Idul Adha adalah hari raya besar umat Islam yang penuh makna pengorbanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW tidak hanya memerintahkannya, tetapi juga memberikan teladan langsung melalui pelaksanaan qurban, shalat Id, dan adab-adab agung yang diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih bernomor. Tulisan ini mengulas praktik Rasulullah SAW dalam merayakan Idul Adha, disertai kutipan hadits shahih yang dapat menjadi pedoman umat.
Idul Adha mengingatkan kita pada pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang rela menyerahkan putranya demi ketaatan kepada Allah. Rasulullah SAW menghidupkan nilai-nilai ini melalui syariat qurban, shalat Id, dan ajaran-ajaran penting lainnya. Dalam hadits-hadits shahih, tercatat detail-detail pelaksanaan yang beliau teladankan.
Dengan memahami sunnah beliau yang tercatat dalam hadits shahih, umat Islam tidak hanya menjalankan kewajiban formal, tetapi juga meresapi nilai-nilai luhur Idul Adha. Momentum ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga sarana memperkuat iman dan persaudaraan.
Rasulullah SAW mandi sebelum berangkat shalat Id, memakai pakaian terbaik, dan mengenakan wewangian. Hal ini disebutkan dalam hadits shahih (HR. Ibnu Majah No. 1315). Beliau kemudian berjalan menuju tanah lapang untuk shalat, menunjukkan pentingnya berjamaah dalam syiar Islam.
Dalam hadits shahih (HR. Bukhari No. 324), Rasulullah SAW memerintahkan seluruh umat, termasuk perempuan haid, untuk hadir di lapangan agar mereka dapat mendengarkan khutbah dan ikut merasakan kebersamaan. Hal ini menegaskan bahwa Idul Adha adalah hari kegembiraan bagi semua.
Rasulullah SAW mengumandangkan takbir sejak malam Idul Adha hingga akhir hari tasyriq, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih (HR. Daruquthni No. 1711). Takbir dikumandangkan di masjid, rumah, bahkan jalanan, menandai kemuliaan hari-hari besar ini.
Beliau menyembelih hewan qurban dengan tangannya sendiri, sebagaimana tercatat dalam hadits shahih (HR. Bukhari No. 5565), dua ekor kambing putih bertanduk. Sebelum memotong, beliau membaca bismillah dan takbir, serta mengarahkan hewan ke arah kiblat.
Dalam hadits shahih (HR. Muslim No. 1961), Rasulullah SAW mengajarkan agar pisau ditajamkan jauh dari hewan, dan hewan direbahkan dengan lembut tanpa diseret atau dipukul. Semua ini untuk menjaga martabat hewan dan mengurangi penderitaannya.
Beliau memerintahkan umatnya untuk memakan sebagian daging qurban, menghadiahkan sebagian, dan menyedekahkan sebagian kepada fakir miskin, sebagaimana hadits shahih (HR. Ahmad No. 17241). Ini menunjukkan pentingnya berbagi dalam keberkahan.
Hari-hari tasyriq diisi dengan takbir dan dzikir, sesuai hadits shahih (HR. Muslim No. 1141), di mana Rasulullah SAW mengingatkan umat agar tidak lalai dalam beribadah dan menjaga lisan selama hari-hari suci ini.
Kesederhanaan Rasulullah SAW terlihat dalam perayaan Idul Adha, sebagaimana hadits shahih (HR. Abu Dawud No. 1155), di mana beliau mengingatkan untuk tidak berlebihan dalam berhias atau berpesta, tetapi memfokuskan diri pada ibadah dan syukur.
Beliau juga mendidik anak-anak untuk menyaksikan pelaksanaan qurban agar mereka belajar makna pengorbanan dan ketulusan. Hal ini menjadi pendidikan spiritual yang mendalam bagi generasi penerus.
Rasulullah SAW senantiasa memperbaharui niat dan berdzikir sepanjang perayaan Idul Adha, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih lainnya, menegaskan bahwa ibadah ini bukan soal ritual, tetapi soal ketundukan hati kepada Allah.
Dalam gemuruh takbir dan semburan darah qurban, Rasulullah SAW meninggalkan teladan luhur: Idul Adha adalah pesta iman, bukan sekadar potong daging; mari kita rawat warisan ini dengan hati yang ikhlas, lisan yang berdzikir, dan jiwa yang tunduk pada Sang Khalik.
















Leave a Reply