MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Milad 113 Muhammadiyah : Menebar Rahmat, Mencerahkan Semesta, Memajukan Bangsa

Milad 113 Muhammadiyah : Menebar Rahmat, Mencerahkan Semesta, Memajukan Bangsa

MILAD MUHAMMADIYAH KE-113: PERAN MUHAMMADIYAH DALAM MEMAJUKAN KESEJAHTERAAN BANGSA

Abstrak

Milad Muhammadiyah ke-113 menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran historis organisasi ini dalam memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia melalui gerakan dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, dan aksi kemanusiaan. Sejak berdirinya pada 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah memainkan peran strategis dalam transformasi sosial dengan menghubungkan nilai-nilai Islam berkemajuan (Islam berkemadjoean) dengan kebutuhan masyarakat modern. Artikel ini mengkaji sejarah kelahiran Muhammadiyah, kontribusi besarnya dalam membangun kesejahteraan nasional dan dunia, serta memberikan rekomendasi perbaikan untuk masa depan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah menjadi kekuatan sipil terbesar yang berkontribusi pada pembangunan bangsa, terutama melalui jaringan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, filantropi, dan kebijakan publik. Artikel ini menegaskan bahwa peran Muhammadiyah ke depan harus semakin adaptif terhadap tantangan digital, ketimpangan ekonomi, dan perubahan sosial agar tetap relevan sebagai penggerak kesejahteraan nasional.

Pendahuluan

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki rekam jejak panjang dalam pembaruan pemikiran dan aksi sosial. Sejak berdirinya, Muhammadiyah konsisten memadukan dimensi keagamaan dan kemasyarakatan sehingga dakwah tidak hanya diwujudkan dalam pengajaran spiritual, tetapi juga dalam pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pengembangan masyarakat. Melalui pendekatan tajdid, Muhammadiyah menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam yang mendorong perubahan sosial secara damai, progresif, dan inklusif.

Dalam konteks pembangunan bangsa, peran Muhammadiyah menjadi sangat strategis karena kapasitas institusionalnya yang besar. Dengan lebih dari 170 perguruan tinggi, 10.000 sekolah, 500 rumah sakit dan klinik, serta ribuan amal usaha sosial, Muhammadiyah menjadi kekuatan sipil yang efektif dalam memperluas akses terhadap layanan publik. Memperingati Milad ke-113, penting untuk melakukan refleksi kritis terhadap perjalanan panjang Muhammadiyah dalam memajukan kesejahteraan bangsa dan menilai peluang baru dalam menghadapi tantangan zaman.

Sejarah Kelahiran Muhammadiyah 

Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912 di Yogyakarta oleh KH. Ahmad Dahlan dengan visi untuk memperbaiki akidah umat dan memajukan masyarakat melalui pendidikan. Pada masa kolonial, kondisi umat sangat terpuruk akibat kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan. KH. Ahmad Dahlan terinspirasi oleh gerakan pembaruan Islam di Timur Tengah dan terpanggil untuk memurnikan ajaran Islam dari takhayul, bid’ah, dan khurafat, sekaligus memajukan umat melalui ilmu pengetahuan modern. Inilah embrio dari gerakan Islam berkemajuan yang menjadi identitas Muhammadiyah hingga kini.

Sejak awal berdirinya, pendidikan menjadi fokus utama Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah-sekolah modern yang mengintegrasikan pelajaran agama dan ilmu pengetahuan umum—suatu inovasi besar pada zamannya. Pendidikan menjadi alat utama untuk mengangkat derajat umat dan membentuk masyarakat yang berilmu, berakhlak, serta mampu berkompetisi dalam dunia modern. Melalui strategi pendidikan progresif ini, Muhammadiyah tumbuh sebagai gerakan pembaruan sosial-keagamaan yang kuat.

Dalam perkembangannya selama 113 tahun, Muhammadiyah terus memperluas amal usaha di berbagai bidang seperti kesehatan, sosial, kebencanaan, dan ekonomi. Seluruh gerakan tersebut bertumpu pada prinsip amar ma’ruf nahi munkar yang dipahami secara luas sebagai upaya membangun masyarakat sejahtera, bermartabat, dan tercerahkan. Inilah yang menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang paling berkelanjutan dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern.

Muhammadiyah dalam Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Muhammadiyah memainkan peran sentral dalam pendidikan nasional. Dengan jaringan ribuan sekolah, madrasah, dan lebih dari 170 perguruan tinggi, Muhammadiyah meningkatkan akses pendidikan berkualitas dari desa hingga kota. Pendidikan ini tidak hanya menghasilkan lulusan berilmu, tetapi juga berkarakter Islamic values yang kuat. Kontribusi Muhammadiyah dalam bidang pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang mempercepat mobilitas sosial dan pembangunan manusia Indonesia.

Kontribusi Muhammadiyah dalam kesehatan sangat signifikan. Dengan lebih dari 500 rumah sakit, klinik, dan layanan kesehatan, Muhammadiyah berperan penting dalam menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat luas, khususnya kelompok rentan. Sistem kesehatan Muhammadiyah juga menjadi salah satu yang terbesar dalam sektor non-pemerintah, membantu memperluas jangkauan program kesehatan nasional serta pendampingan masyarakat dalam isu gizi, stunting, dan kesehatan ibu-anak.

Muhammadiyah aktif dalam pemberdayaan ekonomi umat. Melalui gerakan ekonomi berkemajuan, koperasi, UMKM, dan lembaga keuangan syariah, Muhammadiyah mendorong ekonomi produktif berbasis etika Islam. Program-program seperti Majelis Ekonomi, Lazismu, dan lembaga kewirausahaan menjadi pilar penting untuk mengatasi kemiskinan struktural dan menciptakan kemandirian masyarakat.

Peran Muhammadiyah dalam kebencanaan semakin diakui dunia melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). MDMC merupakan salah satu organisasi kebencanaan terbaik di Asia Tenggara, dengan kemampuan respon cepat, penanganan darurat, rehabilitasi, hingga rekonstruksi. Keterlibatan Muhammadiyah dalam aksi kemanusiaan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara konflik seperti Palestina, Rohingya, dan Suriah.

Muhammadiyah memiliki peran besar dalam advokasi kebijakan publik. Melalui Majelis Hukum dan HAM, Majelis Tarjih dan Tajdid, serta Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik, Muhammadiyah aktif memberikan masukan terhadap kebijakan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial. Suara Muhammadiyah sering menjadi rujukan moral bangsa dalam perdebatan kebijakan publik dan etika sosial.

Peran Muhammadiyah dalam dakwah kultural dan sosial menjadi pondasi penting bagi kesejahteraan sosial. Gerakan dakwah bil-hal yang dilakukan melalui panti asuhan, layanan difabel, pemberdayaan perempuan, dan program-program literasi menjadikan Muhammadiyah organisasi yang menebarkan rahmat bagi seluruh masyarakat, lintas agama, dan lintas golongan.

Apakah Muhammadiyah Salah Satu Organisasi Kegamaan Terbesar Dunia. 

Muhammadiyah memang sangat besar dan berpengaruh di Indonesia, dan banyak pihak menyebutnya sebagai salah satu organisasi Islam terkemuka, tetapi klaim bahwa ia adalah “salah satu organisasi keagamaan terbesar di dunia” perlu dilihat dengan nuansa. Dari segi aset organisasi, data media seperti Seasia Stats menyebutkan bahwa Muhammadiyah menempati peringkat ke-4 organisasi keagamaan terkaya di dunia dengan total aset sekitar USD 27,96 miliar (sekitar Rp 454 triliun). Posisi ini menunjukkan besarnya kapasitas ekonomi Muhammadiyah dan potensi jangkauannya melalui amal usaha pendidikan, kesehatan, wakaf, dan lain-lain.

Namun, “besar” dalam konteks organisasi keagamaan bisa diartikan berbeda besar dalam aset, besar dalam jumlah anggota, atau besar dalam pengaruh global. Dari sisi jumlah anggota, Muhammadiyah memang sangat besar di Indonesia, tetapi tidak mudah membuktikan bahwa ia adalah salah satu organisasi Islam dengan jumlah anggota terbesar secara global. Beberapa tulisan akademis menyebut bahwa Muhammadiyah memiliki jutaan anggota dan jaringan amal usaha yang tersebar luas, tetapi angka pasti anggotanya secara global sangat terbatas dan tidak setara dengan organisasi keagamaan global yang memiliki pengikut lintas negara seperti gereja besar atau organisasi Islam internasional.

Kehadiran internasional Muhammadiyah memang terus berkembang, tetapi belum dalam skala organisasi keagamaan global yang sangat dominan. Ada PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) di beberapa negara, dan Muhammadiyah terlibat dalam upaya kemanusiaan global, tetapi jejak global Muhammadiyah lebih bersifat misi, pendidikan, dan amal usaha daripada organisasi keagamaan massal lintas negara dengan struktur keanggotaan global besar layaknya keagamaan institusional utama di dunia.

Muhammadiyah adalah “salah satu organisasi keagamaan terbesar di dunia” tidak sepenuhnya keliru, namun perlu diklarifikasi konteksnya: Muhammadiyah sangat besar dari segi aset dan infrastruktur keumatan di Indonesia, dan memiliki sejumlah aktivitas internasional; tetapi dari segi jumlah global anggota dan dominasi lembaga keagamaan lintas negara, ia mungkin sangat kompetitif dibanding dengan organisasi keagamaan yang berskala internasional massal dan institusional seperti beberapa gereja besar atau organisasi Islam global. Tampaknya klaim ttersebut bisa valid dalam beberapa dimensi seperti ekonomi, kelembagaan tetapi tidak dalam semua aspek yang lain.

Beberapa organisasi keagamaan internasional seperti Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks Timur, Southern Baptist Convention, Salvation Army, hingga jaringan organisasi Islam global seperti Nahdlatul Ulama, Jamaat Tabligh, dan Ikhwanul Muslimin memiliki skala keanggotaan lintas negara yang sangat luas, sehingga secara global lebih masif dibanding Muhammadiyah. Namun demikian, Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk semakin berkiprah di level internasional karena kekuatan aset, kredibilitas kelembagaan, tradisi intelektualitas, serta rekam jejak aksi kemanusiaan yang kuat. Dengan memperluas jejaring Muhammadiyah Aid, memperbanyak pusat pendidikan internasional, memperdalam diplomasi masyarakat, membangun kolaborasi dengan lembaga global, dan menghadirkan narasi Islam berkemajuan yang inklusif, Muhammadiyah berpeluang menjadi kekuatan moral dan sosial dunia yang semakin dihormati dan berpengaruh, membawa rahmat dan solusi bagi peradaban global.

Saran Momentum Milad 113 untuk Kemajuan Bangsa di Era Modern

Momentum Milad ke-113 insya Allah menjadi titik percepatan bagi Muhammadiyah untuk semakin maju dan berkembang di era modern dengan memperkuat inovasi digital, memperluas jejaring internasional, dan memperdalam kapasitas riset serta pemikiran keislaman berkemajuan. Transformasi amal usaha melalui teknologi, peningkatan kompetensi generasi muda, dan penguatan ekosistem ekonomi umat perlu diprioritaskan agar Muhammadiyah mampu menjawab tantangan global seperti isu kemanusiaan, perubahan iklim, kesehatan masyarakat, dan revolusi teknologi. Dengan menjaga nilai tajdid dan semangat ikhlas beramal, Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk tampil sebagai gerakan Islam modern yang bukan hanya kuat di tingkat nasional, tetapi juga menjadi rujukan peradaban di tingkat dunia.

  • Muhammadiyah perlu memperkuat literasi digital dan dakwah di ruang digital untuk menghadapi tantangan era disrupsi. Pengembangan kurikulum digital, pusat riset AI-Islam, dan dakwah kreatif perlu diperkuat agar pesan Islam berkemajuan menjangkau generasi muda.
  • Perlu penguatan kolaborasi Muhammadiyah dengan pemerintah dan sektor swasta untuk memperluas dampak layanan pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Kolaborasi ini harus tetap menjaga independensi Muhammadiyah dan nilai-nilai tajdid.
  • Muhammadiyah perlu meningkatkan kapasitas kader dalam bidang ekonomi syariah, kewirausahaan, dan inovasi agar mampu menjawab persoalan ketimpangan ekonomi umat. Pengembangan ekosistem ekonomi Muhammadiyah berbasis teknologi menjadi kebutuhan mendesak.
  • Perlu memperluas program-program penanggulangan kemiskinan struktural melalui pemberdayaan perempuan, penguatan UMKM, dan pengembangan industri halal. Lazismu, misalnya, harus menjadi lokomotif akselerasi kesejahteraan bagi keluarga rentan.
  • Muhammadiyah perlu memperkuat internasionalisasi melalui diplomasi kemanusiaan, pertukaran pendidikan global, dan pusat kajian Islam berkemajuan internasional. Langkah ini akan memperluas pengaruh Muhammadiyah sebagai gerakan Islam moderat dunia.

Inspirasi Milad Muhammadiyah

  • Muhammadiyah adalah cahaya yang terus menyala, menerangi umat dengan ilmu, amal, dan akhlak berkemajuan. Di Milad ke-113 ini, mari perkuat kembali komitmen untuk membangun bangsa melalui dakwah yang mencerahkan. Gerak Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, tetapi peradaban. Setiap sekolah, rumah sakit, panti, dan amal usaha adalah saksi bahwa Islam dapat hadir sebagai solusi.” “Di usia 113 tahun, Muhammadiyah mengajarkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang ikhlas, teratur, dan berkelanjutan
  • Dari Langgar Kidul, cahaya tajdid memancar ke seluruh Nusantara. Inilah Muhammadiyah: kecil dalam permulaan, besar dalam pengabdian. Berbuat baik tidak perlu menunggu sempurna. Itulah sebabnya Muhammadiyah terus bergerak.
  • Amal usaha adalah bukti bahwa Islam bukan sekadar wacana, tetapi peradaban yang hidup. Kader Muhammadiyah adalah penebar manfaat; di manapun berdiri, di situ ia menerangi. Milad ke-113 bukan hanya perayaan usia, tetapi perayaan kontribusi. Karena usia panjang tanpa karya bukanlah kemuliaan. Ketika umat membutuhkan, Muhammadiyah hadir. Ketika bangsa memanggil, Muhammadiyah menjawab. Teruslah menjadi pelayan umat, penolong sesama, dan pelita bagi bangsa. Itulah warisan Kiai Dahlan. Bangsa kuat lahir dari masyarakat yang tercerahkan. Muhammadiyah akan terus menyalakan obor pencerahan itu.”
  • 112 tahun berlalu, tetapi semangat fastabiqul khairat Muhammadiyah tidak pernah padam.” Dengan ilmu, dengan amal, dengan ketulusan, Muhammadiyah akan terus melangkah membawa Indonesia menuju kemajuan.

“Ya Allah, berkahilah gerakan Muhammadiyah, kuatkan langkah-langkah mereka dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan jadikan amal usahanya sebagai cahaya bagi bangsa dan umat. Ya Rabb, jadikan Milad Muhammadiyah ini sebagai momentum memperteguh iman, memperluas manfaat, dan mengokohkan komitmen untuk berkhidmat kepada kemanusiaan. Anugerahkan kepada para pimpinan, kader, dan simpatisan Muhammadiyah kekuatan untuk istiqamah, kecerdasan untuk berkarya, dan ketulusan untuk berkhidmat. Ampunilah para pendiri, pejuang, dan tokoh Muhammadiyah yang telah kembali kepada-Mu. Jadikan amal jariyah mereka terus mengalir hingga hari akhir”

Kesimpulan

Milad Muhammadiyah ke-113 menjadi momentum reflektif untuk menegaskan kembali peran strategis Muhammadiyah sebagai kekuatan besar dalam memajukan kesejahteraan bangsa. Sejak masa KH. Ahmad Dahlan hingga kini, Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai organisasi Islam berkemajuan yang memadukan dakwah, tajdid, dan aksi sosial secara harmonis. Melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, kebencanaan, dan kebijakan publik, Muhammadiyah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia. Dengan adaptasi terhadap tantangan era digital dan komitmen pada nilai-nilai Islam berkemajuan, Muhammadiyah akan terus menjadi pilar penting dalam mewujudkan bangsa yang berilmu, sehat, berdaulat, dan sejahtera.


Review dr Widodo Judarwanto, Masjid Al-Falah Benhil Jakarta

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *