
Puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan amalan sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa dalam Islam. Berdasarkan berbagai hadits shahih, Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak amal shalih, termasuk puasa, pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Artikel ini mengkaji dasar hukum dan dalil hadits tentang puasa tersebut, pendapat dari empat mazhab fiqih utama, serta pandangan dari tujuh ulama kontemporer. Selain itu, artikel ini memberikan panduan bagi umat Islam dalam menghidupkan keutamaan hari-hari ini sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu dari bulan-bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Sepuluh hari pertamanya memiliki keutamaan yang luar biasa, dan para ulama menyepakati bahwa amal shalih pada hari-hari ini lebih utama dibandingkan hari-hari lain di sepanjang tahun. Salah satu amal shalih yang sangat dianjurkan adalah puasa sunnah, terutama sembilan hari pertama sebelum hari Idul Adha.
Meskipun banyak umat Muslim lebih mengenal puasa Arafah saja, puasa pada delapan hari sebelumnya juga merupakan bagian dari ibadah yang sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya dikenal senantiasa memanfaatkan momen tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berpuasa dan memperbanyak ibadah lainnya. Oleh karena itu, penting bagi umat Muslim untuk memahami keutamaan, dalil, dan hukum dari puasa ini sebagai bagian dari sunnah yang perlu dihidupkan kembali.
Keutamaaan 10 Hari Pertama Zuhijjah
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang paling agung dalam kalender Islam. Allah SWT secara khusus bersumpah atasnya dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan keagungannya. Dalam Surah Al-Fajr ayat 1-2, Allah berfirman: “Wal-fajr. Wa layālin ‘ashr” (Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh). Mayoritas mufassir, termasuk Ibnu Kathir dan Al-Thabari, menyebut bahwa “malam yang sepuluh” ini adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Sumpah Allah dalam ayat tersebut menunjukkan kemuliaan hari-hari tersebut dan menandakan betapa besar nilai ibadah yang dilakukan di dalamnya.
Dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah melebihi hari-hari ini (yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Ya, bahkan jihad di jalan Allah tidak lebih utama dari amal di hari-hari itu, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun darinya.” (HR. Bukhari no. 969).
Hadis ini menegaskan bahwa amal ibadah yang dilakukan di hari-hari tersebut memiliki nilai yang sangat besar bahkan melebihi pahala jihad kecuali dalam kondisi yang luar biasa.
Dalam sepuluh hari tersebut, terdapat pula ibadah-ibadah utama yang tidak terdapat dalam waktu lain secara bersamaan, yaitu haji, wukuf di Arafah, kurban, takbir, serta puasa sunnah. Khususnya, puasa Arafah (9 Dzulhijjah) disebutkan dalam hadis riwayat Muslim sebagai penghapus dosa dua tahun. Keistimewaan ini menunjukkan bahwa Allah membuka pintu ampunan dan pahala seluas-luasnya pada hari-hari tersebut, menjadikannya sebagai peluang emas bagi umat Islam untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.
Para ulama juga menyatakan bahwa sepuluh hari ini lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan dalam hal amal ibadah, meskipun sepuluh malam terakhir Ramadhan lebih utama dalam aspek malam-malamnya karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadr. Oleh karena itu, sepuluh hari Dzulhijjah merupakan kombinasi istimewa dari siang dan malam yang diberkahi. Maka, setiap Muslim hendaknya memaksimalkan waktu ini dengan puasa, dzikir, sedekah, tilawah Al-Qur’an, dan amal shalih lainnya.
Dalil dan Hukum Puasa Sembilan Hari Dzulhijjah
Dalil utama mengenai keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah sabda Rasulullah ﷺ:
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah selain pada hari-hari ini (sepuluh hari Dzulhijjah).” (HR. Bukhari no. 969). Dalam konteks ini, para ulama menyimpulkan bahwa amal shalih termasuk di antaranya adalah puasa. Oleh karena itu, berpuasa dalam hari-hari ini adalah bentuk ibadah yang sangat utama.
Diriwayatkan dari Hafshah radhiyallahu ‘anha bahwa:
“Rasulullah biasa berpuasa sembilan hari Dzulhijjah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulan.” (HR. Abu Dawud no. 2437, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Hadis ini secara eksplisit menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan puasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah, yang memperkuat anjuran untuk melaksanakannya.
Adapun puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah) memiliki dalil khusus sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya.” (HR. Muslim no. 1162). Hadis ini menegaskan keutamaan khusus puasa di hari ke-9.
Empat Perkara yang Tidak Pernah Ditinggalkan Rasulullah ﷺ: Puasa Dzulhijjah Termasuk Di Dalamnya. Diriwayatkan dari Hafshah binti ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah ﷺ: puasa Asyura, puasa sepuluh hari (Dzulhijjah), puasa tiga hari setiap bulan, dan shalat dua rakaat sebelum subuh.” (HR. An-Nasa’i no. 2416, Ahmad no. 26774, dinilai shahih oleh al-Albani)
Secara hukum, mayoritas ulama menyatakan bahwa puasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Tidak ada kewajiban untuk berpuasa, namun pahalanya sangat besar dan merupakan bagian dari sunnah Nabi ﷺ yang perlu dihidupkan kembali.
Pahala Puasa 9 Hari Zulhijjah
Puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, terutama tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah, memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Menurut para ulama dan berdasarkan hadits-hadits shahih, amalan pada hari-hari ini sangat dicintai Allah. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah selain hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari). Maka, berpuasa di sembilan hari ini—yang puncaknya adalah puasa Arafah pada tanggal 9—menjadi amalan istimewa yang dianjurkan oleh sunnah.
Para ulama, seperti Imam Nawawi dan Ibnu Rajab, menjelaskan bahwa puasa di hari-hari ini termasuk amalan yang menunjukkan cinta seorang hamba kepada Allah, karena ia memilih menahan diri dari kenikmatan dunia untuk mencari ridha-Nya. Imam Nawawi menyebutkan bahwa puasa pada hari-hari ini sangat dianjurkan bagi yang mampu, terutama hari Arafah bagi yang tidak sedang berhaji. Hal ini juga sejalan dengan semangat ibadah dalam menyambut puncak musim haji yang penuh berkah.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Majmū’ menjelaskan bahwa puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah), termasuk puasa yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah). Ia menukilkan dari mayoritas ulama madzhab Syafi’i bahwa puasa di hari-hari ini sangat utama, karena termasuk waktu-waktu yang dimuliakan Allah. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan puasa tersebut, sebagaimana ditegaskan pula oleh Imam Nawawi.
Selain itu, Imam An-Nawawi menyebut bahwa keutamaan hari-hari awal Dzulhijjah didasarkan pada banyaknya amal shalih yang dicintai Allah di dalamnya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadis riwayat Bukhari: “Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah dibandingkan sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Oleh karena itu, menurut Imam Nawawi, memperbanyak puasa, zikir, dan ibadah lainnya di sembilan hari pertama Dzulhijjah merupakan bentuk kesungguhan dalam meraih keutamaan yang dijanjikan Allah SWT.
Khusus puasa Arafah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa pahala puasa Arafah sangat besar, yaitu penghapusan dosa-dosa kecil selama dua tahun. Ini menunjukkan kemurahan dan rahmat Allah kepada umat Muhammad ﷺ yang menjalankan ibadah dengan ikhlas.
Dengan demikian, puasa sembilan hari pertama Dzulhijjah—terutama pada hari Arafah—merupakan momen luar biasa dalam meraih ampunan, rahmat, dan pahala dari Allah. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah di hari-hari ini, seperti puasa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan takbir. Menghidupkan hari-hari mulia ini adalah wujud kecintaan kepada sunnah dan bentuk kesungguhan dalam meraih keridhaan Allah.
Pendapat Ulama Empat Mazhab
- Mazhab Hanafi: Menyatakan bahwa puasa sembilan hari pertama Dzulhijjah adalah mustahabb (sunnah yang dianjurkan). Tidak ada kewajiban, namun memiliki nilai pahala yang tinggi.
- Mazhab Maliki: Menganjurkan puasa di sembilan hari pertama, dan lebih menekankan pada puasa hari Arafah. Imam Malik menilai bahwa orang yang kuat melakukannya sangat dianjurkan untuk berpuasa.
- Mazhab Syafi’i: Menegaskan bahwa puasa di sembilan hari pertama Dzulhijjah adalah sunnah muakkadah. Hal ini berdasarkan pada hadis dari Hafshah dan hadis-hadis lainnya yang mendukung anjuran tersebut.
- Mazhab Hanbali: Juga sangat menganjurkan puasa di sembilan hari pertama Dzulhijjah, terutama hari Arafah. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan banyak atsar yang menunjukkan bahwa para salaf dahulu memuliakan hari-hari ini dengan berpuasa.
Pandangan Ulama Kontemporer
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz Syaikh Bin Baz rahimahullah sangat menganjurkan puasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah. Dalam fatwa-fatwanya, beliau menyatakan bahwa hal ini termasuk sunnah yang sangat besar pahalanya, berdasarkan hadits Nabi ﷺ yang menyebut bahwa tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk beramal shalih selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Beliau menegaskan bahwa puasa termasuk salah satu bentuk amal shalih paling utama dalam waktu-waktu yang dimuliakan. Beliau juga menjelaskan bahwa puasa di hari-hari tersebut—khususnya hari Arafah—memiliki keutamaan pengampunan dosa selama dua tahun (setahun yang lalu dan yang akan datang), sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih. Oleh karena itu, Syaikh Bin Baz mengajak umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan besar ini dan memperbanyak ibadah, terutama puasa, sebagai bentuk kecintaan kepada Allah SWT dan ittiba’ terhadap sunnah Rasulullah ﷺ.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah termasuk ulama besar yang secara pribadi mencontohkan puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah. Dalam ceramah dan penjelasan fiqhnya, beliau menekankan bahwa hari-hari tersebut adalah momen yang sangat agung dan dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, termasuk puasa. Ia menilai bahwa keutamaan hari-hari ini bahkan lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadan dalam hal amal lahiriah, karena banyak dalil sahih yang menyebutkan keutamaannya. Dalam praktiknya, Syaikh Utsaimin tidak hanya menyarankan tetapi juga menunjukkan melalui perbuatan bahwa puasa Dzulhijjah adalah amalan yang selayaknya dihidupkan oleh umat Islam. Beliau mengingatkan bahwa jika seseorang mampu berpuasa pada sembilan hari tersebut, maka jangan sampai terlewat, karena ini bagian dari sunnah yang bernilai pahala besar dan mencerminkan kecintaan kepada amal yang diridhai Allah.
- Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Syaikh Albani rahimahullah, seorang ahli hadits terkemuka, menilai bahwa hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa berpuasa sembilan hari pertama Dzulhijjah yang diriwayatkan dari Hafshah radhiyallahu ‘anha adalah hasan (baik). Dengan penilaian ini, beliau menguatkan bahwa puasa di hari-hari tersebut adalah sunnah yang valid untuk diamalkan dan sangat dianjurkan. Beliau juga menekankan bahwa kebaikan yang terkandung dalam sepuluh hari pertama Dzulhijjah harus digali dan diamalkan. Syaikh Albani memandang bahwa puasa sembilan hari Dzulhijjah memiliki landasan dalil yang kuat, dan tidak semestinya ditinggalkan hanya karena adanya keraguan pada satu jalur periwayatan, sebab ada penguat lain dari sisi amal para salaf dan semangat mereka dalam menghidupkan hari-hari tersebut.
- Syaikh Shalih Al-Fauzan Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah termasuk ulama kontemporer yang sangat mendorong umat Islam untuk memanfaatkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah dengan amal-amal shalih, termasuk puasa. Dalam ceramah dan fatwanya, beliau berulang kali menyeru agar kaum muslimin tidak menyia-nyiakan waktu istimewa ini karena keutamaannya yang sangat besar menurut dalil-dalil sahih. Beliau juga menegaskan bahwa amal di waktu tersebut—termasuk dzikir, takbir, sedekah, dan khususnya puasa—adalah cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rezeki berupa waktu mulia seperti ini harus disyukuri dengan memperbanyak ibadah, dan bukan hanya dijadikan momen liburan atau aktivitas duniawi. Maka, puasa Dzulhijjah adalah salah satu sarana utama untuk meraih pahala besar dalam waktu singkat.
- Dr. Yusuf Al-Qaradawi Dr. Yusuf Al-Qaradawi rahimahullah menyebutkan dalam fatwa dan karya-karyanya bahwa puasa sembilan hari pertama Dzulhijjah merupakan sunnah nabawiyah yang sayangnya banyak ditinggalkan oleh umat Islam. Beliau menekankan bahwa amal ini bukan sekadar budaya atau tradisi lokal, melainkan berdasarkan hadits-hadits sahih dan praktik para salaf. Menurutnya, puasa di hari-hari tersebut adalah bagian dari syiar Islam yang perlu dihidupkan kembali, terutama di tengah masyarakat modern yang cenderung melupakan keutamaan-keutamaan waktu ibadah. Al-Qaradawi juga mengaitkan ibadah ini dengan semangat memperbaiki diri dan membangun kesadaran ruhani menjelang Idul Adha. Oleh karena itu, ia mendorong para dai dan tokoh Islam untuk mengingatkan umat agar memaksimalkan amal di hari-hari istimewa ini.
- Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam karya tafsir dan fiqhnya menjelaskan bahwa puasa sembilan hari pertama Dzulhijjah termasuk amal shalih paling utama yang sangat dianjurkan oleh para ulama dari berbagai mazhab. Beliau menjelaskan bahwa berdasarkan ayat “Demi fajar, dan malam yang sepuluh” (QS. Al-Fajr: 1-2), banyak mufassir menafsirkan “malam yang sepuluh” sebagai sepuluh malam awal Dzulhijjah, yang menunjukkan keutamaannya. Dalam pandangannya, hari-hari ini adalah waktu-waktu spiritual yang sangat tinggi nilainya, dan siapa pun yang mengisi dengan puasa akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Beliau juga mencatat bahwa dalam madzhab Syafi’i dan lainnya, puasa pada hari-hari ini sangat ditekankan, kecuali bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah, yang disunnahkan tidak berpuasa agar kuat menjalankan ibadah.
- Dr. Said Ramadhan Al-ButhyDr. Said Ramadhan Al-Buthy rahimahullah memandang bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah momentum emas spiritual bagi umat Islam. Dalam tulisannya, ia menyebutkan bahwa hari-hari ini memiliki nuansa spiritual yang mendalam, di mana setiap ibadah, termasuk puasa, memiliki pengaruh besar dalam pembersihan jiwa dan penguatan hubungan dengan Allah. Beliau mengajak umat Islam untuk menjadikan hari-hari ini sebagai sarana memperbaiki diri, mendekat kepada Allah, dan menghidupkan hati yang mungkin telah lalai sepanjang tahun. Dengan semangat ini, puasa menjadi salah satu jalan utama untuk meraih kesucian jiwa dan keberkahan hidup, seiring dengan semangat berkorban dan meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS.
Bagaimana Umat Islam Seharusnya Menyikapi
- Pertama, umat Islam seharusnya mulai menghidupkan kembali sunnah Rasulullah ﷺ dengan berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah, termasuk memperbanyak dzikir, sedekah, dan membaca Al-Qur’an. Ini merupakan bentuk nyata dalam meneladani Nabi.
- Kedua, dalam dunia yang penuh kesibukan dan rutinitas, momentum Dzulhijjah adalah waktu yang tepat untuk melakukan reorientasi spiritual. Umat Islam bisa menjadikan sembilan hari ini sebagai sarana menghidupkan ruh keimanan di tengah tekanan kehidupan modern.
- Ketiga, komunitas Islam, seperti masjid dan majelis taklim, dapat membuat program kolektif puasa sunnah Dzulhijjah dengan sahur dan buka bersama untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dalam ibadah.
- Keempat, orang tua dan guru dapat mengajarkan kepada anak-anak dan remaja mengenai pentingnya bulan Dzulhijjah, serta membiasakan mereka untuk ikut serta dalam puasa dan amalan kebaikan.
- Kelima, dalam konteks dakwah digital, konten tentang keutamaan Dzulhijjah termasuk puasa, kurban, dan dzikir harus disebarluaskan untuk menjangkau umat yang mungkin belum mengetahui keutamaannya, agar tidak kehilangan kesempatan besar ini.
- Puasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan luar biasa. Hari-hari tersebut adalah waktu yang paling dicintai Allah untuk beramal shalih. Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan puasa di hari-hari itu karena besarnya pahala yang dijanjikan dan kemuliaan waktu yang dikandungnya. Bahkan para sahabat pun mengikuti jejak beliau dalam memperbanyak amal, terutama puasa dan dzikir, pada hari-hari agung tersebut.
- Semakin padatnya urusan dunia jangan sampai membuat kita meninggalkan amalan yang dicintai Rasulullah ﷺ. Di tengah kesibukan dunia, jangan lupa meneladani sunnah beliau, karena setiap amalan yang beliau jaga adalah jalan menuju ridha Allah dan keselamatan akhirat. “Jika Rasulullah ﷺ saja tidak pernah meninggalkan puasa Dzulhijjah, bagaimana mungkin kita yang penuh dosa sanggup mengabaikannya?”

Kesimpulan
Puasa sembilan hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan berdasarkan hadits shahih dan didukung oleh konsensus ulama dari berbagai mazhab serta tokoh kontemporer. Keutamaannya sangat besar, terutama dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih pahala yang luar biasa. Umat Islam seharusnya memanfaatkan momen ini dengan sungguh-sungguh, menghidupkan kembali sunnah Nabi ﷺ, dan menjadikannya sebagai peluang spiritual tahunan yang tidak boleh terlewatkan. Dengan memahami dasar hukum dan panduan dari para ulama, umat dapat menjalankan puasa ini dengan niat yang lurus dan semangat yang tinggi.

















Leave a Reply