Peristiwa penerimaan wahyu pertama oleh Nabi Muhammad SAW di Gua Hira merupakan momen agung yang menjadi titik awal risalah kenabian dalam Islam. Terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, momen ini menandai dimulainya tugas kerasulan yang membawa perubahan besar bagi umat manusia. Gua Hira di Jabal Nur menjadi saksi bisu turunnya ayat-ayat pertama Al-Qur’an, dan hingga kini tetap menjadi tempat yang penuh makna religius bagi umat Islam. Artikel ini akan mengupas tentang tempat bersejarah tersebut, kisah penerimaan wahyu menurut hadis sahih, pandangan ulama, serta kesimpulan dari peristiwa monumental ini.
Pada tanggal 17 Ramadhan, yang bertepatan dengan 6 Agustus tahun 610 Masehi, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira, sebuah tempat yang terletak di Gunung Jabal Nur, tidak jauh dari Kota Makkah. Pada saat itu, usia beliau sekitar 40 tahun lebih beberapa bulan. Peristiwa ini mengukuhkan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, meski dalam kesempatan ini kita tidak membahas detail prosesi pengangkatannya, melainkan lebih fokus pada tempat dan momen agung saat turunnya wahyu.
Gua Hira menjadi tempat sakral yang tak hanya dikenal sebagai lokasi turunnya wahyu, tetapi juga simbol ketenangan dan kesunyian yang menjadi latar kontemplasi spiritual Rasulullah. Memahami latar belakang sejarah dan suasana Gua Hira memberi kita gambaran yang lebih utuh tentang betapa berat dan agungnya tugas yang mulai diemban Rasulullah sejak malam itu.
Kisah Wahyu Pertama Menurut Hadis Sunnah
Nabi Muhammad SAW sering menghabiskan waktunya di Gua Hira untuk bertahanuts, yaitu beribadah dan merenung, menjauh dari keramaian dan kerusakan moral masyarakat Makkah pada masa itu. Di dalam gua yang sempit dan sunyi itulah, beliau menenangkan jiwa dan mencari kebenaran sejati. Malam itu, tanpa diduga, datanglah Malaikat Jibril membawa wahyu dari Allah.
Menurut riwayat sahih, Jibril mendekat kepada Nabi Muhammad dan berkata, “Iqra’!” yang berarti “Bacalah!” Nabi yang saat itu tidak pandai membaca merasa kebingungan dan menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril kemudian memeluk beliau dengan erat, lalu melepaskannya, dan mengulangi perintah yang sama. Hal ini terjadi tiga kali, hingga akhirnya Jibril menyampaikan ayat-ayat pertama dari Surat Al-‘Alaq: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…”
Rasa takut dan gemetar menyelimuti Nabi Muhammad. Beliau segera kembali pulang menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid, dengan tubuh menggigil. Sesampainya di rumah, beliau berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!” Khadijah dengan penuh kasih sayang menyelimuti beliau dan menenangkan ketakutannya. Setelah beliau tenang, Nabi Muhammad menceritakan apa yang terjadi di Gua Hira.
Khadijah, yang dikenal dengan kebijaksanaan dan keteguhannya, menguatkan Nabi Muhammad. Ia berkata bahwa Allah tidak mungkin menghinakan seseorang sebaik beliau, yang selalu berkata benar, membantu orang miskin, menyambung tali persaudaraan, dan menolong orang yang tertimpa musibah. Khadijah kemudian membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal, seorang sepupu Khadijah yang memahami kitab-kitab suci terdahulu.
Waraqah bin Naufal, setelah mendengar cerita Nabi, menyatakan bahwa yang mendatangi beliau adalah Namus (sebutan untuk Malaikat Jibril) yang pernah datang kepada Musa. Waraqah juga mengabarkan bahwa kelak Nabi Muhammad akan didustakan dan diusir oleh kaumnya, sesuatu yang kelak terbukti dalam perjalanan dakwah Rasulullah.
Kisah Wahyu Pertama Menurut Ulama
Banyak ulama tafsir dan sejarah sepakat bahwa suasana Gua Hira saat peristiwa tersebut sangat mendukung terjadinya komunikasi ilahi. Menurut mereka, Jabal Nur, tempat di mana Gua Hira berada, memang dipilih oleh Allah karena suasananya yang sunyi, jauh dari hiruk pikuk dunia, sesuai dengan sifat kontemplatif Rasulullah.
Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah menggambarkan bahwa masa itu adalah puncak kekosongan spiritual masyarakat Makkah, sehingga kedatangan wahyu di malam penuh berkah itu menjadi cahaya yang membelah kegelapan. Gua Hira, meski kecil dan sempit, menjadi tempat lahirnya misi suci yang akan mengubah dunia.
Al-Zurqani dalam syarah Al-Mawahib al-Ladunniyah menjelaskan bahwa pemilihan tempat dan waktu turunnya wahyu bukanlah hal yang kebetulan. Malam Lailatul Qadr, yang penuh kemuliaan, menjadi latar waktu, dan Gua Hira menjadi tempat, menegaskan pentingnya kesunyian, kesucian, dan kesungguhan dalam menerima tugas kenabian.
Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya juga menyoroti pentingnya kata “Iqra'” sebagai awal wahyu. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mendorong ilmu, pembelajaran, dan keterhubungan dengan wahyu ilahi melalui akal dan hati yang bersih.
Dalam pandangan ulama tasawuf, seperti Al-Ghazali, Gua Hira merupakan lambang dari perjalanan batin seorang hamba yang mencari Allah, yang membutuhkan keterasingan dari dunia, kesabaran, dan kejernihan hati. Dengan merenungi perjalanan Nabi di Gua Hira, umat Islam diajak untuk mencontoh ketekunan spiritual beliau dalam mencari dan menjalani kebenaran.
- Peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hira adalah momen agung yang membuka lembaran baru dalam sejarah umat manusia. Dari sebuah gua kecil di sebuah gunung tandus, pancaran cahaya hidayah menyebar ke seluruh dunia, membawa risalah tauhid, keadilan, dan kasih sayang.
- Kisah ini mengajarkan bahwa jalan menuju kebenaran seringkali dimulai dari kesendirian, pencarian jujur, dan keberanian menerima amanah besar. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW memulai perjalanannya dari Gua Hira dengan penuh ketulusan dan ketakutan yang manusiawi, kita pun diajak untuk senantiasa mencari kebenaran dalam ketenangan, ketulusan, dan keberanian menghadapi tantangan.
K


















Leave a Reply