![]()
10 Kebiasaan Buruk Anak dan Penanganannya: Perspektif Islam dan Pendidikan Modern
Abstrak
Perilaku anak merupakan cerminan dari pendidikan keluarga dan lingkungan. Ada kalanya anak menunjukkan perilaku yang kurang tepat seperti berbohong, menunda ibadah, atau menggunakan kata kasar. Dalam Islam, setiap perilaku memiliki panduan yang jelas berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan kaidah syariat, sementara dalam ilmu pendidikan modern perilaku tersebut dipahami melalui psikologi perkembangan dan pedagogi. Artikel ini menyajikan tabel ringkas berisi sepuluh perilaku anak yang umum terjadi beserta penanganannya menurut Islam dan ilmu pendidikan modern. Diharapkan, pandangan integratif ini menjadi pedoman bagi orangtua untuk membimbing anak dengan penuh kasih sayang, tegas, dan bijaksana.
Dalam perspektif Islam, anak adalah amanah sekaligus ujian bagi orangtua. Al-Qur’an menegaskan, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab mendidik anak tidak hanya sebatas dunia, tetapi juga akhirat. Oleh karena itu, setiap perilaku anak harus diarahkan agar sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan akhlak mulia, ketaatan beribadah, dan etika sosial.
Nabi Muhammad ﷺ juga menekankan pentingnya pendidikan akhlak sejak dini. Beliau bersabda, “Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada pendidikan yang baik.” (HR. Tirmidzi). Hal ini menunjukkan bahwa perilaku buruk anak bukan hanya kesalahan mereka, tetapi juga cerminan kurangnya arahan orangtua. Oleh sebab itu, Islam menekankan metode tarbiyah yang penuh kelembutan, nasihat, dan keteladanan.
Sementara itu, dalam perspektif pendidikan modern, perilaku anak dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor internal (emosi, perkembangan kognitif) dan eksternal (lingkungan, pola asuh). Menurut Jean Piaget, anak belajar memahami aturan sosial melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan orang lain. Oleh karena itu, setiap perilaku negatif perlu ditangani dengan pendekatan edukatif, bukan hanya hukuman.
Psikologi perkembangan menekankan bahwa anak belajar paling efektif melalui role model dan penguatan positif. Konsep behaviorism oleh B.F. Skinner menjelaskan bahwa perilaku anak bisa dibentuk dengan konsekuensi yang konsisten, baik berupa reward maupun koreksi. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang juga mengajarkan ganjaran pahala bagi amal baik dan dosa bagi kemaksiatan. Integrasi dua pendekatan ini menjadikan pendidikan anak lebih menyeluruh.
Tabel 10 Kebiasaan Buruk Anak dan Penanganannya: Perspektif Islam dan Pendidikan Modern
| No | Perilaku Anak | Penanganan Menurut Islam (berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan nilai syariat) | Penanganan Menurut Pendidikan Era Modern (psikologi & pedagogi modern) |
|---|---|---|---|
| 1 | Berkata bohong | Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga…” (HR. Bukhari-Muslim). Anak diajarkan bahwa berbohong merusak kepercayaan dan dosa besar, sementara jujur akan mendatangkan ridha Allah dan keberkahan hidup. Orangtua bisa memberi contoh nyata dalam keseharian agar anak terbiasa dengan budaya jujur. | Dalam psikologi anak, kebiasaan berbohong sering timbul karena rasa takut dihukum. Maka orangtua dianjurkan memberi ruang aman bagi anak untuk jujur tanpa takut dimarahi. Positive reinforcement seperti pujian ketika anak berkata jujur akan memperkuat perilaku baik. Model perilaku orangtua juga penting: jika orangtua jujur, anak akan menirunya. |
| 2 | Menunda shalat atau ibadah | Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat itu fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103). Islam menekankan kedisiplinan waktu, dan shalat tepat waktu adalah tanda iman. Anak diarahkan untuk memahami bahwa shalat bukan beban, tetapi kebutuhan ruhani. | Pakar pendidikan menyarankan habit formation sejak dini. Jadwal shalat bisa dijadikan rutinitas harian dengan alarm atau pengingat. Sistem reward chart dapat digunakan, misalnya memberi bintang setiap kali anak shalat tepat waktu, sehingga terbentuk kebiasaan konsisten. |
| 3 | Membantah orangtua | Al-Qur’an menegaskan: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (QS. Al-Isra: 24). Anak harus diajarkan adab berbicara sopan, tidak meninggikan suara, dan menghindari ucapan kasar. Hormat kepada orangtua adalah pintu keberkahan hidup. | Dalam pedagogi modern, anak perlu dilatih assertive communication tanpa harus membantah kasar. Orangtua disarankan mendengarkan alasan anak terlebih dahulu agar ia merasa dihargai. Setelah itu, orangtua memberi arahan dengan tenang. Dengan demikian, anak belajar menghormati sekaligus mampu mengekspresikan perasaan secara sehat. |
| 4 | Bertengkar atau memukul teman/saudara | Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh menzhalimi dan tidak boleh membiarkannya disakiti.” (HR. Bukhari-Muslim). Islam melarang keras menyakiti sesama, baik dengan tangan maupun lisan. Anak diarahkan untuk meminta maaf bila bersalah dan belajar memaafkan. | Pendidikan modern menekankan conflict resolution skills. Anak diajak untuk mengenali emosi, lalu diajarkan cara mengungkapkan marah dengan kata-kata, bukan kekerasan. Teknik time-out atau cooling down corner bisa digunakan untuk menenangkan emosi anak sebelum berdialog. |
| 5 | Membuang sampah sembarangan | Nabi ﷺ bersabda: “Kebersihan adalah bagian dari iman.” (HR. Muslim). Menjaga kebersihan lingkungan adalah wujud iman dan tanggung jawab sosial. Anak diajarkan bahwa membuang sampah pada tempatnya adalah ibadah kecil yang berpahala besar. | Menurut teori experiential learning, anak belajar lebih efektif melalui pengalaman nyata. Orangtua bisa melibatkan anak dalam kegiatan piket rumah, memilah sampah, atau program kebersihan sekolah. Dengan demikian, anak merasa memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan. |
| 6 | Boros atau menghamburkan uang/jajanan | Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara setan.” (QS. Al-Isra: 27). Islam menekankan prinsip hidup sederhana, qana’ah, dan bersyukur. Anak diajarkan untuk menggunakan nikmat Allah sesuai kebutuhan, bukan hawa nafsu. | Pendidikan modern mengenalkan financial literacy sejak kecil. Anak dilatih membuat catatan pengeluaran sederhana, diberi uang saku terbatas, dan dikenalkan pada konsep menabung. Hal ini menumbuhkan kesadaran tentang nilai uang dan pentingnya pengelolaan keuangan. |
| 7 | Mengambil barang bukan miliknya | Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak halal harta seorang muslim diambil kecuali dengan kerelaan hatinya.” (HR. Ahmad). Anak diajarkan pentingnya amanah, meminta izin sebelum meminjam, dan memahami bahwa mengambil tanpa izin adalah dosa. | Dalam psikologi anak, perilaku mengambil tanpa izin sering timbul karena kurangnya pemahaman konsep kepemilikan. Orangtua bisa mengajarkan batas kepemilikan melalui konsekuensi alami, misalnya menjelaskan bagaimana perasaan orang yang kehilangan barangnya. Hal ini melatih empati anak. |
| 8 | Menggunakan kata kasar atau menghina | Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan kotor.” (HR. Tirmidzi). Islam menuntun agar lisan dijaga, karena kata-kata bisa menjadi sebab pahala atau dosa besar. Anak dibiasakan berkata baik. | Menurut psikologi perkembangan, anak belajar bahasa dari lingkungan. Maka, orangtua dan guru harus menjadi role model penggunaan bahasa positif. Terapkan positive discipline, yaitu mengajarkan anak mengganti kata kasar dengan kata sopan melalui latihan berulang. |
| 9 | Malas belajar atau mengabaikan tugas | Nabi ﷺ berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas…” (HR. Bukhari-Muslim). Islam menekankan bahwa mencari ilmu adalah ibadah. Anak diajarkan motivasi spiritual: belajar bukan sekadar kewajiban sekolah, tetapi jalan menuju surga. | Pendidikan modern menyarankan gamifikasi, yaitu menjadikan belajar lebih menyenangkan dengan permainan, poin, atau tantangan. Anak diberi target kecil yang realistis agar motivasi meningkat, serta diberikan intrinsic reward berupa pujian dan pengakuan atas usaha, bukan hanya hasil. |
| 10 | Terlalu lama bermain gadget atau game | Kaidah fiqh: “Janganlah engkau berlebih-lebihan dalam sesuatu, karena berlebih-lebihan itu dibenci.” Hiburan boleh, tapi jangan sampai melalaikan shalat, belajar, dan kesehatan. Islam mendorong keseimbangan hidup. | Menurut pakar pendidikan, manajemen screen time sangat penting. Terapkan aturan jelas, misalnya maksimal 1–2 jam per hari. Gunakan aplikasi kontrol orangtua, serta ajak anak mengganti waktu layar dengan aktivitas fisik, seni, atau interaksi sosial. |
Bagaimana Sebaiknya Orangtua Bersikap
Orangtua sebaiknya menanamkan nilai-nilai Islam secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Shalat tepat waktu, berkata jujur, menjaga kebersihan, dan sopan santun hendaknya diperlihatkan langsung oleh orangtua. Anak belajar dari contoh nyata, bukan hanya nasihat. Dengan demikian, rumah menjadi madrasah pertama yang melahirkan generasi berakhlak.
Orangtua perlu mengedepankan komunikasi penuh kasih sayang. Rasulullah ﷺ dikenal dengan kelembutan dalam mendidik anak, seperti ketika menegur Hasan dan Husain dengan kata-kata lembut. Dalam psikologi modern, pendekatan ini dikenal sebagai authoritative parenting, yaitu pola asuh tegas namun hangat, yang terbukti menghasilkan anak lebih percaya diri dan bertanggung jawab.
Orangtua juga harus menerapkan disiplin yang konsisten. Anak perlu tahu batasan mana yang benar dan salah. Namun, disiplin bukan berarti hukuman keras, melainkan pengaturan aturan rumah yang jelas, disertai konsekuensi yang logis. Misalnya, jika anak membuang sampah sembarangan, konsekuensinya adalah ia harus membersihkan area tersebut. Pendekatan ini lebih efektif daripada sekadar memarahi.
Orangtua perlu mengelola keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata. Anak memang hidup di era teknologi, tetapi peran orangtua sangat penting dalam mengarahkan penggunaan gadget agar tidak berlebihan. Alternatif kegiatan seperti olahraga, membaca, atau kegiatan masjid perlu difasilitasi agar anak memiliki pilihan positif selain bermain game.
Kesimpulan
Mendidik anak adalah amanah besar yang membutuhkan integrasi antara nilai-nilai Islam dan ilmu pendidikan modern. Islam menekankan kejujuran, disiplin ibadah, sopan santun, dan tanggung jawab, sedangkan pendidikan modern memberi kerangka psikologis dan pedagogis tentang bagaimana perilaku anak bisa dibentuk melalui contoh, komunikasi, disiplin, dan penguatan positif. Orangtua harus bersikap sebagai teladan, komunikator, pengatur disiplin, sekaligus motivator bagi anak. Dengan pendekatan ini, diharapkan anak tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, dan seimbang antara kebutuhan spiritual, emosional, dan sosialnya.


















Leave a Reply