AJARAN PARA NABI: SEMUA NABI ADALAH MUSLIM DAN MENYERU KEPADA TAUHID. Kajian Al-Qur’an tentang Kesatuan Risalah Para Nabi
Dalam perspektif Al-Qur’an, seluruh nabi dan rasul membawa satu fondasi agama yang sama, yaitu tauhid, menyembah hanya kepada Allah, tunduk kepada-Nya, serta menjauhi kesyirikan. Al-Qur’an menyebut Nabi Ibrahim sebagai muslim, Nabi Nuh sebagai orang yang berserah diri kepada Allah, Nabi Musa dan kaumnya sebagai orang-orang yang beriman dan berserah diri, para hawariyyun Nabi Isa menyatakan diri sebagai muslimun, dan para nabi Bani Israil diperintahkan berhukum dengan wahyu Allah. Perbedaan yang terdapat di antara umat para nabi terutama berada pada syariat dan tata cara hukum yang sesuai dengan zaman dan umat masing-masing. Karena itu, secara prinsip akidah, para nabi semuanya adalah Muslim dalam makna berserah diri kepada Allah. Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ merupakan penyempurnaan dan penutup rangkaian risalah tersebut.
Islam tidak mengajarkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ membawa Tuhan yang berbeda dari Tuhan yang disembah Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan seluruh nabi sebelumnya. Allah yang mereka sembah adalah satu. Karena itu, Al-Qur’an menggambarkan risalah para nabi sebagai satu mata rantai petunjuk yang bersumber dari Allah.
- Allah berfirman:
- شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
- “Dia telah mensyariatkan bagi kamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”
(QS. Asy-Syura: 13) - Ayat ini menunjukkan adanya kesinambungan risalah. Nama nabi berbeda, umat berbeda, zaman berbeda, tetapi sumber wahyunya satu dan fondasi tauhidnya sama.
Islam dalam Makna Berserah Diri kepada Allah
- Kata Islam berasal dari akar kata س ل م yang berkaitan dengan ketundukan, keselamatan, dan penyerahan diri kepada Allah. Dalam pengertian akidah, seorang Muslim adalah orang yang tunduk kepada Allah, mentauhidkan-Nya, dan mengikuti wahyu-Nya.
- Karena itu, ketika Al-Qur’an menyebut para nabi sebagai muslim, maksudnya bukan bahwa seluruh nabi sebelum Muhammad ﷺ harus mengikuti seluruh rincian syariat Nabi Muhammad ﷺ yang belum diturunkan pada zaman mereka. Mereka adalah Muslim karena tunduk kepada Allah dan menjalankan wahyu yang Allah berikan kepada mereka.
- Allah berfirman:
- إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
- “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)
Nabi Nuh: Berserah Diri kepada Allah
- Nabi Nuh mengajarkan tauhid kepada kaumnya selama masa dakwah yang sangat panjang. Ketika menghadapi penolakan kaumnya, beliau menyatakan:
- فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
- “Jika kamu berpaling, aku tidak meminta imbalan sedikit pun darimu. Imbalanku hanyalah dari Allah, dan aku diperintahkan agar termasuk golongan orang-orang Muslim.”
(QS. Yunus: 72) - Ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa Nabi Nuh berada dalam posisi sebagai orang yang berserah diri kepada Allah.
Nabi Ibrahim: Teladan Utama Tauhid
- Nabi Ibrahim merupakan salah satu figur paling kuat dalam Al-Qur’an mengenai makna Islam sebagai ketundukan kepada Allah.
- Allah berfirman:
- إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
- “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Berserah dirilah!’ Dia menjawab, ‘Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.’”
(QS. Al-Baqarah: 131) - Ibrahim juga berdoa agar dirinya dan keturunannya menjadi orang-orang yang berserah diri:
- رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ
- “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan dari keturunan kami jadikanlah umat yang berserah diri kepada-Mu.”
(QS. Al-Baqarah: 128) - Bahkan Al-Qur’an menegaskan:
- مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا
- “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus dan seorang Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 67)
Nabi Ya’qub dan Wasiat Tauhid kepada Anak-anaknya
- Ketika menjelang wafat, Nabi Ya’qub tidak mewariskan kekayaan sebagai pesan terpenting kepada anak-anaknya. Ia mewariskan tauhid.
- Allah berfirman:
- أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي ۖ قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
- “Apakah kamu menjadi saksi ketika Ya’qub kedatangan ajal, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, dan kepada-Nya kami berserah diri.’”
(QS. Al-Baqarah: 133) - Ini merupakan gambaran indah bahwa dakwah para nabi berpusat pada Allah Yang Maha Esa.
Nabi Musa: Islam Bukan Identitas Etnis
- Al-Qur’an juga memperlihatkan bahwa para pengikut Nabi Musa diarahkan kepada iman dan ketundukan kepada Allah.
- Allah berfirman:
- وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ
- “Musa berkata, ‘Wahai kaumku! Jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya jika kamu benar-benar orang-orang yang berserah diri.’”
(QS. Yunus: 84) - Maka inti dakwah Musa bukanlah pengagungan terhadap bangsa atau identitas etnis, tetapi pengabdian kepada Allah.
Nabi Isa dan Para Hawariyyun
- Al-Qur’an juga mengabadikan pernyataan para pengikut Nabi Isa:
- فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
- “Ketika Isa merasakan keingkaran mereka, dia berkata, ‘Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk menegakkan agama Allah?’ Para hawariyyun menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.’”
(QS. Ali ‘Imran: 52) - Ayat ini memperlihatkan bahwa para pengikut sejati Nabi Isa pada zamannya menyatakan diri sebagai orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
Nabi Muhammad ﷺ: Penyempurna dan Penutup Risalah
Nabi Muhammad ﷺ tidak datang untuk menghapus prinsip tauhid yang dibawa para nabi sebelumnya. Beliau datang sebagai penutup para nabi dan penyempurna risalah.
- Allah berfirman:
- مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
- “Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.”
(QS. Al-Ahzab: 40) - Karena itu, setelah datangnya Nabi Muhammad ﷺ, bentuk syariat yang wajib diikuti manusia adalah syariat beliau. Namun akar ajarannya tetap sama dengan seluruh nabi: tauhid, ibadah kepada Allah, akhlak, keadilan, dan ketundukan kepada wahyu.
Tabel Kesatuan Ajaran 25 Nabi yang Disebut dalam Al-Qur’an
| No. | Nabi | Inti dakwah yang dapat ditegaskan dari Al-Qur’an | Dalil |
|---|---|---|---|
| 1 | Adam | Tauhid dan ketundukan kepada Allah | QS. Al-Baqarah: 35–37 |
| 2 | Idris | Kebenaran, kesabaran dan ketundukan | QS. Maryam: 56–57 |
| 3 | Nuh | Menyembah Allah dan meninggalkan syirik | QS. Al-A’raf: 59; Yunus: 72 |
| 4 | Hud | Menyembah Allah semata | QS. Al-A’raf: 65 |
| 5 | Saleh | Tauhid dan meninggalkan kesyirikan | QS. Al-A’raf: 73 |
| 6 | Ibrahim | Tauhid, hanif dan Islam | QS. Al-Baqarah: 131; Ali ‘Imran: 67 |
| 7 | Lut | Menolak kemaksiatan dan menaati Allah | QS. Al-A’raf: 80–84 |
| 8 | Ismail | Shalat, zakat dan ketaatan | QS. Maryam: 54–55 |
| 9 | Ishaq | Wahyu dan ibadah kepada Allah | QS. Al-Anbiya: 72–73 |
| 10 | Ya’qub | Tauhid dan Islam | QS. Al-Baqarah: 133 |
| 11 | Yusuf | Tauhid dan doa kepada Allah | QS. Yusuf: 38; 101 |
| 12 | Ayyub | Kesabaran dan penghambaan kepada Allah | QS. Al-Anbiya: 83–84 |
| 13 | Syu’aib | Tauhid, keadilan dan kejujuran ekonomi | QS. Al-A’raf: 85 |
| 14 | Musa | Tauhid dan ketaatan kepada Allah | QS. Taha: 13–14; Yunus: 84 |
| 15 | Harun | Mendampingi dakwah tauhid Musa | QS. Taha: 29–36 |
| 16 | Dzulkifli | Kesabaran dan kesalehan | QS. Al-Anbiya: 85–86 |
| 17 | Dawud | Wahyu, ibadah dan keadilan | QS. Shad: 17, 26 |
| 18 | Sulaiman | Syukur dan pengabdian kepada Allah | QS. An-Naml: 15, 19 |
| 19 | Ilyas | Menyembah Allah dan meninggalkan Ba’l | QS. As-Saffat: 123–126 |
| 20 | Ilyasa’ | Kesalehan dan kebaikan | QS. Shad: 48 |
| 21 | Yunus | Tauhid, doa dan taubat | QS. Al-Anbiya: 87 |
| 22 | Zakariya | Doa dan penghambaan kepada Allah | QS. Maryam: 2–6 |
| 23 | Yahya | Ketakwaan dan kesalehan | QS. Maryam: 12–15 |
| 24 | Isa | Menyembah Allah sebagai Tuhan Yang Esa | QS. Ali ‘Imran: 51 |
| 25 | Muhammad ﷺ | Tauhid dan seluruh kesempurnaan syariat Islam | QS. Al-Anbiya: 107; Al-Ahzab: 40 |
Satu Tuhan, Satu Fondasi Akidah
- Kesatuan risalah tersebut ditegaskan Allah:
- وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
- “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya: 25) - Inilah benang merah seluruh kenabian: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ — tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
- Al-Qur’an juga memerintahkan umat Islam untuk tidak membeda-bedakan para nabi dalam hal keimanan kepada mereka:
- لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
- “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 136)
Apakah Syariat Semua Nabi Sama?
Di sinilah diperlukan pembedaan antara akidah dan syariat.
Akidah pokok para nabi sama: Allah satu, hanya Allah yang disembah, para rasul diikuti, hari akhir dipercayai, dan manusia bertanggung jawab di hadapan Allah.
Namun, rincian syariat dapat berbeda.
- Allah berfirman:
- لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
- “Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.”
(QS. Al-Ma’idah: 48)
Dengan demikian, perbedaan hukum tertentu antara syariat Musa, Isa, dan Muhammad ﷺ tidak berarti mereka menyembah Tuhan yang berbeda. Perbedaannya terdapat pada syariat yang berlaku bagi masing-masing umat berdasarkan wahyu Allah pada zamannya.
Hadis tentang Kesatuan Para Nabi
- Rasulullah ﷺ bersabda:
- الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
- “Para nabi adalah saudara seayah; ibu mereka berbeda-beda, tetapi agama mereka satu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Hadis ini merupakan salah satu landasan penting bahwa risalah para nabi memiliki satu inti agama, meskipun terdapat perbedaan syariat.
Batasan Makna “Muslim” dalam Risalah Para Nabi
Istilah “Muslim” perlu dipahami secara tepat sesuai konteks Al-Qur’an. Secara bahasa, muslim berasal dari kata أَسْلَمَ – يُسْلِمُ – إِسْلَامًا, yang bermakna menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan berserah diri kepada Allah. Karena itu, ketika Al-Qur’an menyebut Nabi Ibrahim sebagai مُسْلِمًا (QS. Ali ‘Imran: 67), Nabi Nuh sebagai bagian dari الْمُسْلِمِينَ (QS. Yunus: 72), dan para hawariyyun Nabi Isa menyatakan بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (QS. Ali ‘Imran: 52), istilah tersebut menunjukkan ketundukan mereka kepada Allah dan penerimaan terhadap wahyu yang diturunkan kepada mereka.
Namun, makna “Muslim” dalam konteks para nabi terdahulu tidak boleh secara serampangan disamakan dengan status umat Nabi Muhammad ﷺ dalam pengertian syariat final yang berlaku setelah beliau diutus. Nabi Musa wajib mengikuti wahyu yang diberikan kepada Musa, Nabi Isa mengikuti wahyu yang diberikan kepada Isa, sedangkan setelah Nabi Muhammad ﷺ diutus, syariat yang menjadi kewajiban bagi umat manusia adalah syariat Muhammad ﷺ. Dengan demikian, istilah “Muslim” memiliki kesatuan makna akidah, tetapi konteks syariatnya dapat berbeda.
Batasan ini semakin jelas melalui firman Allah:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.”
(QS. Al-Ma’idah: 48)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa syariat praktis tidak harus identik pada setiap umat, meskipun agama dalam fondasi tauhidnya satu. Karena itu, “semua nabi adalah Muslim” berarti semua nabi adalah hamba Allah yang bertauhid, tunduk kepada-Nya, dan mengikuti wahyu-Nya, bukan berarti seluruh nabi sebelum Muhammad ﷺ telah menjalankan seluruh rincian fikih dan syariat Nabi Muhammad ﷺ.
Ada pula perbedaan penting antara Islam sebagai sikap ketundukan kepada Allah dan Islam sebagai nama syariat final yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ. Al-Qur’an menyatakan:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)
Dalam pengertian pertama, seluruh nabi adalah Muslim karena mereka tunduk kepada Allah. Dalam pengertian kedua, Islam sebagai risalah final yang dibawa Muhammad ﷺ merupakan syariat penutup yang menyempurnakan rangkaian wahyu sebelumnya. Allah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Dengan demikian, ungkapan “semua nabi adalah Muslim” harus dibaca dalam kerangka tauhid dan ketundukan kepada Allah, bukan sebagai klaim bahwa Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa menjalankan seluruh hukum fikih yang baru disyariatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Mereka adalah Muslim menurut wahyu pada zaman mereka; sedangkan kita adalah Muslim dengan mengikuti risalah Muhammad ﷺ sebagai risalah terakhir dan penyempurna.
Ringkasnya
| Aspek | Para nabi sebelum Muhammad ﷺ | Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya |
|---|---|---|
| Tuhan yang disembah | Allah Yang Maha Esa | Allah Yang Maha Esa |
| Tauhid | Sama | Sama |
| Sikap kepada Allah | Berserah diri (Islam) | Berserah diri (Islam) |
| Sumber petunjuk | Wahyu Allah kepada nabi masing-masing | Al-Qur’an dan Sunnah |
| Syariat praktis | Dapat berbeda menurut umat dan zaman | Syariat Muhammad ﷺ sebagai risalah final |
| Kedudukan risalah | Bagian dari rangkaian kenabian | Penutup dan penyempurna risalah |
| Kewajiban umat setelah Muhammad ﷺ | — | Mengikuti Muhammad ﷺ |
Kesimpulan: Islam para nabi adalah satu dalam tauhid, ketundukan, dan penghambaan kepada Allah; sedangkan syariat mereka tidak harus sama dalam seluruh rincian hukum. Setelah Muhammad ﷺ diutus, mengikuti beliau menjadi kewajiban karena beliau adalah خاتم النبيين — penutup para nabi.
Kesimpulan
- Para nabi bukanlah pembawa agama yang saling bertentangan dalam perkara tauhid. Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ﷺ semuanya menyeru manusia untuk tunduk kepada Allah. Dalam pengertian inilah para nabi adalah Muslim: mereka berserah diri kepada Allah dan mengikuti wahyu-Nya. Perbedaan terdapat pada syariat dan hukum praktis yang Allah tetapkan bagi masing-masing umat. Setelah Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai Khatam an-Nabiyyin, manusia diperintahkan mengikuti risalah beliau. Maka kesatuan para nabi bukan berarti semua hukum mereka identik, melainkan bahwa sumbernya satu, Tuhannya satu, tujuan tauhidnya satu, sedangkan sebagian syariatnya dapat berbeda sesuai kehendak Allah. Inilah indahnya sejarah kenabian: dari Adam hingga Muhammad ﷺ, seruannya bergema dalam satu kalimat—sembahlah Allah, jangan menyekutukan-Nya, dan tunduklah kepada-Nya.














Leave a Reply