Widodo Judarwanto
Selama Zaman Keemasan Islam (abad ke-8 hingga ke-14), dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan global. Ilmuwan Muslim seperti Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, Al-Razi, dan Jabir Ibn Hayyan memberikan kontribusi besar dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk matematika, kedokteran, kimia, astronomi, dan filsafat. Namun, seiring dengan kebangkitan Eropa pada masa Renaissance, kontribusi para ilmuwan Muslim ini sering kali diabaikan atau bahkan sengaja dihapus dari narasi sejarah.
Salah satu alasan utama pengabaian ini adalah dominasi kolonialisme Barat yang menguasai narasi sejarah global. Ketika Eropa mulai bangkit dari Abad Kegelapan, mereka banyak memanfaatkan karya-karya ilmuwan Muslim yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Namun, dalam proses tersebut, nama-nama asli para ilmuwan Muslim sering dihilangkan atau digantikan dengan nama Latin. Misalnya, Al-Khwarizmi menjadi “Algoritmi,” dan Ibnu Sina menjadi “Avicenna.”
Bukti paling nyata dari pengaruh ilmuwan Muslim adalah terjemahan karya mereka ke dalam bahasa Latin yang menjadi fondasi Renaissance di Eropa. Universitas-universitas Eropa pada abad ke-12 hingga ke-15 menggunakan karya-karya seperti The Canon of Medicine karya Ibnu Sina dan Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala karya Al-Khwarizmi sebagai buku teks utama. Namun, kontribusi ini jarang diakui dalam sejarah Eropa.
Sejarah Kehebatan Imuwan Muslim
Stephan Roman, direktur British Council regional Asia Selatan lewat the Development of Islamic Library Collections in Western Europe and North America, mengungkap ratusan ribu, bahkan sejumlah statistik kasar, manuskrip Islam tersimpan di pusat-pusat studi Barat. terungkap manuskrip-manuskrip Islam yang tersebar di Eropa Barat dan Amerika Utara. Dengan berbagai alasan, negara-negara tersebut menyimpan ratusan hingga ribuan manuskrip Islam. Sebagian manuskrip diperoleh lewat perampokan dan penjarahan pada masa kolonialisme. Yang lain, melalui proses transaksi jual-beli. Tapi, ada pula yang sengaja dihadiahkan oleh penguasa Muslim.
Stefanie Brinkmann dari Institute of Oriental Studies, University of Leipzig, mengatakan, banyak koleksi naskah Islam berasal dari kontak dengan Kekaisaran Ottoman pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Manuskrip-manuskrip itu dibawa oleh tentara, pedagang, misionaris, administrator, penulis, dan pelancong.
Interaksi pertama Barat dengan manuskrip Islam terjadi pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Pada masa itu, banyak sarjana Barat belajar di pusat-pusat intelektual Islam, seperti Kordoba, Sevilla, Granada, Salamanca, dan Toledo. Sebagian aktif menerjemahkan kitab-kitab tersebut ke dalam bahasa Inggris atau Latin. Adelard of Bath, Gerrad van Cremona, dan Petrus Alfonsi adalah beberapa tokoh besar Eropa yang menerjemahkan karya Muslim. Inggris, misalnya, catat Roman, hubungan negara ini dengan Islam berkaitan dengan Muslim Spanyol dan Perang Salib. Michael Scot (1175-1235), astrolog Inggris dan ahli kimia terkemuka, serta Adelard of Bath, guru Raja Henry II. Keduanya menghabiskan sebagian waktu di universitas Islam untuk mempelajari sains dan filsafat.
Sepulang ke negara asal, para sarjana ini membawa harta karun berupa manuskrip atau terjemahan manuskrip Islam. Termasuk, Canon of Medicine karya Ibnu Sina. Pekerjaan penerjemahan ini terus berlangsung hingga abad ke-13 dan 14. Karena itu, tidak mengherankan bila banyak karya Muslim yang kini hanya ditemukan terjemahannya di perpustakaan Eropa. Proses ini juga terkait dengan perpindahan ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat. Mehdi Nakosteen dalam History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350 : With an Introduction to Medieval Muslim Education mengungkapkan, transformasi ilmu pengetahuan Islam ke Barat dibangun melalui dua cara. Pertama, melalui para mahasiswa dan cendekiawan Eropa yang menimba ilmu di sekolah-sekolah tinggi atau universitas Islam di Spanyol. Kedua, melalui hasil karya cendekiawan Muslim yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka.
Peradaban silih berganti. Ketika para sarjana Barat mulai menyadari kekuatan ilmu pengetahuan, kejayaan ilmu pengetahuan di dunia Islam melemah. Puncaknya, keruntuhan Baghdad pada 1258 M meninggalkan dampak besar dalam peradaban Islam. Baghdad adalah wajah peradaban Islam.
JJ Saunders dalam History of Medieval Islam mengatakan, Baghdad merupakan kiblat kehidupan intelektual bangsa Arab. Kota ini tak ubahnya rumah kuno kebudayaan (the ancient home of culture), titik pertemuan kebudayaan Yunani dan Persia. Keruntuhan Baghdad sontak membuat aktivitas keilmuan kaum Muslim lumpuh. Banyak buku yang dibakar dan dibuang ke Sungai Tigris. Setelah itu, kekuatan-kekuatan politik baru muncul di beberapa wilayah. Tapi, tradisi intelektual tak pernah sekuat Baghdad lagi. Sejak abad ke-12, Eropa juga sudah mulai memiliki universitas sendiri.
Kendati begitu, tradisi intelektual dan manuskrip Islam telah memberi sumbangan besar bagi keilmuan Barat modern. Abad ke-14, cikal bakal gerakan renaisans lahir di Florence, Italia. Profesor dari Columbia University, George Saliba, dalam Islamic Science and the Making of European Renaissance, mengungkapkan pengaruh ilmu pengetahuan Islam terhadap gerakan Renaisans. Saliba dalam buku ini melacak orisinalitas pengetahuan Islam lewat astronomi. Para ilmuwan Barat ditengarai pernah membaca karya-karya ilmuwan Muslim.
Penenggelaman Sejarah Kehebatan Ilmuwan Muslim
Upaya penenggelaman ini juga terlihat dalam pendidikan modern. Kurikulum sejarah ilmu pengetahuan di banyak negara sering kali mengabaikan kontribusi ilmuwan Muslim. Buku teks lebih banyak menyoroti tokoh-tokoh Eropa, meskipun banyak dari mereka dipengaruhi oleh karya ilmuwan Muslim.
Penggantian nama-nama ilmuwan Muslim dengan nama Latin selama masa kolonialisme Barat dapat dianggap sebagai bagian dari upaya untuk mengaburkan sejarah Islam yang kuat dan hebat. Salah satu alasan utama di balik pengabaian ini adalah dominasi kolonialisme Barat yang menguasai narasi sejarah global. Ketika Eropa mulai bangkit dari Abad Kegelapan, mereka banyak memanfaatkan karya-karya ilmuwan Muslim yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin untuk membangkitkan kembali ilmu pengetahuan. Namun, dalam proses penerjemahan dan adaptasi ini, nama-nama asli para ilmuwan Muslim sering kali dihilangkan atau digantikan dengan nama Latin yang lebih mudah dikenali oleh dunia Barat.
Contoh yang paling terkenal adalah Al-Khwarizmi, yang dikenal dengan kontribusinya dalam matematika dan algoritma, yang namanya diubah menjadi “Algoritmi” dalam bahasa Latin. Begitu juga dengan Ibnu Sina, seorang tokoh besar dalam bidang kedokteran dan filsafat, yang dikenal di dunia Barat dengan nama “Avicenna.” Penggantian nama ini bukan hanya sekadar masalah penerjemahan, tetapi juga merupakan bagian dari proses peminggiran identitas dan kontribusi ilmuwan Muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Hal ini mencerminkan upaya untuk menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang gemilang dan menggantikannya dengan narasi yang lebih menguntungkan bagi dominasi budaya Barat.
Dalam bidang matematika, Al-Khwarizmi memperkenalkan konsep aljabar dan sistem bilangan desimal yang menjadi dasar matematika modern. Namun, hingga kini, banyak orang yang tidak menyadari bahwa istilah “algoritma” berasal dari namanya. Sejarah cenderung lebih menonjolkan tokoh-tokoh Eropa seperti Fibonacci, meskipun Fibonacci sendiri belajar matematika dari ilmuwan Muslim di Andalusia.
Dalam kedokteran, Ibnu Sina adalah pelopor diagnostik dan pengobatan yang sistematis. The Canon of Medicine menjadi referensi utama di universitas Eropa selama lebih dari 500 tahun. Namun, kontribusinya sering kali diabaikan dalam narasi sejarah kedokteran Barat, yang lebih menonjolkan tokoh-tokoh seperti Hippocrates dan Galen.
Al-Razi, yang dikenal di Barat sebagai Rhazes, adalah pelopor dalam bidang farmasi dan kimia. Ia adalah orang pertama yang membedakan cacar dan campak sebagai dua penyakit yang berbeda. Namun, banyak buku sejarah kedokteran yang tidak menyebutkan namanya, meskipun karyanya diterjemahkan dan digunakan di Eropa.
Dalam bidang astronomi, Al-Zarqali (Arzachel) dari Andalusia memberikan kontribusi penting dalam pengembangan astrolabe dan perhitungan orbit planet. Namun, karyanya sering kali disalahatribusi kepada ilmuwan Eropa seperti Copernicus, meskipun Copernicus sendiri mengakui bahwa ia dipengaruhi oleh karya ilmuwan Muslim.
Selain penghapusan nama, ilmuwan Muslim juga sering kali hanya disebut sebagai “penjaga warisan Yunani.” Narasi ini mengabaikan fakta bahwa para ilmuwan Muslim tidak hanya menerjemahkan karya-karya Yunani, tetapi juga mengembangkan dan memperluasnya dengan inovasi dan penemuan baru.
Salah satu contoh penghapusan yang disengaja adalah dalam bidang kimia. Jabir Ibn Hayyan, yang dikenal sebagai “Bapak Kimia Modern,” memberikan kontribusi besar dalam pengembangan teknik destilasi dan penemuan asam murni. Namun, pada abad ke-16, karyanya sering dianggap sebagai “alkimia mistis” oleh para ilmuwan Eropa, meskipun tekniknya menjadi dasar bagi kimia modern.
Fakta sejarah tidak bisa sepenuhnya dihapus. Dalam beberapa dekade terakhir, para sejarawan mulai menggali kembali kontribusi ilmuwan Muslim. Buku seperti The House of Wisdom karya Jim Al-Khalili dan Lost History karya Michael Hamilton Morgan mengungkapkan bagaimana dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan global selama berabad-abad.
Banyak manuskrip ilmiah dari dunia Islam yang masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan Eropa, seperti Perpustakaan Bodleian di Oxford dan Perpustakaan Vatikan. Manuskrip-manuskrip ini menjadi bukti nyata dari kontribusi ilmuwan Muslim yang tidak dapat disangkal.
Penenggelaman kehebatan ilmuwan Muslim adalah salah satu bentuk ketidakadilan sejarah. Dengan mengakui kontribusi mereka, kita tidak hanya menghormati warisan intelektual dunia Islam, tetapi juga memahami bahwa ilmu pengetahuan adalah hasil kolaborasi lintas budaya dan peradaban. Sebagai generasi penerus, penting bagi kita untuk menggali kembali sejarah ini dan memberikan pengakuan yang layak kepada para ilmuwan Muslim. Dengan cara ini, kita dapat membangun narasi sejarah yang lebih adil dan inklusif.
Daftar Pustaka
- Al-Khalili, Jim. The House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance. Penguin Books, 2011.
- Morgan, Michael Hamilton. Lost History: The Enduring Legacy of Muslim Scientists, Thinkers, and Artists. National Geographic, 2007.
- Gutas, Dimitri. Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early ‘Abbāsid Society. Routledge, 2001.
- Saliba, George. Islamic Science and the Making of the European Renaissance. MIT Press, 2007.
- Nasr, Seyyed Hossein. Science and Civilization in Islam. Harvard University Press, 1968.
- Ahmed, Salim T. S. Islamic Science: A Source of Knowledge and Inspiration. Cambridge Scholars Publishing, 2015.
- Lyons, Jonathan. The House of Wisdom: How the Arabs Transformed Western Civilization. Bloomsbury Press, 2009.


















Leave a Reply