Di alam semesta ini Tuhannya manusia pasti sama dan hanya satu, faktanya manusia menuhankan sosok yang berbeda. Mengapa seperti itu ? Pada hakikatnya, Allah hanya menurunkan satu agama, yaitu Islam—yang berarti tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Sejak Nabi Adam AS sebagai manusia pertama, hingga Nabi Ibrahim AS sang bapak para nabi, Nabi Musa AS sang pembawa hukum, Nabi Isa AS sang pembawa kabar gembira, hingga Nabi Muhammad SAW sebagai penutup risalah, semua menyerukan pesan yang sama: tauhid, ketundukan, keikhlasan kepada Allah semata dan berserah diri kepada Allah. Setiap rasul datang dengan kitab suci yang relevan untuk kaumnya, namun tetap membawa nilai universal Islam: keesaan Tuhan, keadilan, dan kasih sayang Ilahi.
Istilah berserah diri atau Islam secara esensi terdapat dalam semua agama wahyu, semua nabi, dan semua kitab suci yang asli sebelum diselewengkan. Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok yang hanif dan berserah diri kepada Allah (QS. Al-Baqarah: 131), begitu pula Nabi Musa dan Bani Israil yang diperintahkan untuk tunduk kepada Tuhan yang Esa (Keluaran 20:3 dalam Taurat). Nabi Isa pun mengajarkan penyerahan diri kepada kehendak Allah sebagaimana tercermin dalam Injil Lukas 22:42, “Jadilah kehendak-Mu, bukan kehendakku.” Bahkan dalam Mazmur (Zabur), Daud menyeru untuk bertawakal dan menyerahkan jalan kepada Tuhan (Mazmur 37:5). Semua ini menunjukkan bahwa inti ajaran para nabi adalah penyerahan diri kepada Allah—itulah makna Islam yang sejati.
Ajaran-ajaran dalam kitab-kitab terdahulu sejatinya adalah fragmen dari Islam yang satu. Zabur menanamkan kekuatan dzikir dan spiritualitas; Taurat mengajarkan hukum dan keadilan; Injil menegaskan cinta dan pengampunan; sementara Shuhuf Ibrahim dan Musa menegaskan nilai-nilai tauhid dan moralitas universal. Semua itu berpadu dan bermuara pada Al-Qur’an, sebagai kitab penutup yang merangkum, menyempurnakan, dan meneguhkan semua wahyu sebelumnya. Maka tak heran jika Al-Fatihah disebut sebagai “Ummul Kitab”, karena mencakup ruh dari seluruh wahyu ilahi.
Namun seiring berjalannya waktu, kepentingan duniawi mulai mencemari kesucian wahyu. Sebagian pengikut mengubah isi kitab dengan tangan mereka sendiri, seperti yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 79, “Maka celakalah bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka, lalu mengatakan: ‘Ini dari Allah.’” Ayat-ayat dihapus, makna diselewengkan, dan akidah dipelintir agar sesuai dengan hawa nafsu dan kekuasaan. Akibatnya, muncul berbagai agama dan sekte baru yang menyimpang dari jalan para nabi.
Dalam kekacauan itulah, Islam hadir kembali sebagai cahaya penutup dan pelurus. Nabi Muhammad SAW datang bukan membawa ajaran baru, tapi melanjutkan misi tauhid para rasul terdahulu, sekaligus mengoreksi penyimpangan yang telah terjadi. Al-Qur’an sebagai kitab pamungkas menjadi furqan—pembeda antara yang hak dan batil. Dan di dalamnya, surat Al-Fatihah berdiri sebagai miniatur wahyu: menyatukan pujian, penghambaan, permohonan, serta pengakuan atas jalan yang lurus—jalan para nabi yang sejati.
Agama yang benar pada sisi Allah adalah Islam (QS. Ali Imran: 19). Perbedaan nama, sekte, dan doktrin hanyalah akibat dari ulah manusia, bukan berasal dari Allah. Islam mengembalikan manusia kepada satu agama fitrah yang dianut oleh semua nabi dan rasul: agama tauhid, agama penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Maka, siapa yang mengikuti ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW, sejatinya ia sedang menghidupkan warisan suci para nabi terdahulu, dan berjalan di atas shiratal mustaqim yang menghubungkan bumi dan langit.
Islam (penyerahan diri kepada Allah) terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu seperti Taurat, Zabur, dan Injil
Islam secara bahasa berarti “berserah diri”, yaitu tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah dengan penuh keikhlasan dan ketaatan. Akar kata “Islam” berasal dari kata salam yang berarti damai, menunjukkan bahwa dengan berserah diri kepada Allah, seorang hamba akan memperoleh kedamaian jiwa dan keselamatan. Dalam konteks agama, Islam mengajarkan penyerahan total kepada Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam ibadah, akhlak, maupun hubungan sosial, sebagaimana yang dicontohkan oleh para nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW.
Islam (penyerahan diri kepada Allah) juga terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu seperti Taurat, Zabur, dan Injil, berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengafirmasi hal itu:
- Taurat dan Zabur: Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa Taurat dan Zabur berisi ajaran penyerahan diri kepada-Nya, sebagaimana dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 105: “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (Kami tulis) dalam Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.”
Ini menunjukkan bahwa inti ajaran Zabur adalah ketundukan kepada Allah dan pembinaan kesalehan, yang merupakan aspek fundamental dari Islam. Dalam Taurat, prinsip tauhid dan ketaatan juga ditegaskan. Dalam QS. Al-Ma’idah ayat 44, Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya…”
Petunjuk ini, menurut para mufassir seperti Ibn Kathir, adalah petunjuk kepada jalan lurus, yaitu ketundukan (Islam) kepada Allah. - Injil dan ajaran Nabi Isa AS: Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa AS juga membawa nilai-nilai Islam, yaitu kepasrahan kepada kehendak Allah dan seruan untuk bertauhid. Dalam QS. Al-Imran ayat 52 disebutkan: “Maka ketika Isa mengetahui keingkaran dari mereka (kaumnya), dia berkata: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?’ Para Hawariyyun menjawab: ‘Kami adalah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada-Nya dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim (yang berserah diri).’”Di sini, kata Muslimun jelas disebutkan, menunjukkan bahwa para pengikut sejati Nabi Isa AS adalah orang-orang yang tunduk kepada Allah sebagaimana ajaran Islam.
- Semua Nabi Membawa Islam sebagai Agama Penyerahan Diri: Konsep bahwa semua nabi membawa satu ajaran, yakni Islam, ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 132: “Dan Ibrahim mewasiatkan kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub: ‘Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untuk kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim (berserah diri).’” Ini menunjukkan bahwa jauh sebelum Nabi Muhammad SAW, Islam sudah menjadi nama dari agama tauhid yang dianut para nabi terdahulu, termasuk mereka yang menerima Zabur, Taurat, dan Injil. Semua wahyu itu sejatinya mengajarkan Islam dalam bentuk yang disesuaikan dengan kondisi umat masing-masing, sebelum akhirnya disempurnakan dengan Al-Qur’an.
Istilah “berserah diri” atau Islam dalam kitab Injil, Taurat, dan Zabur
Istilah “berserah diri” dalam konteks spiritual juga ditemukan dalam berbagai kitab suci selain Al-Qur’an. Dalam Alkitab (Kristen), konsep ini sering diungkapkan dengan istilah seperti “menyerahkan diri kepada Tuhan” (Roma 12:1) atau “percaya sepenuhnya kepada-Nya” (Amsal 3:5-6), yang menggambarkan sikap tunduk dan pasrah kepada kehendak Tuhan. Dalam Bhagavad Gita (Hindu), konsep serupa dikenal sebagai śaraṇāgati, yaitu penyerahan total kepada Tuhan (Krishna) sebagai bentuk tertinggi dari bhakti atau pengabdian. Sementara itu, dalam Tripitaka (Buddha), meski tidak secara langsung mengarah kepada Tuhan, ajaran tentang menyerahkan ego dan menerima hukum alam (Dhamma) dengan penuh kesadaran mencerminkan bentuk lain dari kepasrahan spiritual. Kesamaan konsep ini menunjukkan bahwa inti ajaran tentang penyerahan diri kepada kekuatan ilahi atau kebenaran tertinggi merupakan nilai universal dalam tradisi keagamaan besar dunia.
1. Taurat: Dalam Taurat, ajaran tentang penyerahan diri kepada Allah bisa ditemukan dalam perintah untuk hidup sesuai dengan hukum Allah dan berserah diri kepada-Nya. Dalam Kitab Ulangan (Deuteronomy), Tuhan menyatakan bagaimana umat harus tunduk dan berserah diri kepada-Nya untuk menerima berkat. Dalam Ulangan 6:5, Tuhan memerintahkan umat untuk mencintai Allah dengan sepenuh hati, yang mencakup penyerahan diri secara total:
“Engkau harus mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Meskipun istilah “berserah diri” secara eksplisit tidak disebutkan, prinsipnya jelas; berserah diri kepada Allah berarti mengasihi-Nya dengan segenap hati dan jiwa, yang merupakan bentuk penyerahan total kepada-Nya.
2. Zabur: Dalam Zabur, yang diturunkan kepada Nabi Daud AS, penyerahan diri kepada Allah tercermin dalam banyak doa dan pujian yang menekankan ketergantungan penuh kepada-Nya. Salah satu contoh dapat ditemukan dalam Mazmur 37:5 yang menyatakan:
“Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”
Ayat ini menekankan konsep berserah diri kepada Allah, yaitu menyerahkan segala hal kepada-Nya dengan penuh kepercayaan bahwa Allah akan bertindak untuk kebaikan umat-Nya.
3. Injil: Dalam Injil, ajaran tentang berserah diri kepada Allah sangat jelas, terutama dalam ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Nabi Isa AS. Salah satu ayat terkenal mengenai penyerahan diri terdapat dalam Injil Matius 11:28-30, di mana Nabi Isa mengajak umat untuk berserah diri kepada Allah:
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
Di sini, Nabi Isa AS mengundang umat untuk berserah diri kepada Allah dengan memikul “kuk” yang diberikan-Nya, sebuah simbol dari kepasrahan dan ketaatan kepada kehendak Allah.
Meskipun istilah “berserah diri” mungkin tidak selalu secara eksplisit digunakan dalam Taurat, Zabur, dan Injil, ajaran yang mengarah pada penyerahan diri kepada Allah sangat jelas dalam ketiga kitab suci tersebut. Ajaran ini tercermin dalam perintah untuk mencintai Allah, menyerahkan hidup kepada-Nya, dan memikul beban-Nya dengan penuh kepercayaan kepada-Nya.
Kesimpulan:
Pada hakikatnya, Islam adalah agama penyerahan diri yang telah diajarkan oleh semua nabi sejak zaman dahulu dan tercantum dalam semua kitab suci. Ajaran tentang tauhid, akhlak mulia, dan ketaatan kepada Allah menjadi benang merah dari semua wahyu yang diturunkan melalui kitab-kitab suci sebelumnya seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Namun, seiring waktu, ajaran tersebut mengalami penyimpangan oleh tangan-tangan manusia. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir hadir untuk menyempurnakan dan meluruskan kembali ajaran tersebut, dengan surat Al-Fatihah sebagai inti dan sari dari seluruh isi wahyu ilahi. Maka, kembalinya manusia kepada Islam bukanlah mengikuti agama baru, melainkan kembali kepada fitrah dan kebenaran yang satu sejak awal.















Leave a Reply