MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

4 Adab Penuntut Ilmu pada Dirinya Sendiri

Widodo Judarwanto

Adab penuntut ilmu pada dirinya sendiri mencakup sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap individu yang sedang menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia. Salah satu adab yang penting adalah niat yang ikhlas. Seorang penuntut ilmu harus memiliki niat yang benar, yaitu untuk mencari keridhaan Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau keuntungan duniawi. Niat yang ikhlas akan memastikan bahwa ilmu yang diperoleh digunakan dengan baik dan memberikan manfaat. Selain itu, penuntut ilmu juga harus memiliki kesabaran dan ketekunan, karena menuntut ilmu memerlukan waktu dan usaha yang tidak sedikit. Kesabaran dalam menghadapi tantangan dan ketekunan dalam belajar adalah kunci untuk meraih keberhasilan dalam menuntut ilmu.

Selain itu, seorang penuntut ilmu juga harus menjaga kehormatan diri dengan menghindari sikap sombong atau merasa lebih pintar daripada orang lain. Dalam Islam, tawadhu’ atau kerendahan hati sangat ditekankan, bahkan meskipun seseorang memiliki ilmu yang luas. Seorang penuntut ilmu harus menjaga lisan dan perilaku, tidak berbicara atau bertindak dengan cara yang dapat merusak kehormatan ilmu atau merugikan orang lain. Dalam hal ini, menjaga adab pada diri sendiri berarti menjaga keseimbangan antara ilmu yang diperoleh dengan akhlak yang baik, sehingga ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat yang besar bagi diri sendiri dan orang lain.

4 Adab Penuntut Ilmu pada Dirinya Sendiri

  1. Meluruskan niat. Hendaknya penuntut ilmu senantiasa meluruskan niatnya dalam menuntut ilmu.
    • Nabi bersabda,“Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat orangorang bodoh, untuk menyaingi para ulama, atau agar memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam beraka.”
    • Beliau juga bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah,“Sesungguhnya manusia pertama yang urusannya diputuskan pada Hari Kiamat -Nabi menyebutkan tiga orang dan di dalamnya disebutkan-: Seorang laki-laki yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur’an, dia didatangkan, Allah mengingatkannya terhadap nikmat-nikmatNya, maka dia mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan padanya?’ Dia menjawah, ‘Aku belajar ilmu dan mengajarkannya karenaMu, aku membaca al-Qur’an karenaMu. Allah berfirman, ‘Kamu berbohong, akan tetapi kamu belajar ilmu agar dikatakan, ‘Orang yang berilmu.’ Kamu pun telah mendapatkan gelar tersebut. Lalu diperintahkan untuk menyeretnya (tersungkur) di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api neraka.”
    • Hammad bin Salamah berkata, Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1905; dan an-Nasa’i, no. 3137, dari hadits Abu Hurairah “Barangsiapa menuntut hadits karena selain Allah, maka ia akan dijadikan malapetaka baginya.”
      Sufyan bin Uyainah berkata, “Aku telah diberikan pemahaman al-Qur’an, manakala aku menerima kantong uang dari Abu Ja’far, maka pemahaman tersebut diambil dariku.”
  2. Apa niat dalam mencari ilmu?
    • Niat yang benar dalam menuntut ilmu menurut imam Az-Zarnuji adalah sebagai berikut, “Semestinya seorang penutut ilmu mempunyai niat untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala, agar mendapat pahala kelak di akhirat, menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya dan kebodohan orang-orang yang masih bodoh, serta berniat menghidupkan dan melanggengkan agama islam.”
  3. Membersihkan hati Hendaknya penuntut ilmu berupaya membersihkan hatinya dari kotoran hati, karena hati merupakan tempat ilmu.
    • Ibnu Jamaah berkata, “Karena ilmu—sebagaimana kata Sebagian dari mereka— merupakan shalat rahasia, ibadah hati, dan kedekatan batin, sebagaimana shalat yang merupakan ibadah anggota tubuh yang nyata, tidak sah kecuali dengan kesucian lahir dari hadats dan najis, maka demikian juga ilmu yang merupakan ibadah hati dari sifat-sifat buruk, kotoran dan noda akhlak-akhlak yang tercela. Jika hati telah dibersihkan untuk ilmu, maka nampak keberkahan ilmu dan perkembangannya, layaknya yang disiapkan dengan baik, maka apa yang ditanam padanya akan tumbuh dengan baik.”
    • Sahl bin Abdullah berkata, “Cahaya tidak akan masuk ke dalam hati sementara di sana tersimpan sesuatu dari apa yang dibenci Allah Azza wa
      Jalla.”
  4. Mengingat keutamaan ilmu agar termotivasi
    • Di antara keutamaan tersebut terkandung dalam sabda Nabi berikut: “Barangsiapa yang meniti sebuah jalan untuk menuntut ilmu maka akan dimudahkan baginya satu jalan dari jalan-jalan Surga, dan sesungguhnya malaikat-malaikat meletakkan sayap-sayap mereka untuk penuntut ilmu, karena Allah meridhainya, dan sesungguhnya ulama akan dimintakan ampunan Allah oleh siapa yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan di dalam lautan, dan sesungguhnya keutamaan ulama dibandingkan ahli ibadah adalah seperti kunggulan rembulan di malam pertama dibandingkan bintang-bintang lainnya, sesungguhnya nabi-nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya, dia mengambil bagian yang melimpah.”
    • Ali bin Abi Thalib berkata: “Cukuplah ilmu sebagai kemuliaan di mana siapa yang tidak menguasainya mengakuinya dan berbahagia manakala ia dinisbatkan kepadanya. Cukuplah kebodohan sebagai celaan di mana orang yang bodoh berlepas diri darinya.”
    • Mu’adz bin Jabal berkata,“Belajarlah ilmu, karena mempelajarinya adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mengulang-ulangnya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, memberikannya adalah pendekaran diri (kepada Allah), dan mengajarkannya kepada siapa yang tidak mengetahuinya adalah sedekah.”
    • Wahb bin Munabbih berkata, “Ilmu itu melahirkan: kemuliaan sekalipun pemiliknya orang rendah, kehormatan sekalipun pemiliknya hina, kedekatan sekalipun pemiliknya jauh, kecukupan sekalipun pemiliknya orang fakir, dan kewibawaan sekalipun pemiliknya orang yang remeh.”
    • Abu Muslim Al-Khaulani berkata, “Para ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit, manakala bintang-bintang nampak, mereka mengetahui arah, karenanya manakala ia tak nampak, mereka kebingungan.”
      Sufyan Ats-Tsauri dan Asy-Syafi’i berkata, “Sesudah kewajiban agama tidak ada yang lebih utama daripada menuntut ilmu.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *