YAHUDI DAN NASRANI MENURUT PERSPEKTIF ISLAM. Kajian Berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Sejarah Risalah Para Nabi
Abstrak
Islam memandang bahwa agama Yahudi dan Nasrani merupakan bagian dari agama samawi, yaitu agama yang pada awalnya berasal dari wahyu Allah yang diturunkan kepada para nabi-Nya. Yahudi berakar dari ajaran Nabi Musa yang menerima Taurat, sedangkan Nasrani berasal dari ajaran Nabi Isa yang menerima Injil. Dalam pandangan Islam, seluruh nabi membawa risalah yang sama yaitu tauhid, yakni menyembah Allah semata tanpa mempersekutukan-Nya. Namun dalam perjalanan sejarah, Al-Qur’an menjelaskan bahwa sebagian ajaran yang dibawa para nabi tersebut mengalami perubahan, penafsiran manusia, dan penyimpangan akidah sehingga tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan ajaran asli yang diturunkan Allah.
Kajian ini bertujuan menjelaskan bagaimana Islam memandang Yahudi dan Nasrani berdasarkan Al-Qur’an, hadits Nabi Muhammad ﷺ, serta prinsip dasar aqidah Islam. Pemahaman ini penting agar umat Islam memahami hubungan historis agama-agama Abrahamik sekaligus memahami posisi Islam sebagai penyempurna risalah para nabi sebelumnya. Islam tidak menolak keberadaan nabi-nabi terdahulu, justru mewajibkan keimanan kepada seluruh rasul, namun menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu terakhir yang dijaga kemurniannya hingga akhir zaman.
Pendahuluan
Sejak awal sejarah manusia, Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan petunjuk hidup kepada umat manusia. Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, hingga Nabi Muhammad ﷺ seluruhnya membawa pesan fundamental yang sama, yaitu mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, meninggalkan kesyirikan, dan menjalani kehidupan sesuai petunjuk wahyu. Dalam perspektif Islam, tidak ada perbedaan prinsip dasar antara risalah para nabi tersebut, karena semuanya berasal dari sumber yang sama yaitu Allah سبحانه وتعالى.
Di tengah perkembangan sejarah, lahirlah berbagai komunitas keagamaan yang kemudian dikenal sebagai Yahudi dan Nasrani. Islam mengakui bahwa kedua kelompok ini memiliki akar dari wahyu Ilahi dan para nabi yang mulia. Namun Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa sebagian pengikut agama-agama tersebut melakukan perubahan terhadap kitab suci, menolak sebagian nabi, serta mengembangkan keyakinan yang tidak sesuai lagi dengan ajaran tauhid murni. Karena itu penting memahami posisi Yahudi dan Nasrani dalam Islam secara proporsional berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan hanya berdasarkan sejarah sosial atau pandangan modern semata.
Yahudi Menurut Perspektif Islam
Dalam Islam, agama Yahudi berasal dari risalah yang dibawa Nabi Musa عليه السلام kepada Bani Israel. Allah menurunkan Taurat sebagai petunjuk, hukum, dan cahaya bagi umat pada zamannya. Nabi Musa mengajarkan tauhid, ketaatan kepada Allah, serta kewajiban menjalankan hukum-hukum Ilahi. Islam meyakini bahwa Nabi Musa adalah salah satu nabi besar yang wajib diimani oleh seluruh Muslim. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Taurat diturunkan sebagai petunjuk bagi Bani Israel dan menjadi sumber hukum bagi mereka.
Namun Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa sebagian Bani Israel melakukan penyimpangan terhadap ajaran tersebut. Sebagian di antara mereka mengganti isi kitab, menyembunyikan sebagian kebenaran, serta menolak nabi-nabi yang datang setelah Musa. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 79 bahwa celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri lalu mengatakan bahwa itu berasal dari Allah untuk memperoleh keuntungan dunia. Dalam perspektif Islam, penyimpangan inilah yang menyebabkan ajaran asli Nabi Musa tidak lagi sepenuhnya terjaga sebagaimana pertama kali diturunkan.
Nasrani Menurut Perspektif Islam
Islam memandang Nabi Isa عليه السلام sebagai rasul Allah yang diutus kepada Bani Israel dengan membawa Injil sebagai petunjuk dan cahaya. Nabi Isa mengajarkan tauhid, menyeru manusia agar menyembah Allah semata, serta menguatkan ajaran Taurat sebelumnya. Islam sangat memuliakan Nabi Isa dan ibunya Maryam. Bahkan Maryam merupakan satu-satunya wanita yang disebut secara khusus dalam Al-Qur’an dengan satu surah penuh yang menggunakan namanya.
Namun dalam pandangan Islam, ajaran asli Nabi Isa mengalami perubahan setelah beliau diangkat oleh Allah. Konsep ketuhanan Isa, doktrin trinitas, dan keyakinan bahwa Isa adalah anak Tuhan dipandang Islam sebagai bentuk penyimpangan dari ajaran tauhid yang dibawa para nabi. Allah berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 72 bahwa sungguh kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam. Islam meyakini bahwa Nabi Isa tidak pernah mengajarkan penyembahan kepada dirinya sendiri, melainkan menyeru manusia agar menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
Pandangan Al-Qur’an Tentang Ahlul Kitab
Al-Qur’an menyebut Yahudi dan Nasrani sebagai Ahlul Kitab, yaitu kelompok yang pernah menerima kitab suci dari Allah. Sebutan ini menunjukkan bahwa Islam mengakui asal-usul Ilahi dari agama-agama tersebut. Dalam Surah Ali Imran ayat 64 Allah mengajak Ahlul Kitab agar kembali kepada kalimat yang sama antara Islam dan mereka, yaitu tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.
Meskipun demikian, Al-Qur’an juga memberikan kritik terhadap berbagai penyimpangan teologis yang muncul dalam kedua agama tersebut. Kritik ini bukan ditujukan kepada nabi-nabi mereka, tetapi kepada sebagian pengikut yang mengubah ajaran asli. Islam tetap memerintahkan umat Muslim untuk beriman kepada Taurat dan Injil dalam bentuk wahyu asli yang diturunkan Allah, bukan pada perubahan yang muncul kemudian dalam perjalanan sejarah manusia.
Hadits Nabi Tentang Risalah Para Nabi
Rasulullah ﷺ menjelaskan hubungan antara dirinya dengan nabi-nabi sebelumnya melalui sebuah hadits sahih. Beliau bersabda bahwa para nabi adalah saudara seayah, ibu mereka berbeda tetapi agama mereka satu. Makna hadits ini adalah seluruh nabi membawa inti ajaran yang sama, yaitu tauhid, meskipun syariat dan aturan praktis yang mereka bawa berbeda sesuai keadaan umat masing-masing.
Hadits ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang terpisah dari ajaran nabi-nabi sebelumnya, melainkan kelanjutan dan penyempurna dari risalah yang sama. Karena itu seorang Muslim tidak dianggap beriman apabila mengingkari Nabi Musa, Nabi Isa, atau nabi-nabi lain yang diutus Allah. Keimanan dalam Islam bersifat universal terhadap seluruh rasul tanpa membeda-bedakan mereka.
Islam Sebagai Penyempurna Risalah
Islam memandang dirinya sebagai agama terakhir yang menyempurnakan seluruh risalah sebelumnya. Allah berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 3 bahwa pada hari itu Allah telah menyempurnakan agama bagi manusia dan meridhai Islam sebagai agama. Nabi Muhammad ﷺ menjadi penutup para nabi dan Al-Qur’an menjadi kitab terakhir yang dijaga langsung oleh Allah dari perubahan.
Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang mengalami berbagai perubahan dalam sejarah transmisinya, Al-Qur’an diyakini tetap terjaga kemurniannya sejak diturunkan lebih dari empat belas abad yang lalu. Karena itu Islam memandang bahwa risalah tauhid yang dahulu dibawa Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa mencapai bentuk final dan sempurna melalui diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup seluruh rasul.
Kesimpulan
Menurut Islam, Yahudi dan Nasrani pada asalnya adalah agama samawi yang bersumber dari wahyu Allah melalui Nabi Musa dan Nabi Isa. Keduanya membawa ajaran tauhid yang sama dengan risalah seluruh nabi sebelumnya. Namun dalam perjalanan sejarah, sebagian ajaran tersebut mengalami perubahan akibat campur tangan manusia sehingga menyimpang dari bentuk asli yang dibawa para nabi.
Islam datang bukan untuk menolak para nabi terdahulu, melainkan membenarkan mereka sekaligus meluruskan penyimpangan yang terjadi dalam perkembangan sejarah agama-agama sebelumnya. Oleh karena itu Islam menempatkan dirinya sebagai agama penyempurna, menjaga kemurnian tauhid, dan melanjutkan risalah universal seluruh nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ.














Leave a Reply