Widodo Judarwanto, dr, pediatrician
Lahirnya generasi Gen Beta di tahun 2025, yang tumbuh di era teknologi canggih dan perubahan sosial yang cepat, menuntut orang tua untuk menerapkan pola parenting Islami yang adaptif dan relevan. Orang tua perlu membekali anak-anak dengan nilai-nilai agama yang kokoh sebagai landasan moral, sambil memperkenalkan mereka pada teknologi secara bijak. Pendidikan akhlak dan penguatan spiritual harus dipadukan dengan kemampuan literasi digital, agar anak tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki karakter Islami yang kuat. Dalam parenting Islami, orang tua juga dituntut menjadi teladan dalam menjalankan syariat, membangun komunikasi yang hangat, dan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak sesuai dengan ajaran Islam, sehingga mereka mampu menghadapi tantangan zaman dengan iman dan akhlak yang baik.
Tahun ini menandai dimulainya generasi baru manusia. Bayi yang lahir pada 1 Januari 2025 merupakan bagian dari Generasi Beta, sebutan bagi mereka yang lahir antara tahun 2025 hingga 2039. Menurut riset McCrindle mengatakan bahwa Gen Beta akan mencapai 16% dari populasi global pada 2035, dan banyak anak Gen Beta akan hidup hingga abad ke-22. Perusahaan yang melakukan riset ini didirikan oleh peneliti sosial Mark McCrindle, yang menciptakan istilah Gen Alpha.
Dikutip dari Science Alert, berikut adalah urutan kelompok generasi yang umum digunakan bagi mereka yang lahir dalam 100 tahun terakhir:
- Gen Beta: 2025-2039
- Gen Alpha: 2010-2024
- Gen Z: 1997-2009
- Gen Milenial: 1981-1996
- Gen X: 1965-1980
- Boomers: 1946-1964
- The Silent Generation: 1928-1945
Generasi Beta juga diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh teknologi, sama seperti para pendahulu mereka dari Generasi Alfa yang terkadang dijuluki ‘anak-anak iPad’ karena dianggap sangat bergantung pada teknologi. McCrindle menulis bahwa kehidupan Generasi Beta akan ditentukan oleh AI dan otomatisasi, dan bahwa mereka akan menghadapi tantangan sosial yang besar seperti krisis iklim dan pergeseran populasi global.
Orang tua dari anak-anak Gen Alpha semakin bergelut dengan cara mengelola hubungan anak-anak mereka dengan teknologi dan perangkat AI, yang telah menyebar luas sejak peluncuran ChatGPT pada November 2022.
Sebuah studi oleh Pew Research Center yang dirilis pada November 2023 menemukan bahwa satu dari lima siswa yang pernah mendengar tentang ChatGPT menggunakannya untuk membantu pekerjaan sekolah mereka. Studi lain yang dikutip dari Business Insider tentang pengasuhan anak mengatakan bahwa orang tua Gen Alpha harus berusaha menjauhkan anak-anak mereka dari media sosial selama mungkin, dengan alasan dampak buruk yang dapat ditimbulkannya pada kesehatan mental.
Generasi Gen Beta (2025-2040) adalah generasi yang lahir di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat, seperti kecerdasan buatan, realitas virtual, dan internet of things. Mereka juga akan menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, perubahan sosial, dan dinamika nilai-nilai agama dalam masyarakat modern. Dalam analisis psikologi, sosial, dan agama,
Prediksi terkait generasi Gen Betha:
Analisis Psikologi. Generasi Gen Beta kemungkinan akan memiliki kepribadian yang sangat terpengaruh oleh teknologi. Interaksi mereka sejak kecil dengan perangkat digital dapat membuat mereka:
- Adaptif terhadap teknologi: Kemampuan belajar mereka mungkin lebih cepat karena terbiasa dengan perangkat berbasis AI dan sistem pembelajaran digital.
- Rentan terhadap kesehatan mental: Ketergantungan pada media sosial dan teknologi dapat meningkatkan risiko isolasi sosial, kecemasan, dan depresi jika tidak diimbangi dengan interaksi langsung.
- Kreativitas yang tinggi: Eksposur pada alat kreatif berbasis teknologi sejak dini dapat menghasilkan individu yang inovatif dan mampu menciptakan solusi untuk tantangan dunia modern.
Analisis Sosial. Secara sosial, Gen Beta akan menghadapi lingkungan yang semakin global dan plural. Beberapa prediksi:
- Kesenjangan sosial: Teknologi yang dominan dapat menciptakan jurang antara mereka yang memiliki akses teknologi tinggi dengan yang tidak.
- Norma sosial baru: Nilai-nilai seperti keadilan gender, inklusivitas, dan keberlanjutan lingkungan akan semakin menonjol, memengaruhi pola pikir generasi ini.
- Komunitas virtual: Hubungan sosial mereka mungkin lebih banyak terjadi secara online, yang memengaruhi cara mereka membangun dan menjaga hubungan interpersonal.
Analisis Agama. Dalam aspek agama, Gen Beta akan menghadapi tantangan dan peluang baru:
- Pemahaman agama yang lebih modern: Dengan akses mudah ke informasi, mereka akan mencari pengetahuan agama melalui media digital. Tantangannya adalah menyaring informasi yang otentik dari yang menyesatkan.
- Spiritualitas yang individual: Mereka mungkin lebih cenderung mengeksplorasi spiritualitas secara personal, bukan hanya mengikuti tradisi. Namun, ini juga membuka risiko memandang agama secara subjektif.
- Peluang dakwah digital: Teknologi dapat digunakan untuk menyebarkan nilai-nilai agama, menjangkau mereka dengan konten yang relevan seperti kajian online, aplikasi Islami, dan media dakwah berbasis teknologi.
Antipasti Orangtua
Islamic parenting yang baru dan relevan di era sekarang harus mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan pemahaman psikologi modern dan tantangan teknologi dalam menghadapi generasi beta. Strategi pertama adalah pendidikan berbasis nilai melalui pengalaman praktis. Orang tua perlu mengajarkan nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab, melalui aktivitas sehari-hari yang relevan. Contohnya, melibatkan anak dalam kegiatan berbagi kepada sesama menggunakan aplikasi donasi online atau mengajari mereka kejujuran melalui permainan interaktif. Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya memahami nilai agama secara teoretis tetapi juga merasakannya secara nyata dalam kehidupan modern.
Strategi kedua adalah membangun literasi digital berbasis Islam. Orang tua harus mengajarkan anak bagaimana menggunakan teknologi secara bijak dan sesuai dengan ajaran Islam. Ini melibatkan pengawasan konten yang dikonsumsi anak, mengenalkan aplikasi Islami seperti aplikasi Al-Qur’an atau doa harian, serta mengajarkan etika dalam berinteraksi di dunia maya, seperti menghindari ghibah digital. Dengan cara ini, anak dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya menguasai teknologi tetapi juga memiliki landasan moral dan spiritual yang kuat, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman dengan identitas Islami yang kokoh.
Kesimpulan
Generasi Gen Beta akan menjadi individu yang sangat adaptif terhadap perubahan dunia, tetapi juga menghadapi risiko dalam hal keseimbangan psikologis, nilai sosial, dan identitas agama. Untuk mendukung mereka, pendidikan yang berfokus pada nilai-nilai moral agam, pengembangan keterampilan sosial, dan pemahaman agama yang otentik sangat penting. Masyarakat dan keluarga perlu berperan aktif dalam membimbing mereka agar menjadi generasi yang tidak hanya cerdas teknologi, tetapi juga berintegritas dan berakar pada nilai-nilai kebaikan.















Leave a Reply