MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

BIOGRAFI TOKOH MUSLIM: Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed. Inspirasi Terhebat Umat Muslim Indonesia

BIOGRAFI TOKOH MUSLIM: Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed. Inspirasi Terhebat Umat Muslim Indonesia

Profil Singkat

Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed. (lahir di Kudus, 2 September 1968) adalah seorang akademisi, pemikir pendidikan Islam, dan tokoh moderat Indonesia yang kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sejak 21 Oktober 2024. Ia juga merupakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027, dan dikenal luas sebagai figur pembaharu pendidikan Islam, diplomat kebudayaan, serta intelektual Muslim berpengaruh di tingkat nasional dan global.
Pendidikan dasarnya ia tempuh di Kudus, hingga meraih gelar Sarjana (S1) Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang (1991), kemudian Master of Education dari Flinders University of South Australia (1997), dan Doktor (Ph.D.) dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2008). Kedisiplinan ilmiah, pandangan kosmopolit, dan keluasan wawasan spiritual menjadikannya figur Muslim global yang memadukan rasionalitas akademik dengan nilai-nilai profetik Islam.

Latar Belakang dan Pendidikan

Lahir sebagai putra sulung dari pasangan Jamyadi dan Kartinah, Abdul Mu’ti tumbuh dalam tradisi Islam yang kuat di lingkungan pesantren dan madrasah Kudus. Sejak kecil, ia dikenal tekun, gemar membaca, dan memiliki semangat belajar tinggi. Ia menamatkan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Manafiul Ulum Kudus (1980), Madrasah Tsanawiyah Negeri Kudus (1983), dan Madrasah Aliyah Negeri Purwodadi Filial Kudus (1986).

Perjalanan akademiknya menegaskan konsistensi pada dunia pendidikan Islam. Setelah menyelesaikan sarjana di IAIN Walisongo (1991), ia melanjutkan studi ke Flinders University, Australia Selatan, tempat ia memperoleh gelar Master of Education (1997). Pengalaman studi internasional ini memperluas cakrawala pemikirannya tentang modernisasi pendidikan Islam. Tahun 2005, ia mengikuti Short Course on Governance and Sharia di University of Birmingham, Inggris, dan pada 2008 menuntaskan Program Doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan disertasi yang menegaskan sinergi antara nilai Islam, modernitas, dan kemanusiaan universal.

Latar pendidikan lintas benua ini membentuk pandangan hidup Prof. Mu’ti sebagai intelektual Muslim berwawasan global namun berakar lokal, menjadikan ilmu bukan sekadar alat berpikir, melainkan sarana membangun keadilan dan perdamaian.

Karier Akademik dan Profesional

Abdul Mu’ti memulai karier sebagai dosen tetap di IAIN Walisongo Semarang (1993–2013) sebelum bergabung dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2014–sekarang). Reputasi akademiknya menjadikannya dipercaya sebagai Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (2011–2017) dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (2019–2021), dua lembaga penting yang menentukan mutu pendidikan nasional.

Di kancah internasional, ia dipercaya sebagai Advisor di British Council, London (sejak 2006) serta aktif dalam berbagai forum global seperti Asia Conference of Religions for Peace dan US–Indonesia Interfaith Dialogue, memperjuangkan moderasi beragama dan kolaborasi lintas budaya.

Pada 2 September 2020, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan Agama Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sekaligus menandai tonggak penting dalam kiprahnya sebagai pemikir pendidikan Islam modern. Pemikiran akademisnya berfokus pada hubungan antara agama, etika, dan transformasi sosial, menjadikannya tokoh yang menjembatani dunia ilmu dan dunia dakwah dengan gaya argumentatif, lembut, dan meneduhkan.

Kiprah di Muhammadiyah dan Dunia Dakwah

Sejak 1994, Prof. Mu’ti aktif di organisasi Muhammadiyah, tempat ia membangun reputasi sebagai reformer pendidikan dan penggerak moderasi Islam. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah (2000–2002), kemudian Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (2002–2006), dan Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah (2005–2010).

Sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, ia menjadi sosok sentral dalam mengartikulasikan Islam wasathiyah Islam tengah yang adil, berimbang, dan solutif. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah tampil di garis depan gerakan pencerahan (tanwir), pendidikan berkemajuan, dan dialog lintas iman. Pandangannya bahwa “pendidikan bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan” menjadikan konsep pendidikan mencerahkan sebagai ciri khas pendidikan Muhammadiyah masa kini.

Di tengah ksiibukan  luarbiasa di ranah organisasi, kesibukan inelektual nasional dan internasional serta sebagai pejabat tertinggi pemerintahan di bidang pendidikan , Prof. Mu’ti masih menyempatkan membina kegiatan memakmurkan masjid di Masjid Al-Falah Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, tempat ia berkhidmat sebagai Ketua Dewan Pembina. Di bawah arahannya, masjid ini diharapkan akan berkembang menjadi pusat dakwah urban dan literasi Islam digital. Melalui sinergi antara iman, ilmu, dan teknologi, Masjid Al-Falah menjadi laboratorium peradaban umat modern. Dalam salah satu khutbahnya, ia menegaskan: “Sebagaimana bahasa adalah jembatan antarbangsa, masjid adalah jembatan antarhati manusia.” Kalimat sederhana namun sarat makna ini menjadi refleksi dakwahnya bahwa Islam harus hadir untuk mempersatukan, bukan memisahkan.

Reformasi dan Transformasi Pendidikan 

Dalam perjalanan panjangnya di dunia pendidikan, Prof. Abdul Mu’ti telah menjadi arsitek utama di balik reformasi pendidikan Muhammadiyah yang menekankan inklusivitas, kualitas, dan moderasi Islam. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah menghadirkan sistem pendidikan yang modern dan adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam yang mencerahkan. Ia mendorong pembaruan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan global, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, serta pemerataan akses pendidikan hingga ke daerah-daerah terpencil. Reformasi ini menegaskan komitmen beliau terhadap gagasan pendidikan inklusif dan humanis, di mana setiap anak bangsa berhak memperoleh kesempatan belajar tanpa memandang latar belakang sosial dan ekonomi. Bagi Prof. Mu’ti, pendidikan sejati bukan sekadar mencetak intelektual, tetapi membentuk manusia berakhlak, berjiwa sosial, dan berperan aktif dalam membangun peradaban bangsa.

Salah satu gagasan besar Prof. Mu’ti adalah pendidikan inklusif — pendidikan yang memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensinya tanpa diskriminasi. Ia menegaskan bahwa kualitas pendidikan harus berjalan beriringan dengan keadilan akses. Dalam pandangannya, “pendidikan sejati bukan milik segelintir orang, melainkan hak semua manusia yang ingin belajar dan berbuat baik.” Selain itu, Prof. Mu’ti mengembangkan konsep kolaborasi antara pendidikan formal dan non-formal, karena menurutnya pembelajaran sejati tidak hanya terjadi di ruang kelas, melainkan juga dalam interaksi sosial dan pengalaman hidup. Ia memperkuat peran majelis taklim, pesantren modern, serta pusat keterampilan Muhammadiyah sebagai wahana pembentukan karakter dan kecakapan hidup. Pendekatan ini memperluas makna pendidikan dari sekadar proses intelektual menjadi sarana pemberdayaan umat dan peneguhan nilai-nilai kemanusiaan.

Keberhasilan Prof. Abdul Mu’ti dalam mereformasi pendidikan Muhammadiyah menjadi bekal berharga ketika ia dipercaya sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (2024–sekarang). Dalam kapasitas ini, beliau mengusung visi transformasi pendidikan nasional yang menekankan pemerataan, kualitas, dan karakter. Ia memperkenalkan konsep “pendidikan bermutu untuk semua”, yang berorientasi pada peningkatan mutu pembelajaran sekaligus memperluas akses hingga ke pelosok negeri. Di era digital, Prof. Mu’ti mendorong pemanfaatan teknologi sebagai sarana dakwah dan pencerahan, agar pendidikan tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menumbuhkan akhlak dan jiwa kemanusiaan. Dengan pendekatan inklusif dan moderat berbasis nilai wasathiyah, Prof. Abdul Mu’ti menjadikan pendidikan sebagai kekuatan pemersatu bangsa dan fondasi bagi lahirnya generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri keislaman dan kebangsaannya.

Pidato Bersejarah di UNESCO: Suara Bahasa dan Kemanusiaan

Puncak kiprah global Prof. Abdul Mu’ti terukir pada Sidang Umum UNESCO ke-43 di Samarkand, Uzbekistan (6 November 2025), ketika ia menyampaikan National Statement dalam Bahasa Indonesia untuk pertama kalinya dalam sejarah forum dunia itu.

Pidato bertajuk “Bahasa Indonesia: Suara Kemanusiaan Dunia” menjadi simbol kebanggaan nasional dan diplomasi kebudayaan. Dengan pantun pembuka yang memikat:“Bunga selasih mekar di taman, petik setangkai buat ramuan.
Terima kasih saya ucapkan, atas kesempatan menyampaikan pernyataan.” Pidato itu menggema di ruang sidang UNESCO, disambut tepuk tangan dari 194 negara anggota. Prof. Mu’ti menegaskan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi jembatan peradaban dan ekspresi kemanusiaan universal. Ia menyerukan agar UNESCO menjadi “kompas etika dunia” dalam melindungi guru, pelajar, dan relawan di wilayah konflik, termasuk tragedi Gaza.

Dalam penutupnya, ia kembali berpantun: “Dari Jakarta ke Samarkand, kota bersejarah nan menawan. Jika manusia bergandeng tangan, dunia indah penuh kedamaian.” Pantun itu bukan sekadar simbol budaya, melainkan gema nurani dunia bahwa perdamaian lahir dari bahasa kasih, pendidikan, dan kolaborasi antarbangsa. Dari Samarkand ke Jakarta, dari forum UNESCO ke mimbar Masjid Al-Falah, suara Prof. Mu’ti menjadi jembatan antara ilmu, iman, dan kemanusiaan global.

Karya dan Pemikiran

Sebagai intelektual produktif, Prof. Abdul Mu’ti telah menulis banyak karya monumental, di antaranya:

  • Mengarusutamakan Wasathiyah (Republika, 2018)
  • Kristen Muhammadiyah: Konvergensi Muslim dan Kristen dalam Pendidikan (Al-Wasat, 2009)
  • Inkulturasi Islam: Menyemai Persaudaraan, Keadilan, dan Emansipasi Kemanusiaan (Al-Wasat, 2009)
  • Deformalisasi Islam (Grafindo, 2004)
  • Ta’awun untuk Negeri: Transformasi Al-Ma’un dalam Konteks Keindonesiaan (Majelis Pustaka PP Muhammadiyah, 2019)
  • Beragam dan Pendidikan yang Mencerahkan (UHAMKA Press, 2019)

Tulisan-tulisannya merefleksikan pemikiran Islam progresif, kosmopolit, dan humanis, menempatkan ilmu dan pendidikan sebagai jalan menuju keadilan sosial dan peradaban berkelanjutan.

Inspirasi dan Keteladanan

Prof. Abdul Mu’ti adalah sosok yang memadukan kecerdasan spiritual, keteguhan moral, dan komitmen tanpa batas terhadap kemanusiaan. Dalam perjalanan hidupnya, ia menunjukkan bahwa kekuatan seorang pemimpin tidak terletak pada jabatan yang disandang, melainkan pada keikhlasan dalam mengemban amanah. Ketika pada tahun 2020 ia menolak jabatan sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, keputusan itu bukan bentuk penolakan terhadap pengabdian, melainkan penegasan atas prinsip yang dipegang teguh: menjaga independensi intelektual dan integritas dakwah. Bagi Prof. Mu’ti, kekuasaan sejati bukanlah kekuasaan yang mengatur, tetapi kekuasaan untuk memelihara kejujuran, ilmu, dan keteladanan. Sikapnya menjadi teladan bahwa amanah lebih mulia daripada ambisi, dan bahwa nilai tidak diukur dari posisi, melainkan dari kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat.

Dari mimbar dunia di UNESCO hingga mimbar Masjid, Prof. Mu’ti menebarkan pesan pencerahan yang menyejukkan. Dalam setiap kata dan langkahnya, ia memadukan ilmu dan iman, nalar dan nurani, menjadikan Islam bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi juga panduan peradaban. Ia percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk membangun masyarakat yang damai dan berkeadilan, sementara dakwah adalah jalan untuk menanamkan kasih sayang dan menghormati perbedaan. Di bawah bimbingannya, banyak generasi muda Muslim menemukan inspirasi untuk menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan peduli terhadap sesama. Melalui pendekatan yang lembut namun tegas, Prof. Mu’ti mengajarkan bahwa Islam sejati adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan sumber perpecahan, melainkan jembatan yang menghubungkan hati manusia.

Sosoknya menjadi guru bangsa dan panutan moral di tengah dunia yang terus berubah. Dalam pandangan Prof. Mu’ti, modernitas tidak berarti meninggalkan nilai, dan globalisasi tidak seharusnya menghapus identitas. Justru di tengah arus zaman inilah, nilai-nilai Qur’ani harus hadir sebagai cahaya penuntun. Ia mengajarkan kepada umat bahwa menjadi Muslim modern berarti berpikir terbuka, bersikap bijak, dan bertindak penuh kasih. Dengan pikiran global, jiwa nasional, dan hati Qur’ani, Prof. Abdul Mu’ti berdiri sebagai cermin keindahan Islam yang mencerahkan: intelektual yang rendah hati, pemimpin yang melayani, dan ulama yang menjembatani ilmu dengan kemanusiaan. Dalam dirinya, umat melihat sosok yang bukan hanya berbicara tentang nilai, tetapi hidup di dalamnya  menjadikan hidup sebagai dakwah, dan dakwah sebagai kehidupan.

Prof. Abdul Mu’ti adalah cermin pemimpin berjiwa Qur’ani yang mengajarkan bahwa kemuliaan bukanlah pada jabatan, tetapi pada keikhlasan dalam berkhidmat. Dengan kecerdasan spiritual, keteguhan moral, dan komitmen kemanusiaan yang mendalam, beliau menunjukkan bahwa dakwah sejati adalah keteladanan, bukan hanya ucapan. Dari mimbar dunia hingga mimbar masjid, beliau menebar cahaya ilmu dan kasih, menjadikan Islam sebagai rahmat yang mempersatukan, bukan memecah belah. Dalam dirinya, terpancar makna sejati dari sabda Nabi ﷺ, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Prof. Mu’ti hidup dalam nilai itu — menjadikan hidupnya sebagai dakwah, dan dakwahnya sebagai kehidupan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *