MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Kisah Perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi Membebaskan Palestina: Sebuah Kajian Ilmiah Sejarah

Kisah Perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi Membebaskan Palestina: Sebuah Kajian Ilmiah Sejarah (dr Widodo Judarwanto, Dr Audi Yudhasmara)

Abstrak

Salahuddin Al-Ayyubi merupakan sosok ikonik dalam sejarah Islam, khususnya dalam membebaskan Baitul Maqdis dari cengkeraman tentara Salib pada abad ke-12. Kepemimpinannya, keteguhan imannya, serta akhlaknya yang mulia menjadikan perjuangannya relevan hingga hari ini, terutama dalam konteks Palestina modern. Artikel ini membahas perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi dari sudut pandang Al-Qur’an dan hadits, ulama kontemporer, sains sosial modern, serta kajian para sejarawan. Kajian ini menunjukkan bahwa keberhasilan Salahuddin bukan semata kemenangan militer, tetapi juga buah dari keadilan, strategi manajemen, serta keteladanan moral yang tinggi, yang tetap relevan sebagai inspirasi umat Islam masa kini.


Konflik di Palestina merupakan rangkaian panjang dari sejarah pertarungan politik, militer, dan peradaban. Salah satu episode paling monumental dalam sejarah ini adalah pembebasan Baitul Maqdis oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada 1187 M. Di tengah dominasi tentara Salib Eropa, Salahuddin berhasil membalikkan keadaan dengan strategi jitu, diplomasi cerdas, serta keteladanan moral yang mengagumkan. Namanya pun melampaui zaman, menjadi simbol perlawanan, keadilan, dan perjuangan umat Islam.

Dalam era modern, nama Salahuddin kembali diangkat ke permukaan terutama terkait dengan isu Palestina yang terus memanas. Banyak kaum Muslimin menjadikan kisahnya sebagai teladan, tidak hanya dari aspek militer tetapi juga dalam manajemen krisis, etika kepemimpinan, dan prinsip keadilan universal. Artikel ini mencoba mengkaji secara ilmiah kiprah Salahuddin dalam berbagai perspektif: keislaman, pemikiran ulama kontemporer, sains sosial modern, dan kajian historis.


Kisah Sejarah Menurut Al-Qur’an dan Hadits

Meskipun tidak secara spesifik menyebutkan nama Salahuddin, Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip dasar yang menjadi pondasi perjuangannya. Dalam Surah Al-Isra’ ayat 1, Allah berfirman tentang kemuliaan Masjidil Aqsa:

“Maha Suci (Allah) yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya…”
Ayat ini menunjukkan pentingnya posisi strategis dan spiritual Baitul Maqdis yang mendorong Salahuddin memperjuangkannya.

Rasulullah SAW juga memberikan isyarat dalam hadits:

“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang hingga hari kiamat. Mereka itu berada di sekitar Baitul Maqdis.” (HR. Ahmad, 6/421)
Hadits ini sering dipahami oleh ulama sebagai dukungan nubuwwah terhadap perjuangan membela Al-Quds.

Semangat jihad yang diemban Salahuddin bersumber dari ajaran Al-Qur’an:

“Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan agama hanya untuk Allah semata.” (QS. Al-Baqarah: 193).
Namun, jihad yang ditempuh Salahuddin selalu disertai etika perang Islam: tidak membunuh non-kombatan, menghormati tawanan, dan menjaga hak kaum dzimmi.

Dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW mencontohkan strategi kesabaran dalam menghadapi agresi, sebagaimana perjanjian Hudaibiyah. Salahuddin meniru prinsip itu: mengutamakan diplomasi, kesabaran, serta membangun kekuatan sebelum menyerang.

Hadits Rasulullah SAW tentang keutamaan penguasa adil menjadi landasan moral bagi kepemimpinannya:

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat… (salah satunya adalah) pemimpin yang adil…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Salahuddin menjaga keadilan dalam pemerintahannya, bahkan terhadap musuhnya.


Kisah Sejarah Menurut Ulama Kontemporer

Ulama kontemporer seperti Dr. Ragheb Al-Sarjani dalam Qadaya fi Tarikh al-Islami menekankan bahwa keberhasilan Salahuddin bukan hanya karena militernya, tetapi karena pembinaan ruhiyah umat. Salahuddin membersihkan internal umat dari kemewahan, fitnah politik, serta perpecahan sebelum menghadapi musuh eksternal.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi memuji Salahuddin sebagai contoh pemimpin tauhid yang memadukan kekuatan politik, ekonomi, dan akidah. Dalam bukunya Fiqh al-Jihad, Qaradawi menilai bahwa Salahuddin mempraktikkan jihad komprehensif: jihad ilmu, jihad ekonomi, jihad diplomasi, dan jihad militer.

Menurut Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam Salahuddin Al-Ayyubi: Al-Qaid al-Mujahid wa al-Hakim al-Adil, kekuatan utama Salahuddin adalah kemurnian niat dan zuhudnya. Meski menguasai wilayah luas, ia hidup sederhana dan selalu merendahkan diri di hadapan Allah.

Dr. Tareq Al-Suwaidan dalam kajiannya menekankan bahwa Salahuddin mengelola keberagaman mazhab secara bijak. Ia menahan diri dari konflik Sunni-Syiah yang marak saat itu, mempersatukan umat Islam di bawah panji tauhid untuk menghadapi tentara Salib.

Menurut Dr. Jamal Badawi, Salahuddin menunjukkan esensi maqashid syariah dalam praktik kepemimpinannya: menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Semua kebijakan militernya tetap memperhatikan kelima tujuan utama syariat.


Kisah Sejarah Menurut Sains Ilmiah (Ilmu Sosial dan Manajemen Modern)

Dalam perspektif transformational leadership, Salahuddin Al-Ayyubi memenuhi kriteria yang dirumuskan James MacGregor Burns dalam Leadership (1978). Burns menjelaskan bahwa pemimpin transformasional bukan hanya mengarahkan, tetapi juga menginspirasi pengikut untuk mengembangkan potensi terbaik mereka demi tujuan kolektif yang luhur. Salahuddin mengangkat semangat jihad dalam kerangka pembebasan Al-Quds sebagai misi suci, yang memberikan motivasi spiritual sangat kuat kepada pasukannya. Selain itu, ia secara pribadi menunjukkan keteladanan dalam kesederhanaan, pengendalian diri, serta kemurahan hati kepada kawan maupun lawan, yang pada gilirannya membangun kepercayaan dan loyalitas umat Islam terhadap kepemimpinannya.

Dalam ranah military science, strategi Salahuddin mencerminkan pendekatan asymmetric warfare sebagaimana dikaji Carl von Clausewitz dalam On War. Clausewitz menyatakan bahwa dalam kondisi inferioritas sumber daya, kekuatan kecil harus menghindari konfrontasi frontal dan mengandalkan fleksibilitas strategi. Salahuddin secara konsisten menghindari perang terbuka melawan pasukan Salib yang memiliki logistik kuat, dengan memanfaatkan manuver gerilya, sabotase logistik lawan, serta penguasaan titik-titik vital ekonomi dan sumber air. Puncaknya terjadi dalam Pertempuran Hattin (1187), di mana ia memancing pasukan Salib keluar dari basis pertahanan mereka menuju wilayah kering, memutus jalur suplai, hingga akhirnya mengalahkan mereka secara total.

Dalam perspektif human capital management, Salahuddin menerapkan sistem meritokrasi dalam penyusunan komando militernya. Konsep ini sejalan dengan gagasan Becker & Huselid dalam High Performance Work Systems and Firm Performance (1998), yang menegaskan pentingnya pengelolaan sumber daya manusia berbasis kompetensi dan produktivitas. Salahuddin menunjuk panglima-panglima berbakat seperti Al-Muzaffar Umar dan Izzuddin Usama tanpa mempertimbangkan kekerabatan atau asal-usul suku, melainkan berdasarkan kapasitas dan integritas. Dengan sistem ini, stabilitas internal kesultanan tetap kokoh sekaligus menghasilkan efektivitas tempur tinggi.

Dalam kajian international relations, Salahuddin menunjukkan kecakapan diplomasi multilateral, sebagaimana digambarkan dalam teori realisme Hans Morgenthau dalam Politics Among Nations (1948). Salahuddin berhasil membangun aliansi strategis dengan Kesultanan Seljuk, Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, serta penguasa-penguasa lokal di Suriah, Yaman, dan Mesir. Koalisi ini memungkinkan ia memusatkan kekuatan politik dan militer melawan blok Salib yang jauh lebih tersentralisasi di Eropa. Kemampuan negosiasinya pun memperlihatkan keseimbangan antara kepentingan kekuasaan, stabilitas kawasan, dan legitimasi moral di mata dunia Islam.

Dari sisi ethics of war atau Just War Theory, tindakan Salahuddin memperoleh pengakuan dari banyak sejarawan Barat. John France dalam The Crusades and the Expansion of Catholic Christendom (2005) menilai Salahuddin sebagai pemimpin yang menegakkan standar etik tinggi dalam peperangan. Saat merebut Yerusalem, ia melarang pembunuhan massal, memberikan amnesti kepada warga sipil, menghormati gereja-gereja Kristen, dan memperlakukan tawanan dengan sangat manusiawi. Sikap ini sangat kontras dengan kebiadaban pasukan Salib saat menaklukkan Yerusalem hampir satu abad sebelumnya. Dalam hal ini, Salahuddin menjadi contoh bagaimana prinsip Islam tentang keadilan perang diterapkan secara nyata dalam panggung sejarah.


Kisah Sejarah Menurut Pakar Sejarah

Ibn al-Athir dalam Al-Kamil fi al-Tarikh menjelaskan bahwa Salahuddin Al-Ayyubi muncul pada masa ketika dunia Islam mengalami keterpecahan yang serius, terutama akibat kelemahan Dinasti Fatimiyah di Mesir. Salahuddin memulai reformasi politik dan keagamaan dengan mengembalikan Mesir ke dalam kekuasaan Sunni yang berafiliasi dengan kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Melalui diplomasi, kekuatan militer, dan kecerdasan politik, ia berhasil menyatukan kembali kekuatan-kekuatan Islam yang semula tercerai-berai di Mesir, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Kesatuannya dalam menegakkan bendera Sunni memberikan stabilitas baru di kawasan yang selama beberapa dekade terjebak dalam konflik sektarian.

Karen Armstrong dalam Holy War (1988) menyoroti dimensi kemanusiaan dari kepemimpinan Salahuddin. Ia bukan hanya seorang panglima perang yang cerdas, tetapi juga pemimpin yang menampilkan akhlak Islam secara nyata, bahkan di tengah peperangan. Armstrong menggambarkan bagaimana Salahuddin tetap menjunjung tinggi prinsip kasih sayang, penghormatan kepada lawan, dan perlindungan terhadap warga sipil. Sikapnya yang penuh kemanusiaan ini membuatnya dihormati, bahkan oleh musuh bebuyutannya seperti Raja Richard the Lionheart dari Inggris dalam Perang Salib III. Karen Armstrong menyatakan bahwa pendekatan moral Salahuddin merupakan faktor penting dalam membalikkan dinamika kekalahan Islam pada tahap awal Perang Salib menjadi kemenangan besar di kemudian hari.

Stanley Lane-Poole dalam Saladin and the Fall of Jerusalem (1898) mengungkapkan bahwa kemenangan Salahuddin atas Yerusalem bukanlah hasil dari kebrutalan, melainkan dari keimanannya yang kokoh, kemurahan hati yang besar, serta ketertiban organisasi militer yang disiplin. Setelah mengalahkan pasukan Salib, Salahuddin memasuki Yerusalem pada 1187 dengan penuh kedamaian, menghindari pembantaian massal sebagaimana pernah dilakukan pasukan Salib satu abad sebelumnya. Lane-Poole menggambarkan momen penyerahan Yerusalem sebagai salah satu contoh tertinggi dalam sejarah peperangan, di mana seorang penakluk menunjukkan belas kasih kepada musuhnya yang kalah.

John L. Esposito dalam Islam: The Straight Path (2011) menyebut Salahuddin sebagai representasi “penguasa ideal” dalam tradisi politik Islam. Menurut Esposito, kepemimpinan Salahuddin mencerminkan keseimbangan antara kekuatan, ilmu, keadilan, dan kasih sayang. Ia mampu menjaga stabilitas politik dalam negeri, menjaga hubungan diplomatik luar negeri, serta tetap berpegang pada nilai-nilai Islam dalam setiap pengambilan keputusan. Kepemimpinan model inilah yang kemudian dijadikan teladan dalam diskursus politik Islam baik dalam periode klasik maupun kontemporer.

Philip Hitti dalam History of the Arabs (1937) menyimpulkan bahwa Salahuddin merupakan bukti bagaimana peradaban Islam mampu menyinergikan kekuatan politik, strategi militer yang cerdas, serta ketinggian moral dan spiritual. Keberhasilannya merebut kembali Yerusalem tidak hanya memberikan kemenangan politis dan teritorial, tetapi juga mengangkat citra peradaban Islam di mata dunia. Menurut Hitti, Salahuddin menunjukkan kepada dunia bahwa keunggulan Islam bukan hanya terletak pada kekuatan senjata, melainkan pada kekuatan akhlak dan etika kepemimpinan yang luhur.


Bagaimana Sebaiknya Umat Muslim Mengambil Inspirasi Sejarah Ini

  1. Pertama, umat Muslim harus mencontoh persatuan yang dibangun Salahuddin. Sebelum melawan musuh eksternal, ia membersihkan perpecahan internal. Di era modern, persatuan politik, sosial, dan mazhab menjadi kunci kekuatan umat dalam menghadapi tantangan global.
  2. Kedua, pembinaan ruhiyah menjadi dasar utama. Salahuddin memulai reformasi dengan memperbaiki akidah umat, memberantas maksiat, dan menghidupkan dakwah. Umat Islam masa kini perlu memperkuat iman dan adab sebagai fondasi perjuangan yang berkah.
  3. Ketiga, kecerdasan manajemen dan strategi mutlak diperlukan. Salahuddin menunjukkan pentingnya diplomasi, manajemen logistik, serta pengelolaan sumber daya manusia yang berbasis meritokrasi. Umat Islam perlu membangun sistem yang profesional dan berintegritas.
  4. Keempat, etika kemanusiaan harus selalu dijaga. Salahuddin mengajarkan bahwa kemenangan bukan pembenaran atas kekejaman. Hak asasi manusia, toleransi terhadap non-Muslim, dan keadilan sosial harus tetap diutamakan dalam semua lini perjuangan umat.
  5. Kelima, perjuangan jangka panjang memerlukan kesabaran dan doa. Seperti Salahuddin, umat Islam perlu memadukan ikhtiar maksimal dengan ketawakalan kepada Allah, karena kemenangan sejati adalah hasil pertolongan-Nya.

Kesimpulan

Salahuddin Al-Ayyubi adalah contoh nyata pemimpin Islam yang mengintegrasikan akhlak, strategi, dan iman dalam perjuangannya. Keberhasilannya membebaskan Palestina bukan semata hasil kekuatan militer, melainkan buah dari pembinaan moral, manajemen profesional, dan keteladanan kepemimpinan. Di era modern, kisahnya tetap relevan sebagai inspirasi umat Islam dalam menghadapi tantangan global, khususnya dalam perjuangan Palestina hari ini. Umat Islam perlu meneladani kebijaksanaan, keadilan, kesederhanaan, serta keteguhan iman yang diwariskan Salahuddin dalam setiap langkah perjuangan mereka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *