MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Prof. Abdul Mu’ti: Dari Mimbar Dunia ke Mimbar Masjid

Prof. Abdul Mu’ti: Dari Mimbar Dunia ke Mimbar Masjid

Perjalanan intelektual, spiritual, dan kepemimpinan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., seorang cendekiawan Muslim moderat yang menjembatani dunia pendidikan, dakwah, dan diplomasi kebudayaan. Melalui pidato bersejarahnya di Sidang Umum UNESCO ke-43 di Samarkand tahun 2025, Prof. Mu’ti menegaskan peran Bahasa Indonesia sebagai simbol identitas nasional dan jembatan peradaban global, sembari menyerukan perdamaian dunia, solidaritas kemanusiaan, dan keadilan universal, termasuk bagi rakyat Palestina. Sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, ia memadukan nilai Islam, ilmu pengetahuan, dan kebijakan publik untuk membangun pendidikan berkeadilan dan berkarakter. Dari mimbar dunia ke mimbar Masjid, di tengah kiprahnya di panggung internasional, Prof. Mu’ti tetap hadir di akar umat sebagai Ketua Pembina Masjid Al-Falah Bendungan Hilir Jakarta, menjadikan masjid bukan sekadar tempat ibadah, tetapi pusat ilmu, sosial, dan peradaban. Sosoknya merepresentasikan keseimbangan antara nalar dan nurani, globalitas dan spiritualitas, serta menegaskan bahwa Islam adalah kekuatan pencerahan dan kemanusiaan yang hidup dari mimbar dunia hingga mimbar masjid.

Dalam lanskap global yang penuh dinamika dan ketegangan, sosok Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. hadir sebagai representasi intelektual Muslim Indonesia yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan secara harmonis. Artikel Prof. Abdul Mu’ti: Dari Mimbar Dunia ke Mimbar Masjid” menelusuri perjalanan panjang seorang pemikir, pendidik, dan pemimpin umat yang menegaskan bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga peradaban ilmu dan kedamaian. Melalui pidato bersejarahnya di Sidang Umum UNESCO ke-43 di Samarkand tahun 2025, Prof. Mu’ti menempatkan Bahasa Indonesia di panggung dunia sebagai simbol persatuan, identitas nasional, dan jembatan antarbudaya. Di forum internasional itu pula, ia menyerukan perdamaian global dan keadilan bagi seluruh umat manusia, termasuk bagi rakyat Palestina, dengan bahasa moral yang menyentuh hati nurani dunia.

Namun, di balik kesibukan dan kiprahnya di ranah global dan kebijakan publik sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Mu’ti tetap berpijak di bumi umat. Beliau masih menyempatkan diri untuk berkhitmat memakmurkan masjid dengan menjadi  Ketua Pembina Masjid Al-Falah Bendungan Hilir Jakarta, ia meneguhkan visi bahwa masjid harus menjadi episentrum peradaban: tempat tumbuhnya ilmu, karakter, dan kepedulian sosial. Pendekatan dakwahnya yang dialogis, inklusif, dan berlandaskan kasih sayang menunjukkan keseimbangan antara rasionalitas modern dan spiritualitas Islam. Melalui teladan dan gagasannya, Prof. Mu’ti membuktikan bahwa seorang intelektual Muslim dapat menyalakan cahaya ilmu dan iman sekaligus  dari mimbar dunia di UNESCO hingga mimbar masjid di tengah masyarakat.

Sang Cendekia Moderat dari Muhammadiyah

Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., dikenal sebagai sosok cendekiawan Muslim yang memadukan keilmuan, kebijaksanaan, dan keteladanan dalam satu pribadi. Lahir dari lingkungan religius dan intelektual, ia tumbuh dengan semangat mencari ilmu dan berdakwah melalui pendidikan. Dari ruang akademik hingga forum-forum dunia, Prof. Mu’ti tampil sebagai figur Islam moderat yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan kemajuan peradaban.

Sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan kini Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Mu’ti menunjukkan bahwa kepemimpinan Islam sejati tidak berhenti di batas institusi. Ia meluas ke seluruh aspek kehidupan bangsa dan dunia. Dalam setiap langkahnya, ia menegaskan bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi sumber nilai dan moral yang menuntun umat untuk berilmu, beradab, dan bermanfaat bagi sesama.

Dari Mimbar Dunia ke Mimbar Masjid

Pertama dalam sejarah menjadikan momen monumental yang menegaskan posisi Bahasa Indonesia di panggung dunia sekaligus menggemakan pesan kemanusiaan lintas bangsa. Dari podium megah di Samarkand, Uzbekistan, pada 6 November 2025, prof Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia itu menyampaikan National Statement dalam Bahasa Indonesia untuk pertama kalinya dalam sejarah forum UNESCO dengan penuh wibawa, kehangatan, dan kebanggaan.

Melalui pantun pembuka yang memikat, “Bunga selasih mekar di taman, petik setangkai buat ramuan. Terima kasih saya ucapkan, atas kesempatan menyampaikan pernyataan,” Prof. Mu’ti memukau para delegasi dari 194 negara dan menegaskan bahwa bahasa adalah identitas bangsa sekaligus jembatan peradaban. Namun, lebih dari sekadar simbol kebahasaan, pidatonya menyerukan suara nurani dunia: perlindungan kemanusiaan di wilayah konflik, termasuk tragedi Gaza, dan penguatan nilai-nilai pendidikan, kebudayaan, serta perdamaian universal. Ia menegaskan bahwa UNESCO harus menjadi kompas etika global dan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak tanpa kecuali. Pidato itu disampaikan dalam Sidang Umum UNESCO ke-43 yang untuk pertama kalinya sejak 1985 digelar di luar Paris, dengan Prof. Mu’ti yang bahkan menegosiasikan waktu agar pantun penutup tetap tersampaikan—sebuah langkah cerdas memperkenalkan wajah budaya Indonesia yang santun dan beradab. Baginya, diplomasi bahasa adalah soft power bangsa yang menyapa dunia dengan kearifan dan kemanusiaan.

Puncaknya, ia menutup pidato UNESCO dengan pantun penuh makna: “Dari Jakarta ke Samarkand, kota bersejarah nan menawan. Jika manusia bergandeng tangan, dunia indah penuh kedamaian.” Pantun itu menjadi gema nurani yang menembus batas-batas politik dan ideologi, menyerukan persatuan dalam kemanusiaan, ilmu, dan budaya. Dari Samarkand hingga Jakarta, pesan Prof. Mu’ti mengalir sebagai ajakan abadi: jadikan pendidikan jalan pembebasan, bahasa sebagai jembatan persaudaraan, dan kebudayaan sebagai perekat peradaban; sebab di tangan manusia yang bergandeng hati, dunia akan selalu menemukan kedamaian.

Dari mimbar dunia ke mimbar masjid, di balik kesibukannya di panggung internasional, Prof. Abdul Mu’ti tetap hadir di tengah umat sebagai pendakwah beliau memadukan peran negarawan dan pembimbing spiritual: dari ruang rapat kabinet hingga ruang taklim maajid, dari forum UNESCO hingga khutbah Jumat. Di luar kesibukan luarbiasa di forum internasional, Prof. Mu’ti juga dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah, intelektual muslim, beliau menyempatkan untuk memakmurkan masjid yang berkhitmad sebagai Ketua Dewan Pembina Masjid Al-Falah Bendungan Hilir (MAB), Jakarta.  Di mimbar masjid beliau memimpin gerakan dakwah berpadu dengan pendidikan dan sosial. Di bawah pembinaannya, diharapkan MAB akan tumbuh dan dikembangkan menjadi pusat ilmu dan iman, tempat pembinaan umat berakhlak, cerdas, dan berwawasan global. Dari mimbar dunia hingga mimbar masjid, Prof. Mu’ti menampilkan keseimbangan antara tugas kenegaraan dan tanggung jawab keumatan; dari UNESCO ia membawa pesan perdamaian global, sementara dari mimbar Masjid ia menanamkan nilai Islam yang mencerahkan dan membangun peradaban. “Sebagaimana bahasa adalah jembatan antarbangsa, masjid adalah jembatan antarhati manusia,” ujarnya dalam salah satu khutbahnya kalimat yang menggambarkan harmoni antara diplomasi kebangsaan dan dakwah kemanusiaan.

Di balik kesibukannya di panggung internasional, Prof. Abdul Mu’ti tetap hadir di tengah umat sebagai pendakwah beliau memadukan peran negarawan dan pembimbing spiritual: dari ruang rapat kabinet hingga ruang taklim, dari forum UNESCO hingga khutbah Jumat. Baginya, masjid bukan sekadar tempat ibadah, tetapi pusat peradaban. “Sebagaimana bahasa adalah jembatan antarbangsa, masjid adalah jembatan antarhati manusia,” ujarnya suatu ketika di Masjid Al-Falah Benhil. Pandangan ini merefleksikan visinya tentang Islam yang inklusif, menebar kasih, dan mempersatukan.

Pemikiran tentang Dakwah Islam

Dalam pandangan Prof. Mu’ti, dakwah Islam sejati bukanlah sekadar penyampaian pesan, tetapi proses pencerahan akal dan penyucian jiwa. Dakwah harus menyentuh akal sehat, menembus hati nurani, dan membimbing manusia pada nilai-nilai kebaikan universal. Ia sering menekankan bahwa Islam tidak datang untuk memaksa, tetapi untuk mengajak dengan hikmah dan kasih sayang. Baginya, tugas pendakwah bukan menghakimi, melainkan menuntun; bukan membelah umat, tetapi memeluknya dengan kelembutan dan kebijaksanaan.

Ia menolak pendekatan dakwah yang bersifat reaktif dan konfrontatif. Sebaliknya, Prof. Mu’ti menekankan pentingnya dakwah dialogis yang membangun jembatan antarumat manusia. Dakwah harus relevan dengan zaman, berbasis ilmu, dan terbuka terhadap perbedaan. Dalam banyak kesempatan, ia menyampaikan bahwa dakwah bukanlah perang ide, tetapi perjalanan menuju saling pengertian. “Islam datang bukan untuk memenangkan perdebatan, tetapi memenangkan hati manusia,” ucapnya dalam satu forum ilmiah di Yogyakarta.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa dakwah harus menembus batas masjid, media, dan dunia maya. Di era digital, ruang dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar, tetapi juga media sosial dan ruang publik global. Bagi Prof. Mu’ti, inilah dakwah modern — dakwah yang adaptif terhadap teknologi, namun tetap berakar pada nilai Qur’ani dan akhlak Rasulullah ﷺ.

Pemikiran tentang Pendidikan Islam

Sebagai seorang akademisi dan reformis pendidikan, Prof. Mu’ti memandang pendidikan sebagai sarana utama membangun peradaban Islam yang berkemajuan. Pendidikan, menurutnya, bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, moral, dan kesadaran spiritual. Ia sering mengutip bahwa “pendidikan sejati adalah pendidikan yang menumbuhkan manusia menjadi khalifah di bumi berilmu, berakhlak, dan berempati.”

Ia mendorong paradigma pendidikan Islam yang holistik, memadukan iman, ilmu, dan amal. Bagi Prof. Mu’ti, pendidikan Islam tidak boleh hanya menyiapkan anak untuk sukses dunia, tetapi juga menuntunnya untuk bermakna bagi sesama. Karena itu, ia memperjuangkan kurikulum yang menyatukan nilai-nilai agama dengan sains modern, agar lahir generasi Muslim yang cerdas spiritual, rasional, dan sosial.

Dalam skala kebijakan nasional, ia menegaskan pentingnya pendidikan yang inklusif, adil, dan berkeadilan sosial. Setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi atau agama, berhak mendapatkan pendidikan bermutu. Visi ini menjadikan pendidikan bukan hanya alat kemajuan bangsa, tetapi juga wahana keadilan dan kemanusiaan.

Dakwah dan Memakmurkan Masjid

Bagi Prof. Mu’ti, masjid adalah pusat dakwah dan kebangkitan umat. Ia menolak pandangan sempit bahwa masjid hanya tempat shalat, tetapi menegaskan bahwa masjid adalah ruang kebudayaan, pendidikan, dan solidaritas sosial. Dalam banyak dakwahnya di Masjid Al-Falah Benhil, beliau mengajak jamaah untuk menjadikan masjid sebagai tempat belajar, berdiskusi, berinovasi, dan mengabdi.

Ia percaya, ketika masjid kembali berfungsi sebagai pusat ilmu dan amal, maka masyarakat akan tercerahkan. Dalam visi beliau, masjid modern adalah masjid yang ramah generasi muda, terbuka terhadap kreativitas, dan adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai sakralnya. “Masjid bukan hanya rumah Allah, tapi juga rumah bagi semua yang mencari cahaya,” ujarnya.

Inspirasi dan Keteladanan

Prof. Abdul Mu’ti adalah teladan pemimpin berjiwa Qur’ani yang menjadikan keikhlasan sebagai pusat kekuatan. Ia membuktikan bahwa kekuasaan sejati bukanlah kemampuan untuk memerintah, tetapi kemampuan menjaga kejujuran dan amanah. Sikapnya yang menolak jabatan politik bergengsi pada tahun 2020 menunjukkan bahwa bagi dirinya, amanah lebih berharga daripada ambisi.

Dalam dirinya, ilmu dan iman berpadu dengan harmoni. Ia membangun narasi Islam yang menyejukkan, mengajarkan bahwa modernitas tidak berarti meninggalkan nilai, dan globalisasi tidak boleh menghapus identitas. Dengan pikiran global, jiwa nasional, dan hati Qur’ani, Prof. Mu’ti menampilkan Islam sebagai agama yang mencerahkan, menyatukan, dan memanusiakan.

Pemikiran dan inspirasi Prof. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Islam bukan sekadar sistem kepercayaan, melainkan peradaban yang hidup dalam ilmu, kasih sayang, dan kemanusiaan. Ia menjembatani dunia dakwah, pendidikan, dan kebijakan publik dengan prinsip moderasi dan kebijaksanaan. Dari mimbar dunia hingga mimbar masjid, beliau terus menyalakan obor pencerahan menegaskan bahwa ilmu adalah cahaya, kasih sayang adalah bahasa universal, dan dakwah adalah jalan menuju kedamaian. Pantun penutupnya di UNESCO: “Dari Jakarta ke Samarkand, kota bersejarah nan menawan. Jika manusia bergandeng tangan, dunia indah penuh kedamaian.” Pesan itu kini menjadi cerminan hidupnya  bahwa persaudaraan, ilmu, dan cinta kasih adalah jembatan yang akan menyatukan peradaban manusia di bawah cahaya Islam yang rahmatan lil ‘alamin.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *