MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Peran Paulus dalam Perubahan Teologi Kenabian Isa: Dari Nabi Menjadi Tuhan dalam Ajaran Kristen Paulus

Abstrak

Perubahan mendasar dalam pemahaman tentang Yesus (nabi Isa) dari seorang nabi tauhid menjadi Tuhan dalam doktrin Kristen sangat dipengaruhi oleh ajaran Paulus dari Tarsus. Paulus, tokoh kunci dalam perluasan ajaran Kristen ke dunia non-Yahudi, memperkenalkan ide-ide baru seperti penebusan dosa melalui kematian Yesus dan statusnya sebagai “Anak Allah”. Hal ini berbeda tajam dari ajaran Yesus (Isa ‘alaihissalam) asli yang menekankan keesaan Tuhan. Artikel ini mengkaji peran sentral Paulus, latar belakang sejarahnya, dampaknya terhadap perkembangan gereja, serta bagaimana umat manusia masa kini dapat memahami perubahan ini secara ilmiah dan kritis.


Pada masa kehidupan Yesus (nabi Isa), ajaran inti yang dibawanya adalah tauhid, yaitu pengesaan Tuhan, sebagaimana diwariskan oleh para nabi sebelumnya dalam tradisi Yahudi. Yesus secara eksplisit menyebut dirinya sebagai utusan Allah dan menolak klaim ketuhanan atas dirinya (lihat Yohanes 17:3, Markus 10:18). Para pengikut awal, yang juga Yahudi, memahami Yesus sebagai Mesias yang diutus untuk membimbing Bani Israil kepada ketaatan kepada Allah, bukan sebagai Tuhan atau bagian dari Tuhan.

Namun, perubahan besar dalam konsep teologis ini terjadi setelah kemunculan Paulus dari Tarsus. Paulus bukan murid Yesus (Isa ‘alaihissalam) dan tidak pernah berjumpa dengannya semasa hidupnya. Ia hidup beberapa tahun setelah wafatnya Yesus dan mengaku mendapat wahyu langsung dari penampakan Yesus dalam bentuk penglihatan spiritual. Dari sinilah ia merasa berhak mengajarkan doktrin baru yang berbeda dari para murid Yesus di Yerusalem.

Siapa Paulus?

Paulus, yang nama aslinya Saulus dari Tarsus, adalah seorang Yahudi kelahiran kota Tarsus di wilayah kekaisaran Romawi. Ia dikenal sebagai seorang Farisi, yakni kelompok Yahudi yang ketat memegang Taurat dan tradisi lisan. Sebelum menjadi tokoh penyebar ajaran Kristen kepada bangsa non-Yahudi (Gentiles), Paulus justru dikenal sebagai penganiaya utama para pengikut awal Yesus. Kisah pertobatannya berawal dari pengakuannya sendiri bahwa ia melihat penampakan Yesus dalam perjalanan menuju Damaskus, suatu pengalaman yang sangat subjektif dan sulit diverifikasi kebenarannya oleh saksi lain.

Hal penting yang harus digarisbawahi adalah bahwa Paulus bukanlah bagian dari dua belas murid asli Yesus. Ia tidak pernah bertemu Yesus secara langsung selama hidupnya di dunia, dan mulai menyebarkan ajarannya beberapa tahun setelah peristiwa penyaliban. Ajaran Paulus pun kerap kali berbeda dengan ajaran murid-murid Yesus yang asli, seperti Yakobus (saudara Yesus) dan Petrus. Perbedaan itu tercatat dalam Kisah Para Rasul dan Surat Galatia, terutama mengenai hukum Taurat. Paulus mengajarkan bahwa Taurat tidak lagi mengikat bagi pengikut baru, sementara murid-murid di Yerusalem tetap mewajibkan syariat Taurat bagi umat Yahudi.

Asal-usul kehidupan Paulus di luar kisah pertobatannya juga masih banyak yang kabur. Riwayat keluarganya, latar belakang sosialnya, dan bagaimana ia memperoleh status kewarganegaraan Romawi tidak banyak dijelaskan secara rinci dalam Kitab Suci maupun sumber-sumber sejarah non-Kristen. Bahkan ada dugaan di kalangan sebagian peneliti bahwa Paulus sangat terpengaruh oleh budaya Yunani-Romawi, sehingga ia lebih mudah mengadaptasikan konsep dewa manusia atau manusia ilahi ke dalam ajaran Kristen baru yang ia bawa. Inilah sebabnya mengapa sebagian pihak mempertanyakan: mengapa gereja kemudian lebih mendasarkan teologi Kristen pada ajaran Paulus, bukan ajaran murni Yesus sebagaimana yang diajarkan di Galilea dan Yerusalem?

Peran Paulus dalam Perubahan Teologi

Paulus menjadi pionir perubahan besar dalam ajaran Kristen. Ia memperkenalkan konsep penebusan dosa lewat kematian Yesus (Isa ‘alaihissalam) di kayu salib dan menyebut Yesus (Isa ‘alaihissalam) sebagai “Anak Allah” yang menebus dosa seluruh umat manusia. Ajaran ini sangat berbeda dengan konsep Mesias dalam Yudaisme yang menekankan perbaikan moral dan penegakan hukum Taurat, bukan keselamatan lewat korban penebusan.

Dalam surat-suratnya seperti kepada jemaat di Galatia, Roma, dan Korintus, Paulus menonjolkan unsur keilahian Yesus (Isa ‘alaihissalam) dan pentingnya iman kepada darah Kristus sebagai jalan keselamatan. Konsep ini menarik bagi bangsa non-Yahudi yang akrab dengan mitologi dewa-dewa penyelamat, menjadikan ajaran Paulus cepat diterima di dunia Romawi dan Yunani.

Paulus juga menolak kewajiban Taurat bagi Gentiles, seperti sunat dan aturan makanan, agar agama baru ini lebih luwes bagi bangsa non-Yahudi. Inilah yang membedakan keras antara “Yesus sejarah” (seorang nabi tauhid) dengan “Kristus iman” (figur ilahi penyelamat umat manusia) versi paulus

Tabel 10 perbedaan antara ajaran Yesus (nabi Isa) dan ajaran Paulus, disertai rujukan ayat dari Injil (untuk Yesus) dan surat-surat Paulus di Perjanjian Baru:

No Topik Ajaran Yesus (Isa ‘alaihissalam) Ajaran Paulus Referensi
1 Tauhid / Ketuhanan Yesus mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Paulus mengajarkan Yesus sebagai “Anak Allah” dan Tuhan. Yohanes 17:3; Markus 12:29 vs. Roma 10:9
2 Jalan Keselamatan Keselamatan melalui iman disertai perbuatan baik. Keselamatan melalui iman saja (sola fide). Matius 19:17; Matius 7:21 vs. Roma 3:28; Efesus 2:8-9
3 Hukum Taurat Yesus mewajibkan taat Taurat. Paulus menyatakan Taurat sudah tidak berlaku. Matius 5:17-19 vs. Roma 6:14; Galatia 2:16
4 Sunat Yesus disunat dan tidak membatalkan sunat Yahudi. Paulus menolak kewajiban sunat bagi pengikut baru. Lukas 2:21 vs. Galatia 5:6; 1 Korintus 7:19
5 Makanan Halal-Haram Yesus mengikuti hukum makanan Yahudi. Paulus membebaskan makanan (tidak ada yang haram). Matius 5:18 vs. Roma 14:14
6 Siapa yang diselamatkan Yesus hanya diutus untuk domba Israel yang hilang. Paulus: Injil berlaku universal untuk semua bangsa. Matius 15:24 vs. Roma 1:16; Galatia 3:28
7 Peran Amal / Perbuatan Perbuatan baik bagian dari keselamatan. Perbuatan baik tidak menyelamatkan, hanya iman. Matius 7:21; Yakobus 2:24 vs. Roma 3:28
8 Pandangan tentang Dosa Asal Tidak mengajarkan dosa asal secara eksplisit. Paulus menegaskan dosa asal dari Adam menurun ke semua manusia. Matius 18:3 vs. Roma 5:12
9 Pengampunan Dosa Pengampunan melalui tobat langsung kepada Allah. Pengampunan melalui iman kepada darah Kristus. Matius 6:14-15 vs. Efesus 1:7; Roma 5:9
10 Hubungan dengan Yahudi/Taurat Yesus taat penuh sebagai Yahudi dan mengajarkan hukum Yahudi. Paulus memutuskan hubungan dengan hukum Yahudi. Matius 23:1-3 vs. Galatia 3:13; Kolose 2:14

Catatan:

Sumber Yesus (Isa ‘alaihissalam): Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas) dan Yohanes.
Sumber Paulus: Surat Roma, Galatia, Efesus, Korintus, Kolose (Surat-surat Paulus dalam Perjanjian Baru).

Mengapa Harus Percaya Paulus, Bukan percaya  Yesus (nabi Isa)?

Pertanyaan mendasar ini muncul karena Paulus sendiri tidak pernah menjadi murid langsung Yesus (nabi Isa). Ia bahkan mengaku sebagai penentang keras jemaat Kristen awal sebelum mengalami pertobatan di jalan menuju Damaskus (Kisah Para Rasul 9). Sementara Yesus secara langsung mengajarkan monoteisme murni, ketaatan kepada Taurat, dan penolakan terhadap penyembahan diri sendiri, Paulus datang membawa ajaran baru yang justru melonggarkan hukum Taurat dan mengajarkan bahwa keselamatan tidak lagi bergantung pada amal perbuatan atau kepatuhan syariat, melainkan hanya melalui iman kepada kematian dan kebangkitan Yesus. Di sinilah muncul pertentangan teologis besar antara Yesus sejarah dan Kristus versi Paulus.

Yesus (nabi Isa) dalam Injil-injil sinoptik (Markus, Matius, Lukas) dengan jelas mengajarkan bahwa hukum Taurat tetap berlaku (Matius 5:17-20) dan bahwa hanya Allah yang Esa layak disembah (Markus 12:29). Ia juga tidak pernah mengklaim diri sebagai Tuhan atau Anak Allah dalam pengertian ilahi Yunani-Romawi. Justru klaim keilahian Yesus ini muncul kuat dalam surat-surat Paulus, yang ditulis lebih awal daripada keempat Injil kanonik. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa otoritas ajaran harus berpindah dari perkataan langsung Yesus kepada interpretasi pribadi Paulus?

Selain itu, para murid utama Yesus di Yerusalem seperti Yakobus dan Petrus pun sempat berbeda pendapat dengan Paulus. Dalam Surat Galatia 2:11-14, Paulus bahkan menegur Petrus secara terbuka karena dianggap bersikap munafik soal pergaulan dengan non-Yahudi. Yakobus sendiri, yang disebut sebagai “saudara Tuhan” (Galatia 1:19), memimpin gereja Yerusalem dan tetap menekankan pentingnya Taurat, sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul 15. Perbedaan ini menegaskan bahwa Paulus mengembangkan ajaran yang sangat berbeda, bahkan bertentangan, dari komunitas asli pengikut Yesus.

Jika Yesus (nabi Isa) adalah sumber ajaran sejati, maka seharusnya perkataan, perintah, dan teladan Yesus-lah yang menjadi pedoman utama umat Kristen. Namun ironisnya, doktrin-doktrin kunci Kristen modern—seperti keselamatan melalui iman saja, penebusan dosa oleh darah Yesus, dan penghapusan Taurat—semuanya berasal dari Paulus, bukan dari ajaran Yesus sendiri. Hal ini menimbulkan pertanyaan logis: mengapa ajaran seseorang yang tidak pernah bertemu Yesus secara langsung dijadikan fondasi agama, sementara ajaran langsung Yesus malah dikesampingkan?

Dalam konteks ini, umat manusia yang jujur mencari kebenaran seharusnya lebih kritis terhadap peran Paulus. Sejarah membuktikan bahwa ajaran Paulus sangat dipengaruhi oleh budaya dan mitos Yunani-Romawi, di mana dewa-dewa bisa turun ke bumi, mati, dan bangkit demi manusia. Sedangkan Yesus sebagai nabi Bani Israil mengajarkan kemurnian tauhid seperti nabi-nabi sebelumnya. Dengan demikian, kepercayaan kepada Paulus daripada Yesus sendiri adalah hasil rekayasa sejarah gereja, bukan kehendak asli dari ajaran Yesus.

Sejarah Perkembangan Ajaran Paulus 

  1. Periode Pasca Yesus (nabi Isa) (30-50 M)
    Setelah wafatnya Yesus, para murid awal di Yerusalem tetap memegang teguh ajaran Tauhid. Mereka berkumpul di Bait Allah dan menjalankan Hukum Taurat. Pemahaman mereka tentang Yesus tetap dalam kerangka Mesias Yahudi, bukan Tuhan.
  2. Munculnya Paulus (50-60 M)
    Paulus mulai aktif menyebarkan ajarannya ke kota-kota non-Yahudi seperti Korintus, Galatia, dan Roma. Ia mengembangkan doktrin keselamatan lewat iman kepada Yesus, bukan lewat perbuatan atau ketaatan hukum Taurat, sebuah pemikiran radikal bagi Yahudi.
  3. Pertentangan dengan Yakobus dan Petrus
    Yakobus, saudara Yesus, memimpin komunitas di Yerusalem dan mempertahankan hukum Taurat. Petrus juga sempat berselisih dengan Paulus terkait penerimaan bangsa non-Yahudi. Kisah ini tercatat dalam Kisah Para Rasul dan Surat Galatia.
  4. Konsili Yerusalem (49 M)
    Konsili ini memutuskan bahwa bangsa non-Yahudi tidak diwajibkan sunat, sebagian karena desakan Paulus. Keputusan ini membuka jalan bagi ekspansi Kekristenan ala Paulus ke dunia Romawi.
  5. Dominasi Pemikiran Paulus (70-150 M)
    Setelah hancurnya Bait Allah (70 M), komunitas Yahudi Kristen melemah. Ajaran Paulus makin dominan, apalagi tulisan-tulisannya diakui sebagai bagian kanonik (Perjanjian Baru).
  6. Pengesahan dalam Konsili Nicea (325 M)
    Ajaran Paulus menjadi fondasi bagi doktrin Trinitas yang disahkan di Konsili Nicea di bawah Kaisar Konstantinus. Doktrin ini resmi menjadikan Yesus sebagai “Tuhan Anak” setara dengan Allah.
  7. Konsili-Konsili Lanjutan
    Selanjutnya, Konsili Konstantinopel, Efesus, dan Kalsedon menyempurnakan ajaran ini, menegaskan keilahian Yesus, Roh Kudus, serta dogma Maria sebagai Theotokos.

Isa dan Paulus dalam Qur’an dan Hadits

Nabi Isa ‘alaihissalam memiliki posisi sangat mulia dalam Islam. Al-Qur’an menyebutkan beliau sebanyak 25 kali, di antaranya sebagai al-Masih, Ibn Maryam (putra Maryam), dan Rasulullah. Dalam QS. An-Nisa ayat 171, Allah menegaskan bahwa Isa adalah hamba-Nya, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam. Hadits-hadits shahih, seperti dalam Shahih Bukhari dan Muslim, juga mengabarkan bahwa Isa akan turun kembali di akhir zaman untuk menegakkan keadilan, mematahkan salib, membunuh Dajjal, dan menegakkan hukum Islam. Penegasan Al-Qur’an dan hadits ini membantah keyakinan Nasrani yang menganggap Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan.

Dalam Al-Qur’an dan hadits, nama Paulus tidak pernah disebut secara langsung. Islam tidak mengenal Paulus sebagai bagian dari sejarah kenabian atau pewahyuan. Para ulama tafsir dan sejarah Islam menjelaskan bahwa Paulus merupakan tokoh yang dianggap berperan besar dalam perubahan ajaran tauhid Nabi Isa menjadi doktrin trinitas dalam Kekristenan. Beberapa sejarawan Muslim, seperti Ibn Hazm dalam Al-Fasl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal, menilai Paulus sebagai penyimpang yang memperkenalkan banyak ajaran baru yang tidak pernah diajarkan oleh Isa ‘alaihissalam, seperti penebusan dosa dan penghapusan hukum Taurat.

Dengan demikian, dalam perspektif Islam, Isa adalah utusan Allah yang mengajak kepada tauhid murni, sedangkan Paulus dipandang sebagai tokoh yang menyelewengkan ajaran tersebut. Al-Qur’an dengan tegas meluruskan kesalahpahaman yang berkembang setelah kepergian Isa, sebagaimana disebutkan dalam QS. Maryam: 88-92, bahwa sangat besar dosanya mengatakan Allah punya anak. Islam mengembalikan posisi Isa sebagai manusia mulia yang tidak pernah mengajarkan ketuhanan dirinya, sementara peran Paulus tidak diakui dalam sumber-sumber utama Islam.

Bagaimana Umat Manusia Seharusnya Bersikap 

  1. Kritis terhadap Sejarah
    Umat manusia, baik Muslim maupun Kristen, seharusnya jujur menelaah sejarah awal Kekristenan tanpa prasangka. Memahami peran besar Paulus memberi gambaran mengapa muncul perbedaan besar antara ajaran Yesus asli dengan teologi gereja.
  2. Menghargai Perbedaan
    Meski berbeda pandangan, penting bagi umat lintas agama untuk menghargai hak keyakinan masing-masing, tanpa harus menolak fakta sejarah yang terungkap dari kajian ilmiah.
  3. Mengembalikan Fokus kepada Tauhid
    Bagi Muslim, hal ini menjadi pelajaran penting untuk menjaga kemurnian tauhid sebagaimana dibawa seluruh nabi, termasuk Isa Al-Masih. Penyimpangan teologis menjadi pelajaran agar tauhid tidak terdistorsi oleh kepentingan politik dan budaya.
  4. Dialog Ilmiah antar Agama
    Kajian seperti ini diharapkan mendorong dialog ilmiah antara Islam dan Kristen, agar perbedaan dapat dibahas secara akademis, bukan emosional, demi memahami kebenaran ajaran asli para nabi.
  5. Kritis terhadap Otoritas Gereja
    Umat Kristen modern perlu menyadari bahwa ajaran gereja dibentuk melalui proses panjang, dipengaruhi oleh politik Romawi, bukan semata-mata dari perkataan Yesus sendiri. Ini penting agar iman tidak terikat buta oleh dogma historis.

Bagaimana sikap umat Muslim Seharusnya ?

Umat Muslim memandang persoalan ini dengan merujuk pada prinsip utama tauhid dalam Islam. Dalam pandangan Islam, Yesus (Isa ‘alaihissalam) adalah seorang nabi dan rasul Allah yang membawa risalah tauhid sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Ajaran Yesus yang asli selaras dengan ajaran Islam: mengesakan Allah, beribadah hanya kepada-Nya, dan mengikuti hukum-hukum syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, ketika muncul pertentangan antara ajaran Yesus dengan ajaran Paulus, umat Muslim berpandangan bahwa yang otentik adalah ajaran Yesus yang murni, bukan interpretasi atau rekonstruksi teologis yang dibawa Paulus pasca peristiwa penyaliban.

Umat Islam juga menilai bahwa Paulus, yang sebelumnya adalah penentang ajaran pengikut Yesus (Isa ‘alaihissalam), membawa tafsir yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan budaya Helenistik saat itu. Konsep-konsep seperti penebusan dosa melalui darah, penghapusan hukum Taurat, serta pengangkatan Yesus sebagai anak Tuhan, sangat bertentangan dengan prinsip tauhid yang diajarkan para nabi. Maka, umat Islam melihat bahwa ajaran Paulus lebih merupakan hasil penyimpangan dari ajaran monoteisme murni yang dibawa oleh Yesus dan para rasul sejatinya.

Selain itu, Islam juga mengajarkan untuk berhati-hati terhadap perubahan dan penambahan ajaran yang tidak bersumber dari wahyu langsung. Al-Qur’an menegaskan bahwa sebagian ajaran Ahli Kitab mengalami distorsi (tahrif) oleh tangan-tangan manusia (QS. Al-Baqarah: 79). Oleh karena itu, umat Muslim meyakini bahwa banyak ajaran dalam kekristenan modern, yang berbasis ajaran Paulus, bukanlah representasi murni dari wahyu Allah kepada Nabi Isa, melainkan merupakan hasil modifikasi teologi pasca kenaikan Yesus yang dipengaruhi oleh para tokoh gereja awal, termasuk Paulus.

Berdasarkan hal tersebut, umat Muslim memilih untuk tidak mengikuti ajaran Paulus, melainkan memegang teguh ajaran asli Yesus (Isa ‘alaihissalam) sebagaimana dikoreksi dan diluruskan kembali melalui Al-Qur’an. Islam meyakini bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai penyempurna ajaran tauhid dan penghapus penyimpangan sebelumnya, termasuk penyimpangan ajaran yang terjadi di kalangan pengikut Isa ‘alaihissalam. Dengan demikian, bagi Muslim, keimanan kepada Yesus berarti meyakini beliau sebagai utusan Allah yang menyerukan tauhid, bukan sebagai objek penyembahan atau bagian dari konsep trinitas.

Kesimpulan

Peran Paulus dari Tarsus sangat sentral dalam perubahan ajaran Yesus (Isa ‘alaihissalam) dari seorang nabi tauhid menjadi figur ilahi dalam Kekristenan. Ajaran Paulus yang berbeda dari murid-murid Yesus (Isa ‘alaihissalam) di Yerusalem, menjadi fondasi utama gereja-gereja baru di dunia Romawi. Konsili-konsili gereja kemudian mengesahkan ajaran ini sebagai dogma resmi demi stabilitas politik dan kesatuan umat. Bagi umat Islam, hal ini menegaskan bahwa penyimpangan ketuhanan Yesus (Isa ‘alaihissalam) merupakan hasil rekayasa sejarah, bukan ajaran asli para nabi. Umat manusia sepatutnya bersikap kritis dan ilmiah dalam menelaah kebenaran sejarah ini untuk menghindari distorsi ajaran tauhid di masa depan.

Daftar Pustaka

  • Dunn JDG. The Theology of Paul the Apostle. Grand Rapids, MI: Eerdmans; 1998.
  • Ehrman BD. How Jesus Became God: The Exaltation of a Jewish Preacher from Galilee. New York, NY: HarperOne; 2014.
  • Tabor J. Paul and Jesus: How the Apostle Transformed Christianity. New York, NY: Simon & Schuster; 2012.
  • Vermes G. The Authentic Gospel of Jesus. London, UK: Penguin Books; 2004.
  • Eisenman R. James the Brother of Jesus: The Key to Unlocking the Secrets of Early Christianity and the Dead Sea Scrolls. London, UK: Penguin Books; 1997.
  • Sanders EP. Paul and Palestinian Judaism: A Comparison of Patterns of Religion. Minneapolis, MN: Fortress Press; 1977.
  • Fredriksen P. Paul: The Pagans’ Apostle. New Haven, CT: Yale University Press; 2017.
  • The Holy Bible: New International Version. Colorado Springs, CO: Biblica, Inc.; 2011.
  • The Holy Bible: King James Version. New York, NY: Thomas Nelson; 1987.
  • Brown R. An Introduction to the New Testament. New York, NY: Doubleday; 1997.

Catatan:

  • Semua pustaka ini adalah buku ilmiah atau teks Alkitab resmi yang biasa dipakai dalam studi teologi dan sejarah Kekristenan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *