anakku, berkawanlah dengan para fuqaha dan ulama, belajarlah dari mereka, dan ambillah adab mereka, karena hal itu lebih aku sukai daripada banyak hadits.”
  5. Adz-Dzahabi Dalam majelis Imam Ahmad, Adz-Dzahabi berkata, “Yang menghadiri majelis Imam Ahmad ada sekitar 5000 orang atau lebih. 500 orang menulis (pelajaran) sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.”
  6. Imam Malik Pelajaran adab lebih didahulukan daripada pelajaran ilmu. Imam Malik pernah berkata pada seorang pemuda “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
  7. Imam Abdullah bin al-Mubarak Imam Abdullah bin al-Mubarak,  berkata, “Wahai anakku, aku lebih menyukai kamu belajar satu bab dari adab dibandingkan tujuh puluh bab ilmu.”  Imam Abdullah bin al-Mubarak,  seorang ulama besar dalam bidang hadis, fiqih, dan tasawuf dari generasi Tabi’ut Tabi’in. Imam al-Mubarak dikenal karena perhatian besar terhadap pentingnya adab (akhlak) dalam menuntut ilmu dan kehidupan sehari-hari. Baginya, adab adalah pondasi yang mendukung ilmu, karena ilmu tanpa adab dapat membawa kepada kesombongan dan kesalahan.
  8. Makhlad bin Husain Makhlad bin Husain berkata kepada Abdullah bin Mubarrak,“Kita lebih memerlukan banyak adab dibandingkan banyak hadits.”
  9. Yusuf bin AlHusain Di antara alasan kenapa harus belajar adab terlebih dahulu sebagaimana dikatakan oleh Yusuf bin AlHusain,“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
  10. Burhanuddin az-Zarnuji  Burhanuddin az-Zarnuji berkata, “Ketika saya perhatikan para pelajar di zaman kita ini, sebenarnya mereka telah bersungguh sungguh dalam mencari ilmu, tetapi banyak dari mereka yang tidak memperoleh manfaat dan faedah dari ilmu tersebut, yakni berupa pengamalan dari ilmu tersebut dan menyebarkannya. Hal ini terjadi karena cara yang mereka tempuh dalam menuntut ilmu salah dan mereka meninggalkan syarat-syaratnya.

Adab dan ilmu

Adab dan ilmu memiliki perbedaan yang mendasar dalam konteks Islam. Ilmu merujuk pada pengetahuan atau pemahaman yang diperoleh melalui proses belajar, baik itu dalam bidang agama, sains, atau lainnya. Ilmu adalah kemampuan untuk memahami dan menguasai fakta, teori, atau konsep, yang kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, ilmu dianggap sebagai cahaya yang menerangi jalan hidup, dan menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim. Ilmu memberikan arah dan pemahaman yang mendalam mengenai berbagai aspek kehidupan, terutama dalam menjalankan perintah Allah dan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, adab lebih mengarah pada etika, tata krama, dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari, yang harus dijaga saat menuntut ilmu maupun dalam interaksi sosial. Adab adalah cara yang benar dalam memperlakukan diri sendiri, guru, sesama manusia, dan bahkan ilmu itu sendiri. Tanpa adab, ilmu yang dimiliki bisa disalahgunakan atau tidak memberikan manfaat yang maksimal. Adab mengajarkan nilai-nilai seperti kerendahan hati, kesabaran, rasa hormat, dan keikhlasan, yang sangat penting agar ilmu dapat diamalkan dengan benar. Dengan demikian, ilmu adalah pengetahuan, sementara adab adalah cara yang tepat untuk mengamalkan dan menyampaikan ilmu tersebut.

Pentingnya mempelajari adab menuntut ilmu juga terlihat dalam kehidupan para ulama dan tokoh-tokoh besar Islam. Mereka tidak hanya dikenal karena kepandaian dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga karena akhlak dan adab mereka yang mulia. Adab dalam menuntut ilmu mencakup banyak aspek, seperti menghormati guru, menjaga lisan, tidak merasa puas dengan ilmu yang sedikit, serta selalu berdoa agar ilmu yang diperoleh bermanfaat. Dalam hal ini, adab menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu itu sendiri, karena dengan adab yang baik, ilmu akan memberikan manfaat yang luas, baik untuk diri sendiri maupun untuk umat.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *