Pidato Bersejarah di UNESCO: Prof Abdul Mu’ti Suarakan Bahasa Indonesia dan Kemanusiaan Dunia. Dari Samarkand, Bahasa Indonesia Menggema – dari Mimbar Dunia hingga Mimbar Masjid Al-Falah Benhil
Jakarta, 6 November 2025
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Bahasa Indonesia bergema di Sidang Umum UNESCO. Di podium megah Kota Samarkand, Uzbekistan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Abdul Mu’ti M Ed, berdiri tegak menyampaikan National Statement dengan penuh wibawa dalam Bahasa Indonesia.
Pidato bersejarah itu bukan sekadar simbol kebanggaan linguistik, tetapi juga gema kemanusiaan dan peradaban. Dengan pembukaan pantun yang hangat dan khas Nusantara, Abdul Mu’ti memukau para delegasi dari 194 negara anggota UNESCO. “Bunga selasih mekar di taman, petik setangkai buat ramuan. Terima kasih saya ucapkan, atas kesempatan menyampaikan pernyataan,” ucapnya disambut tepuk tangan hangat para delegasi. Momen ini menandai tonggak sejarah: untuk pertama kalinya Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa kerja resmi di forum internasional UNESCO. Sebuah capaian hasil perjuangan panjang diplomasi kebahasaan Indonesia yang akhirnya diakui dunia.
Dari Bahasa ke Kemanusiaan
Namun, pidato Prof. Mu’ti tidak hanya berbicara soal bahasa. Ia menyerukan suara nurani dunia: perlindungan kemanusiaan di daerah konflik, termasuk tragedi kemanusiaan di Gaza. “UNESCO harus menjadi kompas etika bagi peradaban dunia,” tegasnya.
Ia menyerukan agar komunitas internasional menjamin keselamatan pelajar, guru, jurnalis, dan relawan kemanusiaan di zona konflik. Ia juga menekankan bahwa pendidikan dan kebudayaan bukan sekadar agenda politik, melainkan hak dasar manusia yang harus dijaga dalam situasi apa pun.
“Nilai-nilai mendasar inilah yang membawa kami pada penegasan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak, dan tidak boleh ada satu pun yang tertinggal,” ujar Mu’ti dengan suara yang menggema penuh keyakinan.
Bahasa Indonesia Mendunia
Pidato berbahasa Indonesia itu disampaikan di tengah perhelatan Sidang Umum UNESCO ke-43 yang digelar di luar Paris untuk pertama kalinya sejak 1985. Prof. Mu’ti bahkan sempat “menegosiasikan waktu pidato” agar pantun pembuka dan penutup tetap bisa disampaikan—demi menampilkan wajah budaya Indonesia yang beradab, santun, dan penuh makna.
Apalagi sekarang Bahasa Indonesia sudah diajarkan di 57 negara. Kita punya BIPA, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing yang menjadi jembatan antarbangsa,” tutur Mu’t dengan senyum optimis. Baginya, diplomasi budaya adalah kekuatan lunak (soft power) bangsa. Melalui bahasa, Indonesia tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi juga menyapa dunia dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian.
Dari Mimbar Dunia ke Mimbar Masjid
Di balik panggung internasional, Prof. Abdul Mu’ti tak hanya dikenal sebagai pejabat negara dan intelektual muslim, tetapi juga sebagai pengurus Pusat Pimpinan Muhammadiyah yang berperan aktif dalam gerakan pencerahan Islam modern di Indonesia. Sosoknya dikenal rendah hati, berwawasan luas, dan visioner dalam memadukan nilai-nilai keislaman dengan kemajuan zaman. Sebagai seorang pendakwah, Prof. Mu’ti kerap menyerukan pentingnya Islam yang berkemajuan. Islam yang membangun peradaban, menghargai ilmu pengetahuan, dan menebarkan kedamaian di tengah keragaman bangsa.
Selain di ranah nasional dan global, kiprah Prof. Mu’ti juga tampak nyata dalam kehidupan umat di akar rumput, beliau juga masih menyempatkan menjadi Ketua Dewan Pembina Masjid Al-Falah Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, ia menjadi figur sentral dalam menggerakkan dakwah yang berpadu dengan pendidikan, sosial, dan teknologi keislaman. Di bawah pembinaannya, Masjid Al-Falah berkembang menjadi pusat kegiatan yang dinamis bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang edukasi, inovasi, dan kolaborasi umat. Di sini, ilmu dan iman menyatu dalam langkah nyata membentuk generasi muda yang berakhlak, cerdas, dan berwawasan global.
Peran Prof. Mu’ti di Masjid Al-Falah Benhil mencerminkan keseimbangan indah antara pengabdian kepada negara dan tanggung jawab kepada umat. Dari forum dunia seperti UNESCO, ia membawa pesan kemanusiaan dan perdamaian global. Sementara dari mimbar Masjid Al-Falah, ia menanamkan nilai Islam yang mencerahkan, moderat, dan membangun peradaban. “Sebagaimana bahasa adalah jembatan antarbangsa, masjid adalah jembatan antarhati manusia,” ujarnya dalam sebuah kesempatan dakwah kalimat sederhana namun sarat makna, menggambarkan harmoni antara diplomasi kebangsaan dan dakwah kemanusiaan yang menjadi napas perjuangannya.
Pantun Penutup dari Samarkand
Menutup pidatonya di UNESCO, Prof. Mu’ti kembali berpantun:
“Dari Jakarta ke Samarkand, kota bersejarah nan menawan.
Jika manusia bergandeng tangan, dunia indah penuh kedamaian.”
Pantun itu bukan sekadar penutup pidato, melainkan pesan universal. Bahwa di tengah krisis dan perbedaan, manusia hanya akan menemukan kedamaian ketika bersatu dalam nilai-nilai kemanusiaan, ilmu, dan budaya.Pantun itu bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan gema nurani dan refleksi dari nilai-nilai universal yang dijunjungnya sepanjang karier — bahwa di tengah krisis global, konflik, dan perbedaan yang kian menajam, manusia hanya akan menemukan makna sejati ketika bersatu dalam kemanusiaan, ilmu pengetahuan, dan budaya.
Dari Samarkand hingga Jakarta, pesan Prof. Mu’ti mengalir sebagai ajakan untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan, bahasa sebagai jembatan persaudaraan, dan kebudayaan sebagai perekat peradaban. Pidatonya bukan hanya kebanggaan bagi Indonesia, tetapi juga pengingat bagi dunia bahwa kedamaian lahir dari hati yang saling menggenggam, sebagaimana bahasa dan pantun Indonesia kini menggema di forum tertinggi peradaban dunia.


















Leave a Reply