MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Bahasa Indonesia Mendunia: Diplomasi Pendidikan dan Budaya Prof. Abdul Mu’ti

Bahasa Indonesia Mendunia: Diplomasi Pendidikan dan Budaya Prof. Abdul Mu’ti

Kairo – 6 November 2025

“Bahasa Indonesia kini bukan hanya bahasa bangsa, tetapi bahasa dunia yang membawa pesan damai, ilmu, dan persaudaraan lintas peradaban.” — Prof. Abdul Mu’ti

Dalam momen bersejarah di Universitas Al-Azhar Kairo, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menegaskan diplomasi bahasa dan pendidikan Indonesia di kancah global. Kehadirannya untuk meresmikan Program Studi Bahasa Indonesia menandai tonggak sejarah: pertama kalinya Bahasa Indonesia menjadi prodi resmi di Al-Azhar, universitas Islam tertua dan paling bergengsi di dunia, dengan sekitar 300 mahasiswa asing yang telah mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia.

Dalam sambutannya, Prof. Mu’ti menekankan bahwa pembukaan prodi ini bukan sekadar akademik, tetapi jembatan peradaban dan persaudaraan internasional. “Kami berterima kasih kepada Universitas Al-Azhar yang telah memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa Indonesia dan kini memberikan kehormatan besar bagi bangsa kami dengan membuka Program Studi Bahasa Indonesia. Ini bukan hanya tentang bahasa, tetapi tentang jembatan peradaban dan persaudaraan antara Indonesia dan Mesir,” ujarnya.

Rektor Al-Azhar, Prof. Dr. Syaikh Salamah Daud, menyambut baik inisiatif ini dan menekankan pentingnya keberlanjutan program melalui kerja sama dalam penyediaan tenaga pengajar, pelatihan dosen, serta pengembangan kurikulum. Kini Bahasa Indonesia sejajar dengan lebih dari 14 bahasa asing lain yang diajarkan di Fakultas Bahasa dan Terjemah, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, dan Mandarin.

Bahasa Indonesia Sebagai Alat Diplomasi Global

Langkah monumental ini merupakan hasil kerja sama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kemendikdasmen, dan Universitas Al-Azhar. Pembukaan prodi menandai kelanjutan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang dimulai sejak 2016 dan menjadi bahasa pilihan kedua di Fakultas Bahasa dan Terjemah sejak 2019.

Data internasional menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia kini digunakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia, termasuk sekitar 30 juta penutur di luar Indonesia. Menurut Ethnologue 2025, Bahasa Indonesia termasuk dalam 10 besar bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di dunia, menegaskan perannya sebagai soft power diplomasi budaya yang memperkuat relasi internasional melalui pendidikan, kebudayaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan pembukaan prodi di Al-Azhar, Indonesia tidak hanya menegaskan identitas nasionalnya tetapi juga memperluas pengaruh di dunia Islam dan internasional. Bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa peradaban, menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan, kedamaian, dan persaudaraan lintas negara, sekaligus memperkuat diplomasi kebudayaan global Indonesia.

Inspirasi dari Sidang Umum UNESCO

Pidato bersejarah Prof. Abdul Mu’ti di Sidang Umum UNESCO ke-43 di Samarkand, Uzbekistan, menjadi momen monumental yang menegaskan posisi Bahasa Indonesia di panggung dunia sekaligus menyuarakan pesan kemanusiaan lintas bangsa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah forum UNESCO, Prof. Mu’ti menyampaikan National Statement dalam Bahasa Indonesia dengan penuh wibawa, kehangatan, dan kebanggaan.

Melalui pantun pembuka, “Bunga selasih mekar di taman, petik setangkai buat ramuan. Terima kasih saya ucapkan, atas kesempatan menyampaikan pernyataan,” ia memukau delegasi dari 194 negara dan menegaskan bahwa bahasa adalah identitas bangsa sekaligus jembatan peradaban. Lebih dari simbol kebahasaan, pidatonya menyerukan perlindungan kemanusiaan di wilayah konflik, termasuk Gaza, dan menekankan pentingnya pendidikan, kebudayaan, dan perdamaian universal. UNESCO, menurut Mu’ti, harus menjadi kompas etika global.

Pidato itu disampaikan dalam Sidang Umum UNESCO yang untuk pertama kalinya sejak 1985 digelar di luar Paris, dengan Prof. Mu’ti menegosiasikan waktu agar pantun penutup tetap tersampaikan—menampilkan wajah budaya Indonesia yang santun dan beradab. Ia menutup pidato dengan pantun yang memukau:

“Dari Jakarta ke Samarkand, kota bersejarah nan menawan. Jika manusia bergandeng tangan, dunia indah penuh kedamaian.”

Pantun ini menjadi gema nurani global yang melampaui politik dan ideologi, menyerukan persatuan dalam kemanusiaan, ilmu, dan budaya. Dari Samarkand hingga Jakarta, pesan Prof. Mu’ti mengalir sebagai ajakan abadi: menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan, bahasa sebagai jembatan persaudaraan, dan kebudayaan sebagai perekat peradaban.


 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *