MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Shalat Sunnah Mutlaq Empat Rakaat Sebelum Ashar: Kajian Fiqh dan Spiritualitas Islam

Shalat Sunnah Mutlaq Empat Rakaat Sebelum Ashar: Kajian Fiqh dan Spiritualitas Islam

Abstrak

Shalat sunnah empat rakaat sebelum Ashar termasuk bagian dari shalat sunnah ghairu mu’akkadah (tidak sangat ditekankan) yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan ‘Ali bin Abi Thalib menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sering melaksanakan empat rakaat sebelum Ashar. Meskipun tidak wajib, shalat ini memiliki nilai keutamaan yang besar sebagai bentuk pendekatan diri (taqarrub ilallah), penyempurna kekurangan shalat wajib, serta sarana memperoleh ketenangan hati. Artikel ini membahas dasar hukum, pendapat ulama, tata cara, dan hikmah dari pelaksanaan empat rakaat sebelum Ashar dalam perspektif fiqh dan spiritual Islam.

Shalat sunnah merupakan ibadah tambahan yang berfungsi menyempurnakan kekurangan dalam shalat wajib dan mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Salah satu di antara shalat sunnah yang disyariatkan adalah shalat sunnah empat rakaat sebelum Ashar, yang sering disebut shalat rawatib ghairu mu’akkadah atau shalat sunnah mutlaq sebelum Ashar.

Meskipun tidak termasuk sunnah rawatib mu’akkadah seperti dua rakaat sebelum Subuh atau empat rakaat sebelum Zuhur, namun amalan ini tetap memiliki dasar yang kuat dalam sunnah Nabi ﷺ. Beberapa sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menganjurkan shalat sebelum Ashar sebagai bentuk peningkatan amal ibadah di waktu menjelang sore, ketika manusia umumnya sibuk dengan urusan duniawi.

Dalil dan Landasan Hukum

  1. Hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Rahimallāhu imra’an shallā qabla al-‘ashr arba’an.”
    “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.”
    (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Hadits ini menjadi dasar utama anjuran shalat empat rakaat sebelum Ashar, dengan doa rahmat sebagai bentuk keutamaan bagi yang melakukannya.
  2. Hadits dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:“Rasulullah ﷺ biasa shalat empat rakaat sebelum Ashar, memisahkan antara setiap dua rakaat dengan salam.”
    (HR. Tirmidzi, no. 598)

Kaidah Fiqhiyah Umum:

“Amalan sunnah yang dikerjakan Rasulullah ﷺ walaupun tidak terus-menerus tetap bernilai ibadah dan berpahala, meskipun tidak tergolong sunnah mu’akkadah.”

Tabel 1. Analisis Dalil, Sanad, dan Derajat Hadits tentang Shalat 4 Rakaat Sebelum Ashar

No. Sumber Hadits Lafaz Hadits (Arab & Terjemah) Perawi Utama Sanad dan Status Hadits Penilaian Ulama Hadits
1 HR. Abu Dawud no. 1271, Tirmidzi no. 430, Ahmad no. 5867 رَحِمَ اللَّهُ امْرَءًا صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا — “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma Sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad melalui jalur Abdullah bin Umar → Nafi’ → Malik bin Anas → Abu Dawud. Imam Tirmidzi: hasan gharib; Imam Nawawi: hasan li ghairihi; Ibn Hajar: tsabit sanaduhu hasan.
2 HR. Tirmidzi no. 598 كَانَ يُصَلِّي أَرْبَعًا قَبْلَ الْعَصْرِ، يَفْصِلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى الْمَلَائِكَةِ وَمَنْ يَلِيهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ — “Rasulullah ﷺ biasa shalat empat rakaat sebelum Ashar, dan beliau memberi salam setiap dua rakaat kepada malaikat dan orang di sekitarnya.” ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu Diriwayatkan melalui sanad al-Hasan bin Bashri dari ‘Ali; sanadnya lemah karena al-Hasan tidak mendengar langsung dari ‘Ali. Imam Tirmidzi: gharib hasan; Al-Albani: dha’if namun memiliki syahid (penguat) dari hadits Ibnu Umar.
3 HR. Bukhari no. 1182 (Syawahid) بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ — “Antara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat.” Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu Sanad shahih, diriwayatkan Bukhari dari Abu Salamah → Nabi ﷺ. Imam Bukhari dan Muslim: muttafaq ‘alaih; menunjukkan kebolehan shalat sebelum Ashar.
4 HR. Muslim no. 837 كَانَ يُحَافِظُ عَلَى أَرْبَعٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ — “Beliau selalu menjaga empat rakaat sebelum Zuhur …” Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha Sanad shahih, jalur Muslim dari Yahya bin Sa’id al-Qattan. Digunakan sebagai qiyas sunnah qabliyah untuk waktu Ashar.

Kesimpulan Ilmiah dari Analisis Hadits

Aspek Penjelasan Fiqh-Hadits
Kekuatan Dalil Hadits utama (Ibnu Umar) tergolong hasan li ghairihi — cukup kuat untuk menjadi dasar amalan sunnah. Hadits ‘Ali sebagai pendukung memperkuat kontinuitas amalan Nabi ﷺ.
Hukum Fiqh Disepakati sebagai sunnah ghairu mu’akkadah oleh jumhur ulama (Syafi’i, Hanafi, Hanbali), sedangkan Maliki menganggap mubah dan berpahala.
Aspek Sanad Jalur Ibnu Umar memiliki sanad bersambung tanpa perawi majhul. Jalur ‘Ali ada kelemahan dalam ittisal, namun diperkuat oleh jalur lain.
Aspek Matan (isi teks) Konsisten menunjukkan doa rahmat bagi pelaksananya dan bentuk amalan Nabi ﷺ yang bersifat anjuran (bukan kewajiban).
Kesimpulan Umum Shalat empat rakaat sebelum Ashar merupakan sunnah yang dianjurkan berdasarkan hadits hasan, didukung oleh praktik para sahabat, dan termasuk bentuk taqarrub ilallah menjelang waktu sore.

Tabel 2 Keutamaan dan Hikmah Spiritual Shalat Sunnah Sebelum Ashar

Aspek Hikmah Makna dan Manfaat
Doa Rahmat dari Nabi ﷺ Mendapatkan doa khusus Rasulullah ﷺ: “Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.”
Penyempurna Kekurangan Shalat Fardhu Melengkapi kekurangan atau kelalaian dalam shalat wajib.
Penjaga Waktu Sore Mengingatkan agar tetap beribadah di saat sibuk menjelang sore.
Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) Membersihkan hati dari kesibukan dunia, menenangkan pikiran.
Istiqamah dalam Ibadah Membiasakan shalat sunnah menjadikan seseorang disiplin dan bertakwa.

Keutamaan Shalat Empat Rakaat Sebelum Ashar

  1. Mendapat Rahmat Allah:
    Rasulullah ﷺ secara khusus mendoakan rahmat bagi mereka yang melaksanakan empat rakaat sebelum Ashar. Ini menunjukkan keistimewaan amalan tersebut.
  2. Menambah Kedekatan kepada Allah:
    Waktu Ashar adalah waktu yang sakral, menjelang pergantian siang ke malam. Shalat sebelum Ashar mengingatkan manusia agar tetap dalam kesadaran ibadah di saat dunia mulai menarik perhatian.
  3. Penyempurna Kekurangan Shalat Wajib:
    Dalam hadits shahih disebutkan bahwa shalat sunnah berfungsi untuk menutupi kekurangan dari shalat wajib pada hari kiamat (HR. Abu Dawud).
  4. Menjadi Pembiasaan Ibadah di Tengah Kesibukan:
    Melaksanakan shalat sunnah ini melatih disiplin rohani dan menjauhkan seseorang dari lalai menjelang waktu sore.

Pandangan Ulama

Mazhab Hukum Shalat 4 Rakaat Sebelum Ashar Penjelasan
Hanafi Sunnah Ghairu Mu’akkadah Dianjurkan empat rakaat sebelum Ashar dengan dua salam.
Maliki Mubah atau Sunnah Ringan Tidak termasuk rawatib mu’akkadah, namun sah dan berpahala.
Syafi’i Sunnah Ghairu Mu’akkadah Termasuk shalat sunnah mutlaq yang dianjurkan karena ada hadits.
Hanbali Mustahabb (disukai) Berdasarkan hadits doa rahmat bagi yang melaksanakannya.

Tabel  3. Hukum dan Dalil Shalat Sunnah 4 Rakaat Sebelum Ashar Menurut Empat Mazhab

Mazhab Status Hukum Dalil Utama Cara Pelaksanaan Keterangan Ulama
Hanafi Sunnah ghairu mu’akkadah HR. Abu Dawud, Tirmidzi: “Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” 4 rakaat, dua salam (2+2) Disunnahkan, berpahala besar bila dilakukan secara rutin.
Maliki Mubah / sunnah ringan Berdasarkan atsar sahabat dan hadits doa rahmat 4 rakaat, dua salam Tidak termasuk rawatib mu’akkadah, namun tidak makruh.
Syafi’i Sunnah ghairu mu’akkadah Hadits Ibnu Umar & ‘Ali bin Abi Thalib 4 rakaat, dua salam Disunnahkan sebagai bagian dari shalat mutlaq sebelum Ashar.
Hanbali Mustahabb (dianjurkan) Hadits: “Rahimallāhu imra’an shallā qabla al-‘ashr arba’an.” 4 rakaat, dua salam Imam Ahmad menilai hadits ini hasan dan amalan ini sangat dianjurkan.

Tabel 4. Panduan Shalat Rawatib Lengkap (Sebelum dan Sesudah Shalat Fardhu)

Waktu Shalat Nama Shalat Sunnah Jumlah Rakaat Hukum (Menurut Jumhur Ulama) Status
Subuh (Fajr) Sebelum Subuh 2 Sunnah mu’akkadah Sangat ditekankan – Nabi tidak pernah meninggalkannya.
Zuhur (Dhuhr) Sebelum Zuhur 4 Sunnah mu’akkadah Nabi ﷺ selalu melakukannya.
Sesudah Zuhur 2 Sunnah mu’akkadah Bagian dari rawatib tetap.
Ashar Sebelum Ashar 4 Sunnah ghairu mu’akkadah Berdasarkan doa rahmat Nabi ﷺ.
Maghrib Sesudah Maghrib 2 Sunnah mu’akkadah Ditekankan oleh Rasulullah ﷺ.
Isya Sesudah Isya 2 Sunnah mu’akkadah Rasulullah ﷺ melakukannya di rumah.

Tabel 5. Perbedaan Shalat Sunnah Mu’akkad dan Ghairu Mu’akkad Terkait Shalat Sunnah Mutlak Sebelum Ashar 4 Rakaat

Aspek Shalat Sunnah Mu’akkad Shalat Sunnah Ghairu Mu’akkad
Definisi Shalat sunnah yang sangat ditekankan dan rutin dilakukan oleh Rasulullah ﷺ Shalat sunnah yang dianjurkan tetapi tidak dilakukan secara terus-menerus oleh Rasulullah ﷺ
Contoh Shalat sunnah rawatib seperti 2 rakaat sebelum Subuh, 4 rakaat sebelum Zuhur, dan 2 rakaat setelah Maghrib Shalat sunnah mutlak sebelum Ashar 4 rakaat, shalat Dhuha, Tahiyyatul Masjid, dan shalat setelah Wudhu
Derajat Anjuran Sangat ditekankan (dalam hadis disebutkan Nabi selalu menjaganya) Dianjurkan tetapi tidak ditekankan; dilakukan kadang-kadang oleh Nabi ﷺ
Dalil dan Hadis Hadis riwayat Muslim dan Bukhari tentang rawatib yang dijaga Nabi ﷺ Hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi: “Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.”
Status Shalat 4 Rakaat Sebelum Ashar Tidak termasuk mu’akkad karena Nabi tidak melakukannya secara rutin Termasuk ghairu mu’akkad karena Nabi hanya menganjurkan tanpa mewajibkan

Shalat sunnah empat rakaat sebelum Ashar termasuk dalam kategori shalat sunnah ghairu mu’akkad, karena meskipun dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ dalam beberapa hadis — seperti doa beliau, “Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi) — namun beliau tidak melakukannya secara rutin sebagaimana shalat sunnah rawatib lainnya. Artinya, shalat ini bersifat anjuran (mustahabbah), bukan ibadah sunnah yang sangat ditekankan. Nilai utamanya terletak pada memperbanyak amal dan menyiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki waktu shalat Ashar. Dengan demikian, shalat sunnah mutlak sebelum Ashar empat rakaat merupakan bentuk kecintaan dan kedekatan kepada Allah yang termasuk dalam kategori sunnah ghairu mu’akkad.

Tabel 6. Waktu dan Niat Pelaksanaan Shalat Sunnah Sebelum Ashar

Aspek Keterangan
Waktu Pelaksanaan Setelah matahari tergelincir (zawal) hingga menjelang adzan Ashar.
Jumlah Rakaat 4 rakaat (dengan 2 salam: 2 rakaat + salam, kemudian 2 rakaat lagi + salam).
Niat (bila diucapkan) Ushallī sunnatal qabliyyati al-‘ashri arba‘a raka‘ātin lillāhi ta‘ālā.
Tempat Pelaksanaan Boleh di masjid atau di rumah, disunnahkan di rumah bagi yang tidak berjamaah di masjid.
Bacaan Rekomendasi Setelah Al-Fatihah, dapat membaca surat Al-Ikhlas, Al-Kafirun, Al-Asr, atau Al-Mulk.

Tata Cara Pelaksanaan

  1. Jumlah Rakaat: 4 rakaat (dengan dua salam, tiap dua rakaat satu salam).
  2. Waktu Pelaksanaan: Setelah zawal (matahari condong ke barat) hingga menjelang adzan Ashar.
  3. Bacaan Niat: tidak perlu dibacakan niat
    Bila ada pendapat dibacakan niat adalah Ushallī sunnatal qabliyyati al-‘ashri arba‘a raka‘ātin lillāhi ta‘ālā.
  4. Pelaksanaan:
    Seperti shalat sunnah biasa, dengan bacaan Al-Fatihah dan surat apa saja.
  5. Disunnahkan Duduk Tasyahhud Setiap Dua Rakaat lalu salam, sesuai contoh dari hadits ‘Ali.

Hikmah Spiritual dan Psikologis

  1. Meningkatkan Kesadaran Spiritual Menjelang Sore:
    Waktu sebelum Ashar sering menjadi waktu paling sibuk manusia. Dengan shalat ini, jiwa distabilkan kembali menuju ketenangan dzikir.
  2. Menumbuhkan Kebiasaan Istiqamah:
    Shalat sunnah yang dilakukan secara konsisten melatih keteguhan dan kedisiplinan dalam ibadah.
  3. Menyucikan Hati dari Kelelahan Dunia:
    Menjadi sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) agar hati tidak keras di akhir hari.
  4. Mendapatkan Rahmat Allah secara Khusus:
    Doa Nabi ﷺ “Semoga Allah merahmati…” menjadi harapan besar bagi pelaksana amalan ini.

Kesimpulan

Shalat sunnah empat rakaat sebelum Ashar merupakan amalan yang memiliki dasar kuat dari hadits Nabi ﷺ, termasuk dalam kategori sunnah ghairu mu’akkadah yang sangat dianjurkan. Para ulama empat mazhab sepakat bahwa pelaksanaannya berpahala besar dan tidak tercela bila ditinggalkan. Nilai spiritualnya terletak pada ketekunan, keikhlasan, dan ketenangan batin yang diperoleh melalui kedekatan dengan Allah menjelang sore hari. Dengan demikian, amalan ini selayaknya dijaga dan dihidupkan kembali di tengah rutinitas umat Islam modern.

Daftar Pustaka 

  1. Al-Nawawi, Yahya ibn Sharaf. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Beirut: Dar al-Fikr; 1997.
  2. Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khayr al-‘Ibad. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah; 1998.
  3. Al-Tirmidzi, Muhammad ibn ‘Isa. Sunan al-Tirmidzi. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif; 2000.
  4. Abu Dawud, Sulaiman ibn al-Ash’ath. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabiyyah; 1988.
  5. Ibn Hajar al-‘Asqalani. Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari. Kairo: Dar al-Rayyan; 1986.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *