MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Dibalik Kesederhanaan, Nabi Muhammad Berkurban 100 Ekor Unta Setara 100 Mobil Mewah

Dibalik Kesederhanaan, Nabi Muhammad Berkurban 100 Ekor Unta atau Seharga 100 Mobil Mewah Sekarang

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang hidup sangat sederhana, namun di balik kesahajaannya tersimpan pengorbanan luar biasa dalam ibadah, salah satunya saat berkurban. Beliau pernah menyembelih 100 ekor unta, jumlah yang sangat besar baik dari sisi kuantitas maupun nilai ekonominya. Jika dikalkulasi dengan harga emas saat ini sehingga total kurban Nabi Muhammad setara dengan menyumbangkan kekayaan setingkat 100 mobil mewah. Artikel ini mengulas makna spiritual, nilai historis, dan pelajaran penting dari peristiwa tersebut, sekaligus mengajak umat Islam meneladani keikhlasan beliau dalam berkurban, bukan berdasarkan jumlah, tetapi pada ketulusan dan pengorbanan terbaik yang dimiliki.

Nabi Muhammad SAW tidak hanya diutus sebagai pembawa risalah, tetapi juga sebagai teladan utama dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal ibadah dan kepedulian sosial. Salah satu momen agung yang mencerminkan kombinasi antara ibadah, ketulusan, dan kepemimpinan beliau adalah ketika menyembelih 100 ekor unta dalam ibadah kurban. Peristiwa ini bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari semangat pengorbanan total kepada Allah, meskipun beliau sendiri menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan.

Kesederhanaan Rasulullah terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari: tidur beralaskan tikar kasar, memakai pakaian tambal sulam, dan memilih hidup zuhud meskipun beliau memiliki akses terhadap harta rampasan perang dan zakat. Namun, dalam beribadah, beliau memberikan yang terbaik, baik dalam jumlah, kualitas, maupun niat. Kurban 100 unta merupakan bukti nyata bahwa kekayaan tidak menguasai hati beliau, justru beliau menundukkan harta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan membahagiakan umat. Ini menjadi pelajaran penting bagi umat Islam masa kini, bahwa berkurban bukan hanya ritual, melainkan ekspresi ketakwaan dan cinta sejati kepada Allah SWT.

Salah satu contoh monumental adalah ketika beliau menyembelih 100 ekor unta saat melaksanakan haji terakhir (Haji Wada’). Ini menunjukkan bahwa meskipun beliau hidup sederhana, beliau mengorbankan hartanya secara maksimal di jalan Allah. Ini menjadi cerminan bahwa kesederhanaan bukan berarti pelit atau enggan beramal besar, melainkan cerminan dari jiwa besar yang tahu kapan harus menahan dan kapan harus memberi.

Hadits dan Riwayat 

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Jabir bin Abdillah RA, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menyembelih 63 ekor unta dengan tangannya sendiri dan menyerahkan sisa dari total 100 ekor unta kepada Ali bin Abi Thalib untuk disembelih:
“Kemudian beliau menyembelih 63 ekor unta dan memberikan sisanya kepada Ali untuk disembelih.” (HR. Muslim no. 1218).

Peristiwa ini terjadi saat Haji Wada’, yaitu haji terakhir Rasulullah SAW sebelum wafat. Dalam haji tersebut, beliau menunjukkan kesempurnaan ibadah dan pengorbanan yang luar biasa kepada Allah. Jumlah 100 ekor unta bukan hanya menunjukkan kemampuan, tetapi ketulusan dan pengagungan terhadap syariat Allah.

Perlu dicatat bahwa unta pada masa itu adalah harta yang sangat bernilai tinggi. Satu ekor unta bisa setara dengan satu kendaraan mewah di zaman kini. Maka pengorbanan 100 ekor unta adalah tindakan luar biasa dari segi materi, apalagi dilakukan oleh seseorang yang memilih hidup miskin dan tidak bergelimang harta.

Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad menyebut bahwa penyembelihan unta tersebut menunjukkan puncak ketakwaan Rasulullah SAW kepada Allah dan teladan dalam menunaikan syariat secara maksimal. Ali bin Abi Thalib pun bertugas menyempurnakan penyembelihan sisanya dan ikut menyampaikan dagingnya kepada umat.

Banyak ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa menyembelih kurban lebih dari satu hewan hukumnya boleh, bahkan dianjurkan bagi yang mampu. Rasulullah SAW tidak menyuruh umatnya menyembelih sebanyak itu, tetapi beliau ingin menunjukkan keikhlasan dan pengorbanan sepenuh hati dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perbandingan harga unta zaman Nabi Muhammad SAW dengan nilai emas dan mobil Eropa masa kini

Pada masa Rasulullah SAW, harga seekor unta berkisar sekitar 100 dinar emas, di mana satu dinar setara 4,25 gram emas murni. Artinya, satu unta senilai 425 gram emas. Bila dikonversi ke nilai emas saat ini (sekitar Rp1.200.000 per gram), maka harga seekor unta mencapai sekitar Rp510-900 juta. Ini menunjukkan bahwa unta merupakan hewan ternak yang sangat berharga dan prestisius pada masa itu, tidak hanya sebagai alat transportasi, tetapi juga simbol kekayaan dan pengorbanan.

Dengan nilai tersebut, satu ekor unta di zaman Nabi setara dengan harga mobil Eropa kelas atas masa kini seperti BMW, Mercedes-Benz, atau Volkswagen. Sebagai contoh, BMW 320i terbaru dibanderol sekitar Rp970 juta, sedangkan Mercedes-Benz A200 sekitar Rp950 juta. Maka, pengorbanan Rasulullah yang menyembelih 100 ekor unta dalam ibadah kurban setara dengan menyumbangkan lebih dari Rp50-90 miliar saat ini, sebuah bentuk ibadah yang luar biasa dermawan namun tetap dibarengi dengan gaya hidup yang sangat sederhana.

Hal ini menunjukkan betapa besarnya keikhlasan dan kecintaan Rasulullah terhadap ibadah kepada Allah, bukan pada harta dunia. Meski mampu berkurban dalam jumlah fantastis, beliau tidak hidup dalam kemewahan. Justru kehidupan beliau penuh kesahajaan, tidur di atas pelepah kurma, dan pakaian yang tambal sulam. Inilah teladan agung dalam berkurban: bukan soal seberapa banyak harta dimiliki, tapi seberapa besar keikhlasan kita untuk menyerahkan yang terbaik bagi Allah.

Pendapat para ulama 

Para ulama sepakat bahwa tindakan Rasulullah SAW menyembelih 100 ekor unta dalam ibadah kurban adalah bentuk pengorbanan yang sangat mulia dan tidak wajib diikuti secara jumlah oleh umatnya. Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, perbuatan Nabi tersebut menunjukkan keutamaan dan kesempurnaan dalam ibadah, bukan sebagai batas minimal atau standar wajib kurban. Hal itu mencerminkan bahwa Rasulullah SAW ingin menunjukkan makna pengorbanan yang maksimal kepada Allah SWT dan memberi makan umat dengan daging kurban tersebut.

Imam Ibn Qudamah dalam al-Mughni menjelaskan bahwa kurban adalah ibadah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), namun Rasulullah melaksanakannya dalam bentuk yang luar biasa besar untuk menunjukkan semangat berkurban yang ideal. Beliau tidak hanya menyembelih satu atau dua ekor, tetapi seratus unta sebagai bentuk sedekah besar-besaran kepada umat dan sebagai simbol kepemimpinan yang memberi teladan. Menurutnya, jumlah itu menunjukkan keluasan hati Rasulullah dalam memberi, bukan sebagai syarat jumlah kurban yang harus diikuti oleh umat.

Sementara itu, Imam Malik dalam al-Muwaththa’ menganggap bahwa berkurban dalam jumlah besar seperti yang dilakukan Rasulullah menunjukkan bahwa harta di tangan seorang mukmin bukan untuk dikumpulkan semata, tapi digunakan untuk kepentingan akhirat dan kemaslahatan umat. Kurban sebanyak itu mengandung pesan dakwah sosial dan spiritual: bahwa kekayaan bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dimanfaatkan di jalan Allah. Hal ini sesuai dengan semangat syariat Islam yang mendorong pemanfaatan harta untuk kebaikan umat, bukan untuk kemewahan pribadi.

Imam Asy-Syafi’i dalam al-Umm menegaskan bahwa sebaik-baik kurban adalah yang dilakukan dengan niat tulus dan diberikan dari harta terbaik. Kurban Rasulullah dengan 100 unta menjadi simbol teladan dalam berinfak: banyak, berkualitas, dan ikhlas. Ia juga menggarisbawahi bahwa berkurban meski hanya dengan seekor kambing tetap sah dan berpahala, karena yang dinilai adalah niat dan kemampuan, bukan jumlah semata. Para ulama empat mazhab sepakat bahwa apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW adalah bentuk kesempurnaan ibadah, bukan kewajiban yang membebani umat.

Keutamaan Berkurban dalam Islam 

Berkurban merupakan salah satu amalan mulia yang diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kurban adalah ibadah yang erat kaitannya dengan rasa syukur atas nikmat Allah dan bentuk ketakwaan yang nyata.

Selain itu, dalam hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan rambut-rambutnya. Dan sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah.” (HR. Tirmidzi no. 1493, hasan).

Keutamaan lain dari kurban adalah sebagai penghapus dosa dan penambah pahala. Dalam hadits lain disebutkan bahwa setiap helai rambut dari hewan kurban akan mendatangkan pahala bagi orang yang berkurban. Ini adalah ibadah yang bukan hanya simbolis, tetapi sangat berat nilainya di sisi Allah SWT.

Kurban juga memiliki dimensi sosial yang tinggi. Daging kurban didistribusikan kepada kaum miskin dan fakir, sehingga mereka bisa turut merasakan nikmat makanan bergizi pada hari raya. Maka kurban bukan hanya ibadah pribadi, melainkan juga bentuk kepedulian sosial yang menyejahterakan umat.

Bagaimana Kita Meneladani Nabi Muhammad SAW ?

Meneladani Rasulullah SAW dalam ibadah kurban bukan berarti harus menyembelih 100 ekor hewan, melainkan menyesuaikan kemampuan dan niat tulus kita. Bagi yang mampu, memperbanyak hewan kurban adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Namun bagi yang tidak mampu, berusaha menyisihkan sebagian rezeki demi bisa berkurban seekor kambing pun sudah termasuk meneladani beliau.

Kita juga bisa meneladani Rasulullah SAW dari sisi keikhlasan dan pengorbanan. Rasulullah tidak berkurban untuk pamer atau menunjukkan kekayaan, melainkan murni karena cintanya kepada Allah. Maka dalam berkurban, niat kita harus lurus, bukan karena riya’, tradisi semata, atau tekanan sosial.

Di zaman modern ini, sebagian orang lebih memilih membelanjakan hartanya untuk hal-hal konsumtif, sementara ibadah seperti kurban dinomorduakan. Meneladani Nabi berarti mendahulukan perintah Allah di atas keinginan duniawi. Kurban menjadi bukti bahwa kita rela mengorbankan sebagian harta untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Anak-anak kita juga perlu dikenalkan makna kurban sejak dini. Orang tua bisa menanamkan kisah teladan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, hingga Rasulullah SAW yang menyembelih 100 unta. Dari situ, akan tumbuh generasi yang cinta beribadah, cinta berbagi, dan mencintai sunnah Nabi.

Kesimpulan

Nabi Muhammad SAW adalah sosok teladan sempurna yang meskipun hidup dalam kesederhanaan, menunjukkan pengorbanan luar biasa dalam ibadah, termasuk berkurban. Menyembelih 100 ekor unta dalam Haji Wada’ adalah simbol ketakwaan, cinta kepada Allah, dan kemuliaan akhlak beliau. Berkurban bukan semata ritual, tapi bentuk penghambaan yang sejati.

Sebagai umat Islam, kita diajak untuk meneladani semangat, keikhlasan, dan pengorbanan Rasulullah dalam setiap ibadah. Meski tidak bisa menyamai beliau dal)am jumlah, kita bisa meniru ketulusannya. Semoga kurban kita diterima Allah dan menjadi sarana mendekat kepada-Nya serta memperkuat solidaritas sosial umat Islam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *