MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Bagaimana Menghadapi Erra Post-Truth atau Zaman Fitnah Menurut Ulama ?

Bagaimana Menghadapi Erra Post-Truth atau Zaman Fitnah Menurut Ulama ? Dr Widodo Judarwanto. 

Era post-truth ditandai dengan dominasi emosi dan opini pribadi atas fakta objektif, menciptakan kabut kebenaran yang mengaburkan penilaian rasional masyarakat. Dalam perspektif Islam, kondisi ini sangat beririsan dengan zaman fitnah—masa ketika kebatilan dibungkus seolah kebenaran, dan kebenaran menjadi asing di tengah masyarakat. Artikel ini mengeksplorasi makna post-truth menurut sains dan contoh sehari-hari, lalu membandingkannya dengan konsep zaman fitnah dalam Islam. Melalui pandangan ulama, ditawarkan pula langkah-langkah konkret dalam menghadapi tantangan zaman ini agar umat tetap teguh di atas kebenaran yang hakiki.

Dunia kini menghadapi perubahan besar dalam cara manusia menerima dan menyikapi informasi. Era post-truth membuat masyarakat lebih percaya pada emosi dan keyakinan pribadi daripada data dan fakta objektif. Media sosial menjadi lahan subur untuk disinformasi, fitnah, dan manipulasi persepsi publik, yang kemudian membentuk opini massa yang sulit dibendung. Akibatnya, kebenaran menjadi relatif, dan masyarakat menjadi terpolarisasi oleh narasi yang belum tentu valid.

Fenomena ini sejatinya bukanlah hal baru. Islam telah lama memperingatkan tentang datangnya zaman fitnah, masa penuh kebingungan, fitnah tersembunyi, dan kemunculan pemimpin atau informasi yang menyesatkan. Dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, fitnah digambarkan sebagai ujian besar yang membuat manusia sulit membedakan antara hak dan batil. Maka, memahami era post-truth dalam cahaya wahyu menjadi penting agar umat tidak terombang-ambing oleh gelombang kebohongan yang dibungkus indah.


Post-Truth Menurut Sains 

Istilah “post-truth” merujuk pada keadaan ketika kebenaran objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan pribadi. Dalam ilmu komunikasi dan psikologi sosial, hal ini dikenal sebagai confirmation bias, yakni kecenderungan individu untuk menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan menolak fakta yang bertentangan, meskipun telah terbukti. Situasi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang menyajikan informasi secara selektif, sehingga memperkuat ilusi kebenaran subjektif.

Contoh nyata post-truth dapat kita lihat dalam dunia politik, kesehatan, dan agama. Berita palsu yang menyebar lebih cepat daripada klarifikasinya menciptakan keresahan massal. Ketika pandemi, misalnya, hoaks tentang vaksin dan teori konspirasi lebih dipercaya oleh sebagian orang dibandingkan pernyataan lembaga medis resmi. Dalam isu keagamaan, potongan ceramah atau ayat dipelintir untuk membenarkan ideologi tertentu, membuat masyarakat salah paham terhadap ajaran Islam.

Dampak post-truth sangat nyata dalam kehidupan sosial. Kepercayaan publik terhadap institusi melemah, fitnah merajalela, dan konflik horizontal meningkat. Perbedaan pandangan bukan lagi didiskusikan secara ilmiah, tetapi dijadikan bahan untuk saling mencaci. Kebenaran tidak lagi dicari, melainkan dikarang untuk mendukung ego dan kepentingan pribadi atau kelompok.


Post-Truth sebagai Zaman Fitnah Menurut Islam

Islam mengenal istilah zaman fitnah, yakni masa di mana banyak dusta beredar, kebenaran menjadi langka, dan kebatilan dihias seolah kebenaran. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipuan. Orang yang jujur dianggap dusta, dan pendusta dianggap jujur, orang yang amanah dikhianati dan pengkhianat dipercaya. Dan akan berbicara orang-orang Ruwaibidhah.” Para sahabat bertanya, “Siapa itu Ruwaibidhah?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan umum.” (HR. Ibnu Majah).

Zaman fitnah adalah masa ketika orang tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Semua orang merasa benar, padahal banyak berbicara tanpa ilmu. Ini mirip dengan kondisi post-truth, di mana informasi yang viral dianggap benar meski tanpa bukti. Kebenaran bukan lagi dilihat dari hujjah, tetapi dari seberapa besar pengaruh yang dimiliki si penyebar berita.

Al-Qur’an mengingatkan dalam QS. Al-Anfal: 25: “Takutlah kalian akan fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian saja…” Ini menunjukkan bahwa fitnah bisa menimpa seluruh masyarakat jika tidak ada yang peduli pada kebenaran. Maka, post-truth bukan hanya tantangan teknologi dan informasi, tetapi juga ujian keimanan dan akhlak.


Menghadapi Era Post-Truth Menurut Ulama

Para ulama menekankan pentingnya tatsabbut (verifikasi) dalam menerima informasi. Sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Hujurat: 6: “Wahai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…” Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menjadi landasan penting dalam menyikapi kabar, agar tidak tergesa-gesa dan tidak menyesal karena bertindak salah akibat informasi yang keliru.

Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), karena hati yang bersih tidak akan mudah tertipu oleh fitnah atau kebohongan. Hati yang penuh kesombongan dan fanatisme justru menjadi pintu masuk syubhat dan syahwat, dua hal yang sangat berbahaya di era post-truth. Maka, membangun integritas dan kejernihan hati adalah benteng pertama menghadapi zaman kebingungan ini.

Ulama kontemporer seperti Syekh Salman al-Audah menekankan pentingnya literasi media dalam Islam. Menurutnya, umat Islam harus cerdas dan kritis, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Ia juga menekankan bahwa mencintai kebenaran lebih penting daripada membela identitas kelompok. Dalam era post-truth, kebenaran bukan milik golongan, tetapi milik Allah yang harus ditegakkan dengan ilmu dan hikmah.

Dalam pandangan ulama, menjaga lisan dan jari (dalam konteks media digital) adalah ibadah besar di zaman ini. Tidak semua yang kita dengar perlu dibagikan. Nabi SAW bersabda: “Cukuplah seseorang berdosa jika ia menyampaikan segala yang ia dengar.” (HR. Muslim). Maka, menahan diri adalah bentuk taqwa yang tinggi di tengah derasnya arus hoaks.

Ulama juga menyerukan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman ulama yang lurus (salafush shalih). Karena hanya dengan panduan wahyu, umat bisa membedakan antara cahaya dan gelap, antara kebenaran dan ilusi. Tanpa itu, manusia akan mudah menjadi korban propaganda dan fitnah yang disusun dengan sangat halus.


Kesimpulan

Era post-truth bukan hanya ujian intelektual, tetapi juga spiritual. Ketika fakta dibungkam dan emosi dijadikan alat pembenaran, maka yang lahir adalah masyarakat yang terombang-ambing dalam kabut fitnah. Islam sudah mengantisipasi zaman ini dengan peringatan tentang zaman fitnah, dan mengajarkan prinsip-prinsip kokoh agar umat tetap tegar. Kembali kepada Al-Qur’an, memperdalam ilmu, menjaga lisan, dan membersihkan hati adalah langkah utama untuk selamat.


Saran

Mari kita jadikan setiap informasi yang datang sebagai ladang muhasabah, bukan bahan konsumsi yang langsung disebarkan. Latihlah diri untuk berpikir jernih, menimbang sebelum menyimpulkan, dan mengedepankan keadilan di atas emosi. Karena kebijaksanaan lahir dari kesabaran, dan kebenaran akan bersinar bagi siapa pun yang tulus mencarinya.

Dalam derasnya badai informasi, jadilah lentera kecil yang menerangi sekitar, meski hanya dengan satu pesan kebenaran. Hati yang jujur dan akal yang tajam akan selalu menemukan jalan dalam gelapnya zaman fitnah. Sebab dalam setiap fitnah, Allah menyiapkan pahala besar bagi mereka yang tetap berpegang pada kebenaran.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *