MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Tatacara Mengkafani Mayit dalam Perspektif Fikih Islam

Mengkafani Mayit dalam Perspektif Fikih Islam: Hukum, Dalil, dan Teknis Pelaksanaan


Mengkafani mayit merupakan salah satu rangkaian utama dalam pengurusan jenazah muslim yang memiliki landasan syariat kuat dalam Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ ulama. Artikel ini bertujuan mengkaji hukum mengkafani mayit, kriteria kain kafan, ketentuan khusus bagi jenazah tertentu, serta teknis pelaksanaannya berdasarkan hadits-hadits shahih dan pendapat ulama mu’tabar, khususnya dari kalangan jumhur ulama dan ulama kontemporer. Penulisan ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis berbasis literatur fikih klasik dan kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa mengkafani mayit hukumnya fardhu kifayah, dengan kadar wajib sebatas menutup seluruh tubuh mayit secara layak, sementara ketentuan lainnya bersifat sunnah yang bertujuan memuliakan jenazah sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata kunci: fikih jenazah, kafan, fardhu kifayah, pengurusan jenazah, sunnah Nabi


Pengurusan jenazah dalam Islam merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada seorang muslim yang wafat sekaligus manifestasi kepedulian sosial umat Islam. Salah satu tahapan penting dalam pemulasaraan jenazah adalah mengkafani mayit, yang memiliki kedudukan hukum dan tata cara tersendiri dalam fikih Islam. Syariat Islam tidak hanya menetapkan kewajiban mengkafani, tetapi juga memberikan tuntunan rinci agar pelaksanaannya sesuai dengan nilai adab, kesucian, dan penghormatan terhadap manusia.

Dalam praktiknya, masih dijumpai berbagai kekeliruan dan perbedaan pemahaman terkait hukum, jumlah kain kafan, jenis bahan, serta teknis pengkafanan, khususnya dalam konteks jenazah wanita, anak-anak, dan orang yang wafat dalam kondisi tertentu seperti ihram. Oleh karena itu, kajian sistematis berbasis dalil shahih dan pendapat ulama sangat diperlukan agar pelaksanaan pengkafanan sesuai dengan tuntunan sunnah dan kaidah fikih yang benar.

Mengkafani mayit

Hukum mengkafani mayit

  • Mengkafani mayit hukumnya sebagaimana memandikannya, yaitu fardhu kifayah. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu tentang orang yang meninggal karena jatuh dari untanya, di dalam hadits tersebut Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: اغْسِلوهُ بماءٍ وسِدْرٍ ، وكَفِّنُوهُ في ثَوْبَيْنِ “Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara. Dan kafanilah dia dengan dua lapis kain” (HR. Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206).
  • Kadar wajib dari mengkafani jenazah adalah sekedar menutup seluruh tubuhnya dengan bagus. Adapun yang selainnya hukumnya sunnah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ “Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya, maka hendaklah memperbagus kafannya” (HR. Muslim no. 943).
  • Kecuali orang yang meninggal dalam keadaan ihram, maka tidak ditutup kepalanya. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ولا تُحَنِّطُوهُ ، ولا تُخَمِّروا رأسَهُ ، فإنَّ اللهَ يبْعَثُهُ يومَ القيامةِ يُلَبِّي “Jangan beri minyak wangi dan jangan tutup kepalanya. Karena Allah akan membangkitkannya di hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah” (HR. Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206).

Kriteria kain kafan

Kain kafan untuk mengkafani mayit lebih utama diambilkan dari harta mayit.

  • Dan semua biaya pengurusan jenazah lebih didahulukan untuk diambil dari harta mayit daripada untuk membayar hutangnya, ini adalah pendapat jumhur ulama. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ….وَكَفِّنُوْهُ فِي ثَوْبَيْهِ “Kafanilah dia dengan dua bajunya” Artinya, dari kain yang diambil dari hartanya.
  • Memakai kain kafan berwarna putih hukumnya sunnah, tidak wajib. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: البَسوا مِن ثيابِكم البياضَ وكفِّنوا فيها موتاكم فإنَّها مِن خيرِ ثيابِكم “Pakailah pakaian yang berwarna putih dan kafanilah mayit dengan kain warna putih. Karena itu adalah sebaik-baik pakaian kalian” (HR. Abu Daud no. 3878, Tirmidzi no. 994, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no.1236).
  • Disunnahkan menggunakan tiga helai kain putih. Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha ia berkata: كُفِّنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ في ثلاثِ أثوابٍ بيضٍ سحوليةٍ ، من كُرْسُفَ . ليس فيها قميصٌ ولا عمامةٌ “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dikafankan dengan 3 helai kain putih sahuliyah dari Kursuf, tanpa gamis dan tanpa imamah” (HR. Muslim no. 941).
  • Kafan mayit wanita Jumhur ulama berpendapat disunnahkan wanita menggunakan 5 helai kain kafan. Namun hadits tentang hal ini lemah. Maka dalam hal ini perkaranya longgar, boleh hanya dengan 3 helai, namun 5 helai juga lebih utama.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: وقد جاء في جعل كفن المرأة خمسة أثواب حديث مرفوع ، إلا أن في إسناده نظراً ؛ لأن فيه راوياً مجهولاً ، ولهذا قال بعض العلماء : إن المرأة تكفن فيما يكفن به الرجل ، أي : في ثلاثة أثواب يلف بعضها على بعض “Dalam hal ini telah ada hadits marfu’ (kafan seorang wanita adalah lima helai kain, Pen). Akan tetapi, di dalamnya ada seorang rawi yang majhul (tidak dikenal). Oleh karena itu, sebagian ulama berkata: “Seorang wanita dikafani seperti seorang lelaki. Yaitu tiga helai kain, satu kain diikatkan di atas yang lain.” (Asy Syarhul Mumti’, 5/393).
  • Disunnahkan menambahkan sarung, jilbab dan gamis bagi mayit wanita. Al Lajnah Ad Daimah mengatakan: والمرأة يبدأ تكفينها بالإزار على العورة وما حولها , ثم قميص على الجسد , ثم القناع على الرأس وما حوله , ثم تلف بلفافتين “Mayit wanita dimulai pengkafananannya dengan membuatkan sarung yang menutupi auratnya dan sekitar aurat, kemudian gamis yang menutupi badan, kemudian kerudung yang menutupi kepala kemudian ditutup dengan dua lapis” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah. 3/363).
  • Kafan untuk anak kecil Syaikh Abdullah bin Jibrin mengatakan: والصغيرة يكفي فيها قميص ولفافاتان “Mayit anak kecil cukup dengan gamis dan dua lapis kafan” (Ad Durar Al Mubtakirat, 1/438).
  • Tidak diharuskan kain kafan dari bahan tertentu Tidak ada ketentuan jenis bahan tertentu untuk kain kafan. Yang jelas kain tersebut harus bisa menutupi mayit dengan bagus dan tidak tipis sehingga menampakkan kulitnya.
  • Wewangian untuk kain kafan Disunnahkan memberi wewangian pada kain kafan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا جَمَّرْتُمُ الْمَيِّتَ فَجَمِّرُوْهُ ثَلاَثًا “Apabila kalian memberi wewangian kepada mayit, maka berikanlah tiga kali” (HR Ahmad no. 14580, dishahihkan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz no. 84).

Teknis Mengkafani Mayit

Dalam matan Akhsharil Mukhtasharat disebutkan teknis mengkafani mayit:

وَسن تكفين رجل فِي ثَلَاث لفائف بيض بعد تبخيرها وَيجْعَل الحنوط فِيمَا بَينهَا وَمِنْه بِقطن بَين الييه وَالْبَاقِي على منافذ وَجهه ومواضع سُجُوده ثمَّ يرد طرف الْعليا من الْجَانِب الايسر على شقَّه الايمن ثمَّ الايمن على الايسر ثمَّ الثَّانِيَة وَالثَّالِثَة كَذَلِك وَيجْعَل اكثر الْفَاضِل عِنْد راسه

“Disunnahkan mengkafani mayit laki-laki dengan tiga lapis kain putih dengan memberikan bukhur (wewangian dari asap) pada kain tersebut. Dan diberikan pewangi di antara lapisan. Kemudian diberikan pewangi pada mayit, di bagian bawah punggung, di antara dua pinggul, dan yang lainnya pada bagian sisi-sisi wajah dan anggota sujudnya. Kemudian kain ditutup dari sisi sebelah kiri ke sisi kanan. Kemudian kain dari sisi kanan ditutup ke sisi kiri. Demikian selanjutnya pada lapisan kedua dan ketiga. Kelebihan kain dijadikan di bagian atas kepalanya”.

Teknis mengkafani mayit dilakukan dengan tertib, penuh adab, dan sesuai tuntunan sunnah, dengan tujuan menutup seluruh tubuh jenazah secara sempurna serta menjaga kehormatannya. Langkah-langkah pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

  1. Membentangkan tali-tali pengikat kafan secukupnya di tempat yang bersih dan rata. Tidak ada ketentuan jumlah tali pengikat yang ditetapkan oleh syariat, sehingga perkaranya bersifat longgar dan disesuaikan dengan kebutuhan agar kafan tidak terbuka setelah pengikatan.
  2. Membentangkan kain kafan lapis pertama di atas tali-tali pengikat tersebut dengan rapi dan lurus, sehingga siap untuk digunakan sebagai lapisan paling dalam yang langsung membungkus jenazah.
  3. Memberikan bukhur (wewangian berupa asap) pada kain kafan lapis pertama. Apabila bukhur tidak tersedia, maka dapat diganti dengan minyak wangi atau jenis wewangian lain yang suci dan tidak berlebihan.
  4. Membentangkan kain kafan lapis kedua di atas kain kafan lapis pertama dengan posisi sejajar dan rata.
  5. Memberikan bukhur atau minyak wangi pada kain kafan lapis kedua, sebagaimana dilakukan pada lapisan sebelumnya, sebagai bentuk sunnah dalam memuliakan jenazah.
  6. Membentangkan kain kafan lapis ketiga di atas kain kafan lapis kedua secara rapi.
  7. Memberikan bukhur atau minyak wangi pada kain kafan lapis ketiga sebagaimana pada lapisan-lapisan sebelumnya.
  8. Meletakkan mayit di tengah-tengah kain kafan dengan posisi tubuh lurus dan tertutup auratnya, serta dilakukan dengan sikap lembut dan penuh penghormatan.
  9. Menutup jenazah dengan kain kafan lapis ketiga, dimulai dari sisi kiri ke arah kanan, kemudian dilanjutkan dari sisi kanan ke arah kiri, sehingga seluruh tubuh tertutup dengan sempurna.
  10. Menutup dengan kain kafan lapis kedua dengan urutan yang sama, yaitu dari sisi kiri ke kanan, kemudian dari sisi kanan ke kiri.
  11. Menutup dengan kain kafan lapis pertama dengan cara yang sama, dimulai dari sisi kiri ke kanan, lalu dari sisi kanan ke kiri, sehingga ketiga lapisan membungkus jenazah secara menyeluruh.
  12. Mengikat kafan dengan tali-tali yang telah disiapkan, pada bagian kepala, tengah, dan kaki atau sesuai kebutuhan, dengan ikatan yang cukup kuat namun tidak berlebihan, agar kafan tetap terjaga hingga proses pemakaman.

Penutup

Pengkafanan jenazah merupakan kewajiban kolektif umat Islam yang mencerminkan penghormatan terakhir terhadap seorang muslim yang wafat. Syariat Islam menetapkan kadar minimal kewajiban sekaligus menganjurkan kesempurnaan dalam pelaksanaannya sebagai bentuk ihsan terhadap mayit. Dalil-dalil shahih menunjukkan bahwa aspek kesederhanaan, kebersihan, dan adab menjadi prinsip utama dalam pengkafanan. Dengan memahami hukum, kriteria, dan teknis mengkafani mayit berdasarkan sunnah dan pendapat ulama mu’tabar, diharapkan umat Islam mampu melaksanakan pengurusan jenazah secara benar, ilmiah, dan sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta terhindar dari praktik-praktik yang menyimpang dari syariat.

Daftar Pustaka

  • Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
  • Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.
  • Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy’ats. Sunan Abi Dawud.
  • Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaad al-Mustaqni’.
  • Al-Lajnah Ad Daimah. Fatawa Al-Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’.
  • Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Ahkamul Janaiz.
  • Ibnu Jibrin, Abdullah. Ad Durar Al Mubtakirat Syarah Akhsharil Mukhtasharat.
  • Muslim.or.id. “Fikih Pengurusan Jenazah: Memandikan dan Mengkafani.” 2025.

review WJ

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *