Orang yang tetap merokok di masjid sering kali menunjukkan sikap egois dan tidak peduli terhadap kenyamanan orang lain, termasuk anak-anak dan lansia. Mereka cenderung tidak menghormati kesucian masjid sebagai rumah Allah (QS. Al-Jin: 18) dan menunjukkan kurangnya rasa malu (haya’), sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Jika kamu tidak merasa malu, maka lakukanlah apa yang kamu mau.” (HR. Bukhari). Ketergantungan psikologis terhadap rokok juga membuat mereka sulit mengontrol diri, meskipun tahu bahwa asap rokok membahayakan kesehatan jamaah lain, yang bertentangan dengan hadis: “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad).
Selain itu, mereka sering membenarkan perilaku dengan alasan lemah, seperti menganggap larangan merokok hanya sebatas imbauan, yang mencerminkan rendahnya kesadaran akan tanggung jawab moral (QS. Al-Isra: 36). Sikap membangkang terhadap aturan masjid mencerminkan kecenderungan oposisi terhadap otoritas. Mereka juga tidak peka terhadap dampak negatif pada lingkungan, seperti puntung rokok yang mengotori masjid, bertentangan dengan hadis: “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim). Perilaku ini menunjukkan lemahnya kontrol terhadap hawa nafsu, sebagaimana Allah berfirman: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga-lah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40-41).
10 Ciri Orang yang Membandel Tetap Merokok di Masjid, Berdasarkan Analisis Psiko-Sosial dan Dalil Al-Qur’an serta Hadis
- Kurangnya Kesadaran akan Larangan
Orang yang tetap merokok di masjid sering kali kurang memahami atau mengabaikan larangan tersebut. Dalam perspektif psiko-sosial, ini menunjukkan rendahnya kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan ibadah. Dalam Islam, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195), yang mencakup larangan perilaku merugikan diri sendiri dan orang lain. - Egoisme dan Ketidakpedulian terhadap Orang Lain
Mereka yang tetap merokok di masjid cenderung menunjukkan sikap egois, mengutamakan keinginan pribadi daripada kenyamanan jamaah lain. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). - Minimnya Rasa Hormat terhadap Tempat Ibadah
Merokok di masjid mencerminkan kurangnya penghormatan terhadap kesucian masjid sebagai rumah Allah. Dalam QS. Al-Jin: 18 disebutkan: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah, maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah.” - Ketergantungan Psikologis terhadap Rokok
Dari perspektif psiko-sosial, perilaku ini menunjukkan adanya ketergantungan psikologis atau kecanduan, yang membuat mereka sulit mengontrol kebiasaan merokok bahkan di tempat yang tidak pantas. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang tidak membahayakan orang lain dengan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari). - Pembenaran Perilaku dengan Alasan Lemah
Mereka sering mencari pembenaran, seperti mengatakan bahwa larangan merokok hanya bersifat imbauan. Sikap ini mencerminkan rendahnya kesadaran akan tanggung jawab moral, yang bertentangan dengan QS. Al-Isra: 36: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya.” - Kurangnya Rasa Malu (Haya’)
Sikap membandel ini juga menunjukkan kurangnya rasa malu. Rasulullah SAW bersabda: “Jika kamu tidak merasa malu, maka lakukanlah apa yang kamu mau.” (HR. Bukhari). Merokok di masjid menunjukkan ketidakpedulian terhadap norma agama dan sosial. - Tidak Peka terhadap Dampak Negatif pada Orang Lain
Asap rokok dapat mengganggu jamaah lain, terutama anak-anak, lansia, atau mereka yang memiliki masalah kesehatan. Perilaku ini bertentangan dengan ajaran Islam untuk tidak membahayakan orang lain, sebagaimana disebutkan dalam hadis: “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad). - Kebiasaan Membangkang terhadap Aturan
Merokok di masjid menunjukkan kecenderungan membangkang terhadap aturan. Dalam psiko-sosial, ini mencerminkan sikap oposisi terhadap otoritas. Islam mengajarkan pentingnya ketaatan kepada aturan yang tidak bertentangan dengan syariat, sebagaimana dalam QS. An-Nisa: 59. - Rendahnya Kesadaran Lingkungan
Membuang puntung rokok sembarangan di sekitar masjid mencerminkan kurangnya kesadaran lingkungan. Islam mengajarkan kebersihan sebagai bagian dari iman, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim). - Tidak Mampu Mengontrol Hawa Nafsu
Mereka yang tetap merokok di masjid menunjukkan lemahnya kemampuan mengontrol hawa nafsu. Allah berfirman: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga-lah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40-41).
Kesimpulan:
Merokok di masjid bukan hanya melanggar norma sosial tetapi juga melanggar prinsip-prinsip Islam tentang menjaga kesucian tempat ibadah, menghormati orang lain, dan menghindari perbuatan yang membahayakan. Upaya edukasi dan pendekatan yang bijak diperlukan untuk mengubah perilaku ini.
















Leave a Reply