MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Kajian Ilmiah Sistematis: Kitab Barzanji dalam Pandangan Ulama dan Tradisi Islam

Kajian Ilmiah Sistematis: Kitab Barzanji dalam Pandangan Ulama dan Tradisi Islam

Abstrak

Kitab al-Barzanjī atau Simṭ al-Durar fī Akhbār Mawlid an-Nabiyy al-Mukhtār ﷺ merupakan karya sastra keagamaan yang berisi riwayat kelahiran, akhlak, dan kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ. Disusun oleh Sayyid Ja‘far bin Hasan al-Barzanji (w. 1177 H), kitab ini banyak dibaca dalam acara maulid, zikir, dan peringatan keagamaan di dunia Islam, termasuk Indonesia. Tulisan ini mengkaji secara sistematis pandangan ulama terhadap kitab Barzanji, mencakup aspek sejarah, kandungan isi, hukum pembacaan, nilai spiritual, serta kontroversi yang muncul di kalangan ulama klasik dan modern.

Tradisi pembacaan maulid Nabi merupakan bagian dari ekspresi cinta umat Islam kepada Rasulullah ﷺ. Di antara karya maulid yang paling populer adalah Maulid al-Barzanji, yang berkembang luas di dunia Islam bagian timur, termasuk Nusantara. Kitab ini disusun dalam bentuk prosa dan syair pujian, disertai kisah perjalanan hidup Rasulullah ﷺ sejak kelahiran hingga diutus menjadi rasul.

Di Indonesia, pembacaan Barzanji menjadi tradisi turun-temurun dalam kegiatan keagamaan seperti maulid, khitanan, aqiqah, dan peringatan keagamaan lainnya. Namun, di sisi lain, muncul pula perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum dan batasan praktik pembacaannya — apakah termasuk bid‘ah hasanah atau bid‘ah tercela.

Asal dan Penulis Kitab Barzanji

  • Nama Lengkap Penulis: As-Sayyid Ja‘far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji al-Madani asy-Syafi‘i.
  • Kelahiran: 1126 H / 1714 M di Madinah al-Munawwarah.
  • Mazhab: Syafi‘iyyah.
  • Karya utama: Simṭ al-Durar fī Akhbār Mawlid an-Nabiyy al-Mukhtār ﷺ, yang dikenal sebagai Kitab Maulid al-Barzanji.
  • Isi dan gaya penulisan: Menggabungkan antara prosa (natsr) dan syair (nazhm), menonjolkan aspek sastra Arab klasik dengan ungkapan pujian dan doa yang sangat halus.

Struktur dan Kandungan Kitab

Bagian Isi Pokok Tujuan Spiritual
Pendahuluan Pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah ﷺ Menanamkan rasa syukur dan cinta kepada Nabi.
Kisah Kelahiran Narasi tentang kelahiran Nabi, keadaan keluarga, dan tanda-tanda kenabian Menghidupkan rasa takzim dan kekaguman terhadap keagungan Rasulullah.
Masa Kanak-kanak dan Pemuda Kisah moral dan mukjizat sejak kecil Menumbuhkan teladan moral dan akhlak.
Kenabian dan Dakwah Perjalanan dakwah Nabi ﷺ Menegaskan keimanan kepada risalah kenabian.
Akhir Kehidupan Peristiwa hijrah, peperangan, dan wafat Nabi ﷺ Menanamkan rasa kehilangan dan rindu kepada Rasulullah.
Penutup dan Doa Shalawat, salam, dan doa syafaat Memohon rahmat dan keberkahan melalui kecintaan kepada Nabi.

Isi dan Masalah Kitab Barzanji yang Menjadi Kontroversi

  1. Kitab Simtud Durar fi Akhbar Mawlid an-Nabi al-Mukhtar atau lebih dikenal dengan Kitab Barzanji disusun oleh Syekh Ja‘far al-Barzanji, seorang ulama besar yang hidup di Madinah pada abad ke-18. Kitab ini berisi kisah kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, mulai dari silsilah keturunan, tanda-tanda kelahiran, mukjizat, akhlak, hingga perjuangan dakwah beliau. Gaya penulisannya menggunakan bahasa Arab sastra tinggi dalam bentuk prosa dan puisi (nazham), yang penuh dengan ungkapan metaforis dan pujian mendalam. Dalam tradisi Islam di Nusantara, kitab ini sering dibacakan pada acara maulid Nabi, aqiqah, khitanan, dan tahlilan sebagai bentuk ekspresi cinta dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.
  2. Namun, isi kitab ini mengandung beberapa bagian yang dianggap bermasalah secara teologis oleh sebagian ulama. Di antaranya adalah ungkapan pujian yang dianggap melampaui batas sifat manusia Nabi Muhammad ﷺ. Misalnya, terdapat bagian yang menggambarkan Nabi dengan cahaya ilahi yang menerangi alam semesta sebelum penciptaan, serta kisah mukjizat di luar riwayat sahih. Kalangan reformis seperti Muhammadiyah dan Salafi menilai bagian-bagian ini berpotensi menimbulkan pemahaman yang berlebihan (ghuluw), bahkan dapat menyeret umat pada pemujaan yang menyerupai pengultusan terhadap Nabi. Meski demikian, para pembela Barzanji menegaskan bahwa ungkapan tersebut merupakan bahasa sastra dan simbolik, bukan doktrin akidah literal.
  3. Masalah lain yang menjadi kontroversi adalah ritual pembacaan Barzanji. Dalam praktiknya, kitab ini sering dibacakan dengan iringan rebana, berdiri saat bagian tertentu (mahallul qiyam), serta disertai doa dan shalawat bersama. Bagi kelompok tradisional seperti Nahdlatul Ulama (NU), hal ini dianggap bentuk penghormatan yang sah kepada Nabi, selama tidak diyakini sebagai kewajiban syar‘i. Namun, bagi Muhammadiyah dan kelompok purifikasi Islam lainnya, praktik tersebut dianggap bid‘ah hasanah yang tidak ada landasan dari Rasulullah ﷺ dan para sahabat, serta dapat menggeser makna ibadah menjadi ritual budaya. Perbedaan pandangan ini memperlihatkan benturan antara nilai tradisi dan purifikasi ajaran Islam.
  4. Selain dari aspek teologis dan ritual, kontroversi juga muncul dalam konteks pendekatan pendidikan dan dakwah. Pendukung Barzanji melihat kitab ini sebagai media efektif untuk memperkenalkan sosok Nabi kepada masyarakat awam dengan cara yang menyentuh emosi dan memperkuat cinta Rasul. Namun, pihak yang menolak menilai bahwa pengajaran sejarah dan akhlak Nabi seharusnya dilakukan melalui sumber-sumber yang lebih sahih dan rasional, seperti sirah nabawiyah karya Ibnu Hisham atau kitab hadis sahih. Mereka khawatir jika umat hanya fokus pada bacaan seremonial, tanpa mengamalkan nilai-nilai sunnah secara nyata.

Isi dan masalah Kitab Barzanji yang menjadi kontroversi berakar pada perbedaan cara pandang terhadap bentuk kecintaan kepada Nabi. Sebagian menganggapnya sebagai ekspresi budaya Islam yang positif, sementara yang lain menilai bahwa sebagian isi dan praktiknya menyimpang dari prinsip tauhid dan sunnah. Oleh karena itu, umat Islam sebaiknya bersikap proporsional, kritis, dan adabiyah, menghormati perbedaan pandangan, serta mengedepankan cinta Rasul yang benar  yaitu dengan meneladani ajaran, akhlak, dan perjuangan beliau dalam kehidupan nyata, bukan semata melalui pujian yang bersifat simbolik.

Pandangan Ulama tentang Kitab Barzanji

Kategori Ulama Pandangan Argumentasi dan Penjelasan
Ulama Pendukung (Mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama‘ah) Menganggap pembacaan Barzanji sebagai bid‘ah hasanah dan ibadah ghairu mahdhah yang bernilai pahala. Berdasarkan kaidah “Man ahabba syai’an aktsara min dzikrih” (barang siapa mencintai sesuatu, maka ia banyak menyebutnya). Pembacaan Barzanji menjadi bentuk ekspresi cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Imam As-Suyuthi (849–911 H) Membolehkan peringatan maulid dengan pembacaan pujian dan doa. Dalam Husn al-Maqṣid fī ‘Amal al-Maulid, beliau menyatakan bahwa peringatan maulid termasuk amalan baik selama tidak disertai hal maksiat.
Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) Menilai bahwa memperingati maulid merupakan bentuk ta‘zhim an-nabi (pengagungan Nabi) yang dianjurkan. Didasarkan pada prinsip qiyas terhadap amalan syukur atas nikmat kelahiran Rasulullah ﷺ.
Imam Nawawi (w. 676 H) Menganjurkan bershalawat dan membaca kisah Nabi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Masuk kategori dzikir dan taqarrub yang mubah.
Ulama yang Mengkritik (Sebagian Kalangan Salaf) Menganggap pembacaan Barzanji berpotensi mengandung ghuluw (berlebihan) dalam memuji Nabi. Berdasarkan hadits “Lā tutrūnī kamā atratin-nashārā ‘Īsā ibna Maryam” — janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku seperti kaum Nasrani memuji Isa. (HR. Bukhari).
Ibn Taymiyyah (661–728 H) Tidak menyetujui perayaan maulid secara ritual, namun mengakui niat baik mencintai Nabi. Dalam Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim, beliau menilai amalan ini tidak dicontohkan Nabi, tapi bisa berpahala bila diniatkan baik.

Pendapat Majelis Tarjih Muhammadiyah tentang Kitab Barzanji

Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah memandang bahwa Kitab Barzanji pada dasarnya berisi puji-pujian, sejarah kelahiran, dan kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ yang disusun dengan gaya sastra Arab klasik. Secara substansi, bagian yang berisi sejarah Nabi dan ajaran akhlak Rasulullah dapat diterima dan bernilai positif sebagai sarana ta‘zhim (pengagungan) kepada Nabi. Namun, Majelis Tarjih menegaskan bahwa pembacaan Barzanji tidak boleh diyakini memiliki keutamaan ibadah khusus atau menjadi syarat sah dalam kegiatan keagamaan seperti pernikahan, kelahiran, atau upacara kematian. Artinya, nilai Barzanji terletak pada kandungan moral dan cinta Rasul, bukan pada ritualisasi bacaan itu sendiri.

Selanjutnya, Muhammadiyah menilai bahwa sebagian praktik pembacaan Kitab Barzanji di masyarakat sering bercampur dengan unsur bid‘ah dan ghuluw (berlebih-lebihan), seperti permohonan syafaat langsung kepada Nabi atau pengagungan yang melampaui batas kemanusiaan. Oleh karena itu, Majelis Tarjih mengarahkan agar umat Islam menghidupkan kecintaan kepada Nabi melalui amal nyata — meneladani sunnah beliau dalam ibadah, akhlak, dan dakwah, bukan hanya dengan pembacaan ritual. Dalam pandangan Muhammadiyah, cinta Rasul harus diwujudkan secara rasional, murni dari syirik dan khurafat, serta berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih.

Analisis Fiqh dan Ushuliyyah

  1. Kaidah Ushul Fiqh:

    “Al-Ashlu fil ‘ibadah at-tawaqquf illa bi dalil, wal ashl fil ‘adah al-ibahah.”
    (Asal hukum ibadah adalah tidak boleh kecuali ada dalil, sedangkan asal hukum adat adalah boleh kecuali ada larangan.) → Pembacaan Barzanji termasuk adat ibadah — bentuk ekspresi cinta dan dzikir, bukan ibadah mahdhah, maka hukumnya boleh selama tidak mengandung syirik atau maksiat.

  2. Kaidah Bid‘ah Hasanah: Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

    “Man sanna fil Islām sunnatan ḥasanah falahu ajruha wa ajru man ‘amila bihā.”
    (Barang siapa membuat kebiasaan baik dalam Islam, ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya.) — (HR. Muslim no. 1017)

  3. Aspek Aqidah: Selama pembacaan Barzanji tidak mengandung unsur mengkultuskan Nabi melebihi derajat kenabiannya, tidak ada pelanggaran aqidah.
  4. Aspek Adab dan Akhlak: Tradisi Barzanji menumbuhkan mahabbah kepada Rasulullah ﷺ, menambah semangat shalawat, serta memperkuat solidaritas sosial dalam peringatan maulid.

Manfaat dan Nilai Spiritualitas Kitab Barzanji

Dimensi Manfaat
Spiritual Menumbuhkan cinta, rindu, dan ta’zhim kepada Rasulullah ﷺ.
Pendidikan Akhlak Meneladani akhlak Nabi yang disebutkan dalam kisah Barzanji.
Sosial dan Kultural Menguatkan ukhuwah Islamiyah dalam masyarakat.
Sastra dan Bahasa Arab Melatih pemahaman terhadap gaya bahasa Arab klasik dan retorika sastra Islam.

Sikap Umat Islam terhadap Kitab Barzanji

  • Umat Islam sebaiknya bersikap bijak, proporsional, dan ilmiah terhadap Kitab Barzanji. Kitab ini dapat dihargai sebagai karya sastra dan sejarah keagamaan yang menggambarkan kecintaan umat terhadap Rasulullah ﷺ, namun bukan dijadikan sebagai bagian dari ritual ibadah yang bersifat wajib atau memiliki keutamaan khusus.
  • Sikap yang seimbang adalah mengambil nilai positifnya, seperti dorongan untuk meneladani akhlak Nabi, memperkuat ukhuwah, dan menumbuhkan semangat dakwah, sambil menghindari keyakinan berlebih bahwa pembacaan Barzanji membawa pahala atau berkah tertentu yang tidak pernah ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ.
  • Selain itu, umat hendaknya memahami isi kitab tersebut secara kritis dan selektif, terutama pada bagian yang mengandung pujian berlebihan atau doa yang berpotensi menimbulkan ghuluw dalam mencintai Nabi. Cinta kepada Rasulullah harus diwujudkan dengan mengikuti sunnahnya secara benar, menegakkan akhlak yang mulia, memperbanyak shalawat yang diajarkan dalam hadits sahih, serta menjauhi amalan yang tidak memiliki dasar syar‘i.
  • Dengan demikian, umat Islam dapat tetap menjaga rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi tanpa terjebak dalam praktik bid‘ah, serta menjadikan kitab seperti Barzanji sebagai bagian dari khazanah budaya Islam yang dipahami secara kontekstual, bukan ritual yang mengikat.

Kesimpulan

Kitab Barzanji merupakan karya sastra keagamaan yang mencerminkan kecintaan mendalam umat Islam kepada Rasulullah ﷺ melalui kisah kelahiran, keutamaan, dan kemuliaan beliau. Namun, menurut pandangan ulama dan pendekatan ilmiah Islam, kitab ini hendaknya diposisikan sebagai warisan budaya dan ekspresi cinta, bukan sebagai ibadah ritual yang memiliki keutamaan khusus. Umat Islam dianjurkan untuk mengambil nilai-nilai moral dan teladan dari isi Barzanji, seperti semangat dakwah, akhlak mulia, dan penghormatan kepada Nabi, sambil tetap menjauhi unsur ghuluw (berlebih-lebihan), bid‘ah, dan keyakinan yang tidak berdasar pada Al-Qur’an serta Sunnah sahih. Dengan sikap yang seimbang, kritis, dan penuh adab, kecintaan kepada Rasulullah dapat diwujudkan dalam bentuk yang lebih hakiki yaitu dengan mengamalkan ajaran dan sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar dalam bentuk bacaan seremonial.

Daftar Pustaka 

  • Al-Barzanji, Ja‘far bin Hasan. Simṭ al-Durar fī Akhbār Mawlid an-Nabiyy al-Mukhtār ﷺ. Madinah: Maktabah al-Barzanji; 1750 M.
  • As-Suyuthi, Jalaluddin. Husn al-Maqṣid fī ‘Amal al-Maulid. Kairo: Dar al-Fikr; 1986.
  • Ibn Hajar al-‘Asqalani. Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari. Kairo: Dar ar-Rayyan; 1986.
  • Ibn Taymiyyah. Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim Mukhalafah Ashab al-Jahim. Riyadh: Dar al-‘Asimah; 1995.
  • Nawawi, Yahya ibn Sharaf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Beirut: Dar al-Fikr; 1997.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *