MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Hadits dan Sains Astronomi: Penciptaan Alam Semesta dalam Dialog Kosmologi Islam dan Sains Modern

Hadits Shahih dan Sains Astronomi: Penciptaan Alam Semesta dalam Dialog Kosmologi Islam dan Sains Modern

Review dr Widodo Judarwanto

Penelitian ini mengeksplorasi narasi penciptaan alam semesta dalam tradisi hadits shahih dan relevansinya dengan temuan kosmologi modern. Dengan pendekatan kajian literatur ilmiah dan analisis konseptual, artikel ini menunjukkan bagaimana makna hadits tentang permulaan ciptaan dapat dipahami dalam konteks kosmologi kontemporer—termasuk teori ekspansi alam semesta (Big Bang) dan prinsip-prinsip struktur kosmos yang lengkap. Hasil kajian menegaskan bahwa meskipun hadits tidak diposisikan sebagai teks sains, keterkaitan struktural dengan temuan astronomi modern dapat dianalisis secara ilmiah tanpa mereduksi nilai wahyu sebagai sumber kebenaran utama.

Kata kunci: Hadits Shahih, Kosmologi Islam, Astronomi, Penciptaan Alam Semesta, Sains Modern


Kajian asal-usul alam semesta dalam kosmologi modern berpusat pada model Big Bang, yang menyatakan bahwa alam semesta bermula dari kondisi sangat padat dan panas, kemudian berkembang melalui proses ekspansi yang masih berlangsung hingga kini. Model ini didukung oleh bukti empiris seperti radiasi latar gelombang mikro kosmik, pergeseran merah galaksi, serta distribusi unsur-unsur ringan. Kosmologi modern dengan demikian memandang alam semesta sebagai entitas dinamis yang memiliki titik awal, tunduk pada hukum fisika yang konsisten, dan dapat diteliti melalui observasi serta pemodelan matematis.

Dalam tradisi Islam, asal-usul alam semesta dipahami melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa alam diciptakan oleh Allah dengan keteraturan dan tujuan. Meskipun hadits tidak dimaksudkan sebagai literatur sains, kajian ilmiah kontemporer berupaya membaca konsep kosmologi Islam secara kontekstual dan epistemologis, bukan literal-teknis. Pendekatan ini membuka ruang dialog konstruktif antara wahyu dan sains modern, di mana sains menjelaskan mekanisme penciptaan alam, sementara wahyu memberikan kerangka makna, tujuan, dan etika dalam memahami realitas kosmos secara holistik.

Hadits tentang Awal Penciptaan

Salah satu hadits shahih yang menjadi dasar utama pembahasan awal penciptaan adalah hadits riwayat al-Bukhari no. 7418 dan Muslim no. 2651 dari ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda: “كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ” — “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun selain-Nya.” Hadits ini secara tegas menegaskan prinsip creatio ex nihilo, bahwa Allah ada sebelum segala sesuatu dan seluruh alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil kuat atas keazalian Allah dan kebaruan alam, sekaligus membantah pandangan filsafat yang menganggap alam bersifat qadim.

Hadits lain yang menjelaskan tatanan kosmik sebelum penciptaan fisik alam semesta diriwayatkan oleh Muslim no. 2653 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda: “كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ” — “Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” Imam al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan penciptaan alam berjalan berdasarkan ilmu, kehendak, dan perencanaan ilahi yang sempurna, bukan secara kebetulan atau tanpa hukum.

Dalam konteks awal penciptaan, terdapat pula hadits riwayat Abu Dawud no. 4700, al-Tirmidzi no. 2155, dan dinilai hasan–shahih oleh al-Albani, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ” — “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena.” Para ulama seperti al-Bayhaqi dan Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa hadits ini berkaitan dengan awal pencatatan takdir dan sistem kosmos, bukan berarti pena adalah makhluk pertama secara mutlak dari seluruh ciptaan. Perbedaan penafsiran ini menunjukkan bahwa hadits penciptaan memiliki dimensi metafisik yang tidak selalu identik dengan urutan kronologis material.

Dengan merujuk pada hadits-hadits shahih beserta penjelasan para ulama, dapat disimpulkan bahwa narasi awal penciptaan dalam sunnah Nabi ﷺ bersifat teologis-kosmologis, bukan deskripsi teknis astronomi. Hadits-hadits tersebut menegaskan keesaan dan keazalian Allah, kebaruan alam semesta, serta keteraturan kosmos yang tunduk pada sunnatullah. Pendekatan ini selaras dengan prinsip kosmologi Islam dan memungkinkan dialog ilmiah yang proporsional dengan kosmologi modern tanpa mereduksi kedudukan wahyu sebagai sumber kebenaran utama.

Konsep Langit dan Alam Raya dalam Islam dan Sains

Dalam literatur Islam, istilah as-samā’ (langit) tidak selalu dipahami sebagai satu lapisan fisik semata, melainkan sebagai istilah kosmik yang mencakup seluruh ruang di atas bumi, termasuk benda-benda langit dan sistem keteraturannya. Al-Qur’an dan hadits menggunakan bahasa yang komunikatif sesuai dengan pemahaman manusia lintas zaman, namun tetap menegaskan bahwa langit diciptakan dengan keteraturan (bi al-ḥaqq) dan hukum yang tetap (sunnatullah). Mustofa Umar (2016) menegaskan bahwa konsep kosmos dalam Islam bersifat teleologis dan sistemik, yakni alam raya dipahami sebagai ciptaan yang tunduk pada hukum ilahi, sejalan dengan pandangan sains modern yang menekankan keteraturan hukum fisika dalam struktur alam semesta.

Dari sudut pandang astronomi modern, alam semesta dipahami sebagai entitas dinamis yang tersusun atas galaksi, bintang, planet, gas, dan energi gelap yang saling berinteraksi melalui hukum gravitasi dan fisika fundamental. Penemuan Edwin Hubble tentang ekspansi alam semesta, yang diperkuat oleh pengamatan pergeseran merah (redshift) galaksi, menunjukkan bahwa ruang itu sendiri mengembang. Konsep ini menunjukkan bahwa langit bukan struktur statis, melainkan sistem kosmik yang aktif dan berkembang. Secara konseptual, hal ini sejalan dengan gambaran Islam tentang langit sebagai ciptaan yang “dibangun” dan “diperluas” oleh kehendak Allah, meskipun teks keagamaan tidak dimaksudkan sebagai uraian teknis astronomi.

Teori Big Bang sebagai model kosmologi dominan saat ini menjelaskan bahwa alam semesta bermula dari keadaan sangat padat dan panas sekitar 13,8 miliar tahun lalu, kemudian mengembang dan mendingin hingga membentuk struktur kosmik yang kita amati sekarang. Bukti ilmiah utama teori ini meliputi radiasi latar gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background), distribusi unsur ringan seperti hidrogen dan helium, serta struktur skala besar galaksi. Walaupun hadits Nabi ﷺ tidak membahas detail ilmiah ini, prinsip dasar bahwa alam semesta memiliki awal dan berjalan sesuai hukum yang konsisten memiliki korespondensi konseptual dengan kosmologi modern, terutama dalam penolakan terhadap gagasan alam semesta yang bersifat kekal tanpa pencipta.

Dengan demikian, dialog antara konsep langit dan alam raya dalam Islam dan sains tidak terletak pada pencocokan literal istilah, melainkan pada keselarasan paradigma. Islam menempatkan kosmos sebagai tanda kebesaran Allah (āyāt kauniyyah), sementara sains mengkaji mekanisme dan hukum yang mengatur tanda-tanda tersebut. Pendekatan ini memungkinkan integrasi epistemologis yang sehat, di mana sains memperkuat kesadaran akan keteraturan alam, dan agama memberikan makna, tujuan, serta kerangka etis dalam memahami alam semesta sebagai ciptaan yang terarah dan bermakna.

Keselarasan dengan Kosmologi Modern

Kosmologi dalam tradisi Islam memandang alam semesta sebagai sistem yang diciptakan secara berlapis, teratur, dan bertujuan. Struktur kosmos tidak dipahami sebagai kekacauan acak, melainkan sebagai tatanan yang tunduk pada sunnatullah—hukum-hukum ilahi yang konsisten. Perspektif ini memiliki korespondensi konseptual dengan kosmologi modern yang menggambarkan alam semesta sebagai sistem hierarkis, mulai dari partikel subatomik, bintang, galaksi, hingga struktur kosmik skala besar seperti cosmic web. Keteraturan ini dalam sains dijelaskan melalui hukum fisika fundamental, sementara dalam Islam dipahami sebagai manifestasi kehendak dan kebijaksanaan Sang Pencipta.

Penelitian kosmologi modern menunjukkan bahwa alam semesta bersifat dinamis dan terus berevolusi sejak fase awal Big Bang. Penemuan ekspansi alam semesta, energi gelap, dan struktur berlapis galaksi memperlihatkan bahwa kosmos tidak statis, melainkan berkembang mengikuti hukum yang presisi. Narasi hadits dan ayat-ayat kauniyyah tidak menjelaskan detail matematis fenomena tersebut, namun menegaskan prinsip bahwa alam diciptakan “dengan ukuran” (bi qadar) dan keseimbangan. Secara ilmiah, keseimbangan ini tercermin dalam konstanta fisika yang sangat presisi; perubahan kecil saja pada konstanta tersebut akan membuat alam semesta tidak layak menopang struktur materi maupun kehidupan.

Kajian kontemporer, termasuk studi Nadiatul Mardiyah dkk. (2025), menyoroti bahwa relasi antara keteraturan kosmos dan hukum fisika dapat dibaca sebagai sinergi konseptual antara wahyu dan sains. Dalam pendekatan ini, wahyu memberikan kerangka makna dan tujuan kosmik, sedangkan sains menjelaskan mekanisme empirisnya. Misalnya, konsep kausalitas dan hukum alam dalam fisika modern sejalan dengan pandangan Islam bahwa alam bekerja menurut ketetapan Allah yang konsisten dan dapat dipelajari. Hal ini menolak dikotomi ekstrem antara penjelasan ilmiah dan keyakinan teologis.

Dengan demikian, keselarasan antara kosmologi Islam dan kosmologi modern tidak terletak pada klaim bahwa teks agama memuat teori ilmiah spesifik, melainkan pada kesesuaian paradigma dasar: alam semesta memiliki awal, keteraturan, hukum yang konsisten, dan tujuan. Pendekatan holistik ini memungkinkan sains dan agama berjalan berdampingan—sains memperluas pemahaman manusia tentang bagaimana alam bekerja, sementara Islam memberikan jawaban mengapa alam itu ada dan bagaimana manusia seharusnya bersikap di dalam tatanan kosmik tersebut.

Kesimpulan

Penciptaan alam semesta dalam perspektif hadits shahih bukan sebagai teks ilmiah semata, melainkan sebagai narasi teologis yang memberi makna pada eksistensi kosmos. Kajian literatur ilmiah menunjukkan bahwa ada keselarasan konseptual antara narasi hadits dan struktur kosmologi modern seperti teorii Big Bang dan hukum-hukum fisika alam semesta. Relasi antara wahyu dan sains tidak bersifat kontradiktif, tetapi integratif ketika pendekatannya proporsional: eksplorasi fenomena alam dengan sains modern dan tafsir hadits dengan metodologi ilmiah yang kontekstual dan historis.

Daftar Pustaka 

  • Umar M. Konvergensi Agama dan Sains dalam Melacak Basis Ontologi Semesta: Tinjauan Hermeneutika Hadis Penciptaan. J Theologia. 2016;27(1). doi:10.21580/teo.2016.27.1.925 (Rajawali Journal)
  • Khalid I, Siddiqui A. Islamic Cosmology and the Scientific Understanding of the Universe: A Comparative Study. Int J Universe Humanity Isl Vision Perspect. 2025;2(1). (Research Corridor)
  • Danusiri. Cosmogony in the Perspective of the Prophet of Muhammad’s Utterances. Innovatio J Relig Innov Stud. 2023;21(2). (Innovatio)
  • Mardiyah N, Raidalliani S, Al-Munir R, Muhajir M, Tamami MZ. The correlation of Islamic thought with relativity and cosmology. J Ilmu Pendidik Sains Islam Interdisiplin. 2025;2(4). doi:10.59944/jipsi.v2i4.237 (Amor Fati)
  • Juabdin HS. Alam Semesta dalam Persepektif Al-Qur’an dan Hadits. Al-Tadzkiyyah J Pendidik Islam. 2024;7(2). doi:10.24042/atjpi.v7i2.1507 (ejournal.radenintan.ac.id)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *