MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Dakwah Terbuka Nabi Pertama Kali Kepada Kaum Quraisy

 

Dakwah Nabi Muhammad SAW kepada masyarakat Quraisy pada fase terbuja atau terang-terangan merupakan momen transformatif dalam sejarah Islam. Setelah tiga tahun berdakwah secara sembunyi-sembunyi, Nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk secara terbuka menyeru kaumnya kepada tauhid. Berdasarkan riwayat sahih dari Bukhari No. 4953, momen ini ditandai dengan seruan di Bukit Shafa, yang membawa konsekuensi besar berupa tantangan, penolakan, hingga permusuhan dari kaum Quraisy. Tulisan ini mengulas kisah dakwah terang-terangan menurut hadits, pandangan para ulama, serta menggali hikmah dan pelajaran berharga dari peristiwa monumental ini.

Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Nabi Muhammad SAW mengemban tugas suci untuk menyampaikan risalah Islam. Pada tahap awal, beliau melakukannya secara sembunyi-sembunyi, membina para sahabat dalam lingkaran kecil yang penuh kehati-hatian. Namun, setelah beberapa waktu, turunlah perintah Allah agar beliau berdakwah secara terang-terangan kepada kaumnya, meskipun hal itu berisiko menimbulkan permusuhan dan tekanan dari masyarakat Quraisy.

Perintah untuk berdakwah terbuka mengandung dimensi keberanian spiritual, sosial, dan strategi dakwah yang luar biasa. Nabi Muhammad SAW tidak hanya memperkenalkan konsep ketauhidan di tengah masyarakat jahiliyah, tetapi juga mengguncang struktur sosial dan budaya yang telah lama mengakar. Fase ini menjadi tonggak awal dalam perjuangan Islam yang lebih luas dan sistematis.

Kisah Menurut Hadits dan Sunnah

Dalam Shahih Bukhari No. 4953, disebutkan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memperingatkan kaum kerabatnya yang terdekat. Nabi pun naik ke Bukit Shafa dan menyeru kaumnya dengan suara lantang. Ia memanggil seluruh kabilah Quraisy, termasuk Bani Fahr dan Bani Adiy, hingga semua berkumpul untuk mendengarkan.

Nabi berkata kepada mereka, “Wahai Bani Abdul Muththalib, wahai Bani Fihr, wahai Bani Ka’b! Jika aku katakan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini hendak menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab serentak, “Kami percaya, engkau tidak pernah berdusta.” Nabi kemudian menyampaikan peringatan keras tentang azab Allah dan menyeru mereka untuk beriman.

Di tengah kerumunan itu, pamannya sendiri, Abu Lahab, dengan kasar menanggapi seruan Nabi dengan mengatakan, “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?” Karena reaksi ini, Allah menurunkan Surah Al-Lahab yang mengecam Abu Lahab dan istrinya.

Kisah ini menunjukkan keberanian Nabi dalam memikul beban risalah tanpa rasa takut. Ia memprioritaskan kebenaran meskipun harus berhadapan dengan keluarga dan bangsanya sendiri yang belum siap menerima ajaran tauhid.

Setelah seruan di Bukit Shafa, dakwah Nabi menjadi lebih luas. Nabi mengunjungi pasar-pasar, pertemuan-pertemuan umum, bahkan mendatangi rumah-rumah untuk menyeru manusia kepada Islam. Namun respons yang diterima lebih banyak berupa penolakan, ejekan, hingga penganiayaan.

Di antara yang paling keras menentang adalah para pemimpin Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan Walid bin Mughirah. Mereka menggunakan segala cara, dari intimidasi, ancaman ekonomi, hingga kekerasan fisik untuk menghentikan laju dakwah Nabi.

Namun demikian, di tengah badai penolakan, segelintir orang mulai masuk Islam secara terang-terangan pula. Mereka yang awalnya menerima dakwah sembunyi-sembunyi kini menunjukkan keislaman mereka di hadapan umum, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan lainnya.

Dakwah terang-terangan ini membuka babak baru dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW. Ia bukan hanya mengajak kepada Islam, tapi juga membangun fondasi komunitas muslim yang kuat, sabar, dan terlatih dalam menghadapi ujian berat.

Pandangan Para Ulama

Para ulama menilai peristiwa dakwah terang-terangan ini sebagai titik balik yang strategis. Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, seruan Nabi di Bukit Shafa adalah bentuk pelaksanaan nyata dari perintah Allah dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 214: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” Ini membuktikan pentingnya mendahulukan keluarga dalam dakwah.

Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Raheeq Al-Makhtum menjelaskan bahwa metode Nabi berdakwah saat itu sangat efektif: menggunakan pendekatan rasional (bertanya tentang kepercayaan mereka terhadap kredibilitasnya) sebelum menyampaikan risalah. Ini menjadi pelajaran penting dalam strategi komunikasi dakwah.

Imam Nawawi dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim menyebutkan bahwa sikap Abu Lahab dan para pembesar Quraisy adalah bentuk nyata kedengkian dan kesombongan, bukan karena keraguan terhadap kebenaran risalah Nabi. Mereka menolak lebih karena takut kehilangan kedudukan dan pengaruh.

Dalam pandangan Al-Ghazali, keberanian Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam secara terang-terangan mengajarkan nilai keikhlasan yang paripurna. Beliau tidak mengharap pujian manusia atau keuntungan duniawi, melainkan semata-mata memenuhi amanat Allah.

Sebagian ulama kontemporer, seperti Dr. Raghib As-Sirjani, menegaskan bahwa perubahan metode dakwah ini menunjukkan fleksibilitas strategi Nabi dalam menyikapi dinamika sosial. Ketika umat telah cukup kuat, maka sudah saatnya dakwah diangkat ke permukaan, meskipun risiko semakin besar.

Dakwah terang-terangan Nabi Muhammad SAW kepada Quraisy bukan hanya sebuah langkah berani, melainkan juga contoh kedisiplinan spiritual dan ketangguhan dalam menyampaikan kebenaran. Dengan memulai dari kerabat terdekat, Nabi menegaskan pentingnya dakwah dari lingkungan terkecil sebelum meluas ke masyarakat yang lebih besar.

Peristiwa ini mengajarkan kepada umat Islam tentang pentingnya keberanian dalam memperjuangkan kebenaran, kesabaran menghadapi rintangan, serta kecerdasan dalam memilih strategi dakwah yang sesuai dengan kondisi zaman dan situasi. Jejak Nabi Muhammad SAW dalam dakwah ini tetap menjadi inspirasi abadi bagi seluruh generasi muslim hingga hari kiamat.


 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *